
Airin keluar dari kamar dengan pakaian tidurnya. Kembali dia memimpikan hal yang mengerikan. Hal itu sangat mengganggunya, saat ini yang dia inginkan hanya segelas air untuk sedikit menenangkannya.
Pikiran Airin sangat kacau. Dia melihat wanita itu datang, tapi dia tidak tahu itu ilusi atau nyata. Setiap ada yang masuk ke kamarnya, wanita itu akan hilang. Saat dia datang, hanya ada pembahasan tentang kehancuran Airin.
Tanpa sadar, Airin menuangkan air ke gelas sampai meluap. Hal itu membuat Vino langsung mendekat dan membantu Airin. Airin menoleh pada Vino, orang yang sama yang selalu menemaninya dan melindunginya.
"Kau belum tidur?" tanya Airin.
Vino menggeleng sembari mengambil gelas di tangan Airin, "Kau? apa kau mimpi buruk?"
"Bagaimana kau tahu?"
Vino memegang tangan Airin dan mengajaknya duduk di kursi. Airin tidak tahu apa yang akan diucapkan Vino padanya. Yang jelas, Airin punya firasat buruk akan hal ini.
"Dokter mengatakan semuanya padaku. Kau akan sering mimpi buruk. Apa lagi tentang wanita yang menculikmu, kau juga mungkin akan sering melihatnya. Walau hanya di dalam ilusimu."
"Jadi, aku benar-benar gila?" tanya Airin dengan senyuman.
Vino menggeleng, dia mendekat pada Airin, "Bukan begitu. Kau hanya trauma dan harus menjalankan beberapa terapi."
"Aku tidak mau," kata Airin yang langsung menolak.
"Ini demi kebaikan kamu. Jika tidak, mentalmu akan terganggu."
Airin tidak habis fikir dengan apa yang dikatakan Vino. Bagaimana bisa Vino langsung memutuskan semuanya tanpa bertanya dulu. Airin melepaskan tangannya dari Vino.
Vino tahu, jika dia sudah melukai hati Airin. Hanya saja, Vino tidak ingin terjadi sesuatu pada kekasihnya itu. Mau Airin gila atau tidak, Vino akan selalu mendampinginya.
"Rin,"
"Aku mau istirahat."
Airin langsung meninggalkan Vino di dapur. Dia masuk ke kamar dengan segala macam pikiran. Dia merasa baik-baik saja, bahkan dia sudah mencoba menahan diri agar tidak takut saat melihat si wanita itu.
Ais, sejak kejadian itu Ais lebih sering berada di dekat Airin. Bahkan kamarnyapun dipindahkan di samping kamar Airin. Alasan mama memindahkannya karena tidak ingin terjadi apapun pada Airin.
Buk, Airin kaget setengah mati saat melihat Ais dengan rambut awut-awutan berdiri di dalam kamarnya. Airin yang melihat itu mencoba mengatut nafasnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Airin yang merasa tidak nyaman.
Ais mencoba merapikan rambutnya, "Aku kira kau pergi dari sini," kata Ais.
"Maksudmu?"
"Maksudku adalah aku takut kau keluar tanpa kau sadari. Kau tahu, semacam tidur sambil berjalan."
Airin menggeleng, "Aku tidak pernah mengalami gangguan tidur. Kau bisa pergi sekarang," kata Airin.
"Baiklah."
Tidak tahu harus melakukan apa. Airin memilih untuk berkirim pesan dengan Cika. Dia mengatakan semuanya dan seperti biasa, Cika akan membalas pesan itu dengan penuh nasihat ala orang tua.
Perlahan rasa kantuk datang menyelimuti Airin. Membuatnya tanpa sadar menutup matanya dengan perlahan. Masih dengan ponsel di genggamannya.
Langkah kaki Vino sangat pelan. Membuat Airin tidak sadar. Dengan penuh kelembutan, Vino menyelimuti tubuh Airin. Sebelum dia keluar, Vino sempat mengecup pelan kening Airin. Beberapa hari lagi, dia akan membuat Airin menjadi kekasih sejatinya.
"Maafkan aku," lirih Vino ditelinga Airin yang sudah terlelap.
***
Kali ini Airin memilih untuk menemui Cika saat makan siang. Dia akan meminta bantuan Cika untuk bertemu dengan Sela. Bagaimanapun, Airin sangat penasaran dengan siapa dalang penculikannya. Dia mengatakan hal itu pada Cika.
"Apa kau tidak takut?" tanya Cika sembari melahap kentang goreng miliknya.
"Tidak. Yang aku takutkan adalah keselamatan Sela dan bayinya."
Cika menatap pada Airin, "Aku tahu kau sangat ingin tahu. Hanya saja jangan sekarang, mungkin akan ada bahaya lainnya yang mengintaimu."
Airin merasa jika apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya juga. Apa lagi dia ingat dengan ucapan wanita itu. Dia akan menyingkirkan setiap orang yang membantu Airin. Hal itu membuat Airin berfikir dua kali.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Cika.
