My Love My Pain

My Love My Pain
Ramai



Baru saja Airin selesai menyiapkan ruangan meeting, dibantu oleh sekretaris Cika. Jika tidak Airin pasti akan sangat kewalahan. Apa lagi permintaan client yang cukup membuat kepala berdenyut.


Cika terlihat murung di ruangannya. Apa lagi setelah melihat berkas yang akan dibawa ke ruang meeting.


"Minum ini dulu, kau terlihat tidak senang," kata Airin sembari meletakan air putih di meja Cika.


Cika menoleh dan langsung menenggak habis minuman itu.


"Apa kau tahu kenapa Arja hadir di meeting hari ini?"


"Arja?" Airin tidak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Ya. Disini, dia tertulis sebagai pemegang saham di perusahaan Vino. Apa Vino mengatakan sesuatu padamu?"


"Tidak. Aku belum bertemu sejak dia bertemu dengan Heila."


"Pria memang sama saja."


Cika menutup berkas itu dan meletakannya di meja. Dengan cekatan, dia mengambil telfon kantornya dan menelfon seseorang. Dia meminta untuk di panggilkan Vino ke ruangannya.


***


Setelah kedatangan Vino ke ruangan Cika. Airin memilih untuk keluar dari ruangan itu. Rasanya aneh jika dia mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Apa lagi tentang masalah perusahaan.


Mengingat Arja akan datang kesini membuat Airin merasa ada yang aneh. Rasanya Airin ingin pergi sejauh mungkin. Dimana dia tidak perlu bertatap muka dengan Arja. Ada rasa was-was dihati Airin.


Brak.


Airin kaget dan terperanjat. Arja kini sudah di depannya, orang yang ingin dia hindari kini sudah berada tepat disisinya.


"Apa maumu?" tanya Airin dengan gemetar.


"Kau bertanya padaku? seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau memberikan gaun semacam itu pada Sela."


Hampir saja Airin tertawa, namun Airin menahannya.


"Bukankah kau yang bersikeras mendapatkan baju itu."


"Dasar wanita. Bisanya hanya menyalahkan orang lain," kata Arja.


Airin mendorong keras tubuh Arja. Ini ditempat umum. Jika ada yang melihat, akan banyak isu yang beredar.


"Jangan mendekat lagi padaku."


Airin embali meninggalkan Arja dengan posisi Arja terduduk di lantai. Dengan langkah cepat, Airin masuk ke dalam toilet perempuan. Setidaknya Arja tidak akan mengejarnya hingga kesini.


Bawakan berkas di gudang untukku. Tanya saja pada sekretarisku. Cepat.


Kenapa di saat seperti ini Cika malah memintanya datang dengan berkas. Apa lagi, Cika terlihat serius saat ini. Mana mungkin Airin bisa menolak.


Airin mengeluarkan kepalanya dari pintu toilet. Melihat kesekeliling tidak ada yang datang dan pergi. Sepertinya dia sudah aman dan bisa keluar.


***


Arja POV


Arja merasa sangat kesal. Niat hati ingin mendekat dan mencari simpati Airin. Hasilnya sekarang malah Airin pergi dan tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Apa yang dilakukan Arja pada Airin belum cukup untuk membuat Airin kembali kesisinya. Sepertinya, Arja sedang memikirkan cara lagi agar Airin mendapatkan hal yang buruk, dan hanya Arja jalan satu-satunya.


"Sa. Buat Airin di pecat oleh Cika. Secepatnya."


"Baik."


Saat mereka akan memasuki ruang meeting. Vino terlihat sedang bercanda dengan Airin. Semua itu jelas sangat mengganggu untuk Arja. Apa lagi setelah adanya Heila. Wanita itu tidak bisa diandalkan, pikir Arja.


Di ruang meeting semuanya berjalan dengan lancar. Sampai sebuah foto muncul di layar proyektor. Semuanya menatap foto itu dengan penuh tanda tanya. Bahkan mereka merasa kesal dengan foto itu.


"Lihat," bisik Cika pada Airin.


