My Love My Pain

My Love My Pain
Sifat aneh kembali muncul



"Aku mencintaimu, Airin," kata Vino kemudian.


"Jangan pernah menghubungiku lagi. Aku tidak mau cinta terlarang ini semakin tumbuh. Lebih baik, kita kubur perasaan ini seperti dulu."


Ya, Airin sudah melakukan hal benar. Airin tidak boleh kembali lagi kemasa lalu. Airin tidak boleh mengingat hal menyenangkan itu.


***


Pikirannya masih saja terpaku kepada Vino. Ya, dia berhasil membuat Airin kembali memikirkannya. Padahal Airin tahu ini semua salah.


Taxsi yang membawanya pulang rasanya sangat lambat. Beberapa kali Airin mengecek jam tanganku. Seperti tidak ada pergerak sama sekali.


Bagaimana Airin akan menjelaskan semuanya pada Arja. Dia pasti marah karena Airin terlambat pulang. Airin tidak mau jika Arja kembali melirik wanita lain hanya karena kesalahannya ini.


"Nona, nona."


"Ya pak?" lamunan Airun semuanya kabur karena teriakan pak sopir.


"Ini sudah sampai. Apa Nona tidak ingin turun?" tanya pak Sopir itu.


Mata Airin berkeliling. Benar saja, ini sudah sampai di rumah. Kenapa Airin tidak sadar, Airin memukul kepalanya sendiri dengan cukup keras.


"Terima kasih pak. Kembaliannya diambil aja."


Airin memberikan uang dan langsung turun. Langkahnya rasanya gontai, takut jika Airin harus berdebat dan bertengkar lagi dengan Arja. Airin hanya bisa pasrah kali ini.


Tangannya menyentuh gagang pintu dengan gemetar. Sementara pikirannya masih mencari alasan yang tepat untuk mengatakan pada Arja. Bagaiama ini, bagaimana?


"Kau pulang?"


Kaget. Benar-benar merasakan kaget. Dia melihat Sela yang sedang duduk dengan tas di sampingnya. Di sana juga ada Arja yang sedang duduk.


Tatapan mereka langsung beralih pada Airin. Airin merasa sangat tidak enak. Dengan pakaian seperti ini Airin keluar dengan pria lain. Sekarang, Airin harus dihadapkan pada suaminya yang menatap dengan tajam.


"Ikut aku," kata Arja dengan datar.


Airin mengangguk dan melangkahkan kaki mengikuti Arja. Sela hanya diam dan menatap penuh tanya pada Airin. Kali ini, Arja pasti akan tahu semuanya. Dia akan membenci Airin pastinya.


Sampai di dalam kamar. Bukan kamar Airin dan Arja, melainkan kamar tamu yang berada di lantai bawah. Mata mereka bertemu, tatapan menyelidik membuat Airin hanya diam terpaku. Bahkan, untuk bernafas saja rasanya sangat menakutkan.


Brak. Arja menggebrak meja yang ada di samping tempat tidur. Kemudian dia melemparkan beberapa lembar foto pada Airin.


Mau tidak mau Airin mengambil semua foto itu dan melihatnya. Dengan membungkukan badan, akhirnya Airin berhasil mengambil foto terakhir.


"Jelaskan semuanya. Aku akan mendengarkan," kata Arja. Kali ini Arja sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Sebenarnya...."


Kali ini Airin menceritakan semuanya dari a sampai z. Airin bahkan tidak berani menambahkan atau mengurangi cerita yang terjadi. Jadi, Airin baru tahu apa yang dimaksud Kenzo waktu itu.


Arja memang memiliki banyak mata-mata. Bahkan untuk Airin, dia juga memata-matai Airin selama ini. Mana mungkin Airin bisa membohonginya sekarang.


"Apa kau sudah mengatakan semuanya?" tanya Arja.


"Ya."


"Ganti pakaianmu dan temui Sela. Sejak tadi dia menunggumu."


Setelah mengatakan hal itu. Arja melangkahkan kakinya meninggalkan Airin sendiri dengan berbagai penyesalan. Airin tidak tahu apa Arja marah atau tidak, diwajah Arja tidak ada ekspresi apapun saat ini.


***


"Kau sudah lama menungguku. Ada apa?" tanya Airin pada Sela.


Sela tersenyum dan memegang tangan Airin. Dia tahu Airin sedang terkena masalah. Airin hanya diam dan menyunggingkan senyuman.


