
Airin POV
Sudah hampir satu minggu ada di kota orang. Banyak hal yang Airin lakukan disini, termasuk membantu Bu Ann bekerja di kebun miliknya. Sisanya, Airin hanya berjalan dengan Vino ke beberapa tempat.
Vino menyempatkan dirinya menemani Airin. Walau tidak mengatakan langsung, Airin tahu jika Vino masih memiliki perasaan untuknya. Meskipun seperti itu, Airin tidak mau membuat sebuah harapan untuk Vino. Apa lagi disaat Airin masih terikat dengan pria lain.
"Bu Ann, apa ada yang harus ku kerjakan lagi?" tanya Airin saat mereka baru saja selesai memetik apel.
Bu Ann mengajak Airin duduk sembari memakan apel yang sudah kami petik. Airin merasa sangat nyaman saat di dekat Bu Ann. Mereka seperti keluarga dekat.
"Lihat siapa yang datang," kata Bu Ann sembari menunjuk kesisi ladang.
Airin menoleh kearah yang ditunjukan bu Ann. Vino, dia kembali datang kesini. Padahal Airin sudah menyuruhnya untuk tidak datang hari ini. Kenapa dia selalu saja seperti ini walaupun aku terus menolak dan menghindar, pikir Airin. Perlakuan Vino membuat Airin merasa sangat bersalah.
"Ibu ke atas dulu. Kalian bisa bicara disini."
"Ya, Bu."
Airin melangkahkan kaki untuk mendekat pada Vino yang juga berjalan kearahnya. Kembali, dia langsung menyodorkan sebuah bungkusan pada Airin.
"Apa ini?"
"Buka saja," kata Vino.
"Kau selalu baik padaku dan memberiku hadiah," kata Airin sembari membuka bungkusan itu.
Sebuah syal berwarna biru dengan nama Airin disana. Benar-benar kejutan, dia bahkan masih ingat dengan warna yang Airin suka. Makanan yang Airin suka dan apa yang Airin tidak suka.
"Disini cuacanya cukup dingin. Pakailah saat keluar rumah," kata Vino.
"Terima kasih."
Mereka berjalan-jalan di kebun apel itu. Tidak ada suara, hanya angin sepoi-sepoi yang menemani jalan santai mereka. Airin merasa tidak ada hal yang perlu mereka bicarakan. Entahlah, Airin tidak tahu harus apa saat ini.
"Apa kau sudah tahu kabar tentang suamimu?" tanya Vino kemudian.
Airin menoleh pada Vino, baru kali ini dia menyinggung tentang Arja lagi pada Airin. Apa ada sesuatu yang terjadi.
"Aku tidak berhubungan dengannya sudah satu minggu ini. Memangnya kenapa?"
Vino mengeluarkan ponselnya dan mengetik beberapa kata. Lalu, dia memberikan ponsel itu pada Airin.
Kaget, itu yang aku rasakan pertama kali saat membaca kalimat judul di artikel itu. Tidak Airin duga jika mereka akan melakukan hal ini. Mereka akan menikah, bahkan Airin tidak dikabari atau semacamnya.
"A...apa ini benar?" tanya Airin yang masih tidak percaya.
Vino tidak menjawab. Dia mengambil ponsel yang ada tangan Airin. Vino memilih untuk menggenggam tangannya dan membawa Airin kembali ke rumah. Airin hanya bisa mengikuti Vino saat ini.
"Lihat," Vino menyerahkan sebuah map pada Airin, "maaf sebelumnya. Aku sudah membaca isi map itu. Maaf aku sangat lancang."
"Tidak apa."
Perlahan Airin membuka map itu. Dari awal Airin sudah merasa tidak enak dengan apa yang akan dia lihat. Benar, sebuah surat perceraian yang sudah ditanda tangani oleh Arja. Hanya tinggal Airin yang harus membubuhkan tanda tangan disana.
Hancur, itulah yang terjadi pada Airin. Jujur saja, dalam hatinya masih berharap jika Arja mencarinya dan meminta maaf. Namun, hasilnya di luar dugaan Airin. Airin harus kembali menelan pil pahit ini.
***
Sejak tadi pagi, Vino terus menemani Airin. Dia bahkan tidak menemui clientnya. Pasti dia merasa kasihan melihat kondisi Airin saat ini. Lucu rasanya, Airin sakit hati dan membuat orang lain tidak mengerjakan tugasnya.
"Sejak tadi kau belum makan. Apa kau mau sesuatu?" tanya Vino.
"Tidak. Kau bisa makan dulu jika kau mau," kata Airin dengan senyuman terpaksa.
