My Love My Pain

My Love My Pain
Kesalahanku.



Secangkir teh dan roti menemani pagi yang dilalui Airin. Airin merasa sangat bersemangat hari ini. Melihat jam dinding, ternyata sudah waktunya Airin berangkat ke kantor. Airin memutuskan untuk berangkat saat itu juga, dia tidak mau terlambat.


Tas sudah Airin bawa. Ponsel dan semua yang Airin butuhkan sudah dia bawa. Airin keluar dengan sepatu yang tidak memiliki hak. Setidaknya Airin tidak akan kesakitan karena sepatunya lagi.


"Pagi?"


Airin terlonjak karena suara Vino yang tiba-tiba. Sejak kapan dia berada di luar apartemen Airin. Dia bahkan membuat Airin kaget seperti ini.


"Kau terlihat sedang buru-buru?" tanya Vino.


"Ya. Aku pergi dulu."


"Hati-hati," kata Vino sembari melambaikan tangannya.


Dengan langkah cepat Airin meninggalkan Vino. Dengan menggunakan lift Airin akan sedikit menghemat waktu dan tenaganya kali ini. Beberapa kali ponsel Airin berdering, bukan dari Cika. Arja, untuk apa dia menelfon Airin. Airin mematikan ponselnya.


***


Cika terlihat sibuk dengan komputer di depannya. Sedangkan Airin membantunya menyusun beberapa laporan bulanan dari karyawan.


Sejak Airin datang tadi. Cika lebih banyak diam dan murung. Sepertinya sedang ada masalah. Akan Airin tanyakan nanti disaat makan siang. Airin kembali memfokuskan diri untuk menyusun laporan-laporan itu.


Beberapa kali Airin harus melihat kearah ponselnya. Kembali, Arja mengirim pesan untuk menemui Airin. Sayangnya, Airin sudah tidak ingin hubungan ini berlanjut. Semuanya sudah berakhir menurut Airin.


"Kau tidak mau makan siang?" tanya Cika.


Airin langsung menoleh padanya, "Ya. Kau mau turun juga?"


Cika mengangguk. Airin langsung menggandeng tangannya. Dingin, tidak seperti biasanya. Apa Cika sedang sakit?


"Sejak tadi kau hanya diam? apa ada masalah?" tanya Airin.


"Bukan masalah. Hanya saja aku merasa kesal pada Jay. Dia pulang ke kotanya tanpa berpamitan padaku."


Kini Airin tahu kenapa bisa seorang Cika hanya diam sejak tadi. Ternyata karena cintanya. Jika dipikir lagi, tidak ada cinta yang tidak memiliki batu sandungan.


Tidak biasanya. Hari ini Cika meminta makan siang di kantin saja. Biasanya dia akan makan di luar dengan client atau kenalannya, tapi tidak hari ini.


"Siapa yang terus menerus menelfonmu sejak tadi?" tanya Cika yang mendengar dering telfon Airin lagi.


Airin kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana.


"Arja. Dia meminta bertemu denganku. Hanya saja, aku malas untuk meladeninnya."


"Kenapa tidak kau temui saja. Mungkin dia ingin menjelaskan sesuatu."


"Tidak." Airin langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak ada niatan untuk bertemu dengannya. Lagi pula, aku tahu Sela seperti apa. Dia akan mempertahankan apa yang dia miliki."


"Terserah kamu saja. Aku hanya memberi saran."


"Ya. Terima kasih," kata Airin.


Saat makan siang ini. Airin terus menerus menghindari pertanyaan Cika tentang Vino. Bagaimanapun, Airin masih belum ingin menjalin hubungan lagi. Airin takut, apa yang terjadi saat ini akan terulang. Pasti akan lebih menyakitkan dari sekarang.


***


"Daah."


Airin melambaikan tangannya pada Cika yang sudah pergi dengan mobilnya. Dia akan menyususl Jay dan kembali nanti malam. Cika sepertinya sangat mencintai Jay.


Kembali sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin. Arja, lagi-lagi dia meminta Airin menemuinya. Kali ini Airin merasa harus menemuinya. Tidak mungkin dia akan menghindar seperti ini terus menerus.


Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Akhirnya Airin setuju juga bertemu dengan Arja. Setidaknya Airin tidak mengganggu hubungannya. Airin hanya akan mendengarkan apa yang dia katakan.


Airin menghentikan sebuah taxsi. Kali ini tempat bertemu dengan Arja cukup jauh dari kantor Cika. Tidak mungkin Airin berjalan kesana atau dia akan kehilangan kakinya.


