My Love My Pain

My Love My Pain
Yakin dengan sebuah pilihan



Setelah lama berkeliling. Akhirnya Airin sampai juga di cafe milik Kenzo. Setelah mengatur nafasnya, Airin kembali melangkahkan kakinya untuk masuk.


Airin sudah siap mendengar apapun yang dikatakan Kenzo. Meskipun itu sangat menyakitkan untuknya. Walau akhirnya harus kembali berkorban untuk orang lain.


Mata Airin bertemu pandang dengan Kenzo. Sepertinya Kenzo sudah lama menunggu kedatangannya. Kali ini pakaiannya berbeda dari biasanya. Dia memakai setelan jas seperti Arja.


"Maaf lama. Aku susah payah mencari alamat ini," kata Airin yang langsung duduk di depan Kenzo.


"Tidak apa. Aku sudah pesankan minuman untukmu."


"Terima kasih."


Tidak berapa lama seorang pelayan datang membawa dua minuman. Airin memposisikan dirinya senyaman mungkin. Tentunya agar dia juga merasa lebih tenang.


"Langsung saja. Kamu bisa katakan apa yang ingin kamu katakan."


Kenzo menghela nafas panjang. Dia menatap keluar jendela kaca. Matanya terlihat kosong, namun wajahnya terlihat gelisah.


"Katakan saja. Aku akan mendengarkanya."


"Sebenarnya..."


"Rin. Kamu disini?"


Airin menoleh dan mendapatkan Arja di sampingnya. Wajahnya penuh tanya karena melihat Airin disana dengan Kenzo.


"Apa yang kamu lakukan dengan penghianat ini?" tanya Arja pada Airin.


"Aku ada urusan dengan Kenzo. Kau disini dengan siapa?"


Arja menoleh pada seseorang. Pria yang kemarin mengantarkan Arja ke rumah Sela. Kembali Airin melihat senyuman itu.


"Ayo kita pergi. Banyak hal yang harus kita bicarakan."


Tanpa persetujuan Airin. Arja langsung menariknya pergi. Beberapa kali aku mencoba melepaskan genggaman tangan Arja. Tapi, genggaman itu semakin erat dan membuat pergelangan tangan Airin memerah.


"Sakit tahu," kata Airin dengan keras saat mereka sudah sampai di depan mobil Arja.


"Jangan dekat-dekat dengan dia. Aku tidak suka."


"Kau cemburu?"


Bukan jawaban yang Airin dapat. Arja langsung mendorong Airin masuk ke dalam mobil. Jelas sekali Arja marah pada Airin.


"Mau kau ajak aku kemana?" tanya Airin.


"Kita pulang ke rumah."


"Aku tidak mau."


"Jadi kau tidak lagi mencintaiku?" tanya Arja yang langsung menghentikan mobilnya.


Tatapan mereka bertemu. Dia butuh jawaban tulus dari Airin. Namun, Airin sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Kali ini, Airin merasakan hatinya benar-benar terbagi.


Suara klakson mobil beruntun dari luar. Airin baru sadar jika Arja menghentikan mobil di tengah jalan. Bahkan membuat kemacetan yang cukup panjang.


"Arja. Jalankan mobilnya," kata Airin pada Arja.


"Jawab. Lalu aku akan jalankan mobilnya."


"Aku tidak main-main Arja."


"Aku juga."


Sial. Arja benar-benar membuat Airin kebingungan. Airin memejamkan mata beberapa saat dan bertanya pada hatinya sendiri. Kembali dia memastikan apa yang ada di dalam hatinya. Airin harus memilih pilihan yang tepat.


Sementara itu, dia luar sana sudah banyak yang memaki dan terus menyalakan klakson. Airin menatap Arja yang masih setia menunggu jawaban darinya.


"Bagaimana?"


"Ya. Aku mencintaimu."


"Kurang keras."


"Arja. Ayo jalan, jangan main-main lagi."


"Sekali lagi. Bisikan di telingaku."


Mau tidak mau. Airin mendekat pada Arja. Airin membisikan kata cinta di telinga Arja. Dengan senyuman puas. Arja perlahan meminggirkan mobilnya. Membuat semua mobil berjalan dengan tenang. Walau masih ada kata makian disana.


***


Setelah perdebatan panjang. Akhirnya Arja menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Dia mengatakan jika sudah memesannya sejak kemarin. Padahal, baru tadi mereka bertemu di cafe milik Kenzo.


"Ayo turun."


Airin kembali menggeleng, "Sudah aku katakan. Aku tidak lapar, aku hanya ingin pulang."


"Ayolah. Biarkan aku membahagiakan kamu."


Deg. Rasanya jantung Airin berdetak cukup keras setelah Arja mengatakan hal itu. Hal yang belum pernah Airin dengar sebelumnya dari bibir Arja.


"Aku ingin pulang." Tetap saja Airin bersikeras untuk kembali pulang.


"Maaf lama," kata Arja setelah selesai menelfon.


Airin hanya mengangguk.


