My Love My Pain

My Love My Pain
Pertemuan tak terduga



Airin POV.


Secangkir teh menemani Airin di pagi ini. Mentari terlihat muncul dengan riangnya. Perasaan segar dan bahagia menyusup ke dalam diri Airin.


Hampir satu minggu ini Airin merasa sangat lelah. Ya, Airin harus mengurus segala macam tentang Cika. Airin puas dengan pekerjaannya ini. Airin merasa benar-benar menjadi dirinya. Tidak merepotkan orang lain.


Dua hari ini Airin akan libur. Cika akan pergi keluar negeri untuk menemui orang tuanya. Sementara Airin, dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Mungkin, Airin akan berjalan-jalan di sebuah bukit nanti. Setidaknya dia bisa melepaskan penatnya disana.


Tok tok tok. Airin mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Ponsel dia letakan dimeja dan membuka pintu. Seorang pelayan.


"Ada tamu," kata pelayan itu dengan sangat halus.


"Bukankah kamu tahu jika Cika tidak di rumah. Kenapa menerima tamu?"


Pelayan itu semakin menyembunyikan wajahnya, "Tamu untuk anda."


Untukku? siapa yang datang dan tahu jika aku tinggal disini. Apa mungkin Vino, hanya dia yang tahu jika aku disini. Pikir Airin.


"Aku akan turun sebentar lagi. Buatkan saja dulu minuman untuknya."


Untuk menghemat waktu. Airin memilih untuk memakai baju yang sederhana dan rambut yang dia kuncir kuda. Tidak lupa tas kecil Airin sematkan di pundaknya.


Sampai di bawah. Airin tidak melihat siapapun. Katanya ada tamu untuk Airin, tapi nyatanya tidak ada seorangpun yang datang. Airin pun memilih untuk langsung pergi saja. Tidak ada untungnya memikirkan hal yang tidak penting.


"Akhirnya kau keluar juga."


Kali ini Airin benar-benar terlonjak karena kaget. Airin menoleh kearah belakangnya, Vino sudah di sana dengan baju santai dan senyumannya.


"Kau kaget? apa aku sangat menakutkan?"


"Ya. Kau sangat menakutkan," jawab Airin.


Vino tertawa dan langsung menarik tangan Airin untuk mengikutinya. Sampai di samping mobil, dengan lembut dia membuka pintu dan menyuruh Airin masuk.


"Tunggu dulu," Airin kembali menutup pintu mobil Vino, "kamu mau membawaku kemana?"


"Bukankah kau sedang berlibur. Tentu saja aku akan mengajakmu jalan-jalan."


Airin menggeleng dengan cepat. Jadwal Airin memang sedang berlibur. Hanya saja, Airin akan pergi dulu ke makam paman. Sela pasti tidak pernah kesana. Setidaknya, Airin harus datang dan mendo'akannya.


"Kenapa? apa kau sudah ada janji lain. Kau terlihat cantik untuk seseorang yang tidak ingin keluar."


"Aku akan ikut denganmu. Hanya saja, aku mau ke makam paman dan nenek. Bagaimana?"


"Setuju."


Mendengar hal itu Airin langsung masuk ke dalam mobil. Setidaknya dia tidak akan jalan kaki ke makam dan tidak perlu menghentikan sebuah taxsi. Airin juga bisa memiliki teman untuk liburannya hari ini.


***


Arja POV


Arja masih duduk dengan berkas dihadapannya. Dia baru saja menandatangani berkas kerja sama dengan sebuah perusahaan. Perusahaan yang dikelola oleh mama Vino, tidak, lebih tepatnya Vino.


Hari ini memang bukan Vino yang datang untuk bertemu dengan Arja. Mama Vino yang mewakilkannya. Tentu saja karena Vino memiliki hal lain untuk dikerjakan.


"Maaf karena aku yang mewakilkan anakku," kata mama Vino pada Arja.


Arja memberikan sebuah senyuman, "Tidak apa, yang penting semuanya berjalan dengan lancar."


"Tentu."


Mereka berjabat tangan dan sama-sama merasa puas dengan kerja sama ini. Bagaimanapun, mama Vino merasa beruntung karena perusahaan besar milik Arja mau bekerja sama dengannya.


Arja hanya bisa menahan tawa puas dihatinya. Dia sudah selangkah lebih dekat dengan Vino. Itu sama saia dia sudah selangkah lebih dekat dengan Airin.


Di dalam hatinya hanya Airin yang menjadi tujuan. Dia bahkan rela bergabungan dengan perusahaan yang belum menjadi levelnya. Hanya karena wanita yang terus menghantuinya.


Setelah selesai bertemu dengan mama Vino. Arja memilih untuk pulang dan menemui Sela. Istrinya. Hari ini, dia merasa sangat rindu dengan istri cantiknya itu. Walau belum secara resmi mereka menikah.


