
Airin sedang asik berbelanja dengan Cika. Sudah lama mereka tidak keluar untuk sekedar bercengkrama. Semua karena kesibukan Cika dan Airin.
Beberapa kali Vino memberi pesan pada Airin agar selalu mengabarinya. Sejak pertemuan dengan Arja. Vino menjadi semakin protektif, hal itu sedikit mengganggu Airin. Namu, Airin hanya bisa diam dan bersyukur memiliki pria seperti Vino.
"Bagaimana dengan pernikahan kamu. Apa semuanya sudah dipersiapkan?" tanya Cika saat mereka masuk ke dalam restoran.
Airin menggeleng, "Semuanya mama Vino yang mengurus. Aku dan Vino hanya diberi tahu tentang tanggal pernikahan kami."
"Baguslah. Kau jadi tidak perlu repot memikirkan ini itu," kata Cika.
Airin hanya mengangguk. Mereka duduk di tempat yang cukup tertutup. Sengaja mereka memilih tempat itu karena tidak ingin banyak mata yang menatap mekera.
Ting. Kembali sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.
Aku ingin bertemu denganmu. Aku janji tidak akan berbuat buruk.
Airin bingung harus membalas apa, dari nada pesan itu. Airin merasa jika Arja akan mengatakan hal penting dengannya.
Baiklah. Nanti aku kabari lagi.
Akhirnya Airin membalas pesan itu. Dia menyanggupi akan bertemu dengan Arja nanti.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Cika.
"Terserah kamu saja."
Mereka makan siang dipenuhi dengan obrolan tentang pernikahan Airin. Cika merasa iri karena Airin memiliki calon mertua yang sangat baik. Airin juga merasa beruntung. Walau tidak memiliki orang tua lagi, Airin merasa sudah lengkap karena adanya mama Vino.
Airin jadi teringat dengan Vino. Pasti pria itu masih meeting dan belum makan siang. Airin akan mengirim pesan, tapi dia urungkan. Akan terlihat jelas jika Airin khawatir pada Vino.
Setelah selesai makan siang. Airin dan Cika masuk ke area parkiran mall. Sebenarnya Airin sedang memikirkan cara agar bisa berpisah dengan Cika. Dia akan bertemu dengan Arja setelah ini.
"Airin. Ayo masuk," ucap Cika pada Airin.
Airin menyunggingkan senyuman, lalu dia mendekat pada mobil Cika.
"Maaf. Sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu, aku kepikiran sesuatu."
"Apa? apa ada yang tertinggal?"
"Tidak," Airin menggeleng, "aku hanya ingin membelikan sesuatu untuk mama Vino."
Cika mematikan mesin mobilnya.
"Mau aku temani."
"Tidak perlu. Jay pasti sudah menunggumu," kata Airin yang terus mencoba menghindar.
Akhirnya Cika hanya bisa tersenyum, "Baiklah. Aku pergi dulu ya," kata Cika sembari melambiakan tangan.
"Hati-hati di jalan," ucap Sela.
Setelah itu, Airin kembali ke restoran itu. Tidak disangka, Arja sudah duduk di sana. Di depannya ada sebuah map, entah isinya apa.
Airin melangkah mendekat dan duduk di depan Arja. Kali ini, Airin mencoba tidak berfikiran buruk tentang mantan suaminya itu. Arja tersenyum, tidak lama seorang pelayan datang membawakan minuman untuk dirinya dan Airin.
"Kenapa kau tidak bertanya maksudku menemuimu?" tanya Arja.
"Kau akan mengatakannya sendiri," jawab Airin.
Arja mendorong map itu kehadapan Airin. Airin tidak bergerak, dia hanya menatap pada map berwarna biru itu.
"Aku tahu, aku sudah sangat bersalah padamu. Aku bahkan sudah membunuh calon anak kita. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf," ucap Arja.
Airin hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan Arja.
"Di dalam map itu ada semua aset atas nama kamu. Itu adalah aset peninggalan orang tua kamu yang disimpan oleh orang tua Sela."
"Kenapa kau mengembalikannya?" tanya Airin.
Arja tersenyum, "Aku memang ******** Rin. Aku sudah mempermainkan kamu dan Sela. Kini, aku harus memiliki tujuan hidup." Arja terkekeh, "Kau tahu kan, Sela sedang mengandung anakku. Aku akan mencoba melupakan kamu dan menerimannya."
Airin merasa ada yang salah dengan Arja. Sangat sulit membuatnya berubah, lalu apa yang bisa membuat Arja berubah seperti ini. Airin masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Maaf, Rin. Aku harus pergi sekarang," kata Arja.
