My Love My Pain

My Love My Pain
Takut



Sela sedang duduk di temani Arja. Beberapa kali Sela melihat Arja menatap ke layar ponselnya. Sudah jelas jika Arja khawatir akan keadaan Sela. Jika saja orang yang disuruh Sela bergerak dengan cepat. Mungkin, Sela hari ini akan merasa sangat bahagia.


Tanpa Sela sadari, Arja meletakan ponselnya dan langsung memegang perut Sela dengan lembut. Ya, di dalam sana ada nyawa yang harus mereka cintai. Walau Arja tidak lagi memiliki perasaan untuk Sela. Tetap saja bayi yang sedang dikandung Sela adalah anaknya.


"Jadi, kau kapan akan menikahiku?" tanya Sela kemudian.


Arja menatap kearah Sela, "Tunggu waktu yang tepat. Ok."


"Lalu kapan? jika sampai anak ini lahir..." Sela menghentikan kalimatnya dan menggeleng.


Arja memegang kedua pundak Sela dengan lembut. Arja tahu kekhawatiran yang menghinggapi Sela. Hanya saja, Arja masih harus menata hatinya lagi.


"Sel, aku akan cari waktu yang tepat. Sebelum anak ini lahir."


Sela hanya bisa berdecak kesal di depan Arja. Dia menepis tangan Arja dari tubuhnya. Lalu, dia menatap keluar jendela. Dia tahu, Arja hanya menginginkan anak yang ada di perutnya.


"Aku tahu alasanmu terus memintaku menunggu." Sela menoleh pada Arja, "Kau tidak ingin diriku. Kau hanya ingin anak di dalam perutku ini."


"Sel, jangan mulai lagi."


"Benarkan apa yang aku katakan. Kau hanya mencintai Airin, dan hal itu bukanlah hal yang bisa kau sembunyikan."


"Sel..."


"Sudah cukup. Aku lelah dengan sikapmu itu."


Sela meninggalkan Arja yang masih terpaku. Setiap hari, Arja selalu saja dikejutkan dengan sifat baru Sela. Kadang dia terlihat sangat manis, kadang dia juga terlihat mengesalkan. Arja hanya menyunggingkan senyum, mungkin setiap wanita hamil akan seperti itu, pikir Arja.


Beberapa pesan masuk ke ponsel Arja. Anak buahnya mengatakan jika Airin sudah ditemukan oleh Vino. Dengan banyak luka di tubuh Airin.


Arja menggertakkan giginya begitu tahu apa yang terjadi pada Airin. Tanpa pikir panjang, Arja meminta anak buahnya untuk menyelodiki kasus ini. Dengan diam-diam tentunya.


***


Tante Mia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Sela masuk ke kamarnya dengan deraian air mata. Sela mengatakan semuanya yang terjadi, sementara tante Mia hanya diam dan mendengarkan. Dia tidak ingin menanggapi serius apa yang dilakukan Sela.


Dengan mata sembab. Sela menatap pada mata tante Mia. Dia mendekat dan memegang wajah tante Mia.


"Jangan-jangan. Kau juga sama seperti Arja, hanya ingin memanfaatkan aku," kata Sela dengan tatapan matanya.


Tante Mia buru-buru merubah ekspresi wajahnya. Dia tidak mau ketahuan oleh Sela, dia tidak ingin rencananya mendapatkan Arja kembali hancur.


"Mana mungkin. Aku kan calon mertuamu."


"Benarkah?"


"Aku tidak punya alasan untuk memanfaatkan kamu," kata tante Mia yang langsung menghindari tatapan Sela.


Sela tersenyum, bagaimanapun dia juga tidak sebodoh itu. Lalu, Sela menelfon seseorang, dia mengatakan hal yang membuat tante Mia diam dan menatapnya.


"Apa kau sudah tahu diriku yang sebenarnya?" tanya tante Mia.


Sela mengangguk, "Bagaimana tidak. Kau sendiri yang memintaku untuk mengetahui masa lalumu."


"Lalu apa maumu?" tanya tante Mia.


Sela tersenyum, "Aku akan beri tahu nanti, ibu mertua. Hari ini, aku ingin istirahat dengan bayiku."


Setelah kepergian Sela, tante Mia meminta sekretarisnya untuk mencari tahu siapa Sela sebenarnya. Bagaimana bisa Sela tahu tentang dirinya. Jelas-jelas, Arja juga tidak tahu hal sebesar itu, kenapa bisa Sela tahu.


Tante Mia menggebrak meja dengan kasar. Ternyata, Sela bukanlah wanita sembarangan. Sela juga licik seperti dirinya. Dibelakang Arja, Sela bisa memiliki banyak pendukung. Dan tentunya bukan orang sembarangan yang mendukung Sela.


