My Love My Pain

My Love My Pain
Suasana baru hari baru



Suasana bandara cukup ramai. Airin sudah bersiap dengan koper di tangannyq. Tidak ada yang tahu tentang kepergian Airin ini. Semuanya terasa seperti mimpi.


Sembari menunggu, Airin memilih untuk duduk dan bermain game di ponselnya. Sebenarnya merasa bersalah karena tidak mengabari Cika jika dia akan pergi sekarang. Hanya saja, Arja pasti akan mencari tahu pada Cika saat menyadari Airin pergi.


"Airin."


Karena merasa di panggil, Airin menoleh ke arah kanannya. Vino, kenapa Airin harus bertemu dengannya untuk saat ini. Airin pun mengulas senyum.


"Kenapa kau disini?" tanya Vino yang kemudian duduk di samping Airin.


"A...aku sedang mengantar Arja pergi. Kau sendiri sedang apa?"


"Aku ada perjalanan bisnis. Pesawatku mungkin akan berangkat sebentar lagi, dimana Arja?"


"Dia, dia sedang ke kamar kecil."


Untung saja tidak lama obrolan kami. Pesawat yang akan membawa Vino diumumkan. Mau tidak mau Vino langsung meninggalkan Airin kembali sendiri.


"Aku harus pergi sekarang, sampai bertemu lagi," kata Vino sembari sedikit berlari menjauh dari Airin.


Airin melambaikan tangannya. Kembali Airin duduk, pesawatnya masih cukup lama. Jadi, dia bisa duduk dengan tenang untuk beberapa saat.


***


Arja POV


Sejak kemarin Arja tidak bertemu dengan Airin. Dia merasa ada yang aneh karena biasanya Airin akan bertanya walau lewat telfon.


Dengan kecepatan tinggi, Arja membawa mobilnya kearah rumah. Dia akan menemui Airin dan bertanya apa yang terjadi. Sampai di rumah suasana cukup sepi. Tidak seperti biasanya.


"Sudah pulang tuan," kata kepala pelayan.


"Dimana Airin?" tanya Arja.


"Nyonya tidak di rumah. Dia tadi pergi dengan koper di tangannya."


"Koper?"


"Ya, Tuan."


Arja langsung berlari kearah kamar. Dia membuka kamar itu dan mendapatkan kejutan. Kamar dihias dengan sedemikian rupa. Mata Arja langsung tertuju pada tempat tidur, disana ada beberapa barang yang sengaja ditinggalkan oleh Airin untuknya.


"Apa ini?" lirih Arja dengan tatapan penuh tanya.


Disana sebuah kertas kecil tertulis kata selamat dengan sangat besar. Saat membukannya, Arja tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia melihat fotonya dengan Sela kemarin. Dengan posisi yang sangat mesra, bahkan untuk seorang pasangan.


"Kenapa dia bisa tahu," kata Arja dengan sangat kesal. Arja membanting kotak itu dengan keras.


Sebuah kertas putih melayang layang, terjatuh tepat di kaki Arja. Perlahan Arja membungkukan badanya dan mengambil kertas itu. Airin memang sengaja meninggalkan kertas hasil tes pada rahimnya. Setidaknya, Arja akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Airin.


Arja terduduk lemas. Dia merasa sangat bersalah pada Airin. Sejak kedatangan Airin di hidupnya, Arja merasa cukup bahagia. Kini, Airin sudah benar-benar meninggalkannya di saat Arja mulai memiliki rasa.


***


Airin POV


Airin sudah sampai di tempat tujuannya. Memang dia tidak pergi keluar negri, dia hanya pergi ke tempat dimana dia bisa merasa tenang. Kota dengan banyak pohon dan tidak ada hiruk pikuk kemacetan.


Dengan tangan kanan menarik koper. Airin mencari sebuah taxsi untuk mengantarkannya mencari rumah sewa. Setidaknya dia masih memiliki tabungan untuk perawatan dirinya dan menyewa rumah.


"Mau ke mana, mbak?" tanya seorang sopir taxsi. Terlihat dari seragam yang dia pakai.


"Apa bapak bisa mencarikan rumah yang disewakan, atau sebuah apartemen yang disewakan?" tanya Airin.


"Tentu, mbak. Akan saya antarkan sampai ke tujuan."


Airin masuk ke dalam taxsi. Sementara sopir meletakan kopernya ke bagasi mobil. Airin merasa senang di sini. Kota yang penuh dengan perkebunan dan peternakan. Andai saja dia memiliki seseorang yang dia kenal disini.


Taxsi itu membawanya ke sebuah pemandangan yang sangat indah. Pemandangan perkebunan yang sangat luas, seperti permadani hijau yang terhampar entah sampai mana.


"Ini mau kemana, Pak?" tanya Airin yang penasaran.


