
Dengan gaun yang lumayan. Airin masuk ke dalam mobil Vino. Hampir setengah jam Vino menunggunya. Ada banyak pertimbangan di hati Airin.
Airin tidak tahu bagaimana akan memperlihatkan wajahnya pada Arja. Disana, suaminya bersama dengan istri mufanyan Sementara Airin, dia datang dengan seorang atasan. Akan ada banyak hal yang terjadi.
"Kenapa kau tidak banyak bicara? apa ada yang salah?" tanya Vino.
Airin menggeleng dengan cepat. Dia tidak ingin urusan pribadi ini mengganggu pekerjaanya. Setelah Arja menikah lagi, Airin sudah tidak leluasa untuk uang. Dia harus berusaha sendiri.
"Katakan saja? apa kau takut disana bertemu dengan suamimu?"
Bagaimana dia tahu perasaanku, pikir Airin. Lalu, Airin hanya menganggukan kepalanya. Dia tidak mungkin terus menerus berbohong saat bersama dengan Vino.
"Tenang saja. Ada aku yang melindungimu."
"Terima kasih, tapi tidak usah. Aku bisa melindungi diriku sendiri."
Vino hanya diam dan langsung mempercepat laju kendaraannya. Karena takut, tanpa sadar Airin memegang tangan Vino dengan sangat kuat. Lalu Vino menoleh, setidaknya wanita yang disampingnya ini tetaplah Airin yang dia kenal. Walau dia sudah pandai menyembunyikan masalah.
***
Acara lelang sudah dimulai. Banyak yang datang, tentunya dari kalangan tinggi. Pelayan disini juga dilatih dengan sangat cermat. Tentunya agar tidak ada kesalahan yang melukai orang yang datang.
Airin mengedarkan pandangannya. Dia mencari Arja, siapa tahu Arja datang dengan sekretarisnya.
"Kau mencari suamimu?" tanya Vino yang melihat tingkah aneh Airin.
"Ya."
"Lihatlah kedepan, dia sudah bersama dengan istri keduanya." Vino sengaja menekan kata kedua di kalimatnya.
Airin hanya menghela nafas dan tersenyum. Sebenarnya Airin tidak suka dengan acara seperti ini. Dia sudah sering menolak saat bersama Arja dulu. Kini, dia malah datang dengan orang lain.
Beberapa kali Airin mencuri pandang kearah suaminya. Luka, itu yang dia rasakan. Bagaimana tidak. Arja dan Maya mengumbar kemesraan. Mereka terlihat sengaja melakukannya, mungkin agar Airin terluka lebih dalam.
"Jika kau tidak senang disini. Kau bisa ke mobil lebih dulu," kata Vino yang sudah mulai kasihan melihat wajah Airin.
Airin mengalihkan pandangannya pada Vino.
"Saya tidak apa-apa, Pak."
Vino menyunggingkan senyumannya. Dia bangga dengan apa yang dilakukan Airin. Dia mencoba terlihat profesional saat ini. Dia juga menahan luka yang dalam karena ulah suaminya.
Mata Vino dan Arja bertemu. Jelas sekali jika Arja merasa kesal karena Airin berada sangat dekat dengannya. Melihat hal itu, Vino sangaja memegang pundak Airin. Membuat Airin mendongakkan kepalannya.
"Tidak apa," kata Vino.
Airin kembali menatap kepudat acara lelang itu kembali. Berhasil, Vino berhasil membuat Arja cemburu dan kesal. Itulah yang ingin dia lihat. Vino tidak ingin pria yang dinikahi Airin tidak mencintainya. Kini, Vino melihat kecemburuan itu dan cemburu adalah tanda cinta.
Acara lelang sudah selesai. Vino keacara itu hanya sebatas ingin datang. Tidak ada barang yang dia tawar atau dia suka. Dia lebih suka memandang Airin di sampingnya.
"Setelah ini kau akan lebih dekat bersamaku," kata Vino.
"Jika tentang pekerjaan. Aku setuju."
Vino tersenyum melihat Airin tersenyum. Sudah lama, Vino tidak melihat senyuman itu. Senyuman yang sudah lama dia tunggu dan dia cari. Kini, Vino melihatnya lagi.
"Airin. Ikut aku."
Tanpa permisi Arja langsung menyeret Airin menjauh dari Vino. Dia membawa Airin ke arah mobilnya di parkir. Dengan tangan yang dicengkeram oleh Arja, Airin hanya bisa menahan sakit di pergelangan tangannya.
