
Mentari pagi membuat Airin membuka matanya. Sangat malas rasanya bangun di jam sepagi ini. Padahal baru saja mereka melewati malam yang indah. Di mana Airin memberikan kejutan kecil untuk Arja. Bagaimanapun, kejutan ulang tahun itu membuat Arja tersenyum tadi malam. Hal itu membuat Airin bahagia.
Airin melihat korden yang sudah terbuka. Makanan di nakas samping tempat tidur dan segelas jus buah disana. Arja juga sudah tidak di samping Airin lagi.
"Kau sudah bangun?"
Airin melihat Arja keluar dari ruang ganti. Dia sudah siap untuk pergi ke kantor hari ini. Sementara Airin baru saja membuka mata.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di kening Airin. Airin kaget sekaligus terkesan, bukannya Airin yang memberikan hadiah. Kini Arja yang berhasil membuat Airin kaget, tanpa disadari Arja menyelipkan kalung di leher Airin.
"Kalung yang sangat indah," kata Airin pelan.
"Terima kasih untuk dasi yang kau belikan. Aku suka warnannya."
Benar, dia sudah menggunakan dasi yang kemarin Airin belikan. Sangat cocok dengannya, walau bukan Airin yang memilih warna itu.
"Aku ada meeting pagi. Aku harus pergi sekarang juga."
"Hati-hati di jalan," kata Airin pelan.
Airin tidak mengantar Arja pergi. Bukannya apa, Airin masih menggunakan baju tidur dan belum mandi. Dia tidak ingin suaminya malu karenanya.
***
Setelah selesai mandi. Airin menatap dirinya di depan kaca rias. Airin baru sadar jika kalung yang diberikan oleh Arja adalah kalung yang sangat indah. Dengan liontin kecil yang semakin membuat elegan.
Ting. Sebuah pesan membuat Airin tersadar dari lamumannya. Airin menoleh kelayar ponsel. Vino.
Hai. Aku sudah di bawah, cobalah turun.
Kaget rasanya. Dia sudah disini sepagi ini. Apa yang dia inginkan sebenarnya. Airin mengambil baju sembarang dan memakainya. Tentunya, Airin harus bergegas turun sebelum Vino melakukan hal lain.
Dengan sedikit berlari, hampir saja dia terjatuh dari tangga. Untung saja tangannya berpegangan ke gantungan topi.
"Hampir saja," lirih Airin dengan jantung yang berdetak kencang.
"Ada apa?"
Vino sudah menunggu Airin tepat di tangga terbawah. Dia memakai baju biasa, bukan setelan jas seperti biasanya.
"Tidak apa. Kenapa kau kesini? suamiku sudah berangkat kerja."
Jika Airin telat sedikit saja. Mungkin Vino akan melangkah masuk ke dalam kamar Airin dan Arja. Hal itu akan membuat semuanya kacau. Tujuan Airin untuk memenangkan hati Arja akan hancur.
"Aku memang tidak ingin menemui suamimu. Aku hanya ingin mengajakmu keluar," kata Vino dengan senyuman.
"Maaf, tidak bisa."
"Kenapa? apa kau takut suamimu marah?"
Airin mengangguk.
"Tenang saja. Aku sudah ijin, lihat suamimu mengijinkannya."
Tanpa sadar Airin mendekat pada Vino dan langsung mengambil ponselnya. Airin melihat pesan itu benar dari Arja. Dia mengijinkan Airin keluar dengan Vino. Namun hanya satu jam.
Walaupun begitu, rasanya Airin tidak perlu keluar dengan Vino. Tidak ada hal penting baginya untuk bertemu dengan Vino.
"Ayo." Vino langsung menarik tangan Airin menuju ke mobil yang sudah bertengger di teras depan rumah.
Vino membuka pintu dan mendorong Airin masuk ke dalam mobil. Sial, Airin bahkan memakai baju yang tidak pantas untuk di bawa keluar. Pakaiannya terlalu terbuka dan mengekspose banyak tubuhnya.
"Vino, apa bisa aku mengganti baju dulu."
"Tidak perlu. Ini hanya jalan-jalan santai saja. Aku perlu membelikan baju untuk Cika, kau yang akan memilih."
***
Tidak terasa jika perjalanan kami sangatlah panjang. Lebih dari satu jam sampai akhirnya Vino menghentikan mobilnya. Sebuah pantai dengan hamparan pasir yang indah.