Airin masih saja diam. Dia duduk dengan map berada di dedepannya. Arja sendiri yang mengembalikannya. Dengan terang-terangan, Arja mengataka akan melupakannya. Airin benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
***
Tante Mia melihat Sela sangat bahagia. Bahkan belum pernah tante Mia melihat pancaran yang bahagia dari Sela. Hari ini, sejak semalam bertemu dengan Arja. Sela berubah.
"Sela, kamu terlihat bahagia."
Sela menoleh dan langsung merubah ekspresi wajahnya. Dia terlihat tidak senang dengan kedatangan tante Mia.
"Apa mama mengganggumu?" tanya tante Mia.
"Kenapa tante masih disini? bukannya Arja sudah mengusir tante?"
Tante Mia merasa kaget dengan apa yang dia dengar. Bagaimana bisa Sela mengatakannya. Padahal, dia sudah sangat keras agar Sela percaya padanya. Dengan mudahnya Arja meruntuhkan kepercayaan Sela pada tante Mia.
Sebuah langkah membuat Sela dan tante Mia menoleh. Arja sudah pulang dari kantor dan menemui Sela.
"Kau sudah pulang?" tanya Sela dengan senyuman.
"Sudah. Bagaimana keadaan kamu dan bayimu?"
"Tentu saja sehat. Aku kan selalu menjaga Sela dan bayinya," kata tante Mia.
Arja dan Sela sama-sama menoleh pada tante Mia. Tante Mia hanya menyunggingkan senyum, lalu mendekat pada Sela.
"Selama ini, saat kau acuh padanya. Aku yang menjaga Sela dan bayinya."
Sela hanya diam. Memang benar dengan apa yang dikatakan tante Mia. Saat Arja acuh dan tidak menganggapnya. Tante Mia lah yang menolong dan merawatnya. Dia juga yang memberikan dukungan pada Sela.
"Terima kasih, setelah ini kau sudah bisa pergi. Aku bisa menjaga calon istriku dan juga calon anakku," kata Arja dan langsung menarik Sela kesisinya.
Tante Mia hanya bisa tersenyum perih. Kini, Arja sudah benar-benar merebut bonekannya.
"Apa kau perlu bayaran karena sudah membantu menjaga Sela?" tanya Arja lagi.
"Tidak. Aku akan masuk ke kamarku lagi."
Tante Mia pergi dari hadapan Arja dan Sela. Perlahan tangan Arja memegan erat tangan Airin. Lalu mereka duduk di depan tv. Arja masih diam sampai Sela membuka sebuah obrolan.
"Seharusnya kau jangan terlalu kasar pada tante Mia."
"Kau tidak tahu apa-apa Sel."
"Tapi dia mamamu," ucap Sela lagi.
Mendengar kata mama membuat Arja menoleh dengan tatapan tajam pada Sela. Sela yang tahu jika dia salah berkata hanya bisa menundukan kepalanya.
"Mamaku sudah meninggal."
Sela hanya bisa diam. Dia kembali mendapatkan tatapan mengerikan dari Arja. Baru saja dia merasa tenang dan dilindungi, kini Arja kembali seperti biasanya.
Arja menangkup wajah Sela dengan kedua tangan, bukan dengan kelembutan. Hanya sebuah penakanan yang mengerikan menurut Sela.
"Jika kau ingin aku nikahi. Cukup diam dan jangan menjauhlah dari Mia."
Sela menganggukan kepalanya secara perlahan. Bulir air mata kembali muncul di wajah Sela. Dengan keras Arja melepaskan tangannya dari wajah Airin.
"Jika bukan karena adanya Mia. Aku tidak akan melakukan hal gila ini," ucap Arja lirih.
Lalu dia masuk ke ruang kerja. Dia membuka laptop dengan tatapan tidak fokus. Dia sendiri memang yang memutuskan semua ini. Namun, dia sendiri merasa sangat terluka. Rencananya membawa Airin kembali sudah gagal, dan dia harus terjebak dengan sandiwara mencintai Sela.
"Pak, saya datang," kata sekretaris Sa dan langsung masuk ke ruang kerja Arja.
"Bagus kau datang."
"Ini berkas yang bapak minta," kata sekretaris Sa.
Arja berdecak dan menatap kepada sekretaris Sa, "Sampai kapan aku harus pura-pura mencintai Sela. Aku muak, aku ingin Airin."
"Pak. Bukannya bapak sendiri yang merencanakan semua ini. Bapak sendiri yang mengatakan jika akan melakukan hal ini sampai Mia menyerah."
"Lalu kapan dia akan menyerah," lirih Arja.
