
Malam sudah cukup larut. Arja belum juga pulang setelah pertengkaran tadi. Dia juga tidak datang ke rumah teman-temannya.
Dalam hati Airin memang sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Arja. Namun, pikirannya masih saja merasa takut kehilangan dan merasa aneh.
Sebuah pesan masuk. Dengan sebuah harapan Airin semoga pesan itu dari Arja. Ternyata bukan, Vino yang mengirim pesan dan memberitahukan tentang Sela. Vino tidak menemukan Sela dimanapun.
Kini pikiran Airin bertambah. Tadi Arja dan sekarang Sela. Kenapa mereka hanya bisa membuat Airin seperti ini. Rasa kasihan dan balas budi Airin pada orang tua Sela membuatnya tidak tega menyakiti Sela.
"Nyonya, ada Tuan Vino di bawah," kata Kepala pelayan yang datang ke ruang baca.
"Ya."
Benar saja. Vino sudah duduk dengan ponsel di tangannya. Mungkin dia mengirim pesan pada Airin saat sudah disini. Airin meminta pelayan untuk membuatkan minum.
"Kau sudah lama?" tanya Airin.
"Lumayan. Maaf, aku tidak bisa menemukan Sela dimanapun, padahal aku sudah meminta bantuan anak buahku." Terlihat jelas jika Vino merasa menyesal tidak bisa membantu Airin.
"Tidak apa. Mungkin dia sudah kembali ke rumah ibunya."
Vino mengangguk-anggukan kepalanya. Airin terdiam, jujur Airin merasa jika Arja yang sudah menolong Sela. Semoga tidak terjadi apa-apa.
"Apa suamimu ada di rumah?" tanya Vino kemudian.
"Ya, dia baru saja tidur."
Airin berbohong pada Vino. Dia tidak mau Vino tahu hubungannya dengan Arja yang sebenarnya. Dia pasti akan meminta Airin untuk pergi dengannya lagi.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Maaf sudah mengganggu."
"Tidak kok, kau tidak mengganggu sama sekali."
Airin mengantar Vino sampai di pintu depan. Sebelum Vino pergi, Vino menatap Airin dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti.
"Apa?" tanya Airin.
"Jika terjadi apa-apa. Aku masih di tempat yang sama, Rin."
Tanpa sadar Airin menganggukan kepalanya. Mungkin, Vino sudah tahu apa yang terjadi. Dia hanya pura-pura tidak mengerti.
***
Sarapan sudah siap. Airin belum mengambil apapun, masih menunggu datangnya Arja. Harapan harus tetap ada, Airin tahu usaha tidak akan menghianati hasil.
Tidak lama setelah itu Arja pulang. Dia terlihat lebih tenang dari pada kemarin saat pergi. Airin menghampirinya, berharap jika hubungan ini akan baik-baik saja.
"Kau sudah bangun?" tanya Arja dengan tatapan datar.
"Ya. Aku menunggumu untuk sarapan bersama," kata Airin dengan senyuman.
"Kau bisa sarapan tanpa harus menungguku. Aku sudah sarapan."
Arja langsung melangkah pergi melewati Airin begitu saja. Airin tidak bisa hanya diam seperti ini. Airin menghela nafas panjang.
"Apa sarapan yang dibuat Sela enak? atau sekretaris Sa yang membuatkan sarapan?"
Arja berhenti dari langkahnya. Dia menoleh pada Airin dan plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Airin pagi itu. Airin tidak merasa sakit, ya, semua ini belum ada apa-apanya dibanding dengan penghianatan yang sudah dia berikan.
"Memang benar, pria yang sudah pernah berselingkuh. Dia tidak akan bisa setia pada wanita manapun. Aku sudah salah memberikan kesempatan padamu."
"Apa kau akan meminta cerai lagi?" tanya Arja. Dia bahkan tidak merasa menyesal telah menampar Airin dengan keras.
"Tidak. Aku tidak akan meminta cerai, kau yang akan meminta cerai padaku."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah lebih baik jika aku mengikuti jalanmu. Kita akan punya pasangan masing-masing di luar sana. Bahkan aku bisa hamil dengan pria lain."
"Kau." Teriak Arja.
Airin melihat jam tangannya. Sudah waktunya dia pergi. Lebih baik Airin bertemu Cika dan kembali belajar darinya. Siapa tahu Airin bisa membalas apa yang Arja lakukan padaknya.
"Maaf, Tuan Arja. Aku harus pergi bekerja, Selamat pagi."
