
Airin masih hanya diam di dalam kamar. Di luar sana, sudah banyak kerabat dan tamu yang datang. Bahkan, dekorasi rumah ini sangatlah mewah.
Sejak kemarin. Tidak ada makanan apapun yang masuk ke dalam tubuh Airin. Arja juga tidak bisa menemuinya. Padahal, Arja sendiri sudah mengatakan, jika hati Airin tidak terima. Dia bisa saja membatalkan semua ini.
Tok tok tok.
"Siapa?" lirih Airin, namun masih bisa di dengar oleh orang yang berada di luar kamar.
"Sela. Bolehkah aku masuk?"
Mendengar suara Sela. Tanpa basa basi Airin langsung membukanya. Sela melihat air mata Airin yang masih saja mengalir. Bahkan wajahnya sudah tidak terlihat cantik lagi.
"Kenapa kamu membuat keputusan ini. Apa kau tidak terluka?" tanya Sela.
"Kata siapa aku tidak terluka."
"Lalu kenapa kamu malah membuat keputusan bodoh. Kedua keluarga bahkan tidak setuju," kata Sela dengan suara keras.
Airin memalingkan wajah keluar jendela, "Aku bahkan tidak mengenal keluarga suamiku."
Sela duduk di samping Airin dan meralat perkataanya, "Maksudku, keluarga kita tidak setuju."
"Sela. Aku sudah memutuskannya, semuanya juga sudah di depan mata. Aku tidak bisa meralat semuanya."
"Itu karena kamu terlalu gegabah."
"Aku tahu."
Sela memilih untuk membuka korden kamar Airin. Di luar sana, banya orang yang sudah datang. Mulai dari yang berombongan hingga yang hanya sendirian. Sela merasa kesal dengan keputusan Airin. Kenapa bisa, dia memberikan suaminya pada wanita lain.
***
Airin masih terlelap saat Arja masuk ke dalam kamar. Kamar itu hanya menggunakan lampu kecil di samping tempat tidur Airin. Sejak tadi, Airin tidak keluar dari kamar. Mungkin dia tertidur karena lelah menangis.
"Airin. Bangun Airin, aku disini," kata Arja sembari menguncang tubuh Airin.
Perlahan Airin membuka matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Arja ada di depannya saat ini. Airin hanya tersenyum tipis. Melihat keadaan Airin saat ini, Arja tanpa ragu memeluk tubuh wanita itu.
"Apa ini bukan mimpi?" lirih Airin.
"Bukan. Aku benar-benar Arja, Rin."
Kembali cairan bening mengalir di pipi Airin. Tiada henti dia menangis sembari memeluk suaminya itu. Suami yang sudah memberikan separuh hatinya pada wanita lain di luar sana.
"Kau istriku."
"Bukankah kau baru saja menikah dengan Maya. Dia pasti menunggumu," kata Airin sembari menundukan kepala.
"Dia sudah tahu aku disini malam ini."
"Tapi..."
Arja tidak menjawab dan memilih untuk kembali memeluk Airin. Wanita yang sudah dia hianati dan dia sakiti, namun tetap berdiri di sampingnya.
***
Airin terbangun dengan posisi tangan Arja yang melingkar dipinggangnya. Airin pikir, semua yang terjadi tadi malam hanyalah sebuah mimpi belaka. Ternyata tidak, suaminya benar-benar di sampingnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Arja yang membuat Airin kaget.
"Ya. Baru saja, mau aku buatkan sesuatu?"
"Kau tahu apa yang aku inginkan."
Airin beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya. Karena tidak ada pembantu, Airin akan membuat sarapan setelah mandi. Dia juga harus menyiapkan sarapan untuk madunya itu.
Hari ini adalah hari resepsi untuk Arja. Dia tidak boleh membuat kesalahan atau membuat keributan. Dia harus sempurna kali ini.
Bau harum makanan sudah tercium oleh Airin saat akan masuk ke dalam dapur. Arja masih di dalam kamar, lalu siapa yang memasak? pikir Airin.
"Pagi," ucap Airin yang melihat Maya sedang berdiri di samping meja makan, "Apa kau yang masak semuanya?" tanya Airin yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Di meja makan ada ayam goreng, sayur sop, telur gulung dan masih banyak lagi. Jika Airin yang masak, mungkin hanya dua atau tiga menu saja saat pagi. Dia tidak ingin suaminya telat ke kantor.
"Kenapa harus masak. Ada banyak restoran yang siap mengantarkan makananya," kata Maya dengan senyuman sinis pada Airin.
"Aku kira kau yang masak."
Airin bersiap untuk membuatkan kopi untuk Arja. Dia menuangkan air untuk di masak. Tidak ada sepatah katapun darinya, hanya omelan Maya yang merasa kesal.
Bagaimana tidak kesal. Dia kira, malam pertamanya akan menyenangkan. Suaminya malah tidur dengan istri tuanya. Bahkan meninggalkan Maya di dalam kamar sendirian. Kamar tamu pula.
***