
Airin merasa sangat segar setelah mandi. Sengaja Airin meneringkan rambut dan berganti pakaian di ruang ganti. Takut jika ada yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
Setelah kemarin Airin melihat perselingkuhan Kenzo dan Maya. Pikirannya sedikit tidak tenang. Maya pasti tidak akan membiarkan Airin mengatakan apapun pada Arja.
Praaank. Airin terlonjak kaget saat mendengar suara dari dalam kamarnya. Dengan cepat Airin keluar tapi, Airin tidak melihat siapapun atau apapun yang aneh. Hanya vas bunga yang ada di meja dekat jendela pecah.
"Tidak ada siapapun, kenapa terjatuh?"
Karena waktu yang sudah cukup siang. Airin meminta pelayan yang membersihkannya. Hari ini Vino ada meeting penting. Tidak mungkin jika Airin harus terlambat.
***
"Kau mau kemana?" tanya Maya saat Airin baru akan keluar dari rumah.
Airin menoleh. Tidak biasanya Maya bertanya setenang ini pada Airin. Dia terlihat tidak seperti Maya yang biasanya. Apa ada sesuatu? pikir Airin.
"Apa lagi, aku bukan kamu yang memiliki hobi meminta."
"Aku tahu, aku sudah pesankan taxsi untuk kamu. Taxsinya sudah menunggumu."
Maya bahkan tidak kesal saat mendengar perkataan Airin kali ini. Apa dia takut Airin akan mengatakan semuanya pada Arja. Tapi, keputusan sudah Airin ambil. Tidak mungkin Airin akan termakan omongannya lagi.
"Oh ya, nanti Arja akan pulang. Apa kau mau menjemputnya?" tanya Maya lagi.
Mengingat jadwalnya hari ini, dia akan sibuk menamani Vino. Tidak mungkin Airin bisa menjemput Arja di bandara.
"kau saja. Hari ini aku sibuk," kata Maya.
"Terima kasih, Kak."
Airin yang berniat akan pergi kaget dengan ucapan Maya di akhir kalimat. Mata Airin menatap lurus padanya, tidak ada yang salah. Lalu apa yang terjadi.
"Ini sudah siang. Nanti Kakak bisa telat," Maya mengingatkan Airin.
"Ya. Aku pergi dulu."
Apa kepalanya terbentur sesuatu? sampai dia mengatakan hal selembut itu, pikir Airin. Terlihat jelas jika dia tidak sedang menipunya. Lalu apa maunya? pikir Airin lagi.
Taxsi sudah siap di depan gerbang rumah. Tanpa pikir panjang Airin langsung masuk ke dalam. Vino akan kesal jika Airin tidak datang tepat waktu.
Perjalanan ke kantor kali ini Airin merasa sangat nyaman. Airin sudah membayangkan nanti bertemu dengan Arja. Airin juga sudah menyiapkan hadiah untuknya.
***
Meeting sudah selesai. Sebuah pesan mendarat di ponsel Airin. Dengan hati-hati dia membukannya.
Aku sudah sangat merindukan kamu.
Entah apa yang sedang dipikiran Arja sampai dia mengirim pesan seperti itu pada Airin. Pesan yang membuat Airin tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras. Walau begitu, Airin tetap merasa aneh dengan perubahan sifat Maya. Arja juga berubah.
"Senyumnya kok bikin takut ya?" tanya Sela yang membuat Airin kaget.
"Kau ini."
"Apa sudah ada kemajuan untuk hubungan gilamu itu?" tanya Sela pada Airin.
Tidak ada tanggapan untuk pertanyaan itu. Airin masih terlalu bodoh tentang cinta, tapi Airin masih tetap bertahan untuk mengejar cinta suaminya. Walau sudah banyak luka yang ditaburkan.
"Mau aku bantu?" tawar Sela dengan senyuman aneh.
"Tidak perlu, lebih baik aku melakukannya sendiri."
Sela mengangguk mengerti. Dia mengambil semua barang di tangan Airin. Setelah itu berbisik dengan bisikan aneh.
Airin menoleh dengan cepat, "Apa kau serius?" tanya Airin.
"Sejak satu jam lalu dia menunggu kamu."
"Kenapa kau tidak katakan sejak tadi."
"Kau sendiri banyak bicara," ucap Sela.
"Sudahlah."
Airin langsung berlari menuju lift. Tidak mungkin Airin biarkan suaminya menunggu lama. Sudah lelah berlari, lift ternyata penuh. Airin memilih lewat tangga. Lelah memang, tapi Airin memiliki alasan untuk hal ini.
"Arjaaaa." Airin berteriak dan langsung memeluknya.