"Kenapa kau sangat dekat dengannya?" tanya Arja dengan kasar.
"Dia bosku. Jika aku tidak dekat dengannya, bagaimana aku bekerja."
"Setidaknya jaga jarak. Kau wanita yang sudsh bersuami."
"Ya. Aku wanita yang sudah bersuami, tapi suamiku punya wanita lain. Kenapa aku tidak bisa dekat dengan pria lain." Entah muncul dari mana kata-kata itu.
Arja merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Airin. Dengan kasar dia membuka pintu mobil dan mendorong Airin masuk.
"Kenapa kau selalu kasar padaku? kau bahkan tidak mengerti perasaanku."
"Tunggu. Aku akan berpamitan pada Vino, dia akan mencariku nanti."
"Sudahlah. Turuti saja suamimu ini."
Airin hanya bisa diam. Jika dia bersikeras menemui Vino. Arja pasti akan semakin marah. Di mobil ini hanya ada Airin dan Arja. Tidak ada Maya, entah dia pergi kemana.
Tok tok tok. Sebuah ketukan di kaca mobil membuat Airin menoleh. Arja menurunkan kaca mobilnya dan bertatapan dengan Vino.
"Ada apa?" tanya Arja dengan ketus.
"Dia datang bersamaku. Biarkan aku mengantarnya."
Arja tersenyum dengan sinis, "Dia istriku. Aku yang akan membawanya kembali."
"Apa kau lupa dengan istri ke duamu sekarang?" tanya Vino.
"Mau aku punya istri ke dua atau ke tiga. Airin tetaplah istriku, jangan ikut campur urusan kami."
Airin merasa akan terjadi hal buruk jika perdebatan itu terus berlangsung. Airin memegang tangan Arja perlahan.
"Pak, biarkan aku pulang dengan suamiku malam ini. Terima kasih sudah mengajakku ketempat ini, selamat malam."
Setelah melihat tingkah Airin. Vino memilih mundur. Dia tahu jika Airin merasa lebih tenang saat bersama dengan Arja.
Arja langsung bergegas pergi. Dia masih terlihat kesal dengan ulah Vino. Airin yang selama ini dia jaga sudah disentuh oleh pria lain.
Airin merasa aneh dengan sifat Arja. Dia selalu berubah ubah. Sedetik ini sedetik itu. Tidak bisa diprediksi. Mau bagaimanapun, Airin akan menerima suaminya itu apa adanya.
***
Airin tidak mengira sama sekali jika Arja akan menginap disini. Setelah banyak perdrbatan yang terjadi, Arja berubah dan langsung meminta Airin untuk turun.
"Apa kau tidak senang aku menginap disini?" tanya Arja.
"Bukan begitu. Malam ini kau seharusnya bersama Maya. Kau sendiri yang mengatakannya."
"Jadi, kau merasa kesal?" tanya Arja.
Airin masuk ke dalam rumah dan sudah di sambut oleh Ilin. Ini memang kebiasaan Ilin, menunggu hingga kepulangan Airin.
"Ilin. Buatkan minuman untuk Arja. Aku akan mandi lebih dulu." Airin langsung berjalan kearah kamarnya.
"Bawakan saja ke kamar. Aku akan istirahat disana," kata Arja.
"Baik, Pak."
Arja masih saja mengekor pada Airin. Dia melihat Airi melepaskan tas dan juga mantel hangatnya. Lalu bersiap untuk masuk ke kamar mandi.
"Kenapa kau tidak berubah," kata Vino saat melihat tingkah Airin.
"Untuk apa aku berubah."
Arja hanya diam dan membiarkan istrinya itu masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar mandi, Airin merasa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dengan mudahnya dia menerima permintaan maaf dari Arja. Padahal, Arja tidak pernah mengerti tentang perasaannya.
Setelah selesai dari kamar mandi. Airin keluar dan tidak menemukan siapapun di kamar. Padahal tadi Arja mengatakan jika akan istirahat disini.
"Dimana Arja?" tanya Airin.
"Pak Arja sedang masak."
"Apa?"
Airin bergegas masuk ke dapur dengan handuk yang masih melekat di kepalanya. Dia cukup kaget dengan makanan yang sudah disajikan di meja makan.
"Kau sudah selesai? ini tanda maafku padamu," kata Arja.
Setidaknya semua soal Arja tidak buruk. Dia bisa rimantis juga untuk istrinya. Sungguh mengharukan.