
Suasana rumah sakit cukup ramai hari itu. Vino sengaja datang sendiri untuk mengambil hasil tes kemarin. Banyak pertanyaan yang muncul. Siapa yang melakukan hal itu atau Airin sendiri yang meminum obat di kamarnya.
Rasa lelah karena pekerjaan tidak dihiraukan lagi oleh Vino. Kini, dia harus menjaga istrinya dengan sangat ketat. Dia tidak ingin ada hal yang memalukan seperti kemarin.
"Kau sudah disini?" tanya Jay yang melihat Vino duduk di ruang tunggu, "dimana Airin."
"Aku sengaja tidak membawanya. Bagaimana hasilnya?"
Jay menyerahkan sebuah kertas. Ya, itulah hasil tes medis yang sudah dilakukan oleh Airin. Vino menatap kertas itu.
"Sejak awal aku sudah merasa jika ada yang salah. Dia minum obat tertentu yang bisa menimbulkan reaksi mengejutkan."
"Jadi?"
"Lebih baik kau bertanya pada Airin. Saat itu dia makan apa saja."
"Terima kasih," ucap Vino pada Jay.
"Mau minum kopi bersama?" tawar Jay.
Vino menggeleng dia melihat kearah jam tangannya, "Aku akan menemui clientku dulu. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama."
Jay kembali sibuk dengan pasien-pasiennya. Sementara Vino kembali ke kantor. Dia akan meeting dengan client. Baru bisa pulang dan menemui istrinya.
***
Airin duduk dengan berbagai makanan di hadapannya. Hanya saja, Airin belum bisa makan jika Ais belum datang. Ais yang akan mencicipi makanan itu agar Airin bisa makan.
Peraturan itu dibuat oleh Vino. Dia menambah beberapa peraturan di rumah itu. Tentunya peraturan yang membuat Airin merasa di kurung dalam penjara. Bagaimana tidak, Airin bisa keluar rumah jika bersama dengan Vino. Jika tidak, dia tidak bisa keluar.
"Semuanya aman, Non." Ais meletakan sendok yang baru saja dia pakai.
Airin menatap semua makanan itu. Kemudian dia melihat jam dinding. Belum waktunya Vino pulang.
"Singkirkan semuanya. Aku tidak memiliki selera makan."
"Tapi, Non..."
Airin tidak peduli dengan apa yang diucapkan Ais. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar. Bahkan, Airin kini hanya memiliki nomor ponsel dari Cika dan Vino. Tidak ada nomor orang lain lagi.
"Kenapa Vino semakin mengekangku saja," lirih Airin.
Tangan Airin menyingkap tirai yang menutupi jendela. Dia melihat keluar. Banyak orang tang berlalu lalang di depan rumahnya. Mereka terlihat bahagia dengan apa yang mereka lakukan.
Sejenak Airin berfikir lebih senang menikah dengan Arja. Dulu, dia tidak dikurung dan juga tidak dikekang. Kini, nasibnya berubah. Vino yang pencemburu kini juga protektif terhadapnya.
"Airin."
Airin menoleh. Vino datang dan langsung memeluk Airin dari belakang.
"Kau sudah pulang?" tanya Airin. Ya, dia kembali menutupi rasa tidak senangnya dihadapan Vino.
Vino mencium kening Airin dengan lembut.
"Sengaja aku pulang lebih awal. Aku merindukanmu."
"Aku juga," ucap Airin sembari memeluk erat Vino.
Setelah beberapa detik. Airin melepaskan pelukan itu. Dia membantu Vino untuk melepaskan jasnya. Airin juga menyiapkan baju ganti untuk Vino. Banyak hal yang dilakukan Airin sebagai seorang istri.
"Kata Ais, kau tidak mau makan."
"Aku sedang tidak berselera."
"Apa kau ingin makan diluar?" tanya Vino.
"Jika kau mengijinkan."
Vino tersenyum, "Aku akan mandi dan kita bisa pergi. Tunggu aku."
Harapan Airin kembali pupus. Dia sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Cika. Dia ingin bercerita banyak hal padanya. Jika di ponsel, Vino akan mengetahui semuanya. Sudah tentu jika Vino tahu dia akan marah.
***
Sebuah tempat makan kelas atas sudah tersuguh dihadapan Airin. Hanya helaan nafas yang terdengar saat Airin turun dari mobil. Dia ingin makan di tempat biasa, bukan restoran mewah.