"Aku masih belum tahu. Apa lagi aku harus bertemu dengan dokter seminggu sekali. Kalau tidak aku akan gila," kata Airin.
Cika menepuk pundak temannya itu, "Kau harus bisa melewatinya. Cepat atau lambat, kau juga akan tahu semuanya."
"Ya." Airin melihat kearah jam dinding di cafe itu, "sepertinya aku harus pergi sekarang. Vino sudah menungguku."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Dengan langkah mantap Airin meninggalkan cafe itu dan menemui Vino. Dengan senyuman yang mengembang, Vino melambaikan tangannya pada Airin.
Hari ini, Airin akan melakukan beberapa pengecekan kesehatan. Tentunya agar Vino dan mamanya tidak khawatir lagi. Untung saja dokter yang akan mengetesnya adalah Jay. Jadi tidak akan membuat Airin gugup.
"Kau sudah lama?" tanya Airin.
"Tidak," kata Vino sambil membukakan pintu untuk Airin.
Walau rasa kecewa masih berada di hati Airin. Tetap saja Airin merasa nyaman di samping Vino. Dia adalah calon suami yang baik menurut Airin, walau Airin tidak tahu cinta itu akan membuatnya terluka lagi atau tidak.
Banyak hal yang mereka persiapkan untuk pernikahan mereka. Apa lagi, acara itu akan diadakan beberapa hari lagi. Airin sangat ingin menemui Sela dan mengatakannya. Hanya saja, Arja pasti tidak akan memperbolehkannya.
***
Setelah melakukan beberapa tes. Airin kembali pada Vino, mereka duduk di kantin rumah sakit sembari menunggu hasil. Kata Jay, hasilnya akan keluar satu jam lagi.
Beberapa kali Airin terlihat mengedarkan pandangannya kearah luar. Dia mencari apa ada mobil Arja atau tidak. Jika tidak, dia akan menemui Sela walau hanya sebentar.
"Mau kemana?" tanya Vino saat Airin akan beranjak pergi.
Airin tersenyum, "Aku ingin melihat Sela."
Vino mencegah Airin dengan cara menahan tangannya.
"Kenapa?" tanya Airin.
"Aku akan menemanimu," kata Vino.
Airin mengangguk. Perlahan Airin menggandeng tangan Vino. Mereka memasuki lift agar cepat sampai ke lantai tiga. Mungkin tidak ada yang menemani Sela saat ini.
Sampai di lantai tiga, Airin langsung masuk ke kamar Sela. Sela sedang duduk dengan sebuah buku tentang kehamilan di tangannya. Senyumannya mengembang begitu melihat Airin masuk. Vino juga tersenyum pada Sela.
"Kalian disini?" tanya Sela.
"Ya, kami ingin melihat keadaan kamu." Ujar Vino.
"Terima kasih," ucap Sela.
Akhirnya, Airin dan Vino keluar dari ruang rawat Sela dengan tangan kosong. Airin tidak mendapat jawaban yang dia inginkan. Kecewa, itu sudah pasti. Hanya saja Airin memilih diam.
"Aku tahu kau sangat berharap Sela mengatakannya," kata Vino saat di dalam lift.
Airin hanya diam. Dia menatap kosong pada pintu lift itu. Vino merasa kesal saat melihat Airin tidak semangat. Dia langsung memegang ke dua pundak Airin dan menatap matanya.
"Aku akan membantumu mencari tahu. Asal kau mau menjalankan terapi itu," kata Vino.
"Tentu."
Vino tersenyum puas, lalu dia memeluk pinggang Airin dengan sangat lembut. Sudah lama sekali mereka tidak berdua seperti ini. Apa lagi sejak kejadian penculikan itu.
Sampai tanpa sadar pintu lift terbuka. Beberapa orang masuk dan membuat Airin merubah posisinya. Vino hanya tersenyum kecil, membuat Airin tersipu malu.
Dari arah lorong, Jay berlari dengan cepat kearah Airin dan Vino. Dia membawa sebuah kertas yang mereka sudah tahu jika itu hasil tes Airin.
"Bagaimana?" tanya Vino tanpa basa-basi.
Jay mengembangkan senyuman dibibirnya, "Calon istrimu ini sangat sehat. Kau tidak perlu takut," kata Jay.
"Tapi kenapa dia harus menjalankan terapi?" tanya Vino.
Jaya menyerahkan hasil itu pada Airin, "Ikuti saja apa mau mama kamu. Mungkin dia hanya merasa khawatir pada Airin."
Airin memegang tangan Vino, "Benar apa yang dikatakan Jay."
Vino mengangguk, "Kalau begitu kami pergi dulu. Aku akan memberikan hasil ini pada Mama."
"Ya."
Sudah jelas jika Vino juga tidak ingin Airin diterapi. Hanya saja mama Vino yang terus memaksa dan membuat Airin hanya bisa mengatakannya.