"Hal apa saja yang dilakukan Airin hari ini?" tanya Arja pada sekretarisnya.


"Tidak ada yang mencolok. Dia hari ini pergi ke makam pamannya dan neneknya. Dengan Vino," kata sekretaris Sa.


Mendengar nama Vino membuat Arja diam. Dia merasa kesal, bagaimanapun Vino sekarang sangat dekat dengan Airin. Bahkan Arja sudah merasa kalah sebelum berperang.


"Buat mereka berjauhan," kata Arja dengan nada yang ditekan.


"Pak..."


"Sudahlah. Kalian memang tidak bisa diandalkan."


"Kami akan lakukan yang terbaik," kata sekretaris Sa kemudian.


***


Airin POV


Airin dan Vino sudah selesai dari pemakaman. Mereka memilih untuk datang ke bukit yang Airin suka. Tanpa penolakan, Vino mengantarkan Airin kesana saat ini.


Dalam perjalanan, hanya ada candaan dan godaan. Airin tetap saja menepis perasaan yang akan datang. Airin tidak suka jika hubungannya dan Vino berubah. Mereka pasti akan merasa canggung nantinya.


"Apa kau pernah punya kekasih selain Arja?" tanya Vino tiba-tiba.


Airin kaget dengan pertanyaan itu. Dengan cepat Airin menggelengkan kepalanya. Tidak Airin sangka, respon Vino membuat Airin sedikit minder. Dia tertawa dengan keras.


"Kenapa? apa kau masih tidak melupakan aku?"


"Kata siapa, aku bahkan tidak mengingatmu sedikitpun."


"Benarkah?"


"Ya."


Mereka kembali diam. Kenapa situasi ini menjadi sangat aneh.


"Kau. Apa kau punya banyak kekasih saat di kota lain?"


"Tentu saja. Banyak gadis yang tergila-gila padaku. Bahkan mereka rela di duakan."


"Perempuan-perempuan itu pasti sudah tidak waras," kata Airin kemudian.


"Apa kau bilang?" tanya Vino dengan kesal.


"Kau tidak terima?"


"Tidak."


Airin hanya berdecak dan membuang muka. Dia kesal hanya karena Airin mengejek wanita-wanita itu. Setahu Airin tidak ada wanita yang mau di duakan. Hanya wanita bodoh yang melakukannya. Seperti Airin yang dulu.


Sampai di tempat itu. Airin langsung keluar dan berlari. Sangat nyaman disini, ditemani angin sepoi-sepoi dan bunga yang bermekaran disana sini.


Pemandangan yang sangat menakjubkan. Airin terduduk dengan perasaan yang campur aduk. Airin merasa bahagia dan ada rasa sesak di dalam hatinya.


"Airin." Teriak Vino pada Airin dari jarak yang cukup jauh.


Airin menoleh, tanpa tahu dari mana. Airin melihat seorang wanita dengan dress selutut berlari kearah Vino. Dia langsung memeluknya dari belakang.


Kaget, apa Vino sengaja melakukan hal ini padaku. Kenapa? apa karena semua penolakan aku. Pikir Airin. Airin pun mendekat.


Mereka sudah bertatap muka. Dia terlihat sangat manja di samping Vino. Sementara Airin hanya bisa menatap aneh pada hal itu.


"Kamu kenapa disini?" tanya Vino pada wanita itu.


Wanita itu menatap pada Vino, "Alasan apa lagi aku disini. Kamu, alasanku disini."


"Jangan bercanda."


"Untuk apa aku bercanda."


Airin seperti melihat sinetron kali ini. Airin pun memilih untuk pergi dari sana. Tidak mungkin Airin mengganggu kencan temannya sendiri.


"Tunggu," Vino menahan tangan Airin agar tidak pergi.


Airin menoleh, "Ada apa? bukankah kau sudah punya teman disini?"


"Apa kau cemburu?" tanya Vino.


Airin memutar bola matanya, "Jangan harap. Aku pergi."


"Tunggu. Aku kenalkan dulu, ini Heila. Temanku," kata Vino yang memperkenalkan wanita itu.


Airin mengangguk, "Airin." Aku mengulurkan tangannya. Dengan malas-malasan Heila menerima uluran tangan itu.


"Dia siapa?" tanya Heila.


"Dia calon istriku," jawab Vino dengan tegas.


Airin pun langsung mencubit lengan Vino. Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu. Sial, Airin kembali ke dalam cinta aneh.


Setelah niatnya pergi di tahan oleh Vino. Kini kembali Airin melihat drama disini. Karena muak. Airin tetap memilih pergi meninggalkan mereka berdua. Mungkin Vino tidak sadar atas kepergian Airin. Dia sedang sibuk dengan Heila.


****