My Love My Pain

My Love My Pain
Tujuan untuk hidup



Airin mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia melihat kesekeliling, suasana rumah sakit yang sangat kental. Terlebih lagi adanya selang infus di tangan kanananya.


"Kamu sudah siuman?"


Airin menoleh keasal suara. Vino masuk dengan bungkusan buah di tangannya.


"Terima kasih sudah menemaniku."


"Tidak perlu sungkan padaku."


Tidak lama seorang dokter dan seorang suster masuk. Mereka menyunggingkan senyum, mungkin sebagai tanda penyemangat untuk para pasien.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya dokter itu.


"Sudah mendingan dok." Airin turut memberikan senyuman, "Saya sakit apa dok?"


Dokter itu meminta suster untuk mengatakan apa yang terjadi pada Airin. Dengan penjelasan bahasa dokter membuat Airin merasa bingung. Apa lagi Vino, dia hanya diam saja sejak tadi.


"Sebenarnya, ibu tidak sakit," dokter itu menoleh pada Vino, "Kebetulan sekali di sini ada suami ibu."


"Dia bukan..."


Vino menggenggam tangan Airin dan membuat Airin berhenti bicara.


"Benturan yang terjadi pada perut ibu, membut ibu mengalami keguguran."


Airin membelalakan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. Bagaimana bisa dia hamil dan tidak merasakan sama sekali. Bahkan tidak ada yang berubah di fisiknya.


"Apa ini kehamilan pertama?"


Airin mengangguk pelan.


"Oh ya, mungkin setelah ini ibu akan sulit untuk memiliki bayi lagi."


Kembali Airin dibuat tercengang.


"Kenapa bisa?" tanya Vino pada dokter itu.


Dokter itu memberikan senyuman pada Airin dan Vino.


"Kandungan ibu sangat lemah. Jadi, ibu harus eksra hati-hati jika mengandung lagi."


Genggaman tangan Vino semakin erat. Airin menggeleng, dia tidak bisa percaya dengan semua ini. Bagaikan jatuh tertimpa tangga.


"Untuk saat ini. Ibu sudah bisa pulang," kata seorang suster.


"Baik. Saya akan urus administrasinya," ujar Vino.


Airin masih terdiam terpaku. Sampai dokter dan suster itu pergi. Perlahan cairan bening keluar dari matanya. Dia tidak bisa menahan luka ini.


"Kalau mau menangis. Menangis saja," kata Vino.


Airin meratapi dirinya yang sangat terluka kali ini. Bagaimana tidak, dia harus kehilangan bayi dan suaminya. Walau tidak seutuhnya kehilangan suami. Dia ditemani oleh orang lain di saat anaknya pergi meninggalkannya. Sementara Arja bersenang-senang dengan wanita lain.


"Kamu bisa menangis sepuasnya." Vino merengkuh Airin ke dalam pelukannya. Dia ingin Airin membagi luka yang Airin rasakan.


***


Airin keluar ditemani oleh Vino. Ya, Vino selalu ada si samping Airin. Walau hasilnya sama saja, Airin akan menganggapnya seorang teman. Sampai di parkiran, Airin memilih diam tidak bergerak.


"Mau aku antar?" tanya Vino.


Airin menggeleng, "Tidak. Aku akan ke tempat lain hari ini."


"Benarkah. Kalau begitu biar sopirku yang mengantarkan kamu."


Sekali lagi Airin menggeleng, "Aku tidak ingin merepotkan kamu terus menerus. Untuk semuanya aku sangat berterima kasih."


"Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu besok di kantor."


"Siap, Bos."


"Rin. Nenek ingin melihatmu, sudah lama kau tidak menemuinya," kata Vino.


Airin ingat dengan wanita tua yang dulu menemani Airin dan Vino bermain. Wanita yang ditinggalkan oleh keluarganya. Sama sepertiku, yang selalu ditinggalkan.


"Apa kau mau mengunjunginya bersamaku?" tanya Vino lagi.


"Lain kali aku akan menemui Nenek. Kali ini, aku harus mengurus masalahku."


"Baiklah. Aku pergi dulu."


Airin melambaikan tangannya. Setelah Vino benar-benar pergi. Airin menghentikan sebuah taxsi. Dia sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya kali ini.


***


Suasana sepi terlihat di rumah ini. Hanya ada beberapa pembantu yang berseliweran. Sepertinya akan ada acara penting di rumah ini. Mereka bahkan tidak memberi tahu Airin.


"Aku datang," Airin langsung masuk begitu saja. Padahal beberapa pelayan sudah memperingatinya agar tidak masuk.


Maya yang sedang duduk dengan majalahnya kaget melihat Airin yang datang. Dia berdiri dan menatap tidak suka.


"Bagaimana kabar kamu dan bayimu?" tanya Airin.


"Jangan pura-pura baik. Aku tahu kamu membohongi Arja dengan kehamilan kamu itu."


Maya meletakan majalahnya dan mendekat pada Airin. Dia berkacak pinggang seolah Airin akan takut jika dia melakukannya.


