My Love My Pain

My Love My Pain
Arja yang keras kepala



Airin POV


Hari ini Cika belum pulang. Airin harus menyelesaikan harinya sendiri lagi. Bagaimana tidak, teman yang biasa menemaninya kini sudah memiliki gandengan. Mana mungkin Airin berani mengganggu. Yang ada Airin yang kena marah oleh si wanita.


Sebuah pesan masuk tepat saat Airin baru selesai berendam. Ya, Airin berendam. Berfikir jika bisa menghilangkan penat di dalam dirinya itu. Nyatanya sama saja, Airin masih merasa kesepian dengan apa yang sedang dia jalani.


Tolong ambilkan baju milikku di butik langgananku. Aku perlu untuk besok.


Kapan Cika memesan baju. Apa ada acara penting besok. Setidaknya Airin harus menjalankan tugasnya.


Airin bingung harus keluar dengan baju apa. Kini dia memilih celana dan baju dengan warna monokrom. Dengan baju seperti ini, Airin tidak merasakan jika dia sedang bekerja. Dia sedang jalan-jalan.


***


Sampai di butik langganan Cika. Airin memperlihatkan pesan yang diberikan Cika. Tentunya sebagai bukti agar mereka percaya. Jika tidak, Airin tidak akan bisa mengambil baju yang sudah di pesan.


"Anda bisa menunggu disini sebentar. Akan saya ambilkan," kata seorang karyawan yang Airin temui.


"Baik."


Airin memilih duduk dengan bermain ponsel. Tidak ada orang yang Airin kenal. Tidak mungkin Airin akan pura-pura sok akrab. Malu rasanya.


"Mana mungkin aku memakai baju seperti ini. Ini terlalu terbuka untukku."


Airin mendongakkan kepalanya karena merasa tidak asing dengan suara itu. Benar, Sela dengan Arja sedang memilih beberapa baju disana. Namun, Airin lihat Sela tidak setuju dengan pilihan baju yang Arja pilih.


Bagaimana tidak, baju itu sangat minim dan terbuka disana sini. Arja seperti ingin memamerkan tubuh indah Sela dihadapan semua orang.


"Kamu harus menurut dengan suamimu ini."


"Tapi ini..."


"Jangan menolak," teriak Arja dengan keras pada Sela.


Pelayan datang dengan kotak di tangannya. Airin tahu jika paket itu untuknya. Ada baju Cika disana. Dengan senang hati Airin. menerima kotak itu.


"Terima kasih," ucap Airin.


"Sama-sama. Pembayaran sudah di urus oleh bos," kata pelayan itu.


"Ya. Aku pergi dulu."


Dengan kedua tangan Airin menerima kotak itu. Sangat sulit rasanya untuk membuka pintu disaat dua tangannya memegang hal lain.


"Tunggu," kata Arja pada Airin.


Airin pun diam. Siapa tahu Arja akan membantunya membuka pintu. Ternyata dugaan Airin salah.


"Aku mau baju yang ada di dalam kotak itu untuk istriku," kata Arja.


Pelayan itu terlihat bingung. Bagaimana tidak, baju ini sudah dibayar dan menjadi milik Cika. Mana mungkin pihak butik akan mengambilnya lagi.


"Aku beli dengan harga tiga kali lipat."


Airin menoleh dan mendekat pada Arja. Airin kesal karena dia begitu sombong dengan apa yang dia miliki. Hanya karena uang dia merasa sangat berkuasa.


"Apa maksudmu. Ini sudah dibayar dan sudah memiliki pemilik. Kau bisa mencari baju yang lain," kata Airin.


Arja menoleh kearah Airin, "Kau hanya pesuruh. Tidak usah banyak omong."


"Setidaknya aku bekerja tidak merampas milik orang lain."


Sela hanya diam mendengar perdebatan Airin dan Arja. Airin tahu dia merasa sangat tertekan saat ini. Seseorang datang dan mencoba melerai kami. Dilihat dari baju dan gayanya. Dia mungkin pemilik butik ini.


"Ada apa ini?" tanyanya dengan nada sopan.


"Aku mau baju yang ada di dalam sana," kata Arja.


