My Love My Pain

My Love My Pain
Sela



Dengan di dorong menggunakan kursi roda Airin memetik bunga di taman belakang. Melihat kondisinya saat ini, Airin kadang marah pada dirinya sendiri. Sampai saat ini, dia masih belum bisa berjalan. Semuanya karena kejadian itu.


Dengan tatapan kosong Airin mencabut kelopak mawar yang berada di tangannya dengan kasar. Kesal, dia merasa kesal jika mengingat semuanya. Bahkan sampai saat ini Airin belum tahu alasanya diculik.


"Nona, ada tamu yang ingin menemuimu," kata Ais.


Airin menoleh, "Bantu aku kesana. Dimana Vino?"


"Tuan sudah berada di ruang tamu," kata Ais.


Perlahan Ais membawa Airin masuk ke dalam rumah. Dua orang pria sedang duduk dengan Vino. Mereka terlihat sedang membahas sesuatu.


"Lihat, dia calon istriku. Airin," kata Vino dengan senyuman lebar.


Airin menganggukan kepalanya. Dia juga menyunggingkan sebuah senyuman.


"Kau bisa pergi," kata Airin pada Ais.


Ais kemudian pamit dari ruang tamu. Dia masuk sementara Vino membantu Airin duduk di sofa.


Mereka membahas beberapa hal penting. Dua orang pria itu adalah detektif yang diminta mama Vino datang. Mereka akan menyelidiki kasus penculikan Airin.


Awalnya memang Airin menolak hal itu. Setelah diingat lagi, Airin akhirnya mau juga. Dia mengatakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Dengan perasaan yang tidak karuan, Airin juga mengatakan tentang wajah si penculik.


"Baik, kami sudah mendapatkan semua informasi. Kalian bisa menunggu hasilnya," kata salah satu detektif.


"Terima kasih."


Mereka semua berdiri dan saling berjabat tangan. Namun tidak dengan Airin, dia duduk dengan sebuah tatapan tiada arti. Dia masih saja merasakan kejadian itu saat mengingatnya.


Vino duduk di hadapan Airin. Perlahan tangannya menyentuh Airin. Airin sadar dan menatap pada Vino. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja dia memeluk Vino dengan erat. Dia menangis disana.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menangis saja," kata Airin dengan deraian air mata.


Vino mengusap kepala Airin dengan sangat lembut.


"Menangislah jika kau mau," kata Vino.


Ais hanya melihat dengan tatapan tidak senang. Sejak tadi dia hanya melihat tatapan mesra dari Vino pada Airin.


***


Airin terbangun karena suasana kamarnya yang tiba-tiba sangat gelap. Bahkan Airin tidak bisa melihat apapun, dengan susah payah dia menggapai tongkat di samping tempat tidurnya. Namun tidak ada.


Airin mencoba memanggil-manggil nama Vino dan Ais. Bahkan juga mama Vino, bel yang disediakan sudah Airin tekan sejak tadi. Takut, jelas Airin merasakannya. Dia ingat saat lampu menyala dan ada seorang wanita kejam dihadapannya. Bayangan itu muncul lagi, kali ini Airin berteriak.


"Vino, apa itu kamu?" tanya Airin yang mendengar suara pintu dibuka.


Tidak ada jawaban. Hanya ada suara langkah kaki yang pelan. Bahkan terkesan diseret kakinya.


"Vin, Ais. Mama," ucap Airin.


Brak. Kali ini Airin mendengar suara sesuatu sedang dipukul dengan keras. Dengan susah payah Airin turun dari tempat tidurnya. Dia berjalan dengan berpegangan pada tembok.


Sreeeet. Baju Airin ditarik oleh sesuatu. Airin sampai terjatuh. Kini, ada sebuah cahaya yang bersinar. Airin tahu itu sebuah lilin. Perlahan, Airin melihat sebuah bayangan seorang wanita berambut panjang.


Diam, bahkan menelan ludah saja rasanya sangat sulit bagi Airin. Bayangan itu mendekat dan semakin dekat. Lalu,


"Apa kau merindukan aku?" tanya wanita itu.


Airin berteriak dengan sangat keras. Wanita itu hanya tersenyum dengan sangat mengerikan. Wanita itu, wanita yang sama, wanita yang menculik Airin dan menyiksanya.


"Shhh," wanita itu meletakan jari telunjuknya dibibir Airin, "jangan berteriak. Aku kesini hanya ingin melihatmu. Paham?"


