
Airin dan Vino kini sudah semakin dekat. Perlahan, Airin kembali membuka hatinya untuk Vino. Walau masih ada rasa takut akan penghianatan.
Pagi ini. Airin sedang menyiram tanaman di teras samping. Mulai hari ini, Airin akan ikut bekerja dengan Vino. Sebagai sekretaris pribadinya. Alasannya karena Vino tidak ingin Airin bekerja untuk orang lain.
"Sini, biar mama bantu," kata mama Vino yang langsung mengambil selang di tangan Airin, "Kamu siap-siap kerja saja," lanjut mama Vino.
"Aku yang selesaiin, Ma."
"Kasihan Vino, dia sudah menunggumu."
Mau tidak mau akhirnya Airin mengalah. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Kini, Airin tidak bisa memilih baju untuk dia berangkat kerja. Adanya dress selutut dan tidak cocok untuk dibawa untuk bekerja.
"Airin, apa kau sudah siap?" teriak Vino.
Airin melihat jam. Ternyata sudah cukup siang, ini karena Airin terlalu senang berada di taman sejak tadi. Airin pun membuka pintu dan melihat kearah Vino.
"Maaf, kali ini aku tidak bisa ikut berangkat."
"Kenapa?" tanya Vino yang merasa aneh. Kemarin, Airin yang memaksa untuk bekerja. Sekarang, Airin sendiri yang menolak.
"Aku tidak punya baju yang pantas."
Vino memaksa masuk ke kamar Airin. Lagi-lagi dia membuka almari baju Airin. Untung saja Airin sudah memisahkan baju dalam dengan baju biasa.
Vino mengambil sebuah kemeja biru dengan rok hitam. Rok yang sudah lama Airin tidak gunakan. Vino meletakan baju itu dihadapan Airin.
Airin menggeleng. Dia merasa tidak cocok lagi menggunakan rok itu. Dia merasa lebih gemuk sekarang. Itu akan terlihat lucu nantinya, namun Airin tidak bisa mengatakannya pada Vino.
"Kenapa lagi?" tanya Vino dengan penuh perhatian.
Airin menggeleng, "Badanku sudah terlalu besar memakai rok itu."
Vino tertawa dengan cukup keras. Baru kali ini Vino mendengar keluhan tentang badan dari Airin. Sejak dulu, Airin tidak pernah memikirkan penampilannya. Kini, Airin yang dia kenal sudah berubah. Dia benar-benar menjadi wanita sebenarnya.
Tanpa pikir panjang. Vino langsung menarik Airin keluar dari kemar. Vino berniat untuk mengajak Airin berbelanja baju. Vino akan melihat baju seperti apa yang Airin suka. Dia akan tahu selera Airin saat ini.
"Kenapa kalian buru-buru?" tanya mama Vino saat mereka keluar dari rumah.
Vino tersenyum pada ibunya. Dia melepaskan genggamannya dari tangan Airin dan mendekat pada mamanya.
"Aku harus ke kantor, Ma."
"Lalu kenapa Airin tidak berganti baju?"
"Aku akan membelikannya baju sebelum berangkat. Dia tidak memiliki baju untuk ke kantor."
Airin hanya tersenyum aneh pada mama Vino. Apa yang dikatakan Vino memang benar. Dia tidak memiliki baju yang cocok untuk ke kantor.
"Baiklah. Kalian harus hati-hati di jalan," kata mama Vino.
"Baik, Ma."
Setelah selesai berpamitan. Mereka masuk ke dalam mobil. Perlahan tapi pasti. Arja mulai menjalankan mobilnya. Mama Vino sebenarnya hanya beberapa hari saja di rumah Vino. Dia akan kembali keluar negri untuk mengurus beberapa hal.
***
Suasana kantor terlihat cukup ramai. Walau masih banyak gosip yang bertebaran dimana-mana. Apa lagi, gosip tentang Vino yang memilih bertunangan dengan Airin.
Banyak karyawan wanita yang tidak setuju. Alasanya karena Airin bukanlah wanita yang masih lajang. Dia pernah menikah dan itu dengan Arja. Pria yang juga disukai banyak wanita diluar sana.
Vino menutup ke dua telinga Airin. Dia tersenyum pada wanitanya itu. Dia tidak ingin Airin mendengar hal yang akan membuat Airin terluka.
Sampai di dalam lift khusus. Vino melepaskan tangannya dari Airin. Lalu, dia membisikan sesuatu pada Airin. Kali ini, Airin merasa sudah memilih pria yang tepat untuk menjadi sandaran hati.
