
Maaf untuk para pembaca. Author ganti sudut pandang untuk cerita ini. Sekali lagi maaf untuk ketidak nyamanannya.
***
Airin sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Dia akan melakukan tes kesehatan dan beberapa pengecekan. Walau ada rasa takut di dalam hatinya, Airin akan tetap melakukan tes itu. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.
Kembali, Airi masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar mandi. Dia hanya mual-mual tanpa ada yang keluar. Bahkan beberapa kali perutnya terasa sakit.
Suara deru mobil dari luar rumah membuat Airin bergegas. Siapa yang datang disaat seperti ini? pikir Airin. Airin keluar dari rumah sembari membawa tas dan kunci di tangannya.
"Ayo. Jay menyuruhku menjemputmu," kata Cika yang sudah turun dari mobilnya.
"Jay yang memintamu?" tanya Airin.
Cika tertawa dan membantu Airin membawa tasnya masuk ke dalam mobil.
"Tidak. Inisiatifku saja, lagi pula. Sudah lama kita tidak pergi bersama."
"Terima kasih."
Airin menyusul Cika masuk ke dalam mobil. Cika sebenarnya belum tahu apa yang dibicarakan Airin dengan Jay. Airin tidak ingin ada yang tahu jika terjadi sesuatu di dalam dirinya. Dia tidak ingin terus menerus merepotkan orang lain.
***
Samapi si rumah sakit dimana Jay bekerja. Dia memang sudah pindah sejak terakhir bertemu dengan Airin di kota seberang waktu itu. Cika tidak memarkirkan mobilny, dia hanya menurunkan Airin di depan rumah sakit.
"Maaf aku tidak bisa menemanimu. Ada meeting di kantor," kata Cika.
Airin mengulas senyum untuk temannya itu, "Tidak masalah. Maaf juga aku tidak bisa membantumu."
"Tenang saja. Masuklah, Jay pasti sudah menunggumu."
Setelah mengatakan hal itu. Cika kembali menjalankan mobilnya. Sementara Airin menatap bangunan rumah sakit dengan tatapan tidak senang. Beberapa bayangan terbesit dalam ingatan. Apa lagi tentang dia yang pernah keguguran.
Airin menunggu di depan ruangan Jay. Dia tidak bisa langsung masuk. Siapa tahu di dalam ada pasien. Airin tidak ingin mengganggu.
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.
Kau dimana? aku sudah di depan rumah.
Airin bingung harus menjawab apa. Airin masih belum mau memberi tahu Vino. Lalu Airin membalas.
Maaf. Aku sedang berjalan-jalan sendirian. Kau tahu, aku butuh waktu sendiri.
Lima menit kemudian.
Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti malam. Kau harus pindah ke rumah Mama.
Baru saja akan membalas pesan dari Vino. Jay keluar dari ruangannya, dia kaget begitu melihat Airin sedang duduk.
"Kau sudah disini?" tanya Jay, "aku menunggumu sejak tadi."
Airin memasukan ponselnya dan tidak membalas pesan dari Vino. Dia berdiri dan mendekat pada Jay.
"Aku kira sedang ada pasien."
"Tidak. Ayo masuk."
Jay memang bukan dokter sepesialis penyakit dalam. Dia adalah dokter kandungan, karena itulah Airin dulu menemuinya. Setelah percakapan panjang lebar Jay akhirnya hanya bisa diam.
Kondisi kandungan Airin cukup baik. Tidak ada masalah. Bahkan Jay sudah melakukan USG pada Airin. Tidak ada yang janggal di rahim Airin.
"Apa ada masalah serius?" tanya Airin yang merasa cemas.
Jay menghela nafas panjang, "Maaf, Rin. Lebih baik kamu ke dokter umum saja. Rahim kamu baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Aku kira kamu sakit maag atau hal lain."
Ada gurat kecewa di wajah Airin. Akhirnya Jay mengusulkan seorang dokter. Saat itu juga, Airin di antar oleh Jay menemui dokter umum di rumah sakit itu.
Jay juga menemani Airin masuk ke dalam. Jay mencoba mengatakan kondisi Airin pada dokter umum itu.
"Apa kau sering makan terlambat?" tanya dokter umum itu.
Airin mengangguk.
"Mungkin ini maag biasa. Aku akan berikan resep, kau bisa menebusnya di apotik," kata dokter umum itu.
"Apa aku benar-benar baik-baik saja?" kali ini wajah Airin lebih cerah.
Dokter umum itu mengangguk, "Jika obatnya masih sakit. Kau bisa kembali kesini lagi."
"Terima kasih, Dok."
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan. Wajah Airin terlihat berbinar. Dia merasa lega karena tidak menderita penyakit yang berbahaya. Kini, dia hanya perlu menjadwal jam makannya saja.
"Aku pergi dulu, Jay. Terima kasih untuk bantuannya."
"Selamat tinggal," ucap Airin.
Jay mengangguk dan berjalan kembali kearah ruangannya. Dia dokter, jadi kemungkinan besar dia memiliki pasien saat ini.
