
Jalanan masih sangat ramai. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 20.00. Banyak juga remaja yang masih berlalu lalang disetiap jalanan. Suasana yang belum pernah Airin lihat sebelumnya. Mungkin karena Airin tidak pernah keluar malam sebelumnya.
"Apa Pak Vino ada di dalam?" tanya Airin pada penjaga rumah Vino.
"Ada,Bu. Apa sudah ada janji?"
Airin menggelengkan kepalanya. Walaupun pernah ke sini, Airin baru tahu jika rumah Vino ternyata di jaga sangat ketat. Mungkin karena dia pengusaha yang cukup besar di sini. Walau masih besar Arja dalam kekuasaan.
"Saya akan lapor dulu. Ibu bisa tunggu sebentar disini."
Melihat sebuah tempat tunggu. Airin duduk di sana, sembari menunggu kabar dari Vino. Memang Airin sudah memberi pesan, tapi Vino tidak membalas pesan yang diberikan Airin padanya.
Suasana remang-remang di hadapan rumah Vino membuat bulu kuduk berdiri. Ternyata cukup menyeramkan juga jika diperhatikan lebih lanjut.
Tidak lama. Satpam yang tadi bertemu dengan Airin sudah kembali. Dia mencari Airin ke kanan dan ke kiri. Dia tidak melihat Airin sedang duduk manis menunggunya.
"Saya disini, Pak."
Satpam itu menoleh pada Airin, "Ibu sudah boleh masuk. Pak Vino ada di dalam."
"Terima kasih."
Tanpa basa-basi Airin langsung masuk. Walau malam hari, taman di rumah Vino masih sangat indah. Tentunya dengan banyak lampu yang menghiasinya.
Perlahan Airin membuka pintu rumah besar itu. Airin lihat Vino sedang duduk dengan ponsel di tangannya. Airin merasa tidak senang karena Vino tidak membalas pesanya. Padahal ponsel berada di tangan Vino.
"Malam."
"kau sudah datang?"
"Tentu."
Airin duduk di samping Vino. Walaupun kami dekat, Airin masih menyisakan jarak diantara mereka. Tidak bagus jika akhirnya akan ada skandal aneh tentangnya dan Vino.
"Data yang kamu minta sudah aku kirimkan lewat email."
"Kenapa kau tidak mengatakannya di ponsel. Tidak perlu aku repot-repot datang ke sini."
Vino tersenyum. Dia meletakn ponselnya.
"Pelayan buatkan minuman buat tamu kita," teriak Vino.
"Aku tidak perlu minum. Aku akan langsung pulang saja, ini sudah malam."
Airin melihat jam tangannya. Ini sudah sangat malam ternyata. Benar, jarak dari rumah ke sini sudah hampir satu jam.
"Kenapa langsung mau pergi,Rin?"
Mama Vino keluar dari sebuah ruangan. Airin yang sudah terlanjur terlihat langsung menghampirinya.
"Tante, lain kali aku akan datang lagi. Ini sudah sangat malam. Suamiku pasti akan mencariku."
"Baiklah. Biarkan Vino yang mengantarkan kamu."
"Tidak perlu tante."
"Tidak apa," Mama Vino menepuk pundak Airin pelan, "Vino. Antar Airin dulu."
"Siap, Mama."
***
Di dalam mobil. Tidak ada kata diantara kami. Airin lebih memilih untuk bermain dengan ponsel. Rasanya sangat canggung, apa lagi Mama Vino masih sama seperti dulu. Sangat baik pada Airin.
Di luar mobil, gerimis mulai membasahi bumi. Banyak orang yang berlari mencari tepat untuk berteduh. Ternyata, suasana malam sama saja seperti siang. Hanya gelap dan terang yang membedakan.
"Apa Arja sudah tahu kalau kamu keguguran?"
Akhirnya salah satu dari mereka membuka pembicaraan. Walau pembicaraan yang akan menguak rasa sakit di dalam hati Airin.
"Dia tidak percaya. Bahkan menuduhku berbohong."
Airin merasa sangat aneh. Dia berteman dengan cinta masa lalunya. Sekarang, cinta masa lalu itu yang membantunya kali ini.
Vino memilih diam. Kembali matanya fokus pada jalanan. Gerimis semakin deras, bahkan Airin merasa sangat lama tidak sampai di rumah. Mungkin karena suasana yang tidak menyenangkan ini.
"Kenapa kau tidak tinggalkan Arja. Kau bisa mencari pria lain."
Airin hanya bisa tertawa kecil. Dia sudah mencoba mengatakan perceraian pada Arja. Walau hasilnya nihil dan hanya bisa membuat hatinya terluka.
"Ya, kau tahu jika aku masih berharap padamu. Mungkin kau bisa mempertimbangkan aku jika sudah berpisah dengan Arja."
"Kita lihat saja nanti."
Obrolan ini mengantarkan mereka di rumah Arja. Hari ini memang berbeda, Airin bisa keluar malam karena Arja sedang ada urusan di luar kota. Maya di rumah karena ini urusan bisnis. Mungkin dia akan melaporkan Airin pada Arja nantinya.
Airin turun dari mobil dengan hati-hati. Takut terjatuh karena lantai yang licin terkena air.
"Aku langsung pulang. Ini sudah sangat malam," kata Vino dari dalam mobil.
Airin mengangguk. Vino mulai menjalankan mobilnya. Setelah mobil Vino benar-benar pergi. Airin masuk ke dalam rumah. Rasa lelah sudah menghantuinya sejak tadi. Airin memilih untuk melihat emailnya besok pagi.