"Lola, antarkan berkas yang akan digunakan. Saya tunggu di ruangan," kata Vino pada sekretarisnya.
Lola, gadis yang mungkin umurnya lebih muda dari Airin. Dia cantik dan memiliki paras yang menawan. Mungkin, jika para pria melihatnya akan merasa terpukau.
Airin dan Vino masuk ke dalam ruangan Vino. Disana sudah ada sebuah meja dan komputer tambahan. Jelas sekali jika Vino sudah menyiapkan semuanya untuk kedatangan Airin.
"Permisi, Pak." Lola masuk dengan langkahnya yang berirama.
Vino duduk dan menyalakan komputernya. Sementara Airin berdiri di sampingnya dengan seulas senyuman dibibir.
"Lola, dia adalah asisten pribadiku. Untuk selanjutnya, kau bisa menyerahkan berkas yang akan aku tangani padanya."
Airin mengangguk, begitupun dengan Lola. Lola merasa pernah melihat itu, dia mencoba memikirkannya. Lalu, dia ingat. Dia adalah Airin, wanita yang sangat tidak disukai di perusahaan Vino. Wanita yang mematahkan hati para karyawan wanita disana.
"Lola. Lola," panggil Vino.
"I...iya, Pak."
"Apa kamu mendengar apa yang aku katakan?"
"Ya, Pak."
"Kamu bisa keluar sekarang," kata Vino.
Lola mengambil sebuah berkas dari meja Vino dan keluar dari ruangan Vino. Airin masih diam, dia merasa jika posisinya disini adalah salah. Bahkan, dia sudah mendengar banyak hal tentang dirinya saat di lobi kantor.
"Kenapa kau malah melamun?" tanya Vino yang melihat wanitanya hanya diam.
"Apa seharusnya aku tidak disini?" tanya Airin.
"Kenapa? apa karena perkataan para karyawan?"
Airin hanya diam. Vino sudah tahu apa yang membuat wanitanya merasa minder. Walaupun begitu, tetap saja Airin tidak ingin wanitanya menjauh. Vino sudah berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hatinya.
***
Setelah kemarin membahas harta milik Airin. Sela kini semakin berani pada Arja, apa lagi kini dia memiliki pendukung. Yaitu, tante Mia. Mama Vino.
Makan siang sudah siap. Hanya tinggal menunggu Vino keluar dari ruang kerjanya. Sudah satu jam sekretaris Sa dan Vino di dalam, tapi mereka masih belum keluar dari sana.
"Apa perlu aku kesana, Ma?" tanya Sela pada tante Mia.
Tante Mia tersenyum lalu menggeleng, "Biarkan saja. Sebentar lagi mereka pasti akan keluar."
Benar saja. Tidak lama Arja dan sekretaris Sa keluar. Mereka baru saja membahas bisnis besar dan tentunya tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Setelah mengantar sekretaris Sa. Arja kembali masuk. Tidak ke ruang makan, Arja malah akan kembali masuk ke ruang kerjanya.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Sela dengan nada yang cukup keras.
Arja menoleh, "Kau saja yang makan dengannya." Tunjuk Arja pada tante Mia. Lalu, dia kembali masuk ke ruang kerjanya.
Sela duduk berhadapan dengan tante Mia. Mau tidak mau mereka mulai makan tanpa adanya Arja. Banyak pertanyaan dihati Sela, dia ingin tahu kenapa Arja sangat membenci mamanya itu.
"Kau pasti ingin bertanya kenapa Arja seperti itu?" kata tante Mia.
Hampir saja Sela tersedak. Buru-buru dia mengambil gelas yang penuh air dan meminumnya.
"Mama akan katakan semuanya."
Sela membenarkan posisi duduknya dan menatap pada tante Mia.
"Dia tidak suka padaku. Karena aku selalu mengekangnya, bukankah kamu tahu. Dia bahkan tidak mau mengakuiku di depan Airin."
Sela hanya diam.
"Jangan biarkan wanita itu merebut kembali hati Arja. Kau harus menang dari si Airin," kata tante Mia kemudian.
"Bagaimana caranya. Aku sudah tidak memiliki cara lagi."
"Kau memiliki tubuh yang indah, kau juga cantik. Gunakan semua itu untuk memikat Arja."
"Tapi,...."
"Aku akan membantumu. Tenang saja, aku adalah mamanya. Aku tahu dia suka wanita seperti apa."