Airin mengambil tasnya dan meninggalkan Arja dengan semua kekesalan yang terlihat diwajah Arja. Airin memang sengaja melakukan semua ini. Walaupun tidak pernah ada niatan untuknya menduakan Arja.
"Pertunjukan yang hebat."
"Aku baru saja datang dan melihat hal itu. Maaf," kata Cika dengan senyuman.
"Ayo, kita harus pergi. Maaf karena sudah membuatmu repot datang kesini."
"Tidak masalah. Sebenarnya, Vino yang mengatakan padaku jika kau sedang butuh teman."
Mereka melangkahkan kaki menuju mobil Cika. Airin hanya diam dan mendengarkan semua perkataan Cika. Andai saja hidupnya bisa indah seperti hidup Cika. Tanpa beban.
Dia bahkan biasa saja pada Vino. Padahal jelas sekali jika Cika berharap lebih dari pertemanan yang sekarang. Cika tidak dendam dengan apa yang dilakukan Vino saat masih bertunangan.
"Hei, kau melamun saja sejak tadi. Apa Arja sangat kererlaluan?" tanya Cika saat kami sudah di parkiran kantor dan Airin tidak turun dari mobil.
"Maaf, tidak seharusnya aku seperti ini."
"Tenang saja. Ayo, kita akan bertemu dengan temanku. Mungkin kita akan bekerja sama."
Airin turun dan berjalan bersama dengan Cika. Mereka terlihat sangat mempesona.
***
Acara meeting dengan teman Cika sudah selesai. Airin kira wanita ternyata dua pria yang cukup lumayan. Umurnya mungkin lebih tua dari Airin.
Kami bercakap cukup lama sampai salah seorang dari mereka menatap ke jam tangannya. Dia terlihat gelisah dengan waktu saat ini.
"Apa aku bisa pergi dulu," katanya dengan sebuah senyuman.
"Tentu saja. Meeting sudah selesai," kata Cika pada dia.
"Baiklah. Kalian bisa lanjut ngobrol, aku akan pergi dulu."
Pria yang masih duduk hanya tersenyum lalu mengatakan, "Vin, kamu kan belum tahu daerah disini."
"Tenang saja. Ada asisten pribadiku, dia bisa mengantarkan kamu Vin."
Kaget rasanya mendengar perintah Cika kali ini. Mana mungkin Airin akan mengantar seorang pria ke hotel. Jika ada yang tahu, rumor pasti akan tersebar dengan cepat.
"Ayolah, Rin. Hanya mengantar sebentar saja."
Mau tidak mau akhirnya Airin mengangguk juga. Airin dan pria bernama Kevin itu berjalan menuju lift. Diam, hanya itu yang terjadi selama perjalanan kami.
Sampai akhirnya mereka menaiki taxsi dan sampai di sebuah hotel ternama. Airin tahu, teman Cika bukanlah orang sembarangan. Airin juga harus mengerti sopan santun.
"Terima kasih," kata Kevin dengan senyuman, "Oh ya, siapa namamu?" imbuh Kevin.
"Airin."
"Bisakah kita minum kopi bersama?" tawarnya lagi.
Airin tidak tahu harus menolak atau bagaimana. Apa ini rencana Cika, dia kira Airin benar-benar mencari pria untuk berkencan. Airin harus bertanya padanya nanti.
"Ayolah, hanya sebentar."
"Maaf, aku harus kembali ke kantor."
"Apa kau takut denganku? aku tidak berniat jahat."
"Aku tahu. Hanya saja ini masih waktunya bekerja. Kita juga baru kenal."
Kevin berdecak dan menarik tangan Airin dengan paksa masuk ke dalam hotel. Airin meronta namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah kamar. Mungkin kamar Kevin.
"Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku atau aku akan berteriak."
"Lakukanlah."
Sial. Kenapa Airinbterjatuh ke dalam hal semacam ini. Pikirannya kacau, Airin tidak tahu harus menghubungi siapa. Sampai, buk. Sebuah pukulan telak membuat Kevin tersungkur.
Airin menoleh keasal pria yang berada di belakangnya. Arja, dia disini? sedang apa? Airin melupakan pertanyaan itu dan fokus pada apa yang terjadi.
Airin bersembunyi di balik tubuh Arja. Setelah selesai baku hantam. Tanpa kata Arja menariknya ke dalam sebuah kamar. Mata mereka bertemu.
Semuanya seperti mimpi. Airin tidak tahu kenapa semua ini terjadi dan Arja yang menolongnya saat itu juga.
***