"Aku akan antar kamu pulang. Aku ada pertemuan mendadak."


"Ya."


Di perjalanan menuju rumah Sela. Arja tidak banyak bicara. Dia lebih sering tersenyum dan memandang keluar kaca. Seperti ada yang dinantikan oleh Arja. Dan itu adalah hal yang besar.


Sangat lama rasanya untuk sampai di depan rumah. Mungkin karena sepi yang menghantui mereka. Tanpa kata dan tanpa canda. Ingin membuka suara, tapi takut mengganggu. Jadi, lebih memilih untuk diam.


"Terima kasih," kata Airin begitu sampai di depan rumah Sela.


"Kapan kau akan kembali ke rumah?" tanya Arja.


Airin hanya menggedikkan bahu. Tidak punya jawaban pasti untuk pertanyaan Arja. Bahkan, untuk mengatakan aku mencintainya saja sangat sulit rasanya.


"Kau bisa pulang kapanpun kau mau. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Ingat itu."


Airin hanya menghela nafas panjang mendengar perkataan Arja. Dia benar-benar tidak akan melepaskan Airin. Bahkan, Airin sering memintanya untuk berpisah. Namun nyatanya, Airin tidak pernah bisa pergi dari sisinya.


"Aku pergi dulu. Nanti aku kabari lagi."


Airin melambaikan tangannya, mengiringi kepergian Arja dengan mobilnya.


"Hayoo. Lagi bahagia ya."


Entah sejak kapan Sela berada disana. Airin merasa malu, dia malu jika Sela mendengar percakapannya dengan Arja.


"Kau mendengar semuanya?" tanya Airin pada Sela.


"Sedikit," kata Sela dengan senyuman.


Mereka masuk ke dalam rumah, di luar sudah mulai terasa dingin. Melihat meja di ruang tamu yang terlihat berantakan. Jelas sekali jika baru saja ada tamu. Mungkin beberapa orang.


"Siapa yang datang?" tanya Airin pada Sela.


"Teman-temanku. Oh ya, ada titipan dari Vino. Sudah aku letakan di kamar kamu," kata Sela dengan senyuman lucu.


"Apa maksud senyumanmu?"


"Kamu dan Vino..."


"Jangan berfikir yang aneh-aneh. Aku sudah menentukan pilihanku. Aku tidak akan bercerai dengan Arja."


"Kenapa?" tatapan penuh tanya tersorot dari mata Sela. Dia terlihat tidak senang.


"Pengen tahu aja. Aku ke kamar dulu."


Airin meninggalkan Sela yang kesal karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Sejak awal, Sela lebih senang melihat Airin dengan Vino, bukan dengan Arja. Tapi sekarang, Vino sudah memilih jalan hidupnya. Airin juga harus melakukan hal yang sama.


***


Setelah selesai menjemur handuk. Airin kembali masuk ke dalam kamar. Suasana seperti ini membuat Airin memilih untuk merebahkan tubuhnya. Melepas segala penat di badan.


Saat Airin akan berbaring. Tidak sengaja dia menindih sebuah barang. Airin ingat, jika tadi Sela yang meletakan benda itu. Airin membuka bingkisan itu dengan cepat. Sebuah buku dengan judul Way Love.


Disana terdapat surat yang mengatakan jika Vino akan memilih jalannya sendiri. Dia ingin Airin juga melakukan hal yang sama. Walau kadang, jalan yang mereka ambil akan sangat menyakitkan.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Vino.


Semangat. Jika kita memang berjodoh kita akan bertemu.


Senyuman Airin mengembang membaca pesan itu. Dia benar-benar Vino yang dulu Airin kenal. Vino yang selalu ada saat Airin terpuruk.


Kini, Airin semakin yakin untuk kembali kepada Arja. Apa lagi, rintangannya sudah pergi. Walau Airin belum tahu alasan sebenarnya tentang Arja menceraikan Maya. Bahkan Maya terlihat sangat depresi.


***


Arja duduk dengan tatapan tajam pada Kenzo. Dia merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan Kenzo hari ini. Kenzo menemui Airin secara diam-diam.


"Apa yang akan kau katakan pada Airin?" tanya Arja.


Kenzo menggeleng dan memilih diam.


"Apa kau akan mengatakan yang sesungguhnya?"


"Mana mungkin."


"Bagus jika kau tidak mengatakannya. Jika aku tahu kau mengatakannya, aku tidak akan segan membuat kekasihmu itu lebih depresi."


Kenzo mengangguk, "Aku tahu."


"Bagus. Aku akan pergi sekarang."


Arja mengambil jas yang dia sematkan dikursi. Kali ini Arja hampir kehilangan Airin seutuhnya. Untung saja, Kenzo masih bisa dibungkam dengan kekayaan.


Kenzo diam dan memandang kepergian Kenzo. Dia merasa terluka melihat Maya saat ini, tapi dia juga tidak mungkin terus menerus mengorbankan kekasihnya itu demi sebuah aset.


***