
Melihat kondisi Arja saat ini. Airin merasa jika dia harus menelfon dokter. Tangan Arja menahannya, dia mengambil sebuah botol obat dengan beberapa kapsul di dalamnya.
"Ambilkan saja aku air minum."
"Ba..baik."
Airin melangkahkan kakinya dengan cepat. Selama ini Airin baru tahu jika Arja mengonsumsi obat-obatan. Sebenarnya apa yang disembunyikan Arja dariku? pertanyaan itu muncul di benak Airin.
***
Mata Airin masih tertuju pada Arja yang terbaring lemah. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa disaat seperti ini. Arja selalu tertutup jika mengenai hidupnya. Airin bahkan tidak kenal dengan teman-temannya dan keluarganya.
"Aku harus bagaimana?" lirih Airin di samping tempat tidur.
Tangannya masih menggenggam erat tangan Arja. Sementara ponselnya sejak tadi berdering. Ya, sejak kemarin Vino mencoba menghubungi Airin. Padahal Airin sudah mengatakan jika dia tidak ingin berhubungan lagi.
Saat Airin akan mematikan ponselnya. Tiba-tiba ponsel Arja berdering. Airin melihat nama yang tertera, Dokter Bob. Dokter? kenapa ada dokter yang menghubungi Arja.
Tangan Airin gemetar saat akan mengangkat telfon itu. Airin takut jika mendengar hal yang tidak Airin inginkan. Kembali Airin terfokus pada Arja, jika Airin masih saja takut diq tidak akan pernah tahu tentang apa yang terjadi pada Arja.
Dokter : Kenapa kau tidak datang mengambil obat? (teriak dokter Bob dengan sangat keras) kau membuat aku khawatir saja.
Airin : Ma..maaf dok. Suami saya masih belum sadar sejak tadi. Apa dokter bisa ke sini?
Dokter : Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi. Aku akan segera ke sana.
Tuuut tuut tuut. Telfo itu terputus, di dengar dari cara bicaranya. Dokter itu sangat khawatir dengan keadaan Arja. Sebenarnya apa yang diidap Arja. Aku bahkan tidak tahu menahu soal hal ini. Istri macam apa aku ini, pikir Airin.
***
"Jangan. Aku mohon jangan tinggalkan aku, jangan pergi."
Airin semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Arja. Sejak tadi dia sering sekali menggigau. Dokter bahkan belum sampai juga.
Tidak lama pintu kamar terbuka. Seorang pelayan masuk diiringi oleh pria paruh baya. Pria yang sering kulihat dengan Arja. Ternyata dia seorang dokter yang selama ini merawat Arja.
Tanpa mengatakan apapun. Dokter itu langsung meletakan stetoskopnya pada dada Arja. Dia terlihat cemas, seperti seorang ayah yang takut kehilangan anaknya.
"Sejak kapan dia seperti ini?" tanya dokter Bob.
"Sejak tadi malam. Kami habis bertengkar hebat, dia marah dan tiba-tiba dia lemas seperti ini."
"Apa obatnya sudah diminum?"
Airin mengangguk. Setelah itu, dokter Bob memberikan sebuah catatan obat yang harus Airin tukar di apotik.
"Aku sedang kehabisan obat. Mau tidak mau, kamu harus menebusnya sendiri ke apotik."
"Ya, Dok. Dok, apa kita bisa bicara?"
Wajah dokter itu berubah. Dia mungkin memiliki kesepakatan dengan Arja. Dia takut Airin menanyakan hal yang mereka sembunyikan.
"Dok. Arja suami saya, saya harus tahu apa yang terjadi sebenarnya."
"Apa kau bisa berjanji tidak akan meninggalkan Arja?"
Pertanyaan macam apa ini. Kenapa harus ada pertanyaan itu. Airin kembali menatap Arja yang masih lemas. Tubuhnya sudah tidak gemetar, tidak seperti tadi.
"Ya. Saya berjanji tidak akan meninggalkanya."
"Apapun yang terjadi?"
"Ya." Airin mengangguk dengan pasti.
Mereka keluar dari kamar dan memilih untuk duduk di ruang tamu. Di sini, mereka bisa membicarakan banyak hal tanpa mengganggu istirahat Arja.
"Sebenarnya Arja sakit apa, Dok?"
"Dia tidak sakit. Hanya saja, dia memiliki trauma yang cukup dalam."
"Trauma?"