"Apa yang kamu katakan? apa kau mencoba mengancamku?"


Airin tertawa kecil, "Untuk apa aku mengancam. Aku ke sini untuk menemui suamiku."


"Dia tidak di sini." Maya langsung membuang muka.


"Baiklah jika kamu tidak memberi tahuku. Aku akan mencarinya sendiri."


Lelah menjadi wanita yang terlihat baik dan di tindas. Airin harus bisa melawan Maya dan Arja, juga Kenzo. Airin mencari Arja di seluruh kamar, bukan Arja yang aku dapat. Malah Kenzo yang sedang duduk santai di tepi kolam renang.


"Wow. Kau datang berkunjung?" tanya Kenzo dengan tampang yang menyebalkan.


Airin yang malas meladeninya langsung kembali berbalik arah. Dia tidak ingin berkata apapun untuk Kenzo. Kenzo bahkan menarik tangan Airin.


"Kau memang istri pertama yang baik. Andai saja aku bisa memilikimu."


Plak, Airin menampar Kenzo dengan keras. Tanpa Kenzo sadar, Kenzo menganggap Airin adalah wanita yang mudah dimiliki.


"Jangan menyentuhku sembarangan. Aku bukan wanita murahan."


"Kau terlihat marah. Ada apa?" tanya Kenzo.


"Bukan urusanmu."


Airin kembali menemui Maya. Dia masih terpaku dengan apa yang Airin lakukan. Selama ini Airin sudah menerima semuanya dengan lapang dada. Bukan berarti Airin tidak berani untuk melawan. Alasan Airin tidak melawan karena dia masih menghormati Arja sebagai suaminya.


"Katakan pada Arja. Temui aku sore ini, jika tidak. Akan ada masalah dengan calon anakmu."


Maya kesal dan mendorong Airin hingga jatuh.


"Kau sudah berani padaku. Apa kau ingin aku mengatakan semuanya pada Arja tentang kamu dan Vino."


Maya kembali mencoba mengancam Airin dengan kisah masa lalu. Airin berdiri dan membersihkan debu yang menempel pada bajunya. Dia menatap kearah Maya.


"Apapun bisa kamu katakan pada Arja."


Maya kaget mendengar jawaban yang Airin berikan.


"Arja akan memaafkan aku karena sampai saat ini. Aku tidak menjalin hubungan dengan Vino, bagaimana jika Arja tahu tentang kehamilan palsumu ini? apa dia akan memaafkan kamu?"


Plak, Maya menampar Airin dengan begitu keras. Bahkan sampai membekas.


"Dasar wanita gila. Kamu tidak bisa hamil dan sekarang menuduh hal yang bukan-bukan tentang aku."


"Aku memang gila. Kau ingin tahu aku gila karena apa?" Airin mendekat dan berbisik, "karena anakku sudah mati tadi malam."


Mata Maya melebar. Dia terkejut dengan apa yang Airin katakan. Mungkin Maya juga kaget akan kehamilan Airin. Namun semuanya sudah terlambat. Janin Airin sudah gugur, bahkan dia akan sulit untuk memiliki anak lagi.


"Katakan apa yang harus kamu katakan pada Arja. Aku akan pergi sekarang."


Airin melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Rumah yang dulunya menjadi surga bagi Airin dan Arja. Namun sekarang menjadi tempat yang membuat Airin selalu terluka.


***


Airin teringat dengan apa yang dikatakan Vino saat kami di rumah sakit. Dia tidak sengaja melihat Maya ada di sana.


\=Flashback di rumah sakit.\=


"Ya, aku mendengarnya sendiri. Itu bukan anak dari Arja, aku tidak tahu siapa dia. Dia terlihat sangat familiar," kata Vino.


"Sudahlah aku tidak ingin mendengar apapun lagi," kata Airin.


"Tunggu. Apa kamu tidak ingin tahu hal yang selanjutnya?"


Karena penasaran. Airin pun duduk berhadapan dengan Vino.


"Katakan apa saja yang kamu dengar." Kali ini Airin sendiri yang meminta Vino mengatakan semuanya.


"Ya. Maya ke sini dengan seseorang yang bernama Kenzo. Aku tidak tahu siapa dia, yang jelas mereka sangat mesra."


Airin diam mendengarkan hal itu.


"Lalu tidak sengaja aku mendengar percakapan mereka tentang Arja. Mungkin Arja juga terlibat dengan hal ini.”


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak tahu lagi. Yang jelas mereka membicarakan tentang bayaran dan setatus anak ini selanjutnya."


\=Kembali ke masa saat ini.\=


Airin masih memikirkan apa yang dikatakan Vino. Apa maksud dari semua itu. Yang jelas, Airin merasa kesal karena kehilangan anaknya. Tujuan Airin saat ini, bercerai dengan Arja dan mencari hidup yang sesungguhnya.


Airin ingin menutup lembaran luka dan membuka lembaran kisah yang baru. Tanpa ada rasa disakiti dan menyakiti.


***