My Love My Pain

My Love My Pain
Hanya sebuah alasan



"Ibu terlihat sangat bahagia," kata Ilin begitu Airin masuk ke dapur.


Ya. Airin bahagia karena baru saja pergi jalan dengan Arja. Dia baru saja pulang. Semoga saja kebahagiaan itu mengiringi pernikahan itu hingga akhir.


"Ilin. Menurutmu, hadiah apa yang pantas aku berikan pada Arja?" tanya Airin pelan.


"Apa yang diberikan Ibu pasti akan membuat Pak Arja senang."


"Apa benar?"


Airin hanya bisa senyum-senyum sendiri. Semenjak menikah dengan Arja. Dia belum pernah memberikan hadiah apapun. Bahkan sampai saat ini, hadiah yang sangat dinantikan belum juga hadir diantara mereka.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.


Datanglah ke rumahku. Sekarang!


Membaca pesan itu membuat Airin berfikir yang tidak-tidak. Apa ada hal buruk yang terjadi disana. Apa mungkin Vino hanya ingin Airin datang ke rumahnya saja.


Walaupun seperti itu. Airin tetap harus profesional. Dia harus datang, apa lagi ini menyangkut kontrak yang sudah dia tanda tangani.


Airin terlihat buru-buru saat masuk ke dalam kamar. Bahkan membuat Arja meletakan ponsel dari tangannya. Lalu menarik Airin mendekat padanya.


"Ada apa?" tanya Airin.


"Kau terlihat buru-buru. Ada apa?"


Airin memberikan senyumannya, "Vino memintaku ke rumahnya. Ada hal penting disana dan aku harus mengurusnya."


"Kenapa harus kau yang datang kesana?"


"Kau tahu alasanya kan?"


Arja berdecak dan melepaskan pelukannya dari sang istri. Dia merasa sangat kesal, walau dia sendiri yang mencarikan pekerjaan itu. Kenyataannya sekarang, Airin lebih sering bersama dengan bosnya.


Airin mendekat pada suaminya itu, "Aku akan cepat pulang. Jangan marah lagi."


Airin keluar dengan tas dan baju yang sama. Dia belum membersihkan diri dan belum sempat berganti baju. Untung saja dia belum melakukan aktivitas yang berat. Bajunya masih bersih.


"Amar. Siapkan mobil, kita akan pergi ke rumah pak Vino."


"Dimana alamatnya bu?" tanya Amar.


"Perumahan kristal haw. Tolong cepat."


Beberapa pesan kembali masuk. Kali ini, Vino berhasil membuat Airin cemas. Walau bagaimanapun, mereka tetap teman sampai saat ini. Hanya saja Airin menjaga jarak karena sudah bersuami.


***


Rumah besar dengan taman yang sangat luas. Banyak juga bunga yang bermekaran. Benar-benar indah. Terlihat jika rumah ini sedang ramai.


"Apa dengan Bu Airin?" tanya seorang gadis berpakaian pelayan.


"Benar."


"Mari ikuti saya."


Gadis itu membawa Airin masuk. Hanya saja melewati pintu belakang. Di depan banyak wartawan dan orang. Mungkin ada sesuatu yang membuat para wartawan ingin kesini.


"Di mana Vino?" tanya Airin.


"Tuan Vino sedang di ruang kerja. Di lantai dua, kamar ke lima dari tangga."


Airin berjalan menaiki tangga untuk mencari ruangan yang dimaksud. Setelah berhasil menemukannya. Airin hanya diam dan menghela nafas. Rumah itu sangat besar dan membuat Airin lelah berkeliling.


Tok tok tok. Airin mengetuk pintu itu beberapa kali. Sampai seorang wanita membukannya, dia tersenyum pada Airin. Wanita itu adalah wanita yang sama yang mencari Vino di kantor.


"Apa kau sekertarisnya?"


Aku mengangguk, "Ya."


"Katakan pada Vino. Jangan keras kepala."


Setelah mengatakannya. Cika melenggang pergi meninggalkan Airin yang masih terpaku. Karena merasa Vino sedang tidak baik, Airin langsung masuk saja.


Vino sedang duduk dengan tangan yang memijat kepalanya. Terlihat sekali jika ada masalah serius. Vino sedang berfikir keras saat ini.


"Saya sudah di sini, Pak."


Vino menoleh kearahku, "Kau sudah datang."


Vino mendekat dan langsung merengkuh Airin ke dalam pelukannya. Merasa tidak pantas dengan apa yang dilakukan Vino. Airin mencoba melepaskan pelukan itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Semua ini karena kamu!" Vino memecahkan gelas yang berada di sampingnya setelah melepaskan pelukannya.


"Maaf Pak. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Kali ini Vino membuka korden, hingga kami bisa melihat hal apa saja di teras rumah. Banyak sekali wartawan di sana, aku juga malihat Cika yang sedang diwawancara. Wajahnya terlihat senang, walau sebenarnya sangat palsu.


"Apa kau tahu. Mereka semua mengira aku dan Cika ada hubungan."


Airin kaget sekaligus merasa senang. Dia baru tahu jika Vino memiliki hubungan dengan wanita yang sangat cantik.


"Aku tidak ingin menikahinya, aku hanya ingin bekerjasama saja."


Airin mengeluarkan sebuah berkas. disana sudah ada tanda tangan Cika juga Vino. Mereka sepakat dengan apa yang tertera disana.


"Hal itu sudah menjadi persyaratan di sini," kata Airin.


"Aku masih mencintaimu Rin."