Di dalam mobil suasana hening. Airin menatap hasil tes itu dengan kesal. Bagaimanapun, dia merasa jika ada yang terus mengikutinya dan mengintainya.
Sampai di sebuah jalan yang sepi. Airin melihat wanita yang menculiknya membawa sebuah senjata tajam. Mungkin sebuah pisau kecil, dia mendekat dan langsung menusuk mata Airin.
"Tidaaak," teriak Airin dengan sangat keras. Membuat Vino langsung menghentikan mobilnya.
Vino menarik Airin mendekat padanya dan menatap wajahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Vino.
Airin menggeleng, "Ti...tidak. Mungkin hanya halusinasiku saja." Airin memegang mata kirinya yang baik-baik saja.
"Atur nafasmu. Kau akan lebih baik," kata Vino.
Airin mengangguk dan melakukan apa yang Vino katakan. Kenapa dia tiba-tiba saja ada bayangan si penculik, pikir Airin. Apa benar aku ini gila? pertanyaan itu hadir dihati Airin.
Vino kembali menjalankan mobilnya. Dia menjalankan dengan sangat pelan. Tentunya agar Airin merasa lebih tenang dan tidak takut lagi. Vino benar-benar merasa jika Airin sudah berubah. Dia kadang melakukan hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.
***
"Bagaimana?"
"Aku sudah melakukannya. Kau tenang saja."
"Lalu?"
"Mereka pasti akan mengira jika Airin gila dan akan membuangnya."
"Bagus. Lakukan dengan cepat."
***
Malam itu terasa sangat dingin. Airin duduk di samping jendela kamarnya. Beberapa kali dia mengirim pesan pada Sela. Tidak ada balasan sama sekali. Airin merasa jika ancaman penculik itu benar-benar terjadi.
"Bagaimana?"
Airin terhenyak sampai terjatuh dari kursi. Kembali wanita itu muncul dengan pakaian yang biasa dia pakai. Rambutnya yang awut-awutan membuat kesan wanita itu lebih mengerikan.
Wanita itu mendekat dan meletakan sebuah silet di tangan Airin. Dia tersenyum dengan wajah jahat. Lalu, perlahan wanita itu menuntun tangan Airin agar melukai dirinya sendiri. Ya, darah mulai mengucur dari tangan Airin, hanya saja Airin tidak merasakan apapun.
"Apa sakit?" tanya Wanita itu.
Airin menggeleng dengan pelan.
"Aku berharap kau merasakan luka yang aku rasakan," kata wanita itu.
"Siapa kau sebenarnya?" kali ini Airin merasakan perih di lika yang dia buat.
Wanita itu tersenyum, "Apa kau tidak ingat denganku?"
Airin diam sembari menahan darah yang keluar dari tangannya. Kali ini, wanita itu memegang belakang kepalanya. Lalu perlahan sebuah topeng terlepas.
Kaget, Airin sangat kaget dengan apa yang dia lihat. Wanita itu adalah wanita yang sama yang datang keacara pertunangan Airin dan Vino. Siapa lagi kalau bukan Heila.
Heila tersenyum lalu menekan sebuah silet lagi ketangan Airin. Airin ingin menjerit, tapi tidak bisa. Heila tersenyum dan membisikan sesuatu. Setelah itu, Airin tergeletak pingsan dengan tangan bersimbah darah.
Ais memegang sebuah piring berisi roti. Tadi, Airin meminta roti dengan selai nanas. Brak, Crang, Ais melepaskan piring di tangannya. Dia kaget melihat keadaan Airin yang sudah tergeletak tidak sadar.
Dengan cepat, Ais menekan bel agar Vino atau mamanya datang. Dengan segala kekuatannya, Ais mencoba membawa Airin ketempat tidur.
Suasana rumah berubah menjadi sangat kacau. Bahkan beberapa pelayan mengatakan jika Airin ingin bunuh diri karena halusinasinya.
Sementara Vino dan mamanya memilih diam mendengarkan penuturan dokter yang menangani Airin.
"Bagaimana?" tanya Vino.
"Kali ini halusinya sudah semakin parah. Dia bisa saja kehilangan nyawanya kapan saja," kata dokter.
"Lalu?"
"Lebih baik kau mengikatnya dan jangan dilepaskan."
Vino tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu. Bagaimana mungkin dia mengikat Airin dan membuatnya terluka. Vino merasa sudah ada yang salah.
"Lakukan saja apa yang dokter katakan. Demi kebaikan Airin," kata mama Vino.
Vino hanya mengangguk. Dia meminta beberapa pelayan melakukan apa yang dokter katakan.
Sedih, Vino sangat sedih melihat Airin yang terbaring lemah dengan ikatan di tangan dan kakinya. Setelah semua orang pergi, Vino mendekat dan memeluk Airin dengan lembut.
"Biarkan aku melakukan sesuatu. Aku tahu kau tidak gila," ucap Vino.
***