My Love My Pain

My Love My Pain
Taburan luka hati



Para karyawan keluar dari kantor dengan banyak ekspresi. Ada yang merasa puas ada juga yang merasa senang. Ada juga yang menghela nafas karena harus lembur bekerja.


Baru saja Airin keluar dari kantor. Ada sebuah telfon masuk ke ponsel Airin, ternyata Arja.


"Hallo. Ada apa?"


"Kamu ke rumah sakit. Maya masih di sini, dia ingin bertemu denganmu."


"Denganku?" tanya Airin merasa aneh.


"Ya. Oh ya, sekalian belikan buah untuk Maya."


"Tapi aku ..."


"Terima kasih," kata Arja dan langsung menutup telfon.


Setelah memutuskan telfon itu secara sepihak. Airin hanya bisa menghela nafas. Rasa lelah yang sejak tadi menghantuinya kini semakin mendera. Airin harus pergi ke toko buah dan pergi ke rumah sakit.


"Kau masih di sini?" tanya Sela pada Airin.


Airin menganggukan kepalanya. Dengan raut wajah kelelahan.


"Ini," Sela menyerahkan sebuah flashdisk pada Airin, "Tadi Pak Vino yang menitipkanya padaku."


"Terima kasih," Airin menerima flashdisk itu.


Beban Airin semakin berat saja. Belum selesai pekerjaan satu, sudah ada pekerjaan lainnya. Sungguh hari yang melelahkan.


Sela menggandeng tangan Airin dan mengajaknya pulang bersama, "Ayo kita minum teh sebelum pulang."


"Maaf sekali. Aku harus ke rumah sakit, Maya ada di sana."


"Ada apa dengan nenek sihir itu?"


"Aku juga tidak tahu."


Sela menggelengkan kepalanya, "Kenapa kau memilih untuk tetap bersama. Padahal sering kau dilukai," kata Sela.


Airin tidak memberikan komentar. Dia memilih untuk mencari topik pembicaraan yang lain.


"Bagaimana pacarmu?" tanya Airin untuk mengalihkan fokus Sela.


Sela merubah raut wajahnya, "Dia terlalu sibuk. Hanya beberapa kali kami bertemu, itupun hanya sebentar."


"Apa dia sesibuk itu?"


"Ya. Sangaaaat sibuk."


Walaupun Airin belum pernah bertemu dengan kekasih Sela. Dia sudah bisa mengira seperti apa pria yang menjaga adiknya. Terlihat dari cara berpakaian dan kehidupan Sela saat ini. Pria yang mencintainya pasti kaya dan baik hati.


Sela menghentikan sebuah taxsi dan membuka pintunya.


"Kamu bisa pergi dulu. Aku akan menunggu bus saja," kata Sela.


"Kita sama-sama aja."


Dengan cepat Sela menggeleng, "Aku akan bertemu dengan temanku. Kamu bisa pergi lebih dulu."


"Ok. Kamu jaga diri."


Bagaimana bisa Maya tetap di rumah sakit. Padahal tidak terjadi apa-apa padanya. Apa mungkin dia juga memalsukan kehamilannya itu. Dengan cepat dia hamil dan sekarang, dia membuat sandiwara memuakkan untuk Airin.


***


Airin membenarkan posisi tasnya dan bersiap masuk ke ruangan dimana Maya di rawat. Disana ada Maya, Arja dan seorang pria. Dia terlihat tinggi dan cukup tampan. Walau memiliki tato di tangannya.


"Ini buahnya." Airin langsung meletakan buah itu di atas meja.


"Kamu sama siapa?" tanya Arja.


"Sama siapa lagi. Aku kan sudah biasa sendiri."


Arja terdiam mendengar jawaban Airin. Maya terlihat sangat sehat, hanya wajahnya saja yang terlihat pucat. Padahal Airin tahu jika itu adalah polesan make-up.


Merasa tidak memiliki urusan lagi. Airin memilih untuk pergi. Disana tidak ada yang perlu dibicarakan, bahkan dengan Arja sekalipun.