"Sebenarnya, saya melihat mbak sedang liburan. Jadi, saya bawa anda keperkebunan buah yang paling terkenal. Disana juga ada hotel dan penginapan kecil," jelas sopir itu pada Airin.


Airin tersenyum dan kembali menikmati pemandangan indah itu. Disini Airin merasa tenang tanpa ada yang menganggu. Andai ada Arja, akan lebih menyenangkan liburan ini.


***


Arja POV


Mau tidak mau, Arja menuju ke kantor Cika. Mungkin Cika tahu sesuatu atau Airin berada disana, pikir Arja. Dia sejak tadi tidak istirahat hanya demi mencari Airin.


"Cika." Panggil Arja saat Cika akan masuk ke dalam mobil.


"Kau disini? ada apa?" tanya Cika.


"Dimana Airin?" tanya Arja tanpa basa basi dulu.


"Bukankah dia sedang bersama denganmu. Dia mengatakan akan cuti untuk kamu," kata Cika mengatakan yang sebenarnya.


"Jangan bohong, Ka. Aku sudah mencarinya kemanapun, dia tidak ada dimanapun."


Cika juga merasa aneh. Sejak kemarin bertemu, Cika tidak mendapat kabar apapun dari Airin. Cika sedikit menjauh dan menelfon Airin, tidak tersambung.


"Aku benar-benat tidak tahu Arja. Mungkin...."


"Pasti Vino yang membawanya pergi," kata Arja dan langsung kembali masuk ke dalam mobil.


Cika hanya bisa menggelengkan kepalanya. Baru kali ini Arja merasa kebingungan hanya karena satu wanita. Wanita yang selalu disakiti olehnya.


Mata Arja terus mencari. Sampai sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Sela meminta bertemu karena ada urusan penting. Mau tidak mau, Arja harus menuruti perkataan Sela. Dengan kasar Arja memutar balik mobilnya menuju keapartemen Sela.


"Kenapa wanita manja itu selalu merepotkanku," kata Arja dengan kesal, dia bahkan memukul setirnya dengan kuat.


Sela sudah menunggu dengan pakaian seksinya saat Arja masuk ke dalam apartemen. Bukannya senyuman, Arja malah melemparkan pertanyaan untuk Sela.


"Apa maumu kali ini, Airin sudah pergi dariku sekarang. Apa kau puas?"


"Airin pergi? bagaimana bisa, bukankah dia sangat mencintaimu?" Sela mendekat pada Arja.


"Kau yang membuatnya tahu tentang hubungan kita. Dia jadi pergi dariku."


Sela berdecak kesal, "Bukankah ini bagus, kau bisa menikahiku sekarang," kata Sela.


"Tidak, belum saatnya."


Sela menoleh pada Arja, dia menatap dengan tatapan kesal.


"Apa kau bilang? ini belum saatnya? lalu kapan? bukankah aku sudah berikan semuanya padamu. Bahkan aku rela kehilangan ayahku demi harta warisan milik Airin."


"Sela," panggil Arja.


"Nikahi aku, jika tidak aku akan katakan semuanya pada Airin. Jika kau, hanya ingin harta warisan dan keturunan darinya."


Arja diam. Dia terlihat berfikir. Jika Sela benar melakukannya, Airin akan benar-benar pergi darinya dan tidak akan kembali.


"Baiklah, aku akan urus semuanya," kata Arja dengan seulas senyuman.


"Terima kasih, Sayang."


Sela langsung memeluk Arja dengan bahagia. Sela memang sudah sejak lama menantikan hal ini. Harapannya sudah terkabul, dia akan segera menikah dengan pria tampan dan kaya.


***


Airin POV


"Senangnya," lirih Airin dengan senyuman.


Akhirnya Airin bisa bernafas lega saat ini. Sebelumnya dia belum pernah merasa sebebas ini. Dia duduk sembari menunggu pemilik rumah sewa. Katanya dia akan menemuinya disini.


"Apa kau yang bernama Airin?" tanya wanita paruh baya.


"Benar, apa kau pemilik rumah sewa ini?"


Dia mengangguk dengan seulas senyuman. Dia memegang tangan Airin dan menuntun ke teras rumah yang disewakan. Sepertinya akan mudah bernegosiasi dengan ibu ini.


Akhirnya kami sepakat dengan pembayaran dan hal lainnya. Airin merasa puas, pemandangan indah dan hal yang Airin inginkan ada disini. Walaupun rumah ini cukup kecil, setidaknya cukup untuk dirinya sendiri.


"Kau bisa memanggilku, Bu Ann. Aku senang ada yang datang kesini dan menemaniku. Rumahku ada disana," tunjuk Bu Ann dengan ramah.


"Baik, Bu."


"Silahkan istirahat. Ini kuncinya."


Bu Ann sudah pergi setelah membantu Airin mengangkat koper. Airin masuk ke rumah itu, benar-benar nyaman.


***