Langkah kaki Vino dan Airin tertuju pada sebuah meja yang sudah Vino pesan sebelumnya. Bahkan, Vino juga memesankan makanan yang Airin suka.
Setelah semua makanan tersaji. Seseorang datang dan berdiri di samping meja. Dilihat dari pakaiannya, orang itu adalah manajer tempat ini.
Airin menatap pada Vino.
"Sudah. Semuanya aman."
"Kalau begitu kau bisa pergi."
Sebelum pergi manajer itu mempersilahkan kami makan. Dia juga mengatakan akan menjaga tempat itu tetap aman.
"Kau terlalu khawatir dengan semua hal," ucap Airin.
"Semua ini untuk kebaikan kamu."
"Benarkah?" tanya Airin.
"Ya. Kau adalah istriku. Aku harus memberikan apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu sukai."
"Kalau begitu. Aku ingin kebebasanku kembali."
Mata Vino berubah. Dia menatap pada Airin yang masih belum menyentuh makanannya.
"Makanlah. Aku akan mengajakmu berbelanja," kata Vino sembari menyuapkan makanan kemulutnya.
Airin tersenyum, "Aku tidak berselera makan. Kau saja yang makan."
"Rin, kita baru saja menikah. Jangan buat ribut."
"Kau bilang aku membuat ribut. Aku hanya meminta hak kebebasanku. Kau sendiri yang sudah berjanji akan memberikan aku kebebasan."
"Airin."
"Kau sama saja, Vin. Aku kecewa."
Vino melanjutkan makannya. Dia tidak memperdulikan apa yang baru saja Airin katakan. Bahkan kali ini, Airin hanya bisa merasakan kesal di dalam hatinya.
Cinta yang selalu dia impikan hasilnya selalu sama saja. Luka yang dia dapat. Tidak Arja ataupun Vino, mereka sama-sama menorehkan luka. Hanya cara mereka menyakiti berbeda.
Tidak ada hal yang Airin lakukan. Sampai akhirnya Vino selesai makan. Dengan senyuman Vino mendekat pada Airin. Dia mencoba membujuk wanitanya itu.
"Kamu ingin apa?" tanya Vino.
"Aku ingin kebebasanku."
"Ayolah, Rin. Kau tahu maksud pertanyaanku."
Airin diam. Dia mengambil tasnya dan berjalan pergi dari sana. Dia memilih untuk masuk ke dalam mobil dan duduk disana.
Tidak lama Vino mengikuti Airin masuk ke dalam mobil. Perlahan Vino menjalankan mobilnya. Ada perasaan tidak senang di hati Vino. Dia merasa Airin berubah setelah menikah.
"Rin. Aku tidak bisa membiarkan kamu bebas begitu saja. Banyak orang yang ingin melukaimu di luar sana."
Airin masih tidak merespon.
"Aku juga tidak ingin kau direbut oleh orang lain."
Kembali hanya diam yang Vino dapatkan.
"Airin!" kali ini Vino memanggil Airin dengan suara keras.
Airin menoleh dan tersenyum. "Perlahan, kau akan menunjukan siapa dirimu sebenarnya. Jika kau memang mencintaiku, kau akan percaya padaku."
"Airin. Aku..."
"Sudah cukup. Aku tidak ingin bicara denganmu sampai kamu membiarkan aku bebas."
Airin turun dari mobil dan bergegas masuk ke rumah. Bukannya masuk ke kamar Vino, Airin memilih masuk ke dalam kamarnya yang dulu. Walau kini, ruangan itu sudah disulap menjadi ruang baca.
***
Beberapa hari Airin dan Vino lewati. Mereka masih belum bertegur sapa. Bahkan makan juga tidak bersama. Sudah berulang kali Vino memberikan penjelasan. Hanya saja, Airin masih belum terima.
Airin ingin menjadi istri yang baik, tapi bukan berarti dikurung di dalam rumah. Dia juga ingin memiliki waktu bersama dengan teman. Bukan hanya berdiam diri di dalam kamar.
"Airin," panggil Vino sembari menahan tangan Airin.
Dengan keras Airin melepaskan genggaman tangan itu. Kembali Airin masuk ke dalam ruangannya dan mengunci pintu.
***
NB: untuk pembaca. Author minta kritik dan sarannya. Author lagi bingung bagaimana mau ngelanjutin cerita ini.