My Love My Pain

My Love My Pain
Datangnya orang baru



Beberapa hari ini Airin memilih diam di dalam kamar. Dia tidak memiliki pekerjaan atau hal lainnya. Sementara mama Vino yang biasa menemaninya. Dia sedang pergi ke luar negri. Ada urusan mendadak.


Vino tidak bisa terus menerus menemani tunangannya itu. Dia sedang fokus pada perusahaan. Semua itu agar Arja tidak bisa semena-mena pada perusahaan itu. Walau perusahaan Arja lebih besar. Semua itu bukanlah milik Arja seutuhnya.


Airin masih sibuk dengan berbagai pikiran yang datang silih berganti ke otaknya. Airin sedang memikirkan cara agar bisa bekerja. Hanya saja, dia tidak ingin bergantung pada Cika atau pada tunangannya itu.


Tok tok tok.


Airin membukakan pintu. Seorang pelayan datang. Wajahnya menunduk, bahkan Airin sampai tidak bisa melihat wajahnya.


"Ada apa?" tanya Airin kemudian.


Perlahan wajah itu terlihat, "Tuan Vino memanggil Anda."


"Ya. Aku akan segera kesana."


Airin menutup pintu kamarnya dan mencari keberadaan Vino. Airin mengira Vino sudah berangkat kerja, ternyata dia masih di rumah.


Airin melihat Vino yang duduk di teras samping. Di meja sudah ada dua cangkir teh dan kudapan. Sepertinya, Vino akan membicarakan hal yang panjang.


"Kau mencariku?" tanya Airin begitu sampai di dekat Vino.


Vino menoleh, "Duduklah."


Airin duduk dengan ponsel yang masih di tangannya. Dia sedang mencari lowongan pekerjaan di internet sejak tadi.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika Arja sudah mengambil alih hartamu?"


Pertanyaan Vino membuat Airin diam. Dari mana Vino tahu jika Airin memiliki harta. Padahal Airin sendiri tidak tahu pasti akan hal itu. Dia hanya mendengar sekilas dari Sela waktu itu.


"Kenapa diam?"


Airin menggeleng, "Aku tidak tahu pasti apa aku punya harta atau tidak. Selama ini aku tidak tahu apapun."


"Benarkah?" tanya Vino yang terlihat tidak percaya.


Airin menatap kearah Vino, "Apa kau tidak percaya padaku? aku kira kau tahu tentang aku. Ternyata kau sama saja."


"Bukan begitu, Rin. Aku mendengar hal ini dari mama Arja. Dia yang menemuiku dan mengatakan jika kau sendiri yang memberikannya pada Arja."


"Aku bahkan tidak pernah tahu siapa dan seperti apa orang rua Arja." Ucap Airin lirih.


Vino menoleh pada Airin, "Jadi kau tidak tahu siapa Arja sebenarnya?" tanya Vino.


"Ya."


Jawaban singkat itu membuat Vino hanya menggeleng. Untuk saat ini, Vino tidak akan mengatakan siapa Arja sebenarnya. Jika Airin tahu, dia pasti akan sangat terluka dan sakit hati.


"Mau ikut aku ke kantor?" tawar Vino yang melihat raut wajah sedih di wajah Airin.


"Tidak. Aku akan istirahat di dalam kamar saja."


Vino merebut ponsel yang berada di tangan Airin. Sejak tadi bersama dengan Vino, Airin beberapa kali melihat kearah ponselnya.


Vino terlihat kaget dengan apa yang dia lihat. Airin sedang mengirim biodata ke beberapa perusahaan. Bahkan jabatanya tidaklah bagus menurut Vino.


Airin hanya bisa diam dan menundukan kepalanya. Dia tahu Vino tidak akan senang dengan apa yang dia lihat.


"Kamu tidak usah bekerja. Atau jika kau mau, jadilah asisten pribadiku."


Airin menggeleng dengan cepat.


"Ada apa? apa kau tidak ingin selalu bersamaku?"


"Bukan begitu. Hanya saja..."


"Hanya saja kau ingin bebas," sambar Vino, "aku bisa mencukupi kebutuhan kamu, Rin. A


Jadi, jangan bekerja untuk orang lain."


"Baiklah."


Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam. Vino meletakan kembali ponsel Airin ke meja dan meminum tehnya. Sementara Airin memandang kearah bunga-bunga di taman.


"Aku akan mencari cara agar hartamu kembali," kata Arja.


"Tidak perlu. Aku tidak menginginkan hal buruk terjadi padamu. Biarkan Arja bahagia dengan Sela."


