My Love My Pain

My Love My Pain
antara masa lalu dan masa depan



Sejak kecelakaan itu. Airin belum pernah kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Arja. Kadang ada rasa ingin melihat keadaannya, namun kembali Airin urungkan. Rasanya masih sangat menyakitkan mengingat penghianatan itu.


Airin sudah selesai membuat sarapan untuk Vino. Ya, Airin masih tinggal dengannya. Tidak ada sesuatu yang sepesial yang terjadi. Semuanya berjalan seperti apa yang diinginkan.


Apartemennya, bukan, lebih tepatnya apartemen Vino yang dipinjamkan untuknya masih dalam tahap renovasi. Sebenarnya sangat tidak nyaman tinggal dengan pria yang bahkan tidak ada hubungan apapun. Hanya teman.


"Bagaimana sarapannya? apa sudah kau buat?" tanya Vino.


"Ya. Kau sudah bisa sarapan," kata Airin.


Airin sudah menyiapkan semuanya ke meja makan. Jika terus menerus seperti ini, Airin merasa seperti seorang istri bagi Vino. Apa lagi, Mama Vino bahkan terus menggoda Airin tentang perasaan Vino.


"Hari ini kau mau kemana?" tanya Vino disela sarapan kami.


"Kau tahu pekerjaanku. Oh ya, mungkin aku akan pindak ke rumah Cika, besok atau lusa."


Vino terlihat kaget. Dia meletakan sendok dan garpu yang dia pegang dan mengambil air minum di sampingnya.


"Kenapa? apa kau tidak betah disini? apa masih kurang fasilitasnya?"


"Bukan. Bukan seperti itu, kau tahu jika aku adalah asisiten pribadi Cika. Jadi, akan lebih efektif jika aku dan Cika satu rumah."


"Bukankah pekerjaanmu baik-baik saja. Kenapa sangat tiba-tiba."


"Vin. Kau tahu, kita sudah dewasa dan tidak mungkin jika kita tinggal bersama seperti ini. Lagi pula, aku masih bisa memiliki tempat tinggal selain ini."


"Menikahlah denganku."


Diam. Bola mata Airinberputar. Apa yang sudah terjadi, kenapa bisa Vino mengatakan hal itu dengan mudahnya. Padahal, pernikahan bukanlah sebuah permainan apa lagi lelucon.


"Rin," Vino memegang tangan Airin, "aku serius."


"Aku sudah telat. Maaf, aku harus pergi sekarang."


Tanpa jawaban Airin langsung mengambil tas dan keluar dari apartemen Vino. Kembali Airin berada di sebuah situasi yang tidak menyenangkan. Padahal, mereka bisa dekat tanpa ada kata cinta dan sejenisnya. Kini, Airin kembali merasa jauh dengan Vino.


***


Airin dan Cika sudah selesai meeting disebuah cafe mewah dekat kantor. Ternyata Cika sangat hebat dalam urusan bisnis. Sementara Airin, dia hanya bisa mengikuti Cika dan melakukan apa yang dia minta. Hanya itu.


Karena panggilan alam. Cika memilih untuk ke toilet lebih dulu. Sementara Airin langsung menuju keparkiran mobil.


Entah sudah berapa kali. Pesan-pesan masuk ke dalam ponsel Airin. Baru tiga hari Airin merasa tenang tanpa gangguan. Sekarang, Sela kembali mengirim pesan padanya. Arja terus mencari Airin sampai saat ini. Dia ingin menemuinya.


"Kok belum masuk?" tanya Cika yang tiba-tiba datang.


"Aku masih menunggumu," kata Airin.


"Ayo masuk. Jangan lupa, nanti kirimkan file ke emailku. Aku akan mengeceknya nanti malam."


"Siap. Hari ini kita mau kemana?"


"Ke rumah sakit. Rekan kerjaku ada yang kecelakan. Kita harus menjenguknya, sebelum itu kita beli parsel buah dulu untuknya."


Sopir pribadi Cika langsung tancap gas begitu mendengar perintah Cika. Sementara Airin sibuk mengecek jadwal Cika setelah makan siang. Tidak ada hal penting, Cika akan menemui Jay nanti. Jadi, Airin bisa pulang lebih cepat.


Pulang? akan terasa sangat aneh jika Airin kembali ke apartemen Vino. Lebih baik Airin mencari sebuah kos-kosan atau apartemen murah di dekat kantor. Dengan uang yang Airin punya saat ini. Masih cukuplah untuk satu bulan, sembari menunggu gajian bulan esok.


"Bagaimana keadaan Arja?" tanya Cika pada Airin.