"Tidak. Ini sudah dibayar oleh Cika. Jadi, ini milik Cika bukan milik butik ini lagi."


"Aku bayar tiga kali lipat," kata Arja.


Pemilik butik itu menoleh pada Airin. Dengan tangannya sendiri. Dia mengambil baju yang ada di kotak itu. Tentunya dengan kotak yang ada di tangannya.


"Kami menjalankan bisnis untuk keuntungan. Bukan yang lain," kata pemilik itu dengan senyuman pada Arja, "silahkan diterima, Pak."


Arja tersenyum dengan penuh kemenangan. Ya, kembali Airin kendapatkan tatapan dari Sela. Airin merasa ada yang salah dengan hal ini, hanya saja. Karena malas berurusan dengan Arja lagi, Airin memilih untuk pergi. Pria ini sudah berubah total.


Setelah kejadian itu. Airin keluar dari butik dengan perasaan campur aduk. Bagaimana dia menjelaskan pada Cika. Dia pasti tidak akan senang dengan kejadian ini.


***


Arja POV.


Arja merasa sudah berhasil membuat Airin menyesal karena menolaknya. Pikiran Arja hanya satu, semua wanita sama. Haus akan kekayaan dan kekuasaan. Dia tidak berfikir bahwa di luar sana banyak wanita yang tidak tergila-gila dengan harta.


Sela hanya diam duduk di samping Arja. Sejak tadi, Arja terlihat tersenyum dan sesekali terlihat tidak senang. Mungkin karena perasaannya yang tidak stabil.


"Kau nanti pakai baju itu. Ok?"


"Ya," jawab Sela dengan nada tidak senang.


"Apa kau tidak senang? seharusnya kau merasa senang karena aku membela dirimu di depan Airin."


"Aku bahagia."


"Bagus jika kau bahagia."


Mereka kembali terdiam. Sampai di rumah, Arja turun dengan tangan kosong sementara Sela membawa kotak baju itu. Sopir membawakan, beberapa belanjaan mereka.


Sampai di kamar. Arja meminta Sela mencoba baju yang baru saja dia belikan. Di dalam ruang ganti. Sela kaget dengan apa yang ada di dalam kotak itu. Baju memang hanya saja.


"Arja. Aku tidak mungkin memakai baju ini. Ini tidak cocok untukku," kata Sela.


"Pakai sajalah. Biar aku yang menilainya nanti," jawab Arja.


Mau tidak mau akhirnya Sela memakai baju itu. Dengan nafas yang diatur. Sela keluar dari ruang ganti.


"Bagaimana?" tanya Sela pada Arja.


Arja menoleh. Dia kaget dengan apa yang dia lihat. Dia merasa sudah dikerjai oleh Airin. Setelah melihat Sela memakai baju itu, Arja mendekat dan langsung merobeknya disana sini.


****


Airin POV


Cika tertawa mendengar penjelasan dari Airin. Padahal, Airin sudah sangat takut, namun Cika terlihat biasa saja. Dia bahkan merasa semuanya seperti sebuah lelucon.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Airin dengan wajah bingung.


"Kau bilang, Arja mengambil paksa baju itu dan membayarnya tiga kali lipat?"


Airin mengangguk.


Cika kembali tertawa, "Biarkan saja. Dia pasti akan merasa sangat kecewa setelah melihatnya."


"Maksudmu apa?" tanya Airin.


"Dengar, baju itu bukan untukku. Itu baju pesanan Mamaku, baju kebaya. Yang jelas, baju itu tidak cocok untuk wanita muda."


"Jadi,"


"Ya. Arja pasti sangat marah saat ini. Bagaimanapun, lebih baik kau berhati-hati saat bertemu dengannya."


"Lalu bagaimana dengan Mamamu?"


"Tenang saja. Aku sudah membelikan yang baru," kata Cika dengan santainya.


Mereka kembali menikmati teh yang sudah disajikan oleh koki di rumah ini. Airin merasa Arja akan kesal padanya. Dia pasti mengira Airin sudah menjebaknya. Padahal dia sendiri yang keras kepala.


Bagaimana nasib Sela saat ini. Apa dia akan baik-baik saja? Airin takut jika Sela akan menjadi bahan pelampiasan untuk Arja.


***