Vino hanya menghela nafas. Tidak lama, Vino menarik tangan Airin agar mengikutinya. Entah kemana, yang jelas Vino membawa Airin dengan mobilnya.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Airin.
Airin hanya diam di samping Vino. Sementara Vino menjalankan mobilnya dengan cukup cepat. Tepat saat kami masih di perjalanan, Cika menelfon Airin.
Dia pasti akan mengabari Airin tentang apa yang terjadi disana. Dia akan mengatakan segalannya. Lebih baik Airin tidak mengangkatnya atau dia akan semakin merasa terluka.
Kenapa juga Airin masih berharap pada pria yang tidak bisa setia. Airin hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi kenapa Airin harus menyisakan ruang hati ini untuk Arja.
Sementara Airin memikirkan kondisi hatinya. Di samping Airin ada Vino, dia yang setia menemani Airin. Walau dulu pernah meninggalkan Airin, setidaknya, Vino tidak pernah benar-benar meninggalkan Airin. Mereka terpisah karena keadaan. Airin merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
"Kita sudah sampai," kata Vino dengan seulas senyum dibibirnya.
"Benarkah?"
Airin mengikuti langkah kaki Vino turun dari mobil. Tidak Airin sangka, Vino mengajaknya kesebuah bukit kecil. Memang kecil, namun pemandangannya sangat indah.
Benar kata Vino, disini Airin merasa lebih baik dari pada tadi. Airin merasa lega, walau masih ada perasaan yang belum bisa dia keluarkan.
Vino menarik tangan Airin hingga kami berhadapan. Mata mereka bertemu, Vino menatapnya dengan lekat. Tatapan lembut namun bisa membuat Airin terdiam tanpa kata.
"Berteriaklah disini, kau akan merasa lebih baik."
Airin menggeleng, "Tidak. Aku sudah lebih baik."
"Lakukan apa yang aku katakan. Berteriaklah," kata Vino mencoba meyakinkan Airin.
Vino membuat Airin mengiyakan apa yang dia katakan. Airin melepaskan tangannya dan sedikit menjauh. Matanya menatap jauh, menatap apa yang dia inginkan. Dengan sekuat tenaga, Airin berteriak dengan keras. Melepaskan apa yang menjadi beban di dalam hatinya.
Tanpa sadar, Airin terduduk dan menangis. Airin merasa lega, namun air matanya tidak dapat dia bendung. Airin merasa sangat terluka, luka yang sangat dalam.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Vino yang ikut duduk di samping Airin.
Bukannya jawaban, Airin malah memeluk Vino. Airin butuh tempat dimana dia merasa tenang. Dia butuh tempat yang bisa membuat dia kuat.
***
Arja POV
Cika menoleh dengan tatapan tajam pada Arja, "Bukankah sudah aku bilang dia sedang sibuk. Dia tidak akan menjawab telfonku hari ini."
"Sekali lagi, aku mohon. Biarkan aku bicara padanya," kata Arja dengan sedikit memaksa.
Cika menggebrak meja di depannya. Kali ini Cika benar-benar di buat kesal oleh Arja. Mata Cika menatap tajam pada Arja.
"Kau yang membuat dia pergi. Kau juga yang terus menyakitinya, kenapa kau merepotkanku."
"Cika, aku mohon."
"Bukankah kau sudah melayangkan perceraian padanya. Lebih baik kau telfon saja sendiri, kau akan tahu apa yang akan dilakukan olehnya."
Setelah berhasil mengatakan amarahnya Cika mendorong Arja keluar dari ruangannya. Dengan berat hati, Arja melangkahkan kakinya untuk pergi.
Ponsel di tangannya masih di tatapnya dengan pikiran yang kacau. Arja sangat ingin bertemu dan mendengar suara Airin. Sekarang, dia sudah tidak punya hak lagi untuk merindukan wanita itu. Wanita yang sudah diceraikannya.
"Aku akan menelfonya."
Dengan tekad kuat akhirnya Arja menekan nomor Airin. Dia benar-benar menelfonya sendiri. Beberapa dering tidak diangkat, sampai akhirnya di dering terakhir, Airin mengangkatnya.
"Hallo," kata Airin dari seberang sana.
Arja tidak menjawab. Dia malah terpaku karena mendengar suara Airin. Suara yang sudah satu minggu ini pergi dari kehidupannya.
"Hallo, ada apa ini? kenapa hanya diam saja?" tanya Airin dari seberang sana.
Arja tidak tahu harus mengatakan apa. Tanpa sadar dia memutuskan telfon itu dan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku. Arja merasa dirinya berubah saat ini.
***