Airin diam. Air matanya bahkan sudah mulai mengalir. Hal itu membuat wanita itu tersenyum dengan sangat mengerikan.


Brak. Suara pintu dibuka kembali terdengar. Airin dan si wanita langsung menoleh. Klik, lampu kamar Airin sudah dinyalakan. Ada Vino disana, lalu saat Airin menoleh kearah depannya. Tidak ada siapapun, wanita itu sudah pergi.


"Kamu kenapa? kenapa kamu berteriak?" tanya Vino yang langsung mendekat pada Airin.


Airin memegang ke dua tangan Vino, "Dia. Dia datang kesini, dia disini," kata Airin dengan mata yang terus mencari.


"Siapa yang datang?" tanya Vino.


"Wanita itu, dia disini."


Vino menggeleng, lalu dia mengusap wajah Airin perlahan. Tidak lama setelah itu Ais dan mama Vino masuk. Mereka melihat Vino yang sedang membantu Airin keatas tempat tidur.


"Apa yang terjadi?" tanya mama Vino.


"Ma, dia disini," kata Airin.


Mama Vino langsung duduk di samping Airin, "Sayang, mungkin itu hanya halusinasi."


Dengan keras Airin menggeleng, "Tidak, Ma. Dia datang menemuiku lagi."


"Apa kau melihat seseorang saat masuk kesini?" tanya mama Vino pada Vino.


Vino hanya menggeleng pelan. Mama Vino kembali menoleh pada Airin.


"Bukankah disamping tempat tidurmu ada tongkat. Kau juga bisa menekan bel yang disediakan."


Airin menggeleng, masih dengan air mata, "Semuanya tidak ada," kata Airin.


Serentak Vino, mama Vino dan Ais menoleh kesamping tempat tidur Airin. Disana masih ada tongkat yang disediakan. Bahkan, Ais juga mencoba bel itu, dan berfungsi dengan semestinya.


Airin tidak percaya dengan apa yang terjadi. Jika banya ilusinya, kenapa sangat nyata. Bahkan sikunya juga memar karena wanita itu menariknya. Airin hanya bisa diam, dia tidak bisa membela dirinya lagi.


"Ini sudah malam. Sudah waktunya tidur," kata Vino, "mama dan Ais bisa kembali istirahat. Aku akan bicara sebentar dengan Airin."


Dengan terpaksa mama Vino dan Ais kelyar dari kamar itu. Kini hanya ada Vino dan Airin. Airin menundukan kepalanya, dia merasa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa bisa dia begitu lemah.


"Airin."


"Kamu bisa keluar sekarang," kata Airin dengan nada datar.


Vino mendekat, namun Airin memilih untuk menarik selimutnya dan berbaring. Dia bahkan menutupi seluruh tubuhnya. Kecewa, dia merasakan hal itu saat Vino mengatakan jika Airin berbohong.


"Selamat malam," ucap Vino.


Lalu Vino keluar dengan wajah murung. Bagaimanapun, Vino jelas percaya dengan apa yang dia lihat. Vino masih mengira jika Airin hanya berhalusinasi. Hal itu membuat Vino semakin khawatir dengan kesehatan Airin.


***


"Bagus juga apa yang kamu lakukan."


"Jelas. Aku bukan hanya aktris yang baik, tapi aku juga wanita yang tersakiti."


Lalu mereka berdua tertawa.


***


Mata Airin terlihat menghitam disekitarnya. Sudah jelas jika Airin tidak tidur semalaman. Dia terus memikirkan siapa sebenarnya wanita itu. Orang nyata, atau hanya ilusinya saja.


Airin meraih tongkat di sampingnya. Mulai hari ini dia bertekat tidak akan menggunakan kursi roda lagi. Dia merasa sangat lemah saat menggunakannya.


Langkah Airin terlihat sangat tidak mudah. Satu langkah, Airin berhenti. Dia kembali mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sampai, bruk. Airin jatuh di langkah keduanya.


Ais yang berada di luar kamar Airin langsung masuk karena mendengar benda jatuh. Ais melihat Airin terduduk dengan tongkat di sampingnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ais yang akan membantu Airin berdiri.


Airin melepaskan pegangan tangan Ais, "Aku bisa sendiri."


"Tapi, Nona."


"Diam dan lakukan perintahku," kata Airin, "pergi dari sini."


