My Love My Pain

My Love My Pain
Ternyata



Airin terbangun karena cahaya yang memasuki kamarnya. Semalam dia tidur cukup larut karena pekerjaanya. Bahkan dia sampai tidur di depan laptop. Untung saja Arja menggendongnya untuk pindah ke tempat tidur.


Bau masakan yang menyengat membuat Airin sadar. Jika bukan dia yang masak, pastilah suaminya yang memasak. Masih dengan rasa kantuk. Airin turun untuk melihat apa yang dilakukan oleh Arja.


"Kenapa kau yang membersihkan semuanya? kau bahkan masak sarapan juga?" tanya Airin.


Arja hanya mengulas senyum. Dia mendekat pada Airin dan mendudukannya di meja makan. Hari ini Arja sangat berbeda. Mungkin karena merasa bersalah pada istrinya itu.


"Kau terlihat sangat lelah. Mengurus rumah, mengurus diriku dan mengurus pekerjaanmu. Aku tidak tega," kata Arja.


"Lalu?"


"Aku ingin mencarikan seorang asistan rumah tangga untukmu. Setidaknya kau tidak akan kelelahan lagi."


"Terserah kau saja."


Setelah membersihkan diri dan sarapan. Airin berangkat kerja dengan taxsi. Arja berangkat lebih dulu karena ada meeting mendadak.


*****


Semuanya sudah diurus. Mulai dari ruangan dan peralatan. Juga berkas yang akan digunakan. Dengan cekatan Airin melakukan semuanya.


"Sudah semua," lirih Airin.


Tok tok tok.


Airin masuk ke ruangan Vino. Terlihat jika Vino sedang sibuk dengan laptopnya. Saat melihat Airin masuk, Vino langsung menutup laptop itu.


"Kau disini?" tanya Vino dengan wajah senang.


"Ya, pak. Ruangan meeting sudah siap, meeting akan dimulai sepuluh menit lagi."


"Ya."


"Saya permisi."


Airin sudah berbalik badan. Dengan cepat Vino berlari kearah Airin. Dia memegang pundak Airin dengan lembut.


"Ada apa,Pak?" tanya Airin.


"Apa kita bisa bicara?" tanya Arja.


"Tentang apa?"


"Tentang.. kau tahu. Kita sudah berpisah cukup lama. Bagaimana kalau kita..."


"Pak. Ini di kantor, tidak baik membahas urusan pribadi disini. Lebih baik, bapak mempersiapkan diri untuk meeting."


"Airin."


"Saya permisi."


Dengan tablet di tangannya. Airin keluar dari ruangan itu. Ada rasa yang aneh di dalam dadanya, sudah tidak ada rasa senang dalam penantian. Hanya rasa luka karena ditinggalkan.


*****


Jam makan siang membuat Airin menyudahi pekerjaanya. Sebelum keluar dari ruangan, Airin mendapat pesan dari Arja. Dia mengajak makan siang bersama. Sejak kemarin, Arja terus mengejar Airin.


"Airin. Apa kita bisa makan bersama?"


Airin menoleh dan melihat Vino sudah di belakangnya. Airin memasukan ponselnya ke dalam saku.


"Maaf, saya tidak bisa."


"Kenapa kau menghindariku?"


"Saya tidak menghindari bapak. Saya sudah ada janji dengan orang lain."


Vino terlihat kecewa dengan jawaban Airin, "Siapa? apa dia pria yang menjadi pacarmu saat ini?"


"Dia suami saya."


"Kau..kau sudah menikah?" tanya Vino yang tidak percaya.


"Kami sudah menikah selama dua bulan. Dia juga yang mencarikan kerja untuk saya."


Vino hanya bisa diam. Bagaimanapun di dalam hatinya masih ada satu nama. Nama yang tidak akan pernah hilang dari hatinya. Nama yang selalu ingin dia temui. Airin


"Saya permisi dulu."


Airin turun dan langsung di sambut Arja dalam mobil. Kali ini Arja yang memilih tempat makan untuk mereka. Banyak hal yang dibicarakan Arja, namun dia tidak bertanya kenapa Airin sejak tadi hanya diam.


"Maya," sapa Airin.


"Kalian disini? pasti untuk makan siang."