"Itu hakmu."


"Ya. Aku tahu, tapi keluarga lebih berharga dari harta." Airin berdiri dengan ponsel yang sudah ditangannya, "jangan bahas tentang hal ini lagi. Aku janji tidak akan menjauh darimu."


Setelah mengatakan hal itu. Airin pergi untuk kembali ke kamarnya. Sementara Vino masih duduk dengan banyak pertanyaan. Bagaimana bisa Airin menikah dengan Arja dan semua hartanya berpindah tangan.


Mengingat apa yang dikatakan Airin. Vino memilih diam dan tidak akan mengungkit harta itu di depan Airin. Hanya saja, Vino tidak bisa tinggal diam jika wanitanya dibuat menderita.


***


Arja duduk dengan banyak gelas minuman di depannya. Kini wanita yang dikejarnya sudah memiliki tunangan. Dia mengira, Airin akan kembali jika Arja memberi tahu tentang harta warisan milik Airin. Namun, hasilnya di luar dugaan. Airin malah memilih bertunangan dengan kekasih masa lalunya.


Tuk tuk tuk. Langkah kaki seorang wanita terdengar bernada. Wanita itu masuk ke ruangan Arja tanpa permisi.


Dia kaget melihat anaknya sedang duduk dengan gelas minuman di hadapannya. Jelas sekali jika dia sedang depresi.


"Kenapa kau disini?" tanya Arja.


Wanita itu menyingkirkan botol minuman ke tempat sampah.


"Apa karena wanita itu kau seperti ini?" tanya wanita itu.


Arja tidak menjawab. Dia masih memainkan gelas di tangannya.


Wanita itu mendekat dan mengambil gelas itu dari tangan Arja, "Aku sudah mengatakan pada Vino tentang harta Airin. Cepat atau lambat, Vino dan Airin akan bertindak."


Kali ini Arja menoleh, "Kau ingin menghancurkan aku lagi? sudah berapa kali kau membuat hidupku hancur."


"Arja. Dengarkanlah mamamu ini," kata wanita itu.


"Diam. Aku sudah tidak punya siapapun, hanya Airin yang aku punya dan kau malah merenggutnya."


Kali ini Arja berhasil menyulut emosi mamanya itu. Mamanya mendekat dan menampar wajah Arja dengan keras.


"Arja. Aku memang sudah merenggut Airin darimu, tapi bukan berarti setiap wanita bernama Airin milikmu. Kembalikan harta Airin, biarkan dia bahagia dengan hidupnya."


"Aku tidak akan pernah melepaskannya."


Mama Arja hanya bisa menghela nafas. Pikiran anaknya semakin kacau saja. Sejak dia bertemu dengan Airin.


***


Dulu, Arja memiliki seorang kekasih bernama Airina. Arja selalu memanggilnya Airin. Hanya saja, cinta mereka tidak direstui. Hingga membuat Airina terbunuh dalam sebuah insiden. Insiden yang disengaja.


Orang tua Arjalah yang membuat insiden itu hingga Airina meninggal. Sejak saat itulah, Arja tidak menganggap dirinya memiliki keluarga.


Sampai suatu hari Arja melihat Airin. Dia sengaja mendekati Sela dan memberikan janji-janji padanya. Dia bahkan berhasil memperalat Sela. Sela membuatnya menikah dengan Airin. Dengan harapan, Airin yang saat itu masih polos tidak akan meninggalkannya.


Hasilnya di luar dugaan. Airin tahu jika dia sudah dijebak oleh Sela dan Arja. Hingga dia meninggalkan Arja. Alasan Sela mau dengan Arja karena harta, sedangkan Arja mendekat pada Sela karena Airin.


Harta yang selama ini dimiliki Arja adalah harta milik Airin dan beberapa wanita yang dia tipu. Termasuk Sela, Arja menjadi haus kekuasaan dan kekayaan dengan harapan wanita yang dicintainya mau bersamanya sampai akhir.


Hanya karena seorang wanita. Arja berubah total. Dia menjadi Arja yang saat ini, suka menghianati wanita dan menipunya. Lalu, mengambil hartanya.


***


Sore itu, Airin dan Vino bersiap untuk menjemput mama Vino di bandara. Mama Vino sudah kembali setelah satu minggu berada di luar negri. Yang Airin tahu, keluarga Vino memiliki bisnis makanan di luar negri dan juga beberapa toko kosmetik. Walau Airin belum pernah kesana.


"Rin, sudah selesai?" panggil Vino dari balik pintu.