Ais tidak bisa berbuat apapun selain menganggukan kepalanya dan keluar dari kamar Airin. Jika mengingat hal yang terjadi semalam, Airin merasa dirinya sangat bodoh. Mungkin, Vino dan mamanya sudah menganggap Airin tidak normal.


Kembali Airin bangun dengan bantuan tongka di tangannya. Jika dia pulih dengan cepat, tentunya wanita itu akan tertangkap. Ya, Airin sudah dibuat gila oleh wanita itu. Padahal Airin tidak tahu apa yang salah dengannya.


"Aku harus mendapatkan wanita itu," lirih Airin.


Setelah membersihkan diri. Airin duduk di depan meja rias. Dia menatap pada pantulan dirinya. Masih ada sedikit luka yang membekas di wajah Airin.


"Aku sudah siap untuk hari baruku. Aku bukanlah Airin yang sebelumnya."


Dulu, Airin pernah mengatakan hal itu, tapi dia goyah karena cinta dalam hatinya. Kali ini, dia memiliki hati dan harta. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


***


Vino dan mama Vino sudah berada di meja makan. Ya, mereka akan melakukan sarapan pagi seperti biasanya. Hanya saja, tidak ada Airin di meja itu.


Tidak lama, Ais datang ke meja makan dengan wajah khawatir. Dia tersenyum pada Vino dan mama Vino.


"Kenapa Airin belum datang?" tanya Vino.


"Nona Airin. Dia tidak ingin saya masuk kamarnya."


Vino menghela nafas panjang, "Apa lagi yang dia inginkan."


"Vino. Lihatlah dia," kata Mama Vino.


Vino bergegas masuk ke kamar Airin. Vino kaget dengan apa yang dia lihat. Airin berdandan sangat cantik dengan dress merah menyala. Bahkan, baru kali ini Vino melihat Airin merias wajahnya.


"Ada apa kau kesini?" tanya Airin.


"Kau mau kemana? kenapa merias wajahmu?"


Airin tersenyum, "Apa aku harus meminta ijinmu melakukan hal ini."


"Bukan begitu, maksudku..."


"Kau kaget bukan melihatku begini?" Airin mendekat dengan tongkat yang menopang tubuhnya, "Vino, kau harus ingat. Aku tidak gila."


Setelah mengatakan hal itu. Airin berjalan melewati Vino begitu saja. Memang benar, Vino tidak salah dalam hal ini. Dia hanyalah percaya dengan apa yang dia lihat.


Airin sakit hati karena Vino sudah mengundang dokter kejiwaan untuknya. Hal itulah yang membuat Airin merasa tidak percaya lagi dengan Vino. Orang yang salama ini ada disampingnya. Kini mengira dia gila.


"Ais, apa kau bisa mengantarku bertemu dengan Cika?" tanya Airin.


"Baik, Nona."


Ais langsung keluar untuk menyiapkan mobil. Tidak terlihat dimanapun mama Vino. Padahal Airin ingin berpamitan akan pergi. Airin kembali melangkahkan kakinya.


***


Sela sudah rapi dengan dress selutut. Tas tanganmya dia pegang dengan erat. Dia berniat bertemu dengan Airin. Apapun yang sudah dia lakukan padanya adalah salah.


Apa lagi, Sela mendengar jika Airin sangat trauma akan hal itu. Jika dia meminta maaf secara langsung. Airin pasti akan memaafkannya. Dia juga pasti akan dibantu untuk menangani tante Mia.


"Kau mau kemana?"


Sela menoleh, dia mendapati tante Mia yang sedang berdiri. Dengan sebuah apel di tangannya.


"Aku ingin bertemu dengan teman," jawab Sela.


"Bolehkah aku ikut?" tanya Tante Mia.


Sela diam.


"Baiklah jika kau tidak ingin aku ikut. Aku tetap bisa melihat dirimu kemanapun kau pergi." Tante Mia mengatakan dengan senyuman mengerikan.


Sela hanya tersenyum. Lalu dia keluar, Arja masih menunggunya di dalam mobil. Dia berjanji akan mengantar Sela hari ini.


Di dalam mobil Sela tampak gelisah. Dia terus merubah posisi duduknya. Matanya juga tidak fokus. Arja yang melihat hal itu merasa sangat tidak nyaman.


"Apa ada masalah?" tanya Arja.


"Ti..tidak."