"Mau kemana?" tanya Maya pada Airin.


Airin menoleh pada Maya, "Pulang. Untuk apa lagi aku ada di sini."


Maya terlihat tidak senang. Dia langsung menoleh pada Arja dan memasang wajah memelas.


"Tuh kan, Airin nggak mau bantu aku di sini. Dia tuh nggak suka sama aku."


Apa lagi ini? apa Maya sedang memainkan drama. Bahkan Arja juga langsung menatap Airin dengan tatapan aneh.


Airin menghela nafas panjang, "Ada apa lagi ini?"


Arja mendekat pada Airin dan memegang tangannya.


"Ikut aku," bisik Arja.


Airin mengikuti langkah kaki Arja. Sampai di sebuah tangga, disana cukup sepi untuk bicara hanya berdua. Airin sudah mempersiapkan dirinya dengan apa yang akan dikatakan Arja.


"Kenapa aku harus datang ke sini? aku bukan pembantu Maya."


Arja menyentuh kedua pundak Airin. Mata mereka bertemu.


"Maya hamil. Kamu tahu itu bukan?"


Airin hanya mengangguk.


"Di dalam kehamilanya ini, Maya sangat lemah. Bisa saja dia keguguran di saat-saat yang tidak tepat."


"Maksud kamu. Kandungan Maya lemah?"


Arja mengangguk pelan.


"Sejak kamu mendorongnya ..."


"Aku tidak pernah mendorongnya," Airin mencoba membela diri.


"Jangan mengingkari fakta," kata Arja.


"Aku tidak ingin mengakui hal yang tidak aku lakukan." Airin masih bersi keras membela diri.


Plak. Arja kembali menampar wajah Airin karena Maya. Kali ini, sakitnya bukan hanya di wajah tapi juga di hati Airin.


Airin memegangi pipi kiriku, "Aku tahu kamu sangat mencintai Maya. Tapi aku bukan boneka kalian, aku punya kehidupan sendiri. Jika kamu memang tidak percaya padaku, setidaknya jangan main fisik padaku. Bagaimanapun, aku juga istri kamu."


"Maaf, Rin. Aku..."


"Kau memang tidak mencintai aku. Kenapa juga aku harus bertahan di pernikahan ini. Kau bahkan tidak pernah memikirkan perasaanku, walau hanya sebentar saja."


Sembari menahan tangis Airin keluar dari lift. Bruk, aku menabrak seseorang.


"Maaf," ucap Airin dengan pelan.


"Tidak apa. Kamu bukannya istri pertama Arja?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Airin mendongakkan kepala. Dia pria yang tadi berada di ruangan rawat Maya.


"Maaf, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Kenzo, panggil saja Ken."


Dia mengatakannya dengan wajah senang. Ada senyuman di wajah itu.


"Tidak ada urusannya denganku." Airin mencoba menghindar, tapi Kenzo malah mengikutinya.


"Aku kakaknya Maya yang baru saja datang. Tidak aku sangka jika Maya adalah istri ke dua dari bos perusahaan besar."


Kembali aku tidak menggubrisnya. Airin mengambil ponsel dan menelfon Amar.


"Amar. Jemput saya di rumah sakit."


"Baik, Bu."


Airin mematikan ponsel dan memasukkanya kembali ke tas. Hap, sebuah tangan menarik Airin kembali ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan ini tidak sopan." Airin melepaskan cekalan tangan Kenzo.


Kenzo menyeringai, "Sejak tadi kamu mengacuhkan aku. Padahal aku sudah bicara baik padamu."


"Lalu mau kamu apa?"


"Apa kita bisa berteman?" tanya Kenzo.


Airin tersenyum, "Aku tidak suka berteman. Terlebih lagi dengan orang yang baru saja bertemu."


"Bagaimana jika kamu menganggapku kakak. Aku kan Kakak dari Maya," kata Kenzo.


