My Love My Pain

My Love My Pain
Kabar Baik



Airin POV


Pagi yang indah dengan pemandangan yang sangat indah. Akhirnya Airin bisa fokus untuk pengobatannya. Setelah ini, mungkin Airin akan kembali ke kotanya dengan hidupnya yang baru.


Sejak kemarin, Airin hanya mendapat sebuah pesan dari Arja. Dia menanyakan kabar Airin dan keberadaannya. Hanya itu, jika dipikir lagi sangat memuakkan. Airin adalah istrinya, namun tidak dihiraukan.


Hari ini Airin sudah siap bertemu dengan dokter. Ya, kata Cika dokter itu sangat luar biasa. Airin harus menemuinya untuk kesembuhan yang Airin inginkan. Setelah itu, dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Termasuk membuat Arja terluka karena kebohongannya.


Apa kau akan menemui dokter Jay? jika iya, berikan salamku padanya.


Airin tersenyum saat membaca pesan itu. Cika benar-benar lucu. Dia menceritakan awal bertemu dengan dokter Jay. Dia jatuh cinta pada saat itu juga. Dia juga menyuruh Airin untuk hati-hati agar tidak jatuh cinta pada dokter Jay.


Rambut yang diikat membuat Airin merasa lebih segar. Airin juga sengaja memakai baju nyaman di tubuh. Tentunya agar dia merasa lebih menjadi dirinya sendiri.


"Mau kemana?" tanya Bu Ann saat Airin melewati rumahnya.


"Saya mau menemui teman saya, Bu."


"Apa kau akan ke kota?"


Airin mengangguk dengan senyuman. Bu Ann sangat ramah pada Airin sejak dia datang. Semalam dia juga mengundang Airin untuk makan malam di rumahnya. Dia menceritakan banyak hal pada Airin, termasuk anaknya yang sudah lama meninggal.


"Apa Ibu boleh nitip? ibu butuh buket bunga mawar putih, bisakah kau membelikannya dulu?"


"Tentu, Bu. Aku akan membelikannya nanti."


"Terima kasih."


"Ya, Bu. Saya pergi dulu."


Airin melanjutkan jalannya. Jika dipikir lagi, Airin belum tahu tentang daerah sini. Airin hanya tahu alamat rumah sakit dimana dokter Jay bekerja. Tentunya di rumah sakit terbesar di kota ini.


Airin menghentikan sebuah mobil angkutan umum. Banyak orang yang sudah berada di dalam sana. Terlihat pengap dan berdesakan, namun hanya ini transportasi yang ada.


Disini tidak ada taxsi atau ojek online. Yang ada hanya angkutan yang sedang Airin tumpangi saat ini. Saat sopir bertanya, Airin hanya menunjukan alamat yang dia tulis. Sopir itu mengangguk dengan seulas senyuman dibibirnya.


***


Arja POV


Arja masih saja mondar mandir di dalam kamarnya. Ponsel yang biasanya dia letakan di meja, kini setia di tangannya sejak semalam. Dia terus menanti balasan pesan dari Airin, walau belum ada hasilnya sampai saat ini.


Sela yang melihat itu merasa tidak senang. Walau dalam hatinya sudah tahu jika Arja sudah mulai memiliki perasaan pada Airin yang sesungguhnya. Perlahan Sela mendekat dan memeluk tubuh Arja dari belakang.


"Kau sedang memikirkan apa? bukankah hari ini kita harus fitting baju," kata Sela dengan senyuman.


Arja memegang tangan Sela yang melingkar dipinggangnya.


"Apa kita tidak bisa mengundur pernikahan ini? kau tahu, hubunganku dengan Airin masih belum jelas."


"Berikan saja dia surat cerai. Selesai bukan?"


"Tidak semudah itu, Sel." Arja masih saja mencari cara untuk menghindari pernikahan itu.


Sela mendongakkan wajahnya, dia menatap mata Arja, "Jangan-jangan kau sudah mulai mencintainya?"


Arja langsung membuang muka, dia tidak mau jika Sela menyadari hal itu. Bisa saja apa yang sudah dimilikinya saat ini hilang.


"Kau tahu konsekuensinya jika menghianatiku. Katakan saja," kata Sela dengan lembut.


Arja menangkup wajah Sela dengan tangannya, "Aku sangat mencintaimu. Jadi, biarkan aku mengurus hubunganku dengan Airin."


"Tidak, kau hanya perlu memberikan surat cerai. Sudah cukup bagiku menunggu. Kau tahu kan pengorbananku bagaimana? aku kehilangan ayahku karena harta yang dimiliki Airin."