"Tentunya Anda sendiri yang tahu," ucap sekretaris Sa.
Benar apa yang dikatakan sekretaris Sa. Bagaimanapun, Arjalah yang membuat Mia datang dan membuat dirinya terjebak dalam sandiwara. Mau tidak mau, Arja harus melakukannya sampai akhir. Walau perasaanya sangat sakit melihat Airin tersenyum dengan pria lain. Bahkan menikah dengan pria lain.
"Untuk semua ini. Kau yang atur kantor, aku sedang tidak ingin apapun."
"Baik, Pak."
Setelah percakapan itu, sekretaris Sa keluar dari ruangan Arja. Tanpa diduga sekretaris Sa berpapasan dengan tante Mia. Mereka saling menatap tapi tidak ada kata. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas tante Mia menyunggingkan senyum pada sekretaris Sa.
***
Sejak tadi kembali dari belanja. Airin hanya diam di ruang tv. Memang benar jika tv itu menyala, hanya saja Airin tidak melihatnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kali ini, Airin akan jujur pada Vino. Siapa tahu Vino tahu alasan kenapa Arja mengembalikan aset miliknya. Apa karena mamanya yang datang pada Arja lagi atau karena ada alasan lain.
Vino masuk ke rumah dan tidak ada yang menjawab perkataanya. Sampai dia melewati ruang tv dan melihat Airin sedang duduk. Tatapannya kosong, jelas sekali jika Airin sedang memiliki masalah.
Perlahan Vino meletakan tas kerjanya dan duduk di depan Airin. Airin masih belum sadar akan kedatangannya. Sampai beberapa detik Vino menatap wajah cantik itu.
"Airin," panggil Vino perlahan.
Airin masih saja diam. Tatapannya masih saja kosong.
"Airin," kali ini suara Vino cukup keras, namun belum menyadarkan Airin dari lamunanya.
Melihat usahanya tidak berhasil. Akhirnya Vino memutuskab untuk mengguncang tubuh Airin sembari memanggil namanya.
Airin sadar dengan jantung yang berdegup cepat. Dia sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Vino.
"Maaf, aku sudah mencoba memanggilmu. Kau tidak sadar juga dari lamunanmu."
Mendengar penuturan Vino. Airin hanya bisa diam dan bingung. Dia baru saja memikirkan Vino dan sekarang Vino sudah ada di depannya.
"Apa ada masalah?" tanya Vino.
"Aku akan ambilkan dulu. Kau tunggu disini," kata Airin yang langsung pergi ke dalam kamarnya.
Vino hanya bisa menatap bingung pada tingkah calon istrinya itu. Baru kali ini Airin terlihat gelisah karena masalah. Sampai beberapa saat Airin keluar dengan sebuah map berwarna biru.
Airin kembali duduk di samping Vino. Dia meletakan map itu dan memperlihatkan isisnya. Tanpa Airin mengatakannya, Vino sudah paham isi di dalam map itu.
"Apa kau bertemu dengan Arja?" tanya Vino langsung.
Kali ini, Airin tidak bisa berbohong. Dia akhirnya mengangguk. Vino memegang kedua pundak Airin dan membuat mereka saling berhadapan.
"Airin, apa kau juga bertemu dengan tante Mia?" tanya Vino lagi.
"Inilah yang mau aku tanyakan padamu. Apa karena mamanya, Arja mengembalikan harta ini. Atau..."
"Airin. Bukannya aku sudah melarang dirimu. Kenapa kau malah menemui mereka secara diam-diam di belakangku?"
Airin merasa sangat bersalah pada Vino. Vino adalah orang yang selalu percaya padanya. Dia juga yang melindungi Airin. Perlahan Airin mengangkat kepalanya hingga mata mereka saling bertatapan.
"Maaf, Vino."
"Sudahlah. Sebaiknya kau ceritakan semuanya padaku. Aku sudah janji akan melindungimu. Jadi, tolong jangan bohongi aku."
Airin mengangguk. Perlahan dia mulai mengatakan semuanya pada Vino. Pertemuannya dengan Arja dan pertemuannya dengan tante Mia. Juga, saat dia dilabrak oleh Sela.
Vino tidak menyangka jika Airin sudah menyembunyikan semua hal penting darinya. Walaupun begitu, Vino tidak ingin membuat Airin terluka. Dia kembali membangun kepercayaan pada Airin.
Setelah menceritakan semuanya. Tidak ada respon dari Vino. Airin kali ini merasa sangat bersalah dengan apa yang dia lakukan. Dia sudah menyakiti hati calon suaminya itu.