"Ke cafe olin," kata Airin pada sopir taxsi itu.


"Baik, mbak."


Airin duduk dengan tenang. Setelah Airin setuju untuk bertemu. Arja tidak lagi mengirim pesan atau hal lainnya. Ting. Kali ini sebuah pesan masuk, namun bukan dari Arja.


Apa kau sudah pulang? bisakah kita bertemu?


Aku akan pulang telat? kita bertemu nanti saja. Bukankah kau juga diundang ke acara pernikahan Arja?


Balas Airin.


Ya. Kita berangkat bersama, kali ini jangan menolak ajakanku.


Airin tersenyum melihat pesan terakhir Arja. Airin memasukan ponselnya kembali ke dalam tas. Tidak lama, akhirnya sampai juga di cafe yang di maksud Arja.


"Terima kasih, Pak."


Cafe ini masih sama saja. Dulu, awal pernikahan Airin dengan Arja. Mereka sering datang ke cafe ini. Bahkan mereka sampai hafal dengan apa yang Airin pesan.


Dengan langkah berat, akhirnya Airin masuk ke cafe itu. Airin mencari Arja di sekelilingnya. Dia melambaikan tangan pada Airin dengan sebuah senyuman.


"Ada apa?" tanya Airin langsung tanpa basa basi.


"Duduklah dulu," kata Arja.


Airin duduk berhadapan dengan Arja. Dia terlihat seperti biasanya, dengan setelan jas dan dasi yang menggelantung di lehernya.


"Bukankah kau sudah akan menikah? lalu untuk apa kau mengajak seorang wanita bertemu? apa kau tidak takut dengan calon istrimu?" Airin sengaja menanyakan hal ini.


Seorang pelayan datang dengan pai blueberry dan teh tawar untuk Airin. Airin menoleh pada Arja, dia yang sudah memesankan ini untuknya.


"Ya, aku masih ingat dengan apa yang kau suka." Arja tersenyum dan mendekatkan makanan itu kearah Airin.


"Benarkah?" tanya Airin.


Arja mengangguk pelan.


"Lalu apa maumu sekarang?" tanya Airin kemudian.


"Rin, aku....aku..aku minta maaf."


Airin hanya diam dan memandang kerah Arja.


"Aku akan jelaskan semuanya Rin. Ini semua jebakan Sela. Dia yang melakukannya, aku bahkan tidak bisa berbuat apapun," kata Arja dengan kata-kata yang aneh menurut Airin.


"Kau sudah mengatakan semuanya?" tanya Airin lagi.


Arja bingung dengan apa yang Airin katakan.


"Jika sudah. Aku harus pergi. Sejak adanya surat cerai itu, itu pertanda jika kau dan aku tidak memiliki urusan lagi." Airin membenarkan posisi tasnya dan langsung bergegas pergi.


Arja masih mencoba menghentikan langkah Airin. Dia bahkan mengikuti Airin keluar dari cafe itu.


"Rin. Aku mohon maafkan aku, aku akan katakan yang sejujurnya padamu."


"Sudah aku bilang. Kita tidak ada urusan lagi. Kau paham apa yang aku katakan." Airin kembali berbalik arah.


Kali ini Arja menahan tangan Airin. Airin kembali menoleh padanya, mata mereka bertemu. Dia terlihat marah dengan apa yang Airin katakan.


"Jangan pergi, Rin."


"Lepas."


"Kau masih milikku."


"Apa kau sudah gila. Lepaskan aku."


Airin terus mencoba melepaskan genggaman tangan Arja. Bukannya mengendur, genggaman itu malah semakin kuat. Hingga membuat Airin merasa sakit dipergelangan tangannya.


"Lepaskan aku," teriak Airin sembari mendorong Arja dengan kuat.


Airin tidak tahu apa yang dia lakukan sangatlah salah. Airin mendorong Arja kearah jalanan yang ramai dengan mobil. Sampai, brak.


Airin terdiam seribu bahasa. Matanya melihat hal yang mengerikan. Arja, dia tertabrak mobil tepat di depan Airin dan semua ini karena Airin. Tubuh Arja tergeletak dengan darah dimana-mana.


Banyak orang mendekat. Mereka mengatakan jika Airin yang sudah mendorongnya. Itu benar, namun Airin tidak berniat membuatnya terluka. Apa yang harus aku lakukan. Aku merasa sangat kacau, pikir Airin.


***