Arja masih diam menatap keluar jendela. Dia merasa keberadaan mamanya akan membuat rencananya kacau. Rencana untuk membuat Airin kembali padanya. Untuk sementara ini, Arja hanya akan fokus pada bisnis. Hal itu akan membuat mamanya pergi dari rumahnya.
"Sa. Awasi saja ibuku dan Sela," kata Arja di dalam telfon. Lalu dia mematikannya.
Arja kembali duduk. Tangannya bermain dengan ponselnya. Namun, pikirannya masih saja tertuju pada satu wanita. Airin.
***
Tante Mia memang bukan orang sembarangan. Dia adalah pemilik perusahaan besar di beberapa negara. Dia juga bekerja sama dengan beberapa mafia untuk keuntungannya pribadi. Walau seorang wanita tante Mia tidak boleh diremehkan.
Kali ini, dia berhasil membuat Sela percaya jika dia mendukungnya. Disisi lain, dia pura-pura menjadi wanita baik di hadapan Airin. Jelas, alasannya karena Arja. Walau tetap saja dia tidak ingin ada wanita yang mendekat pada anaknya.
Arja. Dia bukan anak kandung dari tante Mia. Tante Mia adalah mama ke dua bagi Arja. Mama kandung Arja sudah meninggal, bersama dengan kekasih Arja. Airina.
Tante Mia sudah berhasil membunih papa Arja. Dia masih mengincar hati anak tirinya itu. Dia tidak rela jika anaknya sampai memiliki perasaan untuk wanita lain.
Hal itulah yang membuat Arja semakin menghindar dan benci pada tante Mia. Vino sudah tahu semuanya, hal itulah yang membuat Vino menjauhkan Airin dari tante Mia. Vino tidak ingin, Airin terkena masalah dengan wanita itu.
***
Airin masih memandang wajahnya dikaca. Dia baru saja membasuh wajahnya yang terkena tinta. Airin merasa benar-benar tidak cocok berada di perusahaan Vino. Banyak perempuan yang membencinya disana.
Tinta yang menyiprat ke wajah Airin bukanlah hal yang tidak disengaja. Beberapa orang di tempat printer sengaja melakukan hal itu. Tentu saja agar Airin tidak betah berada disana.
"Kau ingat wanita bernama Heila?" tanya seorang karyawati berbaju hitam.
"Ya. Wanita yang sangat cantik itu kan?" ujar si gadis pink.
"Kurasa dia lebih cocok dengan bos kita."
"Benar. Sepertinya bos kita sudah hilang akal dan bertunangan dengan janda."
Mereka tertawa senang dengan apa yang dibicarakan. Masih banyak hal lain lagi yang mereka bicarakan. Bahkan, mereka berniat untuk menyingkirkan Airin.
Airin yang mendengar beberapa orang sedang berjalan kearah toilet membuatnya langsung masuk ke bilik toilet. Dia tidak ingin dilihat oleh siapapun. Hari pertama kerja namun sudah membuat hatinya sakit.
Airin merapikan baju dan rambutnya. Setelah hatinya siap. Dia keluar dari bilik itu. Dua wanita tadi langsung terdiam. Sedangkan Airin melirik dengan tatapan mengancam.
"Apa karena aku janda. Kalian bisa mengusirku dari sini?" Airin menggebrak kaca. "Kalian bisa saja langsung dipecat karena hal ini. Kalian harus ingat, apa posisiku sekarang."
Setelah mengatakannya. Airin keluar dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa harus lebuh keras lagi. Tentunya agar tidak ditindas di perusahaan tunangannya itu.
Banyak yang masih membicarakannya di perusahaan itu. Tapi Airin mencoba tetap tenang, dia berjalan dengan mantap tanpa menoleh kearah para karyawan dan karyawati itu. Airin harus terlihat baik dan tidak terluka. Jika ada satu titik yang membuatnya terluka, akan ada banyak hujatan lagi untuknya.
"Kenapa kau sangat lama?" tanya Vino saat Airin masuk ke ruangannya.
Airin lupa belum mengambil hasil printer. Airin kembali membalikan badanya dan akan keluar, namun Vino menahan tangannya.
"Hasilnya sudah disini. Aku tahu apa yang terjadi denganmu," kata Vino.
Airin menoleh, "Maaf," ucap Airin.
"Tidak masalah. Aku akan mengurus mereka untukmu."
"Tidak perlu. Aku akan menanganinya sendiri."
"Baiklah."
Vino kembali ke mejanya. Begitupun dengan Airin. Mereka kembali fokus kepekerjaan masing masing. Vino dan Airin sama-sama profesional, mereka tidak menampakkan kemesraan di depan karyawan. Bahkan di ruang kerja mereka.