"Kekuatanku dan Sela hampir seimbang. Aku harus bisa membuatnya jatuh lebih dulu, baru aku bisa mendapatkan Arja. Aku kira, Airin lah musuh terkuat, ternyata tidak."


Tante Mia keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Dia akan pergi menemui seseorang, ya, tentunya orang yang mau membantunya. Tidak sengaja tante Mia bertabrakan dengan Sela.


Sela menatap penuh tanya sementara tante Mia hanya diam. Mereka hanya saling tatap tanpa ada kata.


"Mau kemana?" tanya Sela.


"Bukan urusanmu."


"Benarkah, ibu mertua?" Sela sengaja menekan kata mertua di kalimatnya.


Tante Mia tersenyum, "Calon menantuku seharusnya tidak cerewet."


Sela hanya bisa mendengus kesal. Walau Sela sudah tahu alasan tante Mia mendekatinya. Tetap saja, Sela merasa beruntung kenal dengannya. Dengan adanya tante Mia, Sela bisa menyingkirkan Airin secepatnya.


"Minggir, aku mau pergi."


"Ibu mertua, bisakah aku menitip sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Jauhi suamiku dan singkirkan Airin," kata Sela dengan senyuman jahat.


Tante Mia hanya mengepalkan tangannya. Lalu pergi dari sana. Dia ingin tahu siapa saja yang berada di balik Sela. Hingga Sela tahu tujuan tante Mia yang sebenarnya.


***


Airin masih terbaring lemah dengan beberapa alat yang terpasang ditubuhnya. Dua tulang rusuknya patah dan beberapa jahitan di lengannya. Vino hanya bisa menatap calon istrinya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Vin, kamu makan dulu ya. Biar mama yang jaga Airin," kata mama Vino.


"Tidak. Aku akan makan jika bersama dengan Airin."


Mama Vino meletakkan tangannya di pundak sang anak. Dia tahu, Vino merasa sangat terluka dengan keadaan Airin saat ini.


"Vino..."


"Ma, tinggalkan aku dengan Airin."


Mama Vino hanya menganggukan kepalanya. Lalu dia keluar dari ruangan itu. Vino perlahan memegang tangan Airin. Dia memanjatkan do'a sekaligus harapan untuk sang kekasih.


"Maafkan aku. Aku sudah berjanji akan melindungimu, tapi ternyata kau bisa diculik saat bersamaku."


Genggaman tangan Vino sangat erat.


"Rin, aku mohon bangun. Beberapa hari lagi kita akan menikah."


Tiba-tiba saja tangan Airin bergerak dengan pelan. Matanya juga beberapa kali terbuka. Vino yang melihat itu langsung keluar untuk memanggil dokter.


Beberapa pemeriksaan sudah dilakukan. Kini Vino berdiri sembari menatap dokter itu. Dokter itu tersenyum pada Vino.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Kini, kita tinggal menunggu dia sadar sepenuhnya dan memberikan pengecekan lain."


"Apa tidak apa-apa Airin seperti ini, dok?"


"Tidak apa. Mas bisa tenang sekarang."


Vino mengangguk secara perlahan. Lalu, dokter dan dua perawat tadi pergi dari ruangan itu. Buru-buru Vino duduk di samping Airin lagi.


Dia merasa senang dengan apa yang diucapkan dokter. Banyak buket bunga yang datang untuk Airin. Mulai dari teman, kenalan dan kolega Vino. Mereka turut sedih dengan apa yang terjadi pada calon istri Vino itu.


***


"Bagaimana dengan data yang aku minta," kata tante Mia pada sekretarisnya.


Sekretarisnya mengambil tablet yang berada di dalam tas.


"Tidak ada orang yang menjadi pendukung untuk Sela. Dia hanya tidak sengaja tahu tentang tujuanmu," kata sekretaris itu.


"Maksudmu?"


"Sela tidak sengaja melihat kau dan Arja sedang berdua. Kau juga menggoda Arja dengan berbagai cara. Sela hanya tidak sengaja tahu."


"Jadi?" tante Mia terlihat berfikir.


"Kau bisa tenang. Sela bukanlah lawan yang mengerikan. Cukup berikan apa yang dia inginkan, kau akan mudah membuangnya."


Setelah mendengar hal itu. Tante Mia memberikan isyarat pada sekretarisnya untuk pergi. Dia ingin berfikir tanpa diganggu. Kenapa bisa aku termakan oleh perkataan Sela, pikir tante Mia.


Tidak ingin larut dalam urusannya dengan Sela. Tante Mia memilih untuk pergi bertemu dengan teman-temannya. Dengan cara itu, dia bisa melupakan hal tentang Sela dan mencari hal lain untuk bertemu dengannya.