"Maaf, tidak seharusnya aku melakukan ini," kata Airin.
"Sudahlah. Aku sudah tahu semuanya, sekarang kau jangan bertemu dengan tante Mia atau Arja lagi."
"Tapi, tanta Mia orangnya sangat baik, Vin."
"Kau tidak tahu aslinya seperti apa. Demi aku, tolong hindari saja dia."
Airin hanya bisa menganggukan kepalanya. Mana mungkin dia akan memilih tante Mia dari pada calon suaminya itu. Setelah percakapan itu, Vino masuk ke dalam kamarnya. Begitu pula Airin. Mereka kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.
***
Vino sedang duduk dengan pikiran tidak menentu. Airin pasti akan menemui tante Mia lagi di belakangnya. Vino berfikiran untuk mengatakan semuanya pada Airin. Agar Airin tahu siapa tante Mia sebenarnya.
"Vino," panggil mama Vino dengan lembut.
"Mama," Vino menoleh kearah suara, "kapan mama datang?" tanya Vino.
"Baru saja," jawab mama Vino.
Vino mencium pipi mamanya dan memeluk dengan erat. Mama Vino tahu jika ada yang salah pada putranya itu. Pasti ada yang sudah terjadi. Mama Vino akhirnya mengajak Vino untuk duduk di sofa depan tempat tidur.
"Apa kau dan Airin bertengkar?" tanya mama Vino.
"Tidak, Ma."
Vino mengatakan semuanya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Jika Airin belum tahu yang sebenarnya, Airin akan tetap menganggap tante Mia adalah orang baik.
Mama Vino tahu apa yang sudah terjadi. Dengan lembut mama Vino memegang pundak anaknya itu. Vino menatap kearah mamanya.
"Kamu tidak berhak memberitahukan hal ini. Akan lebih baik jika Airin tahu sendiri apa yang sudah terjadi," kata mama Vino.
"Tapi, tante Mia bukan orang yang baik, Ma."
"Tugasmu bukan memberi tahu hal ini pada Airin. Kau hanya bertugas menjaganya, karena kamu calon suaminya."
Akhirnya Vino hanya bisa mengangguk. Apa yang dikatakan mama Vino benar. Jika dia yang mengatakannya, Airin pasti tidak akan percaya dan menganggap Vino mengekangnya saja.
Mama Vino mengeluarkan beberapa lembar undangan dari dalam tasnya. Dia ingat apa tujuannya menemui Vino. Dia akan membahas pernikahan itu dengan Vino.
"Kamu mau pilih yang mana. Mama tidak tahu selera kamu dan Airin."
"Sudah aku bilang. Semuanya terserah mama," kata Vino.
"Bagaimana dengan Airin?" tanya mama Vino.
Vino tersenyum, "Mama sudah tahu seperti apa Airin. Dia akan mengikuti apa saja yang mama minta."
Mama Vino hanya bisa tersenyum. Lalu mengambil semua lembaran undangan itu. Dia bergegas pergi dari kamar Vino untuk menemui calon menantunya itu. Airin akan lebih tahu dari pada Vino.
***
Sela sedang menyiapkan makan malam. Walau apa yang sudah dilakukan Arja padanya, tetap saja Sela memberikan sepenuh hatinya pada Arja. Dia akan melakukan apapun asal Arja tidak pergi darinya.
Tidak lama, tante Mia keluar dari kamarnya dan membantu pekerjaan Sela di dapur. Banyak kata yang diucapkan tante Mia pada Sela. Mengingat apa yang dikatakan Arja, Sela hanya diam dan mencoba menghindar sebisanya.
Tante Mia tahu, Arja sudah melarang Sela untuk berdekatan dengannya. Hanya saja, tante Mia juga punya rencana agar Sela tidak memberikan kepercayaannya pada Arja.
"Sela, tadi ada paket buat kamu. Sayangnya, tante yang menerimanya. Kamu dan Arja tadi sedang keluar," kata tante Mia.
Sela menyunggingkan senyum tipi, "Aku tidak merasa memesan atau punya kenalan yang akan mengirimkan paket padaku."
"Bagaimana jika kakakmu yang mengirimnya?"
Kali ini Sela sudah mulai terpancing dengan obrolan tante Mia, "Maksud tante, Airin?"
Tante Mia mengangguk. Sela akan mendekat pada tante Mia, namun Arja sudah keluar dari dalam kamarnya. Dia pasti akan ikut makan malam ini.
Sela langsung menyiapkan semuanya untuk Arja. Kali ini, Arja kembali tersenyum lembut pada calon istrinya itu.