Airin terlihat kaget dengan apa yang ada di depannya saat ini. Lebih kaget lagi foto itu diambil saat dulu dia bersama dengan Arja. Ya, foto itu adalah foto Vino dan Airin dulu. Saat mereka pergi ke pantai berdua tanpa sepengetahuan Arja.


Arja terlihat senang dengan apa yang dia lakukan. Apa lagi melihat wajah Airin yang ketakutan.


"Apa-apaan ini. Kenapa ada foto seperti ini disaat penting. Ayo jelaskan," kata seorang pria yang bertubuh gempal.


"Bukankah dia asisten pribadi Bu Cika dan itu, itu adalah Pak Vino," sahut yang lain.


"Jadi ini alasan Bu Cika dan Pak Vino batal bertunangan."


Arja berdiri dan mengambil sebuah mikrofon.


"Tenang semua. Bagaimanapun ini adalah skandal yang bisa menghancurkan kerja sama kita. Bahkan perusahaan kita juga bisa hancur," kata Arja dengan melirik kearah Airin.


"Apa-apaan kau ini," teriak Vino.


"Sebenarnya, Nyonya Airin adalah mantan istriku. Kalian sudah tahu pasti kenapa aku bercerai dengan dia. Tentunya karena semua ini," Arja menggunakan wajah sedih dihadapan semua orang.


***


Airin POV


"Pecat saja dia."


"Benar."


"Jangan biarkan wanita penggoda berada disini."


"Cika. Kenapa kau masih mau menerima wanita penggoda ini menjadi asistenmu?"


Airin tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Arja. Dia tega membuat perusahaan Vino dan Cika terkena imbasnya. Bahkan, semua orang yang ada disana meminta Airin agar pergi dari perusahaan ini. Alasannya hanya satu, agar perusahaan ini tidak memiliki berita buruk.


"Sebenarnya, Nyonya Airin adalah mantan istriku. Kalian sudah tahu pasti kenapa aku bercerai dengan dia. Tentunya karena semua ini," Arja menggunakan wajah sedih dihadapan semua orang.


"Airin."


Airin berhenti karena sebuah panggilan.


"Ada apa kau kesini? apa kau mau menenangkan aku?"


Vino tidak menjawab. Dia memilih mendekat dan langsung mendekap tubuh Airin. Airin tidak bisa melakukan apapun, semua ini karena Arja. Dia hanya ingin Airin terluka dan terus terluka.


Entah sejak kapan. Di kantor Cika banyak sekali wartawan. Mereka mengerumuni Airin dengan Vino. Tangannya sudah mencoba membuka pelukan itu, namun pelukan Vino malah semakin erat pada Airin.


"Apa pendapat anda tentang hal ini pak?"


"Pak Vino, benarkah apa yang dikatakan Pak Arja tentang Ibu ini?"


"Pak Vino...."


"Dia sudah menjadi tunanganku. Aku dan Airin akan melangsungkan pernikahan segera," kata Vino.


Semua wartawan terdiam.


"Pak, jadi bapak yang merebut Airin dari Pak Arja?"


"Bukan," Cika masuk ke dalam kerumunan. Dia memegang tangan Airin.


Perlahan, Arja melepaskan pelukannya pada Airin. Sementara Airin hanya menundukan kepalanya saja.


"Vino tidak merebut Airin. Airin juga tidak merebut Vino. Aku dan Vino berpisah dengan baik-baik, karena memang sudah tidak ada cinta diantara kita."


"Lalu bagaimana dengan Pak Arja?"


"Dia hanya ingin ketenaran. Dia yang melepas Airin demi wanita lain. Jadi, jangan menyalahkan sepasang kekasih ini. Mereka tidak bersalah," jelas Cika pada wartawan.


Airin hanya bisa diam dan mendengarkan semuanya. Kali ini, Airun tidak mungkin menolak atas ucapan Vino. Kali ini, Airin akan mencoba menjalani semuanya dari awal. Sudah cukup dengan cintanya pada Arja, cinta yang hanya di balas dengan sakit di dalam hati.