***
Airin terbangun karena sinar matahari sudah mulai masuk ke kamarnya. Dengan malas Airin bangun dan menyibakkan korden jendela. Suasana yang sangat tenang.
Perlahan Airin mengambil nafas dalam-dalam. Tidak ada kebisingan dan keributan yang berarti. Hanya suara beberapa pelayan yang saling bertegur sapa.
Melihat jam sudah menunjukan pukul 07.00. Belum ada yang memanggil Airin ke ruang makan. Kemungkinan besar Arja belum pulang ke rumah. Karena merasa lapar, Airin memutuskan untuk turun.
Brak. Tidak sengaja Airin menabrak seseorang yang keluar dari kamar sebelah. Kenzo. Dia memakai piyama dan keluar dari kamar utama. Apa dia barus saja menginap di kamar Maya?
"Ka..kau. Kenapa kau keluar dari sini?" tanya Kenzo dengan tergagap.
Airin menoleh ke belakang. Ini kamarnya, jelas saja Airin keluar dari sana. Kenapa bisa Kenzo malah bertanya padanya.
"Maksudku..."
"Tidak usah berpura-pura lagi. Aku sudah tahu semuanya."
Wajah Kenzo terlihat sangat gelisah. Tidak lama, Maya keluar dengan wajah yang masih mengantuk. Dia langsung memeluk Kenzo dengan mesranya.
"Ada apa Sayang?" tanya Maya tanpa membuka matanya.
Tidak disangka jika Airin akan melihat pemandangan ini di pagi hari. Tanpa rencana, Airin menangkap basah Kenzo dan Maya.
"Aku sudah tahu semuanya. Ingat hal itu," kata Airin pada Kenzo.
Senyuman Airin mengembang. Membayangkan jika Arja tahu akan hal ini. Jika Airin mengatakannya apa Arja akan percaya. Airin kembali bimbang dengan perasaanya.
Setelah mengambil roti dan susu. Airin kembali masuk ke kamar. Perlahan Airin membuka laptop, tentunya untuk melihat email yang dikirim oleh Vino kemarin.
Di sana. Tertulis jika Maya sengaja mendekati Arja sejak dua tahun lalu. Maya sengaja agar bisa hidup mewah dengan Kenzo nantinya. Jelas sekali jika di sini, Arja adalah korban. Tapi kenapa Arja seakan-akan membela Maya habis-habisan. Apa ada hal lain yang belum Airin tahu.
***
Taxsi yang aku pesan sudah datang. Hari ini Airin harus bertemu dengan Vino dan klien mereka di sebuah restoran. Tidak ada hal yang sepesial di hari kerja Airin ini.
Pandangan Airin tertuju pada sebuah keluarga yang sedang berjalan santai di taman. Mereka terlihat sederhana. Namun bahagia, tidak seperti keluarganya yang hancur karena pasangan lain.
Andaikan waktu bisa kuputar kembali. Mungkin Airin akan merebut Arja sepenuh hatinya dan tidak membiarkannya menduakannya. Kini hanya ada rasa penyesalan yang Airin dapat.
"Sudah sampai, Bu."
Airin memberikan uang dan setelah itu turun. Sangat mewah memang restoran ini. Restoran milik Kenzo, itu yang Airin tahu. Jika Kenzo pemilik restoran ini, tentunya dia kaya. Kenapa Maya masih saja mengejar Arja.
Karena Airin pindah ke rumah utama. Dia tidak bisa bertemu Ilin dan Amar. Mereka harus tetap mengurus rumah itu.
Langkah kaki Airin tertuju pada Vino dan dua orang pria di hadapannya. Mereka terlihat sangat serius, mungkin membicarakan tentang masalah kantor.
"Selamat siang. Maaf terlambat, jalanan macet." Airin langsung duduk di samping Vino.
Airin mengeluarkan proposal yang sudah dia buat. Kali ini, acara meeting ini lebih santai dari yang sebelumnya.
"Perkenalkan ini. Airin. Dia sekertarisku dan juga temanku."
Airin mengangguk kepada dua orang itu. Mereka mengulas senyum yang sangat ramah. Kami mulai membahas bisnis ini dengan sangat santai. Makanan yang sudah mereka pesan datang.
***
"Kami permisi. Bos pasti akan sangat senang mendengar kabar ini," kata salah satu dari mereka.
"Salam juga buat Kenzo."
Mendengar nama Kenzo. Airin langsung menoleh pada Vino. Kenapa dia mau bekerja sama dengan perusaan Kenzo.
Setelah kepergian mereka berdua. Airin duduk dengan gelisah. Jika perusahaan Vino berkolaborasi dengan perusahaan Kenzo. Maka, Airin akan lebih sering bertemu dengannya.
"Ada apa?"
Pertanyaan Vino membuyarkan lamunan Airin. Airin melihat ke sekeliling, sangat mewah dengan desain eropa klasik. Jika Maya hanya mengincar harta. Ini tentunya sudah cukup. Lalu, untuk apa dia datang pada Arja dan merebutnya dari Airin.
"Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Airin kemudian.
"Tentu. Aku akan mengantar kamu."
Airin tertawa kecil, "Tidak perlu. Aku sudah pesan taxsi. Aku duluan ya."
Hari ini Arja akan kembali. Airin harus berada di dalam rumah. Jika tidak, akan ada drama lagi jika sampai Airin pulang terlambat.