Kali ini Sela merasa sangat kesal. Dia bahkan membuang tangan Arja yang menyentuh mesra dirinya.


"Aku tahu, Sel. Aku akan cari solusi."


Arja sudah merasa kalah. Awalnya, hatinya memang tertambat pada Sela. Gadis muda yang lugu dan mempesona, namun apa yang kini terjadi membuat Arja muak. Dia merasa kesal dengan sifat Sela yang sekarang, pemaksa dan materialistis.


***


Airin masih khawatir dengan pemeriksaan yang baru saja dia lakukan. Airin takut mendengar kabar buruk untuk penyakit ini. Walau masih belum jelas apa penyakit sebenarnya.


"Apa kau Airin?" tanya Dokter Jay yang baru saja keluar dari dalam ruang periksa.


Airin berdiri dari duduknya, "Ya, saya Airin."


"Bisakah kita bisa bicara sebentar? ikuti saya."


Airin mengikuti langkah kaki dokter Jay. Langkahnya begitu panjang membuat Airin sulit untuk mengimbanginya. Benar juga, dokter Jay memang orang yang mempesona, namun Airin hanya merasa kagum saja. Tidak lebih.


Sampai di kantin rumah sakit. Mereka duduk berhadapan disisi jendela kaca. Dia masih memberikan minuman untuk Airin. Mungkin agar Airin merasa lebih tenang saat bicara dengannya.


"Bagaimana penyakitku?"


Dokter Jay menyunggingkan senyumnya. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya menatap keluar jendela. Disana ada sebuah taman dengan banyak pasien yang sedang jalan kesana kemari, dengan seseorang yang menemani.


"Kau tahu, di dunia medis juga kadang ada sebuah kesalahan. Setelah aku periksa, kau tidak sakit apapun. Mungkin hanya asam lambungmu yang kambuh."


Airin terhenyak dengan apa yang dikatakan dokter Jay. Secara tidak langsung dia mengatakan Airin baik-baik saja. Airin pun menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Maksud dokter apa?" Airin masih bertanya karena tidak percaya.


"Ya. Kau baik-baik saja, mungkin di rumah sakitmu yang dulu. Ada kesalahan alat atau lainnya. Yang jelas kau baik-baik saja."


"Apa benar?"


"Ya, atau kamu mau cek ulang?"


Airin menggeleng dengan cepat. Mendengar hal ini sudah membuat Airin merasa senang dan lebih baik. Dia merasa hidupnya sudah kembali dan lebih berwarna.


Airin akan memberitahu Cika tentang hal ini. Dia juga akan bahagia dengan apa yang Airin katakan. Bagaimana Airin bisa merasakan rasa senang ini sendiri. Oh ya, Airin hampir saja lupa, dia harus mengatakan apa yang Cika katakan padanya.


"Dokter," panggil Airin lirih.


"Apa lagi?"


"Ada salam dari Cika. Temanmu saat kuliah," kata Airin.


Terlihat jelas jika dokter Jay berfikir. Mungkin dia sudah lupa dengan Cika. Padahal Cika tidak melupakannya sedikitpun. Jangan-jangan Cika kembali bertepuk sebelah tangan. Kasihannya dia.


"Aku ingat, dia gadis berambut pendek yang ceria. Bisakah aku mendapatkan kontaknya?"


"Dengan senang hati."


Airin memberikan nomor ponsel Cika pada dokter Jay. Setelah selesai berbicara, Airin langsung berpamitan untuk pulang. Ada titipan yang harus dia beli sebelum kembali ke rumah sewa.


***


Dengan senang Airin menelfon Cika. Mereka membicarakan banyak hal, termasuk kepulangannya kembali. Hanya saja, Airin masih ingin di sini, mungkin untuk satu bulan ke depan.


Setelah lelah mencari toko bunga. Akhirnya Airin menemukannya di pinggir jalan dekat toko buku. Kebetulan sekali, Airin akan mencari sebuah buku untuk menemani harinya disini.


"Sudah dulu ya, nanti aku kabari lagi."


Airin menutup telfon itu dan masuk. Melihat bunga yang bermekaran rasanya membuat hatiku lebih baik dan berwarna. Saat tangannya menyentuh sebuah buket bunga mawar putih, saat itu juga seorang pria menyentuhnya.


Mereka saling menoleh. Mata mereka bertemu, senyuman mengembang diwajahnya. Airin kaget, kenapa bisa bertemu dengannya disini. Tempat dimana Airin merasa nyaman dan bebas.


***