Sebuah tempat hiburan di datangi tante Mia. Banyak temannya yang berada disana. Mulai para kolektor hingga wanita penghibur. Tante Mia tidak pernah memilih teman. Asal mereka satu tujuan. Mereka adalah teman tante Mia.


"Wow, Mia datang," kata seorang wanita dengan pakaian yang cukup terbuka.


Mia hanya menyunggingkan senyum. Lalu mengambil sebuah minuman dingin di atas meja.


"Aku baru ada waktu."


"Selama ini kita bersenang-senang dan kau malah menghilang," kata wanita bernama Bae.


"Dia sibuk membenarkan diri," kata yang lainnya.


"Kalian tidak tahu apa yang terjadi padaku. Sekarang aku hanya ingin bersenang-senang dengan kalian."


Mereka mulai mengikuti alunan musik yang berdentum. Dengan pakaian yang dipakai oleh tante Mia. Tidak mungkin para lelaki tidak tergoda. Dress tanpa lengan dan sangat pendek.


Benar, tante Mia melupakan semua masalahnya. Dia bersenang-senang dengan teman-temannya. Mereka membuat tante Mia bahagia dengan sekejap mata.


***


Arja tidak tahu jika Sela yang sudah menyuruh Ais melakukan hal buruk itu pada Airin. Walau Arja sedang menyelidiki kasus itu, sampai saat ini belum ada laporan memuaskan.


"Kenapa kau diam?" tanya Arja pada Sela.


Sela menoleh pada Arja, "Aku mau menunggu disini saja."


"Dia kakakmu. Lihatlah walau hanya sekali."


Sela berdecak kesal.


"Ayolah. Jika kau memang ingin aku nikahi."


"Baiklah."


Arja tersenyum dengan apa yang terjadi. Sela benar-benar sudah buta dalam mencintai Arja. Sementara Arja tetap memperalatnya untuk dekat dengan Airin.


Sampai disebuah kamar. Arja mengetuk pintu dengan lembut. Dia tidak ingin mengganggu istirahat Airin.


Seseorang membukanya, Vino melihat siapa yang datang hanya diam terpaku. Dia masih sangat membenci Arja. Di dalam hati Vino hanya satu orang yang mungkin menculik Airin, yaitu Arja.


"Boleh kita masuk?" tanya Sela.


Vino mengalihkan tatapannya pada Sela. Sela menyunggingkan senyum dengan dress bermotif bunga. Terlihat sangat ceria.


"Untuk apa kalian disini?" tanya Vino.


Arja sudah akan menjawabnya, tapi Sela memegang tangan Arja.


"Bagaimanapun dia kakakku. Aku harus ada saat dia terluka dan sedih."


Vino tersenyum dengan sinis, "Airin baik-baik saja. Kalian bisa pergi dari sini."


Kali ini Arja tidak suka dengan apa yang dilakukan Vino. Dengan kasar, Arja mendorong Vino dan dia masuk. Tangannya menggandeng tangan Sela untuk ikut masuk.


Kaget. Itulah yang dirasakan oleh Arja. Dia melihat Airin tergeletak lemah dengan berbagai alat ditubuhnya. Dia menoleh pada Vino. Vino menggeleng dan kembali duduk di samping Airin.


"Bukannya kau sudah puas. Kau bukan hanya menggagalkan rencana pernikahan kami. Kau juga membuat wanitaku koma beberapa hari."


"Sudah aku bilang bukan aku pelakunnya."


"Benarkah?" tanya Vino.


Sela berdiri di depan Vino, "Ini di rumah sakit. Aku mohon jangan bertengkar."


Arja dan Vino sama-sama mengalihkan perhatian mereka. Memang benar kondisi Airin sudah membaik. Hanya saja, Airin masih belum bangun dari istirahatnya.


"Jika sudah selesai kalian bisa keluar."


"Aku akan buktikan jika bukan aku pelakunnya."


Setelah mengatakan hal itu. Dengan keras Arja menarik tangan Sela keluar dari ruangan itu. Sela hanya diam, dia takut jika apa yang dilakukannya akan ketahuan. Jika ketahuan, sudah jelas apa yang terjadi. Arja akan meninggalkannya.


Tidak ada kata sampai mereka masuk ke dalam mobil. Arja mengeluarkan ponselnya dan menelfon orang yang dia suruh menyelidiki kasus Airin.


"Aku mau secepatnya," kata Arja dengan keras.


Hal itu membuat Sela sulit menelan ludah. Dia benar-benar merasa takut. Lalu, sebuah tatapan mengerikan mendarat pada Sela. Sela semakin takut saja, bahkan tubuhnya sampai gemetar.


Arja perlahan mendekat sembari terus menatapnya. Dekat, dekat dan semakin dekat. Sela bahkan menahan nafasnya. Klik, Sela menoleh kearah suara. Ternyata Arja memakaikan sabuk pengaman untuknya.


