
Hachi. Hachi. Beberapa kali Airin bersin di pagi ini. Dia juga merasakan kepalanya pusing dan badanya sakit semua. Mungkin Airin terkena demam karena hujan semalam.
Ilin berlari cepat kearahku. "Bu. Minum ini dulu, biar sedikit mendingan."
Hachi, "Terima kasih, Lin."
Airin menerima obat dan minuman dari Ilin. Lalu dia meminumnya. Harap-harap jika dia bisa sehat dan pergi kerja.
"Lin. Tolong katakan pada Amar untuk cepat. Nanti saya telat," kataku.
"Baik, Bu."
Arja tidak memberikan sebuah kabar pada Airin. Padahal Airin menunggunya semalaman. Arja begitu tega pada Airin, dia tidak memikirkan perasaan Airin. Dia hanya memikirkan Maya saja.
"Bu. Mobilnya sudah siap."
Airin tersadar dari lamunanya. Dia mengambil tas dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobilpun Airin lebih memilih untuk tidur dari pada melihat jadwal Vino.
***
Hachi, hachi. Airin memijat kepalanya beberapa kali. Dia merasa kepalanya sangat berat dan berdenyut. Seharusnya dia tidak berangkat kerja. Airin terlalu memaksakan dirinya.
"Pagi, Bu." Sapa satpam yang ada di depan gedung kantor.
"Pagi, Pak." Hachi, Airin masih mencoba memberikan senyuman padanya.
Bukannya dapat istirahat. Airin malah melihat Vino yang sedang memarahi beberapa karyawan di dalam ruangannya. Airin hanya bisa menunggu, sampai salah seorang dari mereka keluar. Dengan sigap Airin menariknya.
"Ada apa di dalam?" tanya Airin.
Gadis itu menundukan kepalanya. Dia terlihat takut sekali.
"Katakan padaku. Ada apa?" Airin kembali bertanya. Walaupun dengan menahan bersih, padahal itu sangat berbahaya.
"I...itu. Pak Vino tidak puas dengan pekerjaan kami."
"Apa Pak Vino mengatakan alasanya?"
Gadis itu menggeleng dengan cepat. Vino benar-benar mengerikan. Dia mencampurkan semua hal pribadinya ke kantor ini. Tanpa pikir panjang, Airin mengambil proposal di tangan gadis yang ada di depannya itu.
"Kenapa diambil?" tanya gadis itu.
"Kamu tenang saja." Hachi.
Setelah mempersiapkan diri. Airin masuk ke dalam ruangan Vino. Sepertinya dia masih kesal tentang kerja samanya dengan Cika. Wanita cantik itu.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Ada hal yang mau saya bicarakan dengan bapak." Airin tersenyum dengan sopan. Dia juga mencoba menahan sakitnya.
"Kalian bisa keluar."
Beberapa orang yang berada di sana berdiri untuk meninggalkan ruangan ini. Sebelum mereka benar-benar keluar, Airin memanggil mereka.
"Kalian. Proposal ini sudah bagus," kata Airin dengan kerlingan mata.
Kali ini mereka keluar dengan wajah tersenyum. Tidak seperti tadi, mereka semua terlihat murung karena kelakuan Vino.
"Pagi, Pak. Saya akan bacakan jadwal untuk hari ini.” Airin mulai membacakan jadwal Vino hari ini. Hari ini Vino tidak banyak memiliki pekerjaan di luar kantor.
"Kenapa kamu melakukan hal ini?" tanya Vino dengan tidak suka.
"Melakukan apa, Pak. Bukankah apa yang saya lakukan ini tugas saya."
Vino menatap Airin dengan kesal. "Maksudku bukan ini. Mengenai proposal mereka."
"Apa kamu sudah membaca keseluruhan proposal ini?" tanya Airin selanjutnya.
"Apa hubunganya dengan kamu."
Vino masih terlalu kekanankan untuk mengelola perusahaan. Dia belum bisa profesional, pikir Airin.
"Aku tahu jika Bapak sedang ada masalah. Namun tidak seharusnya karyawan menjadi pelampiasan amarah Bapak."
Vino hanya diam. Matanya menerawang. Setelah selesai membuatkan kopi. Airin diam di samping Vino. Menunggu perintah selanjutnya.
"Kamu bisa keluar sekarang."
Airin keluar dengan lega. Dia bisa bersin dengan leluasa kali ini. Betapa kagetnya Airin begitu melihat beberapa orang berada di mejanya. Mereka adalah orang yang tadi di ruangan Vino.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Airin.
"Bagaimana proposal kami? apa kami harus membuat ulang," kata salah satu dari mereka.
"Tunggu sampai nanti siang. Aku akan mengabari kalian. Aku janji."
Airin mengambil Air mineral yang ada dimejanya. Untung saja dia tidak lupa untuk membawa obat. Jika tidak, hari ini dia akan merasa sangat tersiksa.