"Maaf, lebih baik. Kita tidak saling kenal saja. Itu akan membuat aku lebih nyaman."


Amar benar-benar lama. Jika saja dia bisa lebih cepat datang. Airin tidak perlu berbicara dengan pria ini. Jelas sekali dia memiliki maksud aneh.


"Bagaimana jika aku yang mengantarkan kamu pulang? Arja tidak akan marah."


Tidak lama Amar terlihat dengan mobilnya. Akhirnya Airin bisa bernafas lega.


"Jemputanku sudah datang. Aku harus pergi," Airin bergegas mendekat pada mobil.


Kembali Kenzo menarik tangan Airin, kali ini cukup keras.


"Lepaskan aku."


Dia memberikan senyumanya, "Semoga kita bisa bertemu lagi."


Setelah mengatakan hal itu. Kenzo melapaskan tangan Airin dan membiarkannya pergi.


"Tidak akan."


Airin masuk ke dalam mobil. Terlihat merah pergelangan tangannya karena tarikan dari Kenzo. Sebenarnya siapa pria itu. Kenapa dia sangat ingin dekat dengan Airin. Apa jangan-jangan Maya sudah merencanakan hal ini sejak awal.


***


Setelah lelah menyelesaikan pekerjaan kantor. Airin memilih untuk mendengarkan musik dan minum teh. Setidaknya Airin bisa melepas penat.


Tok tok tok.


"Sebentar."


Airin membukakan pintu. Arja terlihat murung di sana.


"Kenapa di sini. Bukannya kamu harus bersama dengan Maya? dia sangat butuh perhatian kamu," kata Airin.


Arja langsung memeluk Airin dengan sangat erat. Bahkan membuat Airin susah bernafas.


"Lepaskan aku Arja," kata Airin dengan nafas tersengal.


Setelah melepaskan pelukanya, Arja mengajak Airin masuk ke kamar. Karena kedatangan Arja, Airin mematikan musik yang sedang mengalun merdu.


"Maaf, untuk tamparanku tadi," kata Arja pada Airin.


Airin memilih diam dan kembali duduk untuk menikmati teh.


"Untuk apa meminta maaf. Kau pasti akan melakukannya lagi demi Maya."


"Maya sedang hamil," bela Arja.


"Aku tahu. Bagaimana kalau kita bercerai saja, aku juga ingin bebas."


Arja mendekat, "Maksud kamu apa?"


"Aku manusia normal. Aku istri sah kamu, namun diperlakukan sebagai simpanan. Apa kamu tidak tahu perasaanku."


"Airin. Kamu hanya cemburu dengan Maya, pikirkanlah baik-baik."


Arja menarik Airin ke dalam pangkuannya. Dia menatap lekat pada Airin.


"Aku sudah memikirkanya. Jika kita masih tetap bersama, aku akan semakin terluka. Kamu tahu, aku mencintai kamu."


Arja mengusap kepala Airin perlahan, "Bertahanlah. Setelah anak itu lahir, kita akan kembali seperti biasa."


"Anak itu lahir? mungkin aku akan menjadi bonekamu dan Maya untuk selamanya."


"Jadi kau masih menginginkan kita berpisah?"


Airin berdiri dan menatap pada mata Arja.


"Ya. Aku ingin bahagia dengan hidupku."


Arja berdecak. Dia mendorong Airin hingga terpojok.


"Apa kamu sudah memiliki hubungan dengan Vino?"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak akan melepaskan kamu. Kamu istriku dan hakku. Aku tidak akan melepaskanmu, dengan alasan apapun."


Airin tertegun dengan apa yang dikatakan Arja. Dia mengatakan hal yang semakin membuat hatinya terluka.


"Ingat. Kamu hanya milikku, bertahanlah."


Setelah mengatakan hal itu. Arja pergi berlalu begitu saja. Membiarkan Airin meratap sendirian. Airin merasa jika masa depannya akan sama. Istri yang menjadi simpanan.


***