Airin turun dari mobil dan menghirup udara yang sangat segar. Udara tanpa polusi. Udara yang menyehatkan.
"Bagaimana? kau suka disini?"
Airin mengangguk dengan semangat. Disini benar-benar menyenangkan. Airin dan Vino masuk ke wilayah pantai. Mereka bermain beberapa permainan yang tersuguh disana.
Setelah lelah bermain. Mereka memilih untuk istirahat di sebuah restoran terbuka. Tentunya agar bisa menikmati pemandangan pantai yang indah ini.
Saat menunggu pesanan datang. Airin berdiri di samping pohon kelapa. Memandang jauh kesana, seharusnya bukan dengan Vino dia sebahagia ini. Seharusnya dia seperti ini saat bersama dengan Arja.
"Apa kau merasa bersalah pada suamimu?" tiba-tiba Vino datang dan langsung memeluk Airin dari belakang.
Airin mencoba melepaskan pelukan itu sebisanya. Namun, tenaga Vino sangatlah besar.
"Nikmati saja, tidak ada yang tahu hubungan kita disini," bisik Vino di telinga Airin.
Airin memilih diam di dalam pelukan Vino. Kembali Vino mengingatkan hal indah di masa lalu. Masa di mana hatinya dan hati Vino menyatu. Masa di mana tidak ada sekat diantara dirinya dan Vino. Sekat pemisah yang menjulang tinggi kini sudah menghiasi kehidupan mereka.
Vino membalik tubuh Airin hingga kami saling berhadapan. Tanganya melingkar dipinggang Airin. Mata mereka bertemu, Airin kembali merasakan getaran di dalam hatinya. Salah ini salah.
Perlahan wajah Vino mendekat. Hampir saja mereka berciuman, untung saja seorang pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan.
"Selamat menikmati," kata pelayan itu dengan senyuman.
Malu. Airin sangat malu pada dirinya sendiri. Hampir saja dia melampaui batasan yang sudah dia buat. Semua ini karena kata-kata manis yang diucapkan Vino.
Baru saja kami akan makan. Ponsel Vino sudah berbunyi. Sengaja, Vino mengeraskan suara percakapannya. Ternyata dari tunangannya. Cika.
"Kamu di mana? aku sudah di apartemen kamu saat ini." Teriak Cika dari seberang sana.
Vino menoleh pada Airin dan tersenyum, "Aku sedang bersama dengan Airin. Kami sedang memilih hadiah untuk kamu."
"Kenapa harus dengan Airin. Kenapa bukan orang lain?"
Jelas sekali jika Cika merasa cemburu dengan adanya aku di samping Vino saat ini. Airin memang sudah salah, kenapa dia mau saja di bawa oleh Vino. Kenapa juga, Arja harus mengijinkan dia keluar.
Tunggu dulu, bukankah waktu Airin hanya satu jam. Kenapa Airin tidak sadar jika dia sudah sangat melampaui batas. Melihat jam tangannya, waktu sudah hampir sore.
Gelisah rasanya. Arja pasti akan sangat marah pada Airin. Airin memilih untuk kembali ke rumah. Dia berdiri dan bergegas perdi dari sana.
"Mau kemana?" Vino menarik tangan Airin kembali.
Airin menoleh padanya, "Aku harus pulang. Maaf, tidak seharusnya kita seperti ini." Airin melepaskan tangan Vino darinya dan kembali berjalan.
"Bukankah kau juga menikmati waktu ini. Kau masih mencintaiku, tidak usah munafik."
Airin berhenti dan terdiam. Apa yang dikatakan Vino memang benar. Dia memang masih memiliki perasaan padanya. Sekuat apapun Airin mengubur perasaan ini, semuanya akan percuma.
Hatinya masih saja sama. Mudah goyah dan mudah terprovokasi. Kali ini, Airin harus berusaha lebih. Dia sudah memiliki suami, dia tidak bisa menghianatinya.
"Aku mencintaimu, Airin," kata Vino kemudian.
"Jangan pernah menghubungiku lagi. Aku tidak mau cinta terlarang ini semakin tumbuh. Lebih baik, kita kubur perasaan ini seperti dulu."
Ya, Airin sudah melakukan hal benar. Airin tidak boleh kembali lagi kemasa lalu. Airin tidak boleh mengingat hal menyenangkan itu.
***