My Love My Pain

My Love My Pain
Liburan



Mentari pagi ini bersinar sangat cerah. Airin sudah siap dengan dress motif bunga dan tas yang tergantung di pundaknya. Hari ini, Airin akan pergi jalan-jalan dengan Vino.


Sementara para anak buah Vino menyelidiki kasus itu. Vino ingin istrinya bahagia dan melupakan semuanya, walau hanya sejenak.


"Aku dan Airin pergi dulu. Untuk sementara, kau yang mengurus urusan di rumah ini," kata Vino sebelum keluar dari rumah.


"Baik, Tuan."


Ais menyunggingkan senyum. Lalu dia bergegas keluar untuk menyiapkan mobil yang akan dibawa Airin dan Vino. Ais juga membukakan pintu mobil agar Airin bisa masuk lebih dulu.


"Apa kau tidak ikut?" tanya Airin.


"Dia akan mengurus rumah selama kita pergi."


Airin tersenyum mendengar penjelasan dari Vino. Brak, Vino tanpa sengaja menabrak pot bunga yang berada di depannya. Hampir saja Vino jatuh, untung ada Ais yang sigap membantu.


Dengan perasaan tidak tenang. Airin kembali turun dan langsung mendekat pada Vino. Dia melihat kaki Vino, apa ada luka atau tidak. Sementara Ais masuk untuk mengambil kotak obat.


"Aku tidak apa-apa."


"Kau terlihat kesakitan," ucap Airin.


"Kaulah obatku," setelah mengatakan itu Vino mencium tangan istrinya itu.


Senyuman Airin mengembang. Bahkan, pipinya juga memerah karena ulah Vino.


"Permisi," ucap Ais.


Buru-buru Airin berdiri dan mengambil kotak obat yang berada di tangan Ais. Dengan cekatan, Airin mengoleskan obat merah di luka Vino. Walaupun luka kecil, Airin tetap membersihkannya dengan penuh kasih sayang.


"Bawa masuk kembali. Aku sudah selesai," Airin kembali memberikan kotak obat itu pada Ais.


Ais menerimanya lalu bertanya, "Apa kalian akan tetap pergi?" tanya Ais.


Vino berdiri dan memeluk pinggang istrinya itu, "Tentu. Aku tidak ingin istriku kecewa."


"Jika masih sakit, kita tidak usah pergi. Kita bisa pergi lain kali," kata Airin.


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa."


Ais masuk karena sudah terlalu lama melihat kemesraan yang dibuat oleh Airin dan Vino. Dia meletakan kotak obat dan kembali duduk di dalam ruangannya.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ais. Dia membaca pesan itu dan kembali meletakan ponsel itu. Hanya saja, wajah Ais berubah ekspresi.


***


Angin sepoi-sepoi perlahan masuk ke dalam mobil. Membuat suasana menjadi semakin tenang dan nyaman. Mata Airin terus melihat kearah luar. Dia menikmati semua pemandangan itu dengan hati tenang.


Tanpa Airin sadari. Vino memandang kearah Airin sejak tadi. Dia menatap wanita yang selama ini sudah menemaninya. Walau belum ada malaikat kecil yang datang. Tetap saja cinta Vino pada Airin bertambah setiap harinya.


Ciiiiiit. Vino mengerem mendadak. Dia hampir saja menabrak pembatas jalan yang berada di depannya. Sejak tadi, Vino tidak fokus menyetir. Dia lebih fokus menatap pada Airin.


"Kau kenapa?" tanya Airin karena kaget dengan apa yang terjadi.


Vino melepaskan sabuk pengamannya dan mendekat pada Airin.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Vino.


Airin menggeleng, "Aku tidak apa-apa. Apa kakimu sangat sakit? biar aku saja yang menyetir."


"Apa kau bisa menyetir?" tanya Vino.


Airin hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepala. Vino tertawa lepas melihat keluguan istrinya itu. Dia mengelus pelan rambut Airin dan kembali bersiap menyetir.


"Kali ini, aku akan sangat berhati-hati," ucap Vino.


Kini, Airin kembali menikmati pemandangan itu. Sementara Vino mencoba memfokuskan diri pada setir. Dia tidak ingin terjadi kecelakaan yang fatal dan membuat Airin terluka.


Sampai di area pegunungan. Airin dan Vino turun, sebuah rumah sederhana tampak dari pinggir jalan. Airin menoleh pada Vino dan hanya diangguki oleh Vino.


Hari itu, mereka akan berlibur di pegunungan dengan rumah sederhana dan berbagai kegiatan. Dengan langkah tenang, Vino dan Airin masuk ke dalam rumah. Di sana ada seseorang yang sedang duduk.