Airin memasukan tablet ke dalam tasnya, "Aku masih belum menemuinya lagi."


"Kenapa? apa kau membencinya?"


"Tidak. Aku tidak membencinya, hanya saja aku masih tidak ingin bertemu."


"Aku tahu perasaanmu."


***


Arja POV


Dokter sudah selesai menyuntikan obat. Setelah itu, Arja bisa makan dan meminum obat yang sudah diberikan oleh rumah sakit. Dengan hati-hati, Sela menyuapi Arja dengan bubur hangat.


Crang. Mangkuk itu dibuang oleh Arja. Dengan tatapan penuh tanya, Arja menatap Sela yang akan membersihkan pecahan itu.


"Dimana Airin? kenapa dia masih belum datang juga?" tanya Arja.


"Dia tidak membalas pesan dan telfonku. Mungkin, dia memang tidak ingin berhubungan dengan kita lagi."


Arja diam. Tatapanya lurus kedepan. Ada rasa menyesal dan kecewa di dalam hatinya. Andai saja dulu dia tidak bertemu dengan Sela lebih dulu. Mungkin dia akan memberikan sepenuh hatinya pada Airin.


Kini, Airin benar-benar pergi karena ulah Arja sendiri. Hanya ada Sela yang terus menerus menuntut tentang kekayaan dan gaya hidup mewah.


"Apa kau ingin makan buah?" tanya Sela.


"Tidak."


Sela melihat jam tangannya dan terlihat kaget, "Bagus jika kamu tidak mau. Aku akan pergi dulu. Ada janji dengan teman."


Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Arja. Setelah itu, kalian pasti sudah tahu. Sela keluar dari ruangan Arja dan meninggalkannya sendiri.


***


Airin POV.


Airin sudah menyelesaikan apa yang ditugaskan Cika padanya. Kali ini, Airin hanya perlu menyerahkannya saja ke tempat Cika. Walau perjalanannya cukup jauh, namun pekerjaan ini harus cepat Airin berikan.


Jaket sudah terbalut ditubuhnya. Lebih nyaman seperti ini karena di luar cukup dingin. Apa lagi, hari sudah mulai sore seperti ini. Kembali Airin mengecek berkas di tangannya.


"Lengkap sudah," lirih Airin.


"Kau mau kemana?" tanya Vino yang belum lama pulang dari kantor.


Sejak tadi Airin memang lebih banyak di kamar. Alasan pertama karena ada pekerjaan dan alasan kedua karena tidak ingin bertemu dengan Vino. Airin tidak mau ada pembahasan seperti tadi pagi.


"Aku harus ke rumah Cika. Ada pekerjaan."


"Mau kuantar?" tanya Vino.


Airin menggeleng dengan cepat. "Tidak perlu." Airin berjalan melewati Vino begitu saja.


Saat Airin akan membuka pintu. Airin tampak terkejut dengan seseorang yang berada di balik pintu itu. Diam, Airin hanya bisa diam saat ini.


"Tante, kapan tante kesini?" tanya Airin.


Airin merasa bodoh karena menanyakan hal aneh ini. Ini kan rumah anaknya, dia bisa kesini kapan saja. Kenapa Airin malah bertanya.


Mama Vino tersenyum, "Ternyata kalian memang sudah satu rumah. Kapan kalian akan meresmikan hubungan ini?"


"Ma...maksud tante apa?"


"Ayolah. Jangan malu-malu seperti itu, tante tahu kalau kalian memang saling cinta."


Mama Vino menarik Airin masuk kembali. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Sedangkan Vino merasa menang dengan apa yang terjadi saat ini.


Mama Vino terus mengatakan tentang hubungan Airin dengan Vino. Padahal, hubungan ini hanyalah hubungan fiktif. Jika sudah seperti ini, mau bagaimana lagi, Airin tidak bisa mengecewakan hati seorang ibu.


"Ma, jangan terlalu menekan Airin. Kita masih ingin menjalaninya dengan tenang."


"Kalian sudah sama-sama dewasa. Kenapa kita tidak resmikan saja hubungan ini."


Airin kaget dan langsung menatap Vino. Airin memberi isyarat agar Vino mengatakan yang sebenarnya.


"Ma, jika memang menganggap aku dan Airin sudah dewasa. Biarkan kami menjalankan semua ini seperti air mengalir."


"Terserah kalian saja."


Jelas sekali jika Mama Vino kecewa dengan jawaban Vino. Mau bagaimanapun, sangat sulit menjelaskan pada orang tua yang sudah terlanjur percaya.


***