
Ini hari ketiga Airin dan Vino liburan di pegunungan. Lebih tepatnya di perkebunan buah. Ya, banyak buah yang di tanam di kebun milik Vino.
Seperti hari ini, mereka memilih untuk memetik jeruk dan apel. Airin dan Vino mencoba berbaur dengan banyak petani disana. Walau hasilnya tidak diduga, Airin tidak bisa mengimbangi rasa rendah hati mereka.
"Airin. Ayo kembali," ucap Vino.
"Kenapa? aku masih ingin disini."
Vino mendekat dan membisikan sesuatu. Airin membulatkan matanya dan langsung mengangguk. Dia menggenggam tangan Vino dan berjalan kembali ke rumah.
Sampai di rumah. Airin hanya perlu membersihkan dirinya dan bersiap pergi. Vino sudah menyiapkan koper untuk mereka bawa pulang.
Vino mendapat kabar jika Sela sudah ketemu. Hanya saja, mereka bisa belum bertemu. Ada hal yang harus mereka urus lebih dulu.
***
Perjalanan pulang kali itu tidak seindah saat berangkat. Karena apa? karena mereka kembali kemasalah mereka. Masalah yang mereka lupakan dalam beberapa hari dan memilih menikmati hidup.
"Apa Sela akan baik-baik saja?" tanya Airin.
Vino memegang erat tangan Airin, "Aku yakin dia akan baik-baik saja. Ada Arja yang melindunginya."
Airin menyunggingkan sebuah senyuman. Kembali pikiran Airin teringat akan Sela, dia takut jika terjadi hal mengerikan pada Sela.
Sampai disebuah gedung perkantoran. Airin dan Vino turun, mereka masuk untuk bertemu dengan Arja. Dia sudah menunggu sejak tadi.
"Maaf kami lama," kata Vino.
"Tidak masalah," kata Arja dengan senyuman.
Airin dan Vino dipersilahkan duduk. Lalu, Arja mulai membahas penyelidikan mereka. Bukannya mendapatkan Sela. Mereka malah mendapatkan sebuah video Sela.
"Lalu apa yang terjadi pada Sela?" tanya Airin yang sangat penasaran.
Merasa tidak senang untuk menyampaikan. Arja memilih memutar Video itu. Di dalam Video, Sela diikat kedua tangannya. Ada banyak luka ditubuhnya. Bahkan, dibagian perut ada sebuah lakban.
Airin membelalakan mata begitu mendengar ucapan di dalam video itu. Seorang wanita ingin Airin datang sendiri untuk menyelamatkan Sela.
Ponsel Airin tiba-tiba saja berdering. Sebuah nomor tanpa nama menelfonya. Airin menatap pada suaminya dan pada Arja. Mereka berdua kompak mengangguk. Airin mengangkat telfon itu, dia juga mengeraskan suaranya.
"Ha...halo," ucap Airin.
Suara wanita terdengar tertawa, "Apa kau tidak merindukan aku?" tanya wanita itu.
Airin diam. Dia bahkan tidak tahu siapa yang menelfonya saat ini.
"Jangan takut, Sayang. Kita sudah sering bertemu, bahkan kau juga sudah merebut kekasihku."
Arja dan Vino sama-sama saling pandang. Lalu mereka menatap pada Airin yang ketakutan setengah mati.
"Temui aku dan bawa Sela pergi. Jangan lupa, kembalikan juga kekasihku."
"Si...siapa kekasihmu?" tanya Airin.
"Kau tidak tahu? bahkan dia lebih sering bersamamu dari pada denganku."
Tuuut. Telfon itu dimatikan. Airin menatap pada Vino dan Arja. Dia menanyakan siapa wanita itu. Hanya ada Vino dan Arja yang selalu berada didekatnya.
"Siapa aku tanya." Teriak Airin.
"Mia," ucap Vino dan Arja secara bersamaan.
Arja menatap pada Airin, "Hanya dia wanita yang selalu mengejar cintanya. Entah dengan Vino."
"Hanya satu wanita yang mungkin mengejarku. Bahkan dia sudah meninggal tepat di hadapanku," kata Vino.
"Heila?" tanya Airin.
Vino hanya mengangguk. Jadi, kesimpulannya adalah wanita yang menelfon Airin dan mengirim pesan lewat video Sela adalah tante Mia.
Takut. Airin merasa takut jika harus bertemu dengan tante Mia. Tidak tahu kenapa, Airin merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi.
"Apa kau mau menolong Sela?" tanya Arja yang melihat keraguan dimata Airin.
Diam. Itulah yang dilakukan Airin. Dia ingin menolong Sela juga anaknya, hanya saja dia juga tidak ingin dirinya masuk ke dalam lubang api.