Arja melihat aneh pada Airin. Disisi lain, ada dua pasang mata yang merasa terluka karena sikap Arja dan Airin.
"Ada apa?" tanya Airin.
"Kauberubah menjadi lebih berani."
Arja mendekat dan membisikan sesuatu, "Ini di depan umum dan kau memelukku dengan erat."
Mata Airin melirik ke kiri dan ke kanan. Benar, banyak orang yang memperhatikan mereka sekarang. Karena malu, Airin memilih untuk menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Arja.
Arja mengajak Airin pergi dari kantor. Dia mengatakan jika akan makan dengan Airin di tempat sepesial.
"Bagaimana harimu tanpaku?" tanya Arja.
Airin menggeleng. Tidak ada hal yang sepesial tentunya. Airin bahkan kaget saat Arja datang menemuinya. Setahu Airin, Arja sedang marah dengannya. Airin menepis pikiran buruknya.
"Maaf, kemarin-kemarin aku selalu marah. Maya sudah menjelaskan semuanya padaku, dia mengaku salah."
"Maya?" tanya Airin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arja.
"Ya. Dia tadi menemuiku. Dia mengatakan jika selama ini dia menjebakmu. Alasanya hanya satu, tidak ingin cintaku terbagi."
Jika sudah seperti ini. Mana mungkin Airin bisa menjelekan Maya di depan Arja. Jika Airin melakukannya, Arja akan mengira Airin balas dendam dan mengada-ada. Airin memilih diam dan menjalani hari itu dengan Arja.
"Dan untuk keguguranmu. Aku sangat menyesal," kata Arja dengan tangan memegang erat tangan Airin.
Diam. Airin hanya bisa diam, jika ingat hari itu. Airin merasa sangat hancur. Waktu yang sangat ingin Airin lupakan.
"Maaf," kembali kata itu diucap oleh Arja.
"Kau tahu kebenaran ini dari mana?" tanya Airin.
Arja menggeleng, "Yang penting aku sudah tahu kamu tidak berbohong."
Kini kami kembali terdiam di dalam mobil. Aneh rasanya, huungan kami menjadi normal begitu saja.
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.
Aku sangat cemburu.
Membaca pesan itu membuat Airin tidak tahu harus bagaimana. Mungkin Vino melihatnya tadi keluar dengan Arja.
Ting.
Semoga berhasil.
Tidak tahu lagi harus bersikap apa. Vino jelas cemburu, tapi dia masih sempat menyemangati Airin.
***
Arja menghentikan mobilnya di sebuah tempat makan dengan desain yang sangat alami. Tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
"Ayo masuk." Arja menggandeng tangan Airin dengan erat, "kamu naik ke atas saja dulu. Aku akan pesan makanan."
"Baik."
Tidak percaya rasanya. Airin sangat takjub dengan pemandangan yang disuguhkan di restoran ini. Pemandangan yang sangat memanjakan mata.
"Bagaimana di sini?" tanya Arja yang ternyata sudah di belakang Airin sejak tadi.
Airin tersenyum, "Sangat indah. Bagaimana kau tahu tempat ini?"
"Maya yang merekomendasikannya."
Maya? kenapa dia lagi. Sejak tadi pagi dia selalu berbuat baik pada Airin. Sekarang, dia juga mencoba membuat hubungan Airin dengan Arja membaik.
"Jangan pikirkan yang tidak-tidak. Dia sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan."
Kembali Arja mencoba mengingatkan Airim tentang hal baik. Sudah sangat lama memang, Airin dan Arja tidak pergi berdua seperti ini. Sejak tahu Maya hamil, Arja tidak pernah memperlakukan Airin dengan baik.
"Bagaimana kalau malam ini kita menginap di hotel dekat sini?" tanya Arja saat kami sudah duduk.
"Terserah kamu. Yang jelas, aku masih punya pekerjaan besok," kata Airin.
"Aku sudah putuskan untuk membayar denda di perusahaan kamu."
Tangan Airin yang sudah siap mengambil hadiah di tas. Kini dia urungkan.
"Memangnya kenapa? kau tiba-tiba ingin aku berhenti kerja," kata Airin.
"Aku sudah mengatakan semua alasanku pada Vino. Dia mengerti akan hal ini," kata Arja.
Vino bahkan tidak mengatakan apapun pada Airin. Arja suaminya, dan Airin sudah berjanji untuk menurut padanya.
Makanan sudah mulai datang. Airin meletakan tasnya di samping kiri. Sebelumnya ada pesan masuk dari Vino. Besok Airin harus datang lebih pagi. Ada hal yang harus diurus.
***