Airin membelalakan matanya dengan apa yang diucapkan oleh Vino. Apa dia sudah tidak waras? pikir Airin. Selama ini Airin sudah tidak memikirkan apa yang terjadi di masa lalu.


"Kita belum pernah berpisah Rin. Aku masih mencintaimu." Vino menggenggam tangan Airin dengan erat.


Dengan cepat Airin sadar dan melepaskan genggaman tangan itu. Apa yang dilakukannya sudah salah kali ini.


"Pak, cinta masa sekolah adalah hal yang tidak pasti. Kita sudah berpisah sejak kau di kirim ke luar negeri."


"Airin."


"Pak. Lakukan saja semuanya, demi perusahaanmu. Kau tidak ingin bukan jika perusahaan ini hancur?"


"Sial. Kau kembali membuat aku seperti ini."


Airin kembali mengambil kontrak kerja itu. Setelah membahas beberapa hal tentang pekerjaan. Airin berpamitan.


"Semuanya sudah selesai. Saya permisi Pak."


Airin bersiap pergi. Dia memasukan berkas dengan ponsel dan beberapa barang ke dalam tasnya.


"Airin?" panggil Vino saat Airin sudah membuka pintu, "Bagaimana agar aku bisa melupakan kamu."


Airin memilih tidak menjawab. Dia kembali melangkahkan kakinya untuk pergi. Bagi Airin masa lalu adalah masa lalu. Dia lebih fokus pada masa sekarang dan masa depannya. Entah apa yang akan dipikirkan Vino jika tahu Airin sudah melupakannya sejak lama.


"Bu, kami sudah siapkan makanan."


"Panggil saja, Pak Vino. Saya buru-buru."


Untuk menghindari para wartawan dan orang -orang. Airin memilih untuk pergi melalui pintu belakang. Walaupun begitu, Airin masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Vino. Apa aku terlalu egois? tanya Airin pada hatinya sendiri.


***


"Pak Amar bisa langsung pulang. Mungkin malam ini aku dan Arja akan lama."


"Baik, Bu."


Setelah kepergian Amar. Airin masuk ke dalam restoran dan mencari tempat duduknya. Kata Arja, ini adalah restoran milik kerabatnya. Sangat mewah dan indah.


"Akhirnya kau datang juga."


Arja berdiri dan langsung memeluk mesra Airin. Dia juga memberikan sebuah kecupan dan sebuah buket bunga untuk Airin.


"Ini sangat romantis," ucap Airin.


Meja dengan hiasan bunga mawar dan lilin. Sangat indah dan romantis. Sejak Arja menikah lagi, baru kali ini Airin diberikan hal yang romantis dan menyentuh hati.


Hari ini. Hari terakhir Arja menemani Airin, besok dia harus kembali ke istri mudanya. Dia sudah berjanji akan adil pada ke dua istrinya.


"Aku mengajakmu ke sini karena ada alasan."


"Apa?"


"Mungkin. Satu bulan ini aku tidak akan ke rumah kamu."


Airin merasa dibohongi. Dia kira Arja memberikan ini dengan percuma. Ternyata karena dia punya alasan yang cukup membuat Airin terluka.


"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan harus adil?"


Aqil menggenggam tanganku pelan, "Aku tidak tahu jika Maya akan hamil secepat ini. Maaf."


Hamil? secepat ini Maya hamil. Airin merasa kalah. Dia yang menikah lebih dulu, namun Maya yang mendapatkan kehamilan itu. Airin sekarang merasa berkecil hati.


"Aku tahu jika kamu tidak suka. Tapi bagaimanapun, kehamilan awal ini dia sangat membutuhkan aku."


Airin hanya bisa diam dan tidak tahu harus merespon apa. Jika dia di posisi Maya, dia juga mungkin aka melakukan hal yang sama. Hanya saja itu terlalu egois rasanya.


"Jika aku tidak setujupun, kamu pasti akan melakukanya." Akhirnya Airin hanya bisa pasrah saja.


"Terima kasih sudah mau mengerti aku."


"Aku akan pulang sekarang."


Airin merasa tidak tahan lagi. Dia memilih pergi dengan tangis yang dia tahan. Dia sedih bukan hanya karena Arja. Dia sedih karena kehamilan itu tidak datang padanya.


"Rin. Aku mencintaimu." Arja memegang tanganku.


"Aku tahu."


Terbesit rasa curiga dihati Airin. Bagaimana bisa Maya hamil secepat itu. Padahal belum ada satu bulan mereka menikah. Sudahlah, Airin hanya bisa menjalani hari sepinya lagi.


"Apa kita bisa jalan-jalan sebentar?" tanya Arja.


Ajakan Arja di iyakan oleh Airin. Merekapun berjalan-jalan di sekitar restoran. Disana ada taman yang cukup indah. Apa lagi dengan bulan dan bintang yang menghiasi langit malam.


Tidak lama. Ponsel Arja berdering, dia mengangkat dengan senyuman dibibirnya. Airin tahu jika itu dari Maya. Setelah cukup lama, akhirnya Arja kembali ke Airin.


"Rin. Aku pergi dulu ya, Maya memintaku untuk membelikannya susu kehamilan."


"Ya, kau bisa pergi." Airin tersenyum. Walau hanya senyuman palsu.


Airin menunggu Amar menjemputnya. Jika tahu begini, Airin tidak akan meminta Amar untuk pergi. Byuuur. Hujan datang secara tiba-tiba dan membuat Airin basah kuyup malam itu.


***