Airin mengambil tas dan ponselnya lalu membuka pintu. Vino sudah siap dengan baju yang santai. Tidak ada jas dan tidak ada tas kerja.


Untuk sesaat Vino merasa kaget dengan pakaian yang dipakai Airin. Bagi Vino, baju itu terllau terbuka dengan celana pendek yang Airin pakai.


"Ayo berangkat," kata Airin.


"Tunggu," ucap Vino.


Airin berhenti dan menoleh pada Vino, "Ada apa lagi?" tanyanya.


"Baju itu tidak pantas untukmu."


"Terlalu terbuka."


Airin melihat kearah baju yang dia pakai. Menurutnya, ini tidak terlalu terbuka. Banyak wanita yang memakainya di luar sana. Apa lagi cuaca sedang panas seperti hari ini.


Tanpa kata Vino langsung masuk ke kamar Airin. Dia membuka pintu almari dan melihat beberapa baju. Vino mengambil sebuah cardigan yang cukup panjang. Dia langsung memakaikannya pada Airin.


Airin tidak menyangka. Vino begitu memperhatikannya. Vino juga menjaganya dari para pria yang memiliki mata tidak baik. Airin langsung menggandeng tangan Vino dan berjalan menuju ke mobil.


Tidak ada orang lain selain para pelayan di rumah itu. Karena hal itulah membuat Airin merasa bersemangat untuk keluar rumah. Dia bisa melihat dan menghirup udara segar. Bukan hanya udara di dalam kamarnya.


****


Sampai di bandara. Airin dan Vino memilih untuk diam di dalam mobil. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Tidak ada hal yang mereka bicarakan.


Sampai sebuah ketukan dikaca membuat Vino menoleh. Vino melihat seorang wanita dengan pakaian yang casual. Dia terlihat muda dengan apa yang dia gunakan. Vino menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa tante?" tanya Vino kemudian.


"Vino. Apa bisa tante minta tolong, bawaan tante sangat berat. Tante tidak bisa memindahkannya ke mobil."


Vino mengalihkan pandangannya pada Airin. Dia meminta persetujuan dari Airin. Airin hanya menggukan kepalanya. Tidak mungkin Airin akan membiarkan tante itu kewalahan.


Jika dilihat. Vino dan tante itu sudah sangat akrab. Membuat Airin hanya diam, Airin tidak tahu siapa wanita itu.


"Airin," panggil wanita itu.


"Ya, tante."


"Apa bisa tante bicara sama kamu. Berdua."


Airin diam. Bagaimana bisa tante itu tahu namanya. Dia bahkan ingin berbicara dengannya hanya berdua.


"Ayolah. Hanya sebentar."


Airin mengangguk. Dia membuka pintu mobilnya dan mendekat pada tante. Sementara Vino sedang membantu memindahkan beberapa koper.


"Apa kita saling kenal tante?" tanya Airin.


Tante itu tersenyum, "Kamu sangat cantik. Pantas saja anak tante tergila gila padamu."


"Maaf. Maksud tante apa ya?"


"Arja... dia.."


Airin diam dan hanya mendengarkan apa yang dibicarakan tante itu. Airin baru tahu jika Arja memiliki mama secantik ini. Dia juga terlihat baik.


"Tante janji, tante akan memberikan semua harta kamu. Tapi, kamu harus mau kembali pada Arja."


Raut wajah Airin berubah. Dia merasa tidak senang dengan apa yang dikatakan tante itu.


"Rin. Ayo, mama sudah di mobil," kata Vino menyela pembicaraanya dengan mama Arja.


Airin menoleh, "Ya."


"Panggil aku Mia. Tante Mia," kata mama Arja. Dia juga menyelipkan sesuatu di tangan Airin sebelum Airin kembali ke mobil.


Sampai di dalam mobil. Airin duduk di samping mama Vino. Mereka saling membicarakan hal tentang wanita. Entah apa yang ada di tangan Airin, dia selipkan ditasnya.


"Apa yang kau bicarakan dengan Mia?" tanya mama Vino.


"Tidak ada yang penting."


"Benarkah?" tanya mama Vino lagi.


"Tentu. Oh ya, aku penasaran. Bagaimana kalian bisa kenal keluarga Arja?"


Vino menyetir dengan kecepatan sedang. Sementara mama Vino mulai menceritakan kedekatanya dengan keluarga Arja. Takdir memang aneh. Airin yang sudah menikah beberapa tahun dengan Arja, baru kali ini dia melihat mama kandung Arja.


Tanpa sadar mereka sudah sampai di rumah. Airin membantu membawakan tas mama Vino. Mereka masih membahas bagaimana Arja dan Vino berteman saat di waktu kuliah. Hal itulah yang membuat kedua keluarga dekat.