Arja menghentikan mobilnya lalu menarik tangan Sela mendekat padanya. Sela diam, dia menatap mata Arja yang kini sangat dekat dengannya.


"Katakan apa yang kau pikirkan," perkataan Arja membuat Sela ingin mengatakan semuanya.


"A...aku.."


"Apa?"


"Aku ingin menjauh dari tante Mia."


Arja kaget mendengar hal itu. Jelas sekali jika mereka sering berbicara berdua. Kenapa saat ini Sela terlihat sangat takut.


"Katakan alasanmu. Bukankah aku juga sudah menyuruhmu."


Sela diam. Dia memilih mendorong Arja dan duduk kembali ke kursinya. Dia menatap keluar kaca mobil. Sebenarnya, Sela takut jika Arja tahu yang sebenarnya. Jika dia terus menyembunyikannya. Cepat atau lambat pasti tante Mia bisa menyingkirkannya.


Arja kembali menjalankan mobilnya. Dia mengantar sampai ke sebuah pusat perbelanjaan. Kali ini, Arja benar-benar hanya mengantar Sela. Dia tidak menemani Sela seperti biasanya.


Bingung, Sela tidak tahu harus menemui Airin dimana. Jika dia datang ke rumah itu, sudah tentu Vino akan mencurigainya.


Bruk. Tidak sengaja seorang pria menabrak Sela dengan sangat keras. Membuat Sela hampir saja terjatuh. Untung saja saat itu Airin lewat jadi, Sela bisa berpegangan pada Airin.


Tanpa sadar Airin juga memegang tangan Sela. Tangan yang dulu dia genggam sebagai teman dan saudara.


"Airin," panggil Sela dengan wajah cerah.


Airin hanya diam dan akan kembali berjalan.


"Tunggu," kata Sela sembari menahan tangan Airin, "aku ingin bicara dengan kamu."


Airin melepaskan tangan itu, "Apa kau ingin bicara dengan orang gila sepertiku?" tanya Airin.


Sela kaget. Apa yang sudah terjadi pada Airin benar-benar membuatnya berubah. Sela melihat sebuah tongkat di tangan Airin. Dia tahu, Airin belum bisa berjalan tanpa bantuan. Sela benar-benar merasa bersalah.


"Rin, aku sangat minta maaf," kata Sela.


"Tidak usah minta maaf. Ini semua bukan kesalahanmu."


"Rin," kembali Sela memegang tangan Airin. Sorot matanya tidak bisa dibaca oleh Airin, dia terlihat sedang sedih.


"Ayo. Aku akan mendengarkan apa yang kau katakan. Ikut aku," kata Airin.


Mereka berjalan dengan tenang. Sela mencoba mengimbangi langkah Airin yang tertatih. Sela benar-benar merasa sangat bodoh sudah percaya pada tante Mia. Dia hampir saja membuat Airin meninggal karena cinta butanya.


Sampau disebuah tempat makan. Airin memilih duduk di tepi tempat itu. Dimana dia bisa melihat kearah lantai bawah. Hal yang menyenangkan, pikir Airin.


"Kau mau pesan apa?" tawar Airin.


Sela menggeleng, "aku kesini bukan untuk makan. Aku kesini ingin mengatakan sesuatu."


"Katakan saja."


"Sebenarnya....sebenarnya aku tahu siapa orang yang menculikmu."


Kaget, itulah yang terlihat diwajah Airin.


"Ya, semua ini salahku. Aku terlalu mencintai Arja sampai aku melupakan hati nuraniku. Aku percaya begitu saja padanya. Aku bahkan berniat melenyapkan kamu bersamanya."


Airin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya dengan apa yang Sela katakan.


"Aku minta maaf, Rin. Aku...."


"Katakan saja siapa dia," kata Airin dengan sangat keras.


"Dia...dia...."


Dor dor dor. Suara tembakan membuat Airin terhenyak. Dia kaget dan langsung berdiri. Bruk, Sela ambruk tepat di depan Airin. Banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


"Airin," panggil Sela dengan sangat lirih.


Pelan, Airin memeluk tubuh Sela di pangkuannya.


"Bayiku, Rin."


Setelah mengatakan hal itu Sela langsung pingsan. Airin ingat, Sela sedang mengandung anak Arja. Airin berteriak meminta tolong. Walaupun dia membenci Sela, tapi Sela tetaplah keluarga yang tersisa untuk Airin.


***