"Bagaimana keadaanmu dan calon anak kita?" tanya Arja dengan senyuman, dia benar-benar aktor yang baik.
Sela tersenyum karena merasa diperhatikan, "Aku baik, begitupun anak kita."
"Baguslah. Ayo makan," kata Arja.
Mereka semua duduk. Termasuk tante Mia, walaupun merasa jengah dengan kemesraan yang terjadi. Tante Mia menahan amarahnya dan memilih untuk makan.
Beberapa kali Sela dibuat bersemu merah karena gombalan Arja padanya. Dia tidak menyangka jika Arja akan melakukan itu padanya.
Tiba-tiba saja tante Mia menggebrak meja dengan keras. Lalu menatap pada Sela dan Arja. Sela tidak tahu apa yang terjadi, Arja yang tahu hanya bisa menyunggingkan senyumannya.
"Ada apa, tante?" tanya Sela.
"Tidak. Aku hanya ingat, jika ada hal penting yang harus aku urus."
Sela dan Arja hanya diam. Lalu, tante Mia berlalu dengan langkah cepat masuk ke kamarnya. Sela hendak bertanya, namun Arja memilih untuk mengganti topik pembicaraan di meja makan itu.
"Kamu makan ya. Aku akan kembali bekerja," kata Arja. Cup, sebuah kecupan mendarat di kening Sela.
Sela mengangguk dan menyunggingkan senyum lebar. Walau begitu, Sela masih penasaran dengan paket yang dimaksud tante Mia. Dengan sembunyi-sembunyi, Airin akan menemui tante Mia. Jika Arja tahu, dia akan terkena masalah lagi.
***
Tante Mia menelfon seseorang. Dia marah-marah tidak jelas. Jelas sekali jika tante Mia sedang cemburu. Dia merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan Arja pada Sela.
"Apa kau yakin sudah melakukan apa yang aku katakan?" tanya tante Mia dengan nada tinggi.
"Bagus. Aku tidak ingin sampai terjadi masalah."
Lalu, dengan keras tante Mia membuang ponsel yang ada di tangannya. Dia menatap jauh keluar jendela. Dia harus bisa menyingkirkan Sela lebih dulu, atau Arja akan semakin menjauh.
Tok tok tok.
Tante Mia menoleh kearah pintu. Dia tahu jika Sela yang datang. Kali ini, tante Mia sudah menyiapkannya. Dia meletakan sebuah paket palsu dengan nama Airin disana. Sela pasti akan sangat kesal dan akan melakukan apa yang tante Mia inginkan.
"Kau kesini?" tanya tante Mia dengan senyuman.
"Tante..."
"Ayo masuk," kata tante Mia sebelum Sela menyelesaikan apa yang dia katakan.
Sela melihat sebuah kotak yang ada di atas tempat tidur tante Mia.
"Lihat saja disini, jika di kamarmu. Arja pasti akan tahu," kata tante Mia.
Sela mengangguk. Perlahan dia membuka kotak itu, pertama ada sebuah note kecil. Airin mengambilnya dan membaca dengan perlahan.
Apa kau yakin dengan calon suamimu?
Sela tidak paham dengan maksud tulisan itu. Dia lalu membuka kembali kotak itu. Beberapa lembar foto saat Arja memeluk Airin di depan restoran. Sela ingat, dia pernah melabrak Airin di restoran itu.
Marah. Jelas Sela merasakannya, dengan kuat dia meremas semua foto di tangannya. Dia tidak tahu jika Arja hanya pura-pura terhadapnya.
"Ada apa Sel?" tanya tante Mia yang pura-pura tidak tahu.
"Kenapa, kenapa Arja tega melakukan hal ini sama aku. Kenapa juga, Airin mengirim hal ini padaku."
Tante Mia duduk di samping Sela. Dia mencoba untuk memprovokasi Sela yang sedang terpuruk.
"Sela, Arja bukan kali ini saja kenal dengan wanita. Dia pasti sengaja melakukan ini dengan Airin, tentunya agar kamu yang cantik ini tidak pergi darinya. Dia juga tidak akan kehilangan Airin."
"Ternyata Arja masih sama saja."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya tante Mia.
Sela menoleh pada tante Mia, "Aku akan melakukan apa yang aku pikirkan."
"Jangan melakukan hal bodoh, Sel."
"Tante tenang saja. Aku pergi dulu tante," kata Sela dan langsung pergi dari kamar tante Mia.
Tante Mia tertawa dengan puas. Arja merasa dkrinya lebih baik dari tante Sela. Tapi ternyata, tante Sela sudah melakukan hal yang berada di luar dugaan Arja.