"Sudahlah, Ma. Jangan dibahas lagi," kata Vino membuat mamanya diam.


"Memangnya kenapa?" tanya Airin yang penasaran.


Vino mendekat dan mengambil tas mamanya dari tangan Airin, "Mama baru sampai. Dia butih istirahat. Kau juga harus istirahat."


Airin merasa ada yang aneh. Kenapa Vino langsung berubah saat mamanya mulai membahas tentang kedekatannya dengan Arja. Setahu Airin, Arja dan Vino hanya saling kenal. Mereka tidak dekat, berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan mama Vino.


"Vin," panggil mama Vino.


"Ayo, Ma. Aku antar ke kamar."


***


Airin masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk dengan kaki disilang. Banyak pertanyaan yang datang dipikirannya. Hanya saja Airin tidak memiliki jawaban untuk menjawabnya.


Tangan Airin meraih tasnya dan mengambil ponsel dari dalamnya. Sampai sebuah kertas jatuh mengenai kaki Airin. Airin mengambilnya, ternyata sebuah nomor ponsel dan nama. Mia, dia adalah orang yang mengaku sebagai mama dari Arja.


Tidak ada niatan dari Airin untuk menghubungi tante Mia. Airin langsung membuang kertas itu ke tempat sampah. Tidak ada alasan untuk saling berhubungan lagi, pikir Airin.


Tok tok tok.


Airin kaget dan menoleh kearah pintu. "Siapa?" teriak Airin.


"Ini aku, Vino."


Airin meletakan ponselnya dan juga tas yang berada di pangkuannya. Dia mendekat ke pintu dan membukanya. Vino berdiri dengan raut wajah tidak senang.


Tanpa kata, Vino menarik Airin masuk ke dalam kamar. Dia mengambil tas Airin dan mencoba mencari sesuatu di dalamnya.


"Ada apa ini? apa yang kamu lakukan?" tanya Airin.


"Aku hanya ingin memastikan kau tidak berhubungan dengan tante Mia." Vino meraih ponsel Airin dan mulai melihat semua hal di dalamnya.


"Vino. Aku baru saja bertemu dengannya, aku tidak memiliki niat berhubungan dengannya."


Vino meletakan ponsel itu kembali dan beralih pada Airin. Ke dua tangannya menangkup wajah Airin dengan lembut.


"Baguslah. Aku tidak mau terjadi apapun padamu. Berjanjilah, kau tidak akan bertemu dengannya di belakangku."


"Janji," ucap Airin.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di kening Airin. Kali ini pertanyaan itu kembali muncul, namun Airin mencoba menepisnya. Dia tidak ingin membuat Vino kecewa karena dia menemui tante Mia.


"Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu."


Ucapan sari Vino membuat hati Airin bergetar. Dia merasakan jika Vino benar-benar tulus padanya. Vino mau menjaganya tanpa ada pamrih.


***


Sela sedang duduk dengan Arja. Mereka sedang membicarakan banyak hal. Termasuk, harta Airin yang selama ini hanya disimpan tanpa digunakan.


"Bagaimana jika aku kembalikan saja," kata Arja pada Airin. Dia teringat dengan apa yang dikatakan mamanya.


Sela terlihat tidak senang dengan apa yang dikatakan Arja.


"Aku sudah berkorban sangat besar untuk hal itu," kata Sela.


"Aku tahu, tapi..."


"Aku tidak mau itu dikembalikan."


"Sela," kali ini nada bicara Arja bernada tinggi.


Sela berdiri dan menatap calon suaminya itu, "Apa kau akan kembali menyiksaku? silahkan saja. Aku mau disiksa olehmu, tapi jangan kembalikan harta itu."


Sela punya alasan sendiri kenapa dia tidak ingin mengembalikan harta itu. Sela masih memiliki dendam di dalam hatinya pada Airin. Kasih dari ayahnya begitu besar pada Airin, tapi tidak pada Sela. Hingga Sela mampu membunuh ayahnya sendiri.


Arja berdiri dan akan menampar wajah Sela. Saat tangannya akan mengayun, sebuah tangan menahan tangan Arja.


"Sela punya alasan Arja. Dia calon istrimu, hargailah," ucap mama Arja.


Arja menarik tangannya dan berdecak dengan kesal. Kembali hidupnya di atur oleh mamanya. Bertahun-tahun dia bisa keluar dari penjara mamanya. Kini, Arja kembali harus masuk ke penjara itu lagi.


***