"Ya. Mungkin dia tidak pernah menceritakan apapun padamu. Dulu, dia memiliki orang yang sangat dia cinta. Namun, takdir berkata lain, wanita yang dia cintai bunuh diri di depannya."
"Apa alasan si wanita bunuh diri?"
Dokter Bob berdecak. Dia menghela nafas panjang dan menatapku lekat.
"Wanita itu sudah tidak mencintai Arja. Dia ingin pergi, tapi Arja selalu menahannya. Padahal, si wanita sudah hampir menikah dengan pria lain."
Airin menggeleng tidak percaya. Jadi, selama ini Arja melakukan ini padanya. Dia tidak ingin kembali mengalami hal yang sama.
"Sudah cukup banyak yang aku katakan padamu. Lebih baik aku kembali ke tempat praktekku," kata Dokter Bob.
"Tunggu. Jika Arja tidak sakit, kenapa dia meminum obat-obatan."
"Itu sebenarnya obat penenang. Tidak ada efek samping. Dia sangat mencintaimu, tolong jaga dia."
Tidak Airin sangka jika dokter Bob akan mengatakan hal itu. Jika Arja benar-benar mencintainya untuk apa dia membiarkan Airin jalan dengan pria lain.
"Setelah sekian lama. Dia akhirnya menemukanmu, walau harus dengan banyak ujian."
"Maksud dokter apa?"
"Aku harus segera kembali ke klinik."
Airin termenung setelah kepergian dokter Bob. Apa benar Arja cinta dengan Airin sampai seperti ini. Jika iya, kenapa waktu itu dia memilih untuk berselingkuh dan menikah dengan Maya. Airin tidak bisa berfikir dengan jernih.
***
Setelah selesai membuat bubur jagung. Airin menyiapkan nampan untuk membawa bubur itu ke atas. Arja pasti sudah menunggunya.
Setelah mendengar penjelasan dokter Bob. Airin merasa yakin dengan cinta Arja. Mungkin dulu dia berbuat kesalahan karena dia manusia. Ya, kalian tau jika setiap manusia punya kesalahan.
"Biar saya saja yang bawa," kata kepala pelayan dengan senyuman.
"Tidak perlu. Mulai hari ini, semua keperluan Arja aku yang akan mengurusnya. Kalian cukup mengurus rumah ini."
"Baik, Nyonya."
Airin membawa nampan itu dengan sangat hati-hati. Jujur saja, Airin masih sangat merasa bersalah. Apa lagi jika ingat dia hampir saja memilih Vino.
Sampai di dalam kamar. Arja sedang duduk dengan laptop di tanganya. Dia masih saja bekerja disaat dia sakit. Airin menutup laptop itu dan meletakannya di atas nakas.
"Makan dulu, setelah itu minum obat," kata Airin.
Arja hanya menatap Airin tanpa kata. Dia malah menarik Airin mendekat dan memajukan wajahnya.
"Aku akan makan jika kau yang menyuapiku."
"Kenapa? bukankah tanganmu masih kuat untuk memegang sendok."
Arja membaringkan dirinya dan mengatakan, "Aku sangat lemas, tolong aku," kata Arja dengan akting yang sangat memuaskan.
"Baiklah. Aku akan menyuapimu."
Satu suapan, dua suapan. Tidak ada kata diantara mereka, hanya ada mata yang saling pandang dan sesekali ada senyuman. Airin meletakan kembali mangkuk itu, isinya sudah habis dilahap oleh Arja.
"Minum obatmu," Airin menyodorkan obat pada Arja.
"Apa kau dan Vino benar memiliki hubungan."
Mendengar pertanyaan itu, Airin kembali menarik tangannya. Airin menatap wajah Arja, dia menanyakan hal yang memang dia harus tanyakan.
"Apa kau mencintainya?" tangan Arja mengelus pelan rambut panjang Airin.
Airin menggeleng perlahan.
"Jika aku mencintainya, mungkin aku sudah meninggalkanmu saat ini. Aku hanya menganggapnya seorang teman."
Arja merengkuh Airin ke dalam pelukanya. Pelukan yang selama ini Airin rindukan. Pelukan yang dulu hilang karena hadirnya orang ketiga. Kini, Airin harus mempertahankan cinta ini. Walau akan banyak rintangan yang akan kembali hadir.
Cinta memang tidak ada yang tahu jalan arahnya kemana. Kita hanya bisa menjalaninya dengan senyuman, walau tangis kadang datang.
***