***


Arja POV


Arja merasa sangat kesal karena apa yang dilakukannya tidak berhasil. Lagi-lagi Airin terselamatkan karena adanya Cika dan Vino. Plak. Kini sekretaris Sa hanya bisa diam mendapatkan tamparan dari bosnya itu.


"Kau memang tidak bisa diandalkan."


"Maaf, Pak."


"Maaf saja tidak cukup," kata Arja dengan kekesalannya.


"Pak, bagaimana jika..."


Sekretaris Sa memberikan usulan pada Arja. Arja mengangguk mengerti. Kali ini, apa yang mereka rencanakan harus berhasil. Airin harus bisa lepas dari Vino. Setidaknya akan lebih mudah menyakiti Airin saat dia sendiri tanpa ada yang disampingnya.


Sekretaris Sa memberikan sebuah foto pada Arja. Wajah Arja berubah, kali ini dia merasa sangat puas. Airin akan benar-benar hancur kali ini. Arja akan terus menyakitinya jika Airin tidak kembali ke sisinya.


"Katakan semuanya pada Airin. Jika dia menolak, kamu lakukan rencana itu."


"Baik, Pak."


"Kamu bisa pergi sekarang," kata Arja.


Sekretaris Sa turun dari mobil dan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Arja merasa sangat senang bisa melihat wajah Airin yang ketakutan. Dia merasa sangat puas.


"Kita kembali ke rumah," kata Arja pada sopir pribadinya.


Sebenarnya dia ingin menunggu Airin pulang dan menemuinya. Hanya saja, saat melihat Airin keluar dari kantor. Vino masih saja di dekatnya, Arja memilih untuk menjauh dulu saat ini. Dia akan mendekat pada Airin disaat dia sendiri.


***


Sampai di rumah. Sela membukakan pintu dengan senyuman. Arja juga terlihat sedang senang, jadi Sela tidak perlu takut kali ini.


"Kau terlihat senang," kata Sela.


Arja mendekat dan memeluk pinggang Sela dengan mesra. Sudah lama Arja tidak melakukannya pada Sela. Arja terlalu mementingkan Airin sejak kemarin.


"Ya. Aku sedang sangat bahagia."


Sela hanya mengulas senyum. Setidaknya, Arja tidak akan menyakiti anak dan dirinya. Arja juga akan memperlakukannya dengan baik.


"Mau aku buatkan sesuatu?" tanya Sela.


"Tidak. Kita akan makan di luar saja."


Sela menganggukan kepalanya. Mereka berjalan masuk ke dalam kamar. Rumah mereka memang sudah pindah. Arja hanya tidak ingin mengingat Airin terus menerus. Mereka kini tinggal disebuah perumahan mewah.


***


Airin POV


Airin berjalan beriringan dengan Vino. Dia yang akan mengantarkan Airin pulang. Sedangkan Cika, dia akan menjelaskan beberapa hal pada wartawan.


Airin sudah membuat kekacauan untuk Vino dan Cika. Dia merasa sudah sangat merepotkan Airin dan Vino. Kenapa Airin begitu lemah, hingga dia tidak bisa berbuat apapun.


"Vin, terima kasih atas semuanya. Kau kembali menyelamatkan aku."


"Tidak apa. Kamu istirahatlah dulu, aku harus menemui Cika lagi. Dia mungkin butuh bantuan," kata Vino.


Sampai di rumah Cika. Airin masuk dan melambaikan tangannya pada Vino. Cepat atau lambat Airin harus pindah dari rumah ini. Dia akan mencari tempat sewa. Walaupun sederhana, setidaknya Airin akan merasa lebih nyaman.


Beberapa pesan masuk ke dalam ponsel Airin. Mulai dari sekretaris Sa yang entah mendapatkan nomernya dari mana. Ada juga dari Mama Vino, dia merasa senang dengan pengumuman yang Vino buat.


Airin ingat, Vino mengatakan jika akan bertunangan dengannya. Mama Vino pasti mengira ini adalah hal yang baik. Dia masih tidak tahu jika aku berbohong. Bagaimana ini?


***