Airin keluar dari lorong dan tanpa sengaja bertemu dengan Sela. Airin menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada Arja. Airin melanjutkan jalannya, sampai dia berpapasan dengan Arja tanpa di duga.
"Bagus sekali, Rin. Kemarin kau bertunangan dengan Vino. Sekarang kau disini bersama seorang pria."
Airin memilih untuk kembali berjalan. Dia tidak ingin terjadi keributan di dalam rumah sakit. Sampai saat ini, Arja tetap saja mengganggu kehidupannya.
"Sayang, ayo dokter sudah menunggu," kata Sela.
"Kamu kesana sendiri. Aku akan berbicara pada Airin sebentar."
Sela hanya bisa pasrah. Jika dia mencegah Arja, entah apa yang akan dilakukan Arja padanya saat di rumah. Dengan rasa kesal Sela hanya bisa melihat kekasihnya itu mengejar wanita lain.
Airin masih tetap berjalan. Sampai akhirnya Arja datang dari arah samping dan menghadang jalannya.
"Apa lagi yang kamu mau?" tanya Airin.
"Kamu tahu, aku menginginkan kamu."
"Jangan gila. Kita sudah punya jalan yang berbeda."
Arja tersenyum dengan aneh, "Tapi aku bisa membelokan jalanmu."
Airin hanya diam. Percuma saja berdebat dengan Arja. Dia akan semakin mengerikan saat ada yang menanggapi percakapannya.
"Airin. Aku lelah mencarimu," kata Vino yang langsung mendekat pada Airin dan Arja.
Sebenarnya, Vino memang sudah melihat Airin sejak tadi. Tidak disangka jika tiba-tiba saja Arja datang dan mencegah Airin untuk pergi. Vino yang kesal langsung mendekat pada mereka.
"Ada apa ini?" tanya Vino yang melihat Airin dan Arja hanya diam.
"Tidak. Aku baru saja cek kesehatan dan bertemu dengannya disini. Kenapa kau disini?" tanya Airin.
"Aku mencarimu karena kau tidak membalas pesan."
"Maaf. Aku tadi masuk ke ruangan dokter."
Arja merasa muak dengan apa yang dia lihat. Tanpa pikir panjang Arja menarik tangan Airin dan langsung menciumnya di depan Vino.
Buk. Vino menarik Arja dan langsung memukulnya dengan keras. Sementara Airin diam terpaku setelah apa yang terjadi. Apa yang dilakukan Arja benar-benar membuat Airin jatuh. Airin merasa harga dirinya hancur.
Beberapa satpam datang dan melerai perkelahian itu. Setelah Arja pergi, Vino mendekat pada Airin yang sedang menangis. Tanpa ragu, Vino memeluk Airin dan membawanya ke dalam mobil.
"Sudah jangan menangis," kata Vino begitu sampai di mobil.
Airin mengusap air matanya, "Bagaimana aku tidak menangis. Dia selalu saja membuat aku terluka, bahkan membuat aku harus kehilangan harga diriku di depan umum."
Vino menepuk-nepuk pundak Airin perlahan. Vino juga merasakan sakit, bagaimana tidak. Tunangannya sendiri dilecehkan didepannya. Bahkan kini dia hanya bisa melihat tetesan air mata Airin.
"Aku janji. Aku nggak akan biarin Arja mendekat padamu. Aku akan jaga kamu dengan segala yang aku punya."
Airin memeluk Vino dengan erat. Dia melepaskan segala beban dihati. Dia mengeluarkan air mata yang selama ini dia tahan. Dia mengungkapkan semuanya, semua yang dia pendam sampai saat ini.
***
Airin kaget. Dia tidak diantar pulang oleh Vino, tapi Vino membawanya ke rumah mama Vino. Alasanya karena Vino tidak mau jika Airin berada jauh darinya. Bisa saja Arja datang dan kembali menyakitinya.
"Vin, aku pulang ke rumah sewaku saja," ucap Airin saat sudah berada di depan rumah Vino.
Vino menatap pada Airin, "Kau bilang bisa jaga diri? bahkan tadi kau membiarkannya saja."
Vino mengatakan itu dengan emosi yang memuncak. Dia tidak ingin wanitanya kembali di dekati oleh pria seperti Arja. Pria yang hanya memikirkannya sendiri tanpa memikirkan hati pasangannya.
Akhirnya Airin tidak bisa menolak. Dia masuk ke rumah. Tidak ada sambutan dari mama Vino. Rumah itu juga tampak sepi, tidak seperti biasanya.
"Dimana tante?" tanya Airin.
"Mama kembali ke kota lain. Mungkin akan kembali satu atau dua bulan lagi," jawab Vino.
"Kenapa aku tidak tahu?" tanya Airin lagi.
"Ada hal mendadak. Kamu ikut pelayan ini, dia akan menunjukan kamar kamu," kata Vino.
Pelayan yang dimaksud Vino mengangguk dan memberikan senyuman ramah. Airin mengikitnya tanpa ragu. Sebelum itu, Vino sempat berbisik.
"Ingat janjiku dan jangan takut," kata Vino.
Airin mengangguk dan pergi mengikuti si pelayan.
***