"Permisi," ucap Vino.


Pria tua itu terbangun dan langsung mendekat kearah Airin dan Vino.


"Pak Vino sudah datang," ucapnya ramah.


Airin menoleh pada Vino.


"Ini adalah Pak Tono, penjaga perkebunan ini."


Airin mengangguk pada Pak Tono.


"Ini istri saya, Pak. Airin."


"Pak Tono bisa saja," kata Vino.


Setelah percakapan sebentar. Pak Tono membukakan pintu rumah itu. Kami melihat-lihat, setelah selesai menjelaskan. Pak Tono berpamitan untuk pulang ke rumah.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Pak Vino."


Airin dan Vino kembali masuk. Mereka masuk dengan koper yang mereka bawa. Airin baru tahu jika Vino memiliki perkebunan di daerah gunung. Di rumah sederhana itu, Airin dan Vino melepas lelah yang mereka rasakan.


***


Suara dering telfon membuat Vino membuka matanya. Dia duduk dan melihat siapa yang menelfon sepagi itu. Arja.


"Kenapa kau menelfonku? bukankah aku sudah katakan jika aku sedang bulan madu dengan Airin."


Arja tertawa kecil, "maaf. Aku hanya ingin mengatakan jika kita sudah menemukan titik terang. Mungkin beberapa hari lagi kita akan menemukan Sela."


"Apakah semudah ini."


"Aku juga merasa aneh. Kenapa jalan yang kita pilih sangatlah mulus. Bahkan tidak ada rintangan sampai saat ini."


"Vino," panggil Airin yang tidak tahu jika Vino sedang menelfon.


"Sudah dulu. Istriku memanggil," kata Vino.


"Baiklah. Aku berharap anakmu perempuan. Akan aku nikahi dia nanti," canda Arja.


"Dasar kau ini."


Vino menutup telfon dan langsung mendekat pada Airin. Airin tidak bertanya, namun tatapan matanya menandakan adanya sebuah pertanyaan.


"Arja yang menelfon."


"Ooh."


"Kenapa hanya oh?"


Airin menoleh, "Lalu aku harus apa?"


Vino memeluk istrinya yang sedang meletakan piring ke meja. Dia mencium pipi kiri Airin pagi itu.


"Aku lapar," bisik Vino.


"Kalau begitu. Ayo, makan."


Vino menggeleng, "Aku akan mandi lebih dulu. Kau bisa makan lebih dulu."


Kemudian Vino masuk ke kamar mandi. Sementara Airin membersihkan dapur yang baru saja dia gunakan untuk memasak.


Tok tok tok.


Airin bergegas membuka pintu karena mendengar sebuah ketukan. Pak Tono sudah berada di luar rumah dengan senyuman yang ramah.


"Apa Tuan Vino masih di rumah?" tanya Pak Tono.


"Masih, Pak. Ayo masuk lebih dulu."


Airin membuatkan teh untuk Pak Tono. Tidak lama, Vino keluar dari kamar. Dia sudah menggunakan pakaian rapi. Kemudian, Airin memilih masuk ke kamar. Dia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang berunding.


Rasa lapar mulai menghinggapi perut Airin. Walaupun begitu, dia tidak berniat untuk makan lebih dulu. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan makan bersama dengan Vino. Hanya berdua.


Hampir satu jam sampai Vino masuk ke dalam kamar. Dia melihat Airin yang sedang duduk dengan wajah gelisah. Bahkan, Vino belum pernah melihat sebelumnya.


"Apa kau sakit?" tanya Vino yang langsung mendekat.


"Tidak. Aku hanya lapar saja," ucap Airin.


"Apa kau belum makan sejak tadi?" tanya Vino.


Airin menggeleng. Lalu, Vino menggandeng tangan Airin masuk ke dalam dapur. Vino sendiri yang mengambilkan nasi juga lauk pauk untuk Airin.


"Kenapa kau masih belum makan?"


"Aku menunggumu. Jangan tanyakan alasanya, aku hanya ingin makan berdua denganmu. Tidak seperti biasanya, yang selalu bersama dengan orang lain."


Vino hanya bisa tertawa mendengar penuturan dari istrinya itu. Lalu, dia mulai mengambil nasi.


"Ayo makan. Aku juga akan makan," ucap Vino.


Airin mengangguk. Hari itu, hari dimana Airin merasa menjadi istri yang sesungguhnya. Dia memasak dan makan bersama dengan Vino. Tanpa ada halangan tentang pekerjaan atau masalah lain.


***