"Kenapa kau terlihat takut?" tanya Arja.


"Ti...tidak. Aku tidak apa-apa."


Arja hanya menyunggingkan senyum. Lalu perlahan menjalankan mobilnya. Sela masih saja diam. Jika terus seperti ini, dia akan ketahuan.


"Arja," panggil Sela secara tiba-tiba.


"Ya."


"Apa yang akan kamu lakukan jika sudah tahu siapa dalang di balik penculikan Airin?"


Arja menoleh dengan senyuman, "Aku akan melakukan apa yang dia lakukan pada Airin."


Mata Sela membulat. Kali ini, dia akan mencari cara agar tidak ketahuan. Dia tidak ingin hal mengerikan itu jatuh padanya. Lalu, Sela ingat dengan tante Mia. Dia akan menggunakan tante Mia dalam hal ini.


Tangan Arja tiba-tiba saja menggenggam erat tangan Sela. Membuat Sela tersenyum, walau bukan senyum yang murni.


"Tolong jaga anak kita," kata Arja.


"Tentu," jawab Sela lirih.


***


Vino kini bisa tersenyum dengan lebar. Airin audah bangun, walau masih lemah. Namun Airin memanggil namanya dengan lirih.


Ya, sepeninggal Sela dan Arja. Airin membuka matanya. Dia langsung memanggil nama Vino. Kini, rasa senang itu tidak bisa dibendung lagi.


Mata Airin menatap lembut pada Vino. Tiba-tiba saja ada dua orang polisi masuk. Mereka mengatakan jika akan menanyakan detail yang terjadi pada Airin.


"Maaf, Pak. Sepertinya saat ini belum bisa, Airin masih sangat lemah. Dia masih sulit untuk bicara."


Polisi itu melihat kearah Airin. Benar, bukan perkataan hanya sebuah senyuman yang diberikan oleh Airin.


"Baiklah. Kita akan kembali lagi besok."


"Terima kasih pengertiannya pak."


"Sama-sama."


Dua polisi itu kembali keluar. Sementara itu, Vino juga ikut keluar. Suster akan mengganti baju Airin. Juga ada beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan dokter.


Cika datang dengan parsel buah di tangannya. Mendapat kabar jika Airin sudah bangun membuatnya tidak sabar bertemu dengan Airin.


"Bagaimana?" tanya Cika langsung.


"Dia sedang mengikuti beberapa tes."


Cika mengangguk dan duduk di samping Vino. Vino merasa ada yang salah dengan kedatangan polisi tadi. Dia tidak meminta polisi untuk menyelidiki.


"Cika, apa kau meminta polisi untuk menyelidiki hal ini?" tanya Vino kemudian.


"Tidak."


"Lalu siapa?" tanya Vino dengan lirih.


Cika juga ikut berfikir keras kali ini.


"Tanyakan saja pada mamamu. Mungkin dia yang menginginkannya."


Vino langsung berpamitan pergi untuk menelfon mamanya. Dia akan menanyakan apa mamanya meminta polisi untuk menyelidiki kasus ini.


Cika menunggu datangnya Airin kembali ke ruang rawatnya. Tidak lama berselang, benar saja Airin kembali dengan dua suster yang mendampinginya.


"Biar saya saja, Sus," Cika mengambil alih kursi roda Airin, "terima kasih," ucap Cika pada suster itu.


Dua suster itu kembali ketempatnya. Sementara Cika membawa masuk Airin. Dia juga membantu Airin kembali berbaring.


"Dimana Vino?" tanya Airin.


Cika menoleh, "Kamu ngomong apa?" Cika bertanya karena tidak terlalu mendengar ucapan Airin.


"Vino?"


"Dia sedang menelfon mamanya. Sebentar lagi juga balik."


Airin mengangguk. Lalu, seorang suster masuk membawakan nampan berisi makanan. Cika dengan sigap menerima nampan itu.


"Kenapa hanya bubur dan susu?" tanya Cika.


"Sementara ini, pasien baru boleh makan bubur dan susu."


"Baiklah."


Cika menyiapkan Airin untuk makan. Ada rasa penolakan di wajah Airin. Namun, Cika terus memaksa.


Vino masuk dengan sebuah senyuman diwajahnya. Melihat Vino sudah kembali, Cika memberikan mangkuk itu pada Vino.


"Kamu yang lanjutkan. Aku harus kembali ke kantor," kata Cika.


Vino hanya mengangguk. Dengan telaten, Vino membantu Airin makan. Beberapa kali, Vino mencoba bertanya tentang si penculik. Hanya saja, Airin memilih membicarakan hal lain.


Jika meningat apa yang baru saja dialami. Airin merasa sangat takut. Dia bahkan berharap tidak mengingat hal itu.


***