"Aku membawakan barang-barangmu yang tertinggal. Oh ya, aku juga membawakan jam yang kau inginkan."


Airin melihat kotak jam yang dulu diberikan oleh Vino. Dia memang masih menyimpanya sampai saat ini. Alasannya menyimpanya bukan karena cinta, dia hanya ingin menghargai pemberiannya saja.


Terlihat sekali jika Sela melirik pada Arja yang sedang fokus menatap layar ponselnya. "Tidak perlu. Aku memiliki hal lain, kalau begitu aku pergi dulu ya," kata Sela dengan senyumannya.


"Baiklah. Aku akan mengantarkan kamu ke depan."


Langkah Airin terhenti sampai di teras. Airin tidak bisa mengantarkan Sela lebih jauh lagi.


"Jika ada apa-apa. Hubungi aku ya," kata Sela sebelum dia pergi. Dia juga memeluk Airin dengan erat.


"Tentu."


Kenapa Airin merasa sangat tidak enak. Airim merasakan jika ada hal yang tidak benar di sini. Apa karena aku sudah berbuat masalah, atau hanya perasaanku saja. Pikir Airin.


Arja tidak di ruang tamu. Mungkin dia sudah kembali ke kamar. Para pelayan juga sudah membersihkan bekas makanan di ruang tamu ini. Airin pun memilih untuk masuk ke dalam kamar, menyusul Arja.


"Bagus kau sudah kembali," kata Arja begitu Airin masuk ke kamar.


"Ya. Aku sudah di sini, ada apa?"


Arja berbalik badan. Kali ini, dia benar-benar tidak terlihat baik. Ada pancaran mengerikan dari matanya. Langkah kakinya di seret, tidak seperti biasanya. Takut, itu yang Airin rasakan.


"Mulai hari ini, kau tidak boleh keluar dari dalam rumah. Aku tidak mau istriku di sentuh pria lain lagi."


"Aku tahu aku salah. Aku sangat minta maaf padamu."


"Maaf? apa hanya itu yang bisa kau katakan?"


"Arja. Bu...bukankah aku sudah mengatakan semuanya tadi. Kau juga yang mengijinkan aku pergi."


Arja menghela nafas, "Jadi kau sedang membela diri? aku tidak suka istriku di sentuh pria lain."


Airin pun memberanikan diri menatap mata Arja. Matanya merah dan terus menatap pada Airin.


"Arja. Kenapa kau selalu seperti ini. Kadang kau marah padaku dengan sangat mengerikan. Kadang kau sangat lembut padaku, apa sebenarnya yang terjadi." Kali ini nada bicara Airin cukup keras.


Bukannnya jawaban, Arja malah menarik rambut Airin dengan kasar. Airin menahan agar dirinya tidak terjatuh dan memegangi tangan Arja.


"Arja sakit Arja."


"Aku juga merasakan sakit."


"Kenapa sifatmu selalu berubah ubah Arja?" teriakkan Airin membuat Arja melepaskan tarikan tanganya di rambut Airin.


Sakit rasanya. Perlahan Airin menoleh pada Arja. Bukan mata merah dan amarah yang dia lihat. Dia sudah kembali ke Arja yang sebelumnya. Arja dengan tatapan tenang.


"Arja. Kau tidak apa?" Airin mendekat pada Arja yang terduduk lemas.


"Maafkan aku. Karena cemburu aku melukaimu."


Airin menarik tubuh Arja ke dalam pelukannya. Airin memeluknya dengan sangat erat. Airin tahu Arja sudah menyembunyikan sesuatu darinya. Saat ini, Airin hanya bisa diam dan terus berada di samping Arja.


"Kau bisa katakan kapanpun kau mau. Aku akan selalu di sampingmu," bisik Airin pada Arja.


"Lambat laun, kau pasti akan berpaling dariku karena hal ini. Lebih baik jika kau tidak tahu hal ini."


"Ya."


Melihat kondisi Arja saat ini. Airin merasa jika dia harus menelfon dokter. Tangan Arja menahannya, dia mengambil sebuah botol obat dengan beberapa kapsul di dalamnya.


"Ambilkan saja aku air minum."


"Ba..baik."


Airin melangkahkan kakinya dengan cepat. Selama ini Airin baru tahu jika Arja mengonsumsi obat-obatan. Sebenarnya apa yang disembunyikan Arja dariku? pertanyaan itu muncul di benak Airin.


***