"Jangan paksa istriku jika dia tidak mau."
Arja menoleh pada Vino, "Kenapa kau sekarang? bukankah kau juga tidak ingin Airin selalu dalam ketakukan?"
Merasa tidak senang dengan perdebatan yang terjadi. Airin memilih untuk pergi dari ruangan itu. Dia ingin memikirkan semuanya sendiri. Tentunya agar bisa lebih jernih dalam berfikir.
***
Tante Mia sedang duduk dan berkutat dengan berbagai laporan dari para karyawanya. Dia selalu seperti ini setiap akhir bulan. Melihat laporan dari semua anak buahnya. Tante Mia bisa saja menyuruh orang lain, tapi dia memilih untuk melakukannya sendiri.
"Kenapa kalian membawaku?" tanya tante Mia dengan sangat tenang saat sampai di kantor.
"Ada yang melaporkan anda sebagai penculik dan pembunuh."
Tante Mia masih tetap tenang. Dia memang pernah melakukannya. Hanya saja, siapa yang melaporkannya.
"Biar kami saja yang mengintrogasinya," ucap Arja yang sudah tidak tahan lagi.
Vino dan Airin juga mengangguk. Mereka membawa Airin masuk ke dalam ruang introgasi. Tenang, tante Mia masih saja setenang tadi.
"Kenapa kalian melakukan ini? Airin, apa Vino masih kurang untukmu?" tanya tante Mia.
Airin tidak tahu maksud dari ucapan tante Mia.
"Dimana Sela?" tanya Arja.
Tante Mia kini menatap pada Arja.
"Aku tanya. Dimana Sela?" kali ini nada suara Arja begitu keras.
Senyuman tante Mia membuat Airin dan Vino bertanya-tanya.
"Untuk apa kita membahas Sela. Aku sudah bisa mendapatkan kamu tanpanya," ucap tante Mia.
"Lalu kenapa kau menculiknya?" kini Vino yang bertanya.
"Menculik? maksud kalian aku menculik Sela. Untuk apa aku melakukannya?" kini malah tante Mia yang balik bertanya.
Arja menarik kerah baju tante Mia, "Katakan dengan jelas. Lihat ini," Arja memperlihatkan video Sela pada tante Mia.
"Aku tidak melakukannya."
"Jangan bohong." Teriak Arja.
Dering ponsel Airin berbunyi. Airin menatap pada Vino. Nomor yang sama yang menelfonya saat di kantor Arja. Sudah jelas jika itu bukan tante Mia.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Airin.
Tante Mia mengambil ponsel itu dan mengangkatnya. Suara teriakan seorang wanita, semua orang tahu jika itu adalah teriakan Sela.
"Bagaimana? apa kau masih tidak ingin datang?"
"Siapa kamu? Sela adalah targetku. Kenapa kau membawanya?" tanya tante Mia dengan sangat elegan.
Wanita di dalam telfon tertawa dengan keras. Sepertinya dia tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kenapa kau bisa tertangkap. Padahal kau mengatakan jika kau wanita terhebat."
Tante Mia mematikan ponsel itu. Dia lalu menatap pada Arja dan Vino.
"Heila, dia yang menculik Sela," ucap tante Mia.
Semua yang ada disana tidak percaya. Jelas-jelas jika Heila sudah meninggal. Tepat dihadapan Vino.
"Jangan berkata yang tidak-tidak. Dia sudah tiada."
"Tidak mungkin. Itu suara Heila, kenapa kalian tidak percaya." Teriak tante Mia.
Lalu sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.
'Aku hitung 1 2 3'
Bruk. Tante Mia langsung terjatuh saat Airin selesai membaca pesan itu. Airin mengatakan pada Vino. Setelah itu mereka bergegas membawa tante Mia ke rumah sakit.
Apapun yang sedang terjadi. Semuanya sangat aneh dan wanita yang menculik Sela. Dia bukanlah wanita biasa.
***
Doktee keluar dari ruang rawat. Arja langsung mendekat. Dia menanyakan apa yang terjadi pada tante Mia.
"Apa dia makan sesuatu yang salah?" tanya dokter.
"Kami tidak tahu," ucap Arja.
"Dia keracunan, bukan racun yang mudah diobati. Kalian harus bersabar," kata dokter dan langsung meninggalkan Arja disana.
Kembali sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.
'Bahkan, seorang Mia sampai jatuh ke tanganku. Datanglah, atau hal yang mengerikan akan terjadi pada Sela dan anaknya.'
Merasa dia yang bersalah dalam hal ini. Airin bangun dari duduknya dan mengatakan, "Aku akan menyelamatkan Sela. Apapun yang terjadi."
***