"Vino. Berkasnya sudah aku kirim lewat email," kata Airin.
"Terima kasih. Apa kau bisa buatkan aku kopi sekarang?" tanya Vino.
"Baiklah."
Saat Airin akan keluar, "Tunggu," ucap Vino, "Aku sendiri yang akan membuatnya. Kau selesaikan saja tugasmu."
Airin mengangguk dengan senyuman dibibirnya.
Sejak bersama dengan Vino. Airin lebih sering tersenyum dari pada memendam amarah. Apa lagi, tidak ada gangguan dari Arja ataupun anak buahnya. Walau seperti itu, kadang Airin penasaran dengan kondisi Sela. Bagaimanapun mereka masihlah saudara.
***
Tante Mia berdiri dengan tangan yang bermain dengan ponselnya. Hampir setengah jam dia menunggu Airin keluar dari dalam kantor. Dia akan kembali menemui Airin.
Beberapa karyawan mulai keluar dari dalam kantor. Karena di jam inilah mereka melepaskan pekerjaan mereka dan kembali lagi esok hari. Tidak lama Airin keluar dengan Vino. Tante Mia tersenyum.
"Aku akan mengambil mobil. Kau bisa menungguku kan?"
"Tentu."
Airin berdiri sendiri sembari menunggu Vino yang mengambil mobil. Tante Mia yang melihat kesempatan itu langsung mendekatinya.
"Airin."
Airin menoleh, "Tante."
"Apa kita bisa bicara?"
"Jika mengenai Arja. Maaf, saya tidak bisa."
Tante Mia menggeleng dengan cepat.
"Tante tahu kamu sangat membenci Arja, tapi apa kamu tidak ingin melihat Sela."
Airin diam. Melihat mobil Vino yang mulai mendekat tante Mia sudah tidak bisa berbuat lebih.
"Jika kau ingin tahu tentang Sela. Kita bisa bertemu di cafe dekat kantor ini."
Setelah mengatakannya. Tante Mia langsung berlalu. Meninggalkan Airin yang masih diam. Apa sesuatu terjadi pada Sela? pikir Airin.
Airin kaget saat sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut. Vino sudah berada di sampingnya.
"Ayo kita pulang," kata Vino.
Airin mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Pikirannya kini tertuju pada perkataan tante Mia tadi. Namun, Airin juga masih mengingat janjinya pada Vino. Untuk tidak berhubungan dengan tante Mia.
Disepanjang perjalanan pulang. Airin tidak berkata apapun. Tatapannya kosong memandang kearah luar kaca. Dia tidak tahu harus bagaimana, hanya dia sangat penasaram dengan keadaan Sela.
Sela sudah tidak memiliki siapapun seperti dirinya saat ini. Jika dipikir lagi, Airin dan Sela seharusnya saling melindungi. Bukan malah menjadi musuh seperti hari ini.
Vino yang melihat keanehan pada Airin langsung meminggirkan mobilnya. Dia memegang kembali bahu Airin. Membuat Airin menoleh, tidak ada senyuman dibibir Airin.
"Apa ada masalah?" tanya Vino.
"Tidak. Tidak ada," kata Airin.
"Kau terlihat sangat berbeda," kata Vino.
"Benarkah?"
Vino tersenyum simpul, "Apa kau masih memikirkan perkataan karyawan di kantor?"
Airin mengangguk. Padahal bukan itu yang membuat Airin diam. Airin tidak memiliki alasan lain yang membuat Vino percaya.
"Lupakan saja apa yang mereka katakan. Kau adalah wanitaku."
Kembali, hanya sebuah senyuman yang terukir dibibir Airin. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Jika dia mengingkari janji, dia akan sangat menyakiti Vino. Hanya, jika dia tidak mengingkarinya, dia tidak akan pernah tahu tentang apa yang terjadi pada Sela.
***
Sela mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan tante Mia. Alasan mereka saling mendukung tentu saja karena ingin menyingkirkan Airin. Hanya saja, Sela juga tidak tahu siapa tante Mia sebenarnya.
"Dia mungkin akan menemuiku. Kau harus tahu apa yang akan kau lakukan," kata tante Mia.
"Tentu. Aku akan terlihat kasihan dan membuat Airin datang kesini. Lalu, kita bisa menjalankan misi kita."
Mereka tersenyum dengan senang. Mereka akan berhasil menjebak Airin dengan mudahnya. Airin memang tetap sama, wanita yang sering berbelas kasih tanpa memikirkan dirinya sendiri.