Vino tiba-tiba datang dan merebut obat yang akan Airin minum. Wajahnya sudah tampak lebih tenang karena senyuman di bibirnya.
"Kembalikan obat itu," kata Airin.
Vino menatap obat itu, "Apa ini pil KB?"
Airin langsung merebut kembali obat itu. Bagaimana bisa Vino mengira obat masuk angin sebagai pil KB.
"Minum obatmu dan temani aku jalan-jalan. Kita akan pergi ke mall yang sedang di renovasi," kata Vino.
"Baik." Airin bergegas untuk mengikuti Vino. Jika tidak, Vino akan marah-marah padanya.
"Sudah? ayo berangkat."
"Katakan pada mereka. Proposalnya di terima."
Sebelum pergi dengan Vino. Airin menyempatkan diri untuk masuk ke ruangan para pemilik proposal.
"Bagaimana?" tanya mereka begitu Airin masuk ke ruangan yang luas itu.
Airin hanya memberikan senyuman sebagai istirahat.
"Apa kau yakin jika Pak Vino setuju?"
"Apa perlu aku menelfonya dan membawanya ke sini?" tanya Airin.
"Tidak perlu. Kami percaya padamu," kata gadis yang sudah aku ambil proposalnya tadi.
Setelah selesai. Airin bergegas kembali pada Vino. Di perjalanan Airin mengecek ponselnya sebentar. Tidak ada pesan ataupun telfon dari Arja. Dia benar-benar kejam, pikir Airin.
***
Kami sudah sampai di tempat. Banyak pengunjung yang datang ke mall milik perusahaan Vino. Karena alasan ini, Vino memilih untuk merenovasi separuh bangunan terlebih dulu.
Kami hanya melihat-lihat semua yang sedang dikerjakan. Hampir selesai, tinggal beberapa hal lagi yang harus di urus.
"Airin," panggil Vino.
Airin memasukan ponselnya ke saku dan mendekat pada Vino.
"Ada apa, Pak?"
"Ikut saya."
Airin kembali mengekor pada Vino. Sampai di sebuah lorong panjang dengan dinding kaca. Vino berhenti dan langsung menatapku.
"Apa yang terjadi dengan kamu? apa ada masalah?"
Airin membulatkan matanya. Kenapa bisa Vino tiba-tiba mengatakan hal itu.
"Apa kau sakit?" tanya Vino kemudian.
"Tidak apa-apa Pak. Saya baik-baik saja," kata Airin.
Vino meletakan tangannya di dahi Airin. Dia merasa panas dan ada yang salah pada sekretarisnya itu.
"Kau panas. Lebih baik kau istirahat saja di rumah."
Airin tersenyum, "Sudah saya katakan, saya baik-baik saja."
"Airin. Apa kau sangat membenciku hingga perhatianku saja kau abaikan?"
"Bukan begitu, Pak." Airin melirik ke jam tangannya. Sudah waktunya makan siang.
"Rin, aku ...."
"Pak. Anda harus bertemu dengan Nona Cika setelah ini."
Airin mengambil tablet dan memperlihatkan jadwalnya hari ini. Sengaja Airin menunjukanjadwal itu. Tentunya agar Vino tidak marah akan hal itu. Tidak baik rasanya.
"Terserah saja. Ayo kembali ke mobil."
Di dalam perjalanan. Airin kembali bersin-bersin. Obatnya yang dibawa sudah habis. Setidaknya dengan obat itu, aku akan merasa lebih baik. Kini Airin hanya bisa merasakannya.
"Antarkan Bu Airin dulu," kata Vino pada sopir kami.
Airin menoleh melihat apa yang dilakukanya, "Nanti kau bisa telat," kata Airin.
"Aku tidak perduli." Vino menoleh dan memberikan senyumanya.
Apa yang dilakukan Vino aku turuti saja kali ini. Dari pada aku demam ini semakin parah.
***
Tidak tahu kenapa. Aku merasa sangat nyaman, bahkan aku merasa tidur di atas bulu angsa yang sangat lembut.
"Nyenyaknya," kata Airin dengan pelan.
"Kau sudah bangun?"
Airin langsung membuka matanya dengan cepat. Dia mendengar suara lelaki, tapi bukan suaminya.
"Bagaiman tidurmu? nyenyak?"
"K...ka..kau. Kenapa kau di sini?"
Vino memberikan senyumannya, "Ini rumahku. Aku bebas melakukan apa saja."
Benar. Ini bukan rumah Airin dan bukan rumah Arja. Vino membawa Airin saat Airin terlelap di dalam mobil.
"Tenang saja. Jika kau sudah selesai, kau bisa pulang."
Airin kaget saat melihat jam dinding. Dia tidur cukup lama. Walau badanya semakin baik, dia tetap merasa aneh. Dia merasa bersalah karena sudah bersama dengan pria lain.
Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Airin bangun dan langsung mengambil tas dan sepatunya.
"Kau mau kemana?" tanya Vino.
"Aku harus pulang," jawabku sambil setengah berlari.
***