"Ya, kau benar. Mau makan siang bersama?" tawar Airin. Bagaimanapun, Airin hanya menganggap Maya teman untuk suaminya.


"Tidak." Jawab Maya dengan ketus sembari melirik pada Arja.


Arja hanya diam dan langsung mengajak Airin untuk masuk ke dalam restoran. Bahkan meninggalkan Maya yang terlihat kesal. Setelah memesan, Arja mengatakan akan pergi ke toilet lebih dulu.


"Jangan terlalu lama," kata Airin.


Arja hanya tersenyum dan keluar. Airin tidak sadar jika suaminya itu bukan ke toilet. Dia memilih untuk mengantar Maya ke kantornya dan meninggalkan Airin.


Hampir setengah jam. Arja belum juga kembali, Airin yang merasa kesal memilih untuk pergi. Dia membayar semuanya dan menghentikan sebuah taxsi.


Airin mulai curiga pada hubungan peetemanan Arja dan Maya. Untuk saat ini, Airin akan memilih diam dan bungkam. Dia akan mengatakannya nanti.


*****


Untung saja pekerjaanya di kantor tidak banyak. Jadi, Airin bisa istirahat dan melakukan hal lain. Pikirannya saat ini sedang kacau. Dia sangat ingin bertemu dengan Arja dan menanyakan segalanya. Hanya saja, dia tidak mau paman dan tantenya tahu.


"Di jalan jangan ngelamun. Nanti ada mobil gimana."


"Kau membuatku kaget saja," kata Airin dengan cukup keras.


Sela hanya tersenyum sembari memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Banyak pegawai yang keluar dari kantor. Jadi, mereka akan mengantri untuk naik bus pulang. Sela dan Airin memilih duduk sembari menunggu sebuah bus untuk Sela.


"Kau bekerja disini apa tidak apa-apa dengan Arja?" tanya Sela.


"Memangnya kenapa?" tanya Airin.


"Vino kan..."


Airin langsung membungkam mulut Sela. Dia menggelengkan kepalanya.


"Jangan mengatakan apapun tentang dia. Kami sudah tidak ada hubungan, kau juga jangan mengatakan apapun pada Arja."


"Kenapa?"


"Kau tidak tahu urusan suami istri."


"Iya, deh. Aku tahu kamu sudah menikah."


"Bagus."


Setelah bus yang ditunggu datang. Airin kini hanya duduk sendiri. Hari ini, dia akan ke kantor Arja dan pulang bersamanya. Tentunya sebagai kejutan, Airin tidak mengabari Arja lebih dulu.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.


Maaf tadi aku meninggalkanmu. Ada urusan mendadak di kantor.


Airin tidak membalas pesan itu dan memilih untuk tetap ke kantor Arja. Jika memang merasa bersalah, dia akan meminta maaf secara langsung, pikir Airin.


***


Hal tidak terduga terjadi. Airin kaget sekaligus tidak percaya. Apa yang dia lihat dan dia dengar menjadi sebuah bukti. Bahkan, bungkusan buah di tangannya sampai terjatuh. Hanya air matanya saja yang tidak terjatuh, karena Airin menahannya.


"Kenapa kau melakukan ini. Kau membuat aku terluka," kata Maya dengan kepala bersandar di bahu Arja.


"Maaf. Seharusnya kau tidak seperti itu, dia akan curiga."


"Kau bilang dia bodoh."


"Kau ini. Dia istriku saat ini."


"Lalu kapan kau akan menikahiku? katanya kau akan menikahiku secepatnya."


Arja mengusap pelan rambut panjang Maya. Mereka sangat mesra. Bahkan Airin tidak pernah diperlakukan seperti itu. Cemburu, jelas saja rasa itu hadir. Hanya saja, Airin tidak ingin membuat masalah di depan umum.


"Setelah aku mendapatkan apa yang aku mau. Aku akan menikahimu."


"Baiklah."


Airin memilih pergi dari sana. Dia sudah tidak tahan melihat semua itu. Ini bagaikan kejutan besar bagi Airin. Arja yang selama ini baik padanya, ternyata dia adalah penghianat untuk sebuah cinta.


Cinta ini sangat menyakitkan, tapi kenapa aku tidak bisa mundur dan melupakan, pikir Airin. Inilah cinta yang terikat dengan pernikahan dan penghianatan.


***