
Airin POV
Airin terbangun dengan perasaan yang lebih baik. Dia merasa lebih tenang dari sebelumnya. Untung saja Airin sudah memasang alarm, jika tidak. Dia akan terlambat menyiapkan semuanya milik Cika.
Airin bergegas masuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dan menyiapkan segalannya untuk mengikuti kegiatan hari ini. Airin sangat berharap jika hari ini akan menjadi hari yang baik.
Semua hal sudah Airij lakukan. Termasuk menyiapkan baju dan aksesoris yang akan digunakan Cika hari ini. Setelah itu Airin masuk ke dapur.
"Tolong buatkan roti panggang dan teh tawar untuk Cika. Aku akan membuat sarapanku sendiri," kata Airin pada koki di rumah Cika.
"Tapi, nona Cika tidak ingin kau melakukan hal sendiri. Biar aku masakan apa yang kau mau," kata koki itu dengan senyuman.
"Baiklah. Aku hanya ingin buah saja."
Setelah itu Airin kembali masuk ke dalam kamarnya. Airin mengecek ponsel, banyak sekali pesan dari Vino. Dia terus menerus menanyakan apa yang Airin lakukan. Dasar pria keras kepala.
"Rin, kau dimana?" teriak Cika.
Airin keluar dan langsung menemuinya. Dia terlihat sedang tidak senang pagi ini.
"Apa yang kau lakukan? apa kau tidak betah disini?" tanya Cika langsung.
Airin mengerjapkan matanya, "Apa yang kau maksud?" tanya Airin.
"Kau hanya meminta buah-buah dari kokiku. Kenapa? apa kau tidak suka makanan disini?"
Airin hanya bisa tertawa dengan keras. Airin kira ada masalah apa, ternyata hanya karena Airin meminta buah dan tidak meminta yang lain.
Airin mendekat dan menggandeng tangan Cika. Airin tahu, Cika tidak ingin Airin kelaparan disini. Hanya saja, jika sedang tidak ingin makan. Airin memilih untuk mengisi perutnya dengan buah.
"Jika pagi, aku memang lebih senang memakan buah. Jika siang, aku akan makan makanan yang berat." Jelas Airin pada Cika.
"Apa kau sedang berbohong? jangan-jangan kau sedang diet ya?"
"Kau tahu aku. Ayolah, nanti kau terlambat meeting pagi."
"Baiklah, baiklah."
Mereka turun untuk bersiap sarapan. Airin punya keluarga dan sahabat baru disini, di rumah ini. Semoga saja, masa lalu tidak terulang lagi. Airin sangat berharap.
***
Arja POV
Arja sudah siap dengan setelan jas dan dasi yang dipasangkan oleh Sela. Walau dengan rasa takut, tetap saja Sela berada di samping Arja.
"Apa kau tidak ingin sarapan?" tanya Sela.
"Tidak. Kau hanya perlu melakukan apa yang aku katakan."
Sela menunduk dengan pikiran kacau. Bagaimana tidak, di awal kehamilannya ini. Dia harus tetap melakukan apa yang dikatakan Arja. Jika dia menolak, bukan hanya harta yang hilang, tapi juga anak di dalam kandungannya.
"Kenapa diam? apa ada yang salah dengan dirimu?"
"Tidak. Aku hanya merasa tidak enak badan. Kau tahu, awal kehamilan..."
"Tidak usah berkata manja. Aku harus pergi sekarang," kata Arja tanpa memperdulikan Sela.
Dengan langkah panjang Arja keluar dari kamar. Dia merasa sangat senang, dia berhasil menjebak Sela dan memperalat dirinya.
Disisi lain, Sela memikirkan cara agar bisa membawa kembali hartanya dan pergi dari belenggu Arja. Semakin kesini, Sela hanya diperlakukan seperti pembantu.
Sela akan meminta bantuan Airin untuk melepaskan dirinya. Walau mungkin akan ada banyak penolakan yang terjadi. Sela sadar, apa yang dilakukannya pada Airin bukanlah hal biasa. Airin pasti tidak akan pernah memaafkannya.
"Antar aku ke kantor."
Seorang sopir dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Arja. Kini, semakin angkuh saja sikap Arja. Dia bahkan memikirkan hal gila untuk mendapatkan kembali wanita yang dipujanya.
***
Airin POV
Dengan banyaknya berkas seperti ini. Bagaimana Airin bisa selesai dengan cepat dan makan siang. Kenapa Cika begitu ceroboh dengan semua berkas-berkas ini. Kini, Airin yang harus membereskan semuanya sembari berkata tidak tentu.
Airin menoleh dan melihat Vino yang ada di hadapannya. Airin langsung tersenyum begitu melihatnya.
"Kau disini?" tanya Airin sembari meletakan berkas itu ke lemari.
"Ya, baru saja aku menjalankan rapat dengan Cika. Apa dia belum kembali kesini?" tanya Vino.
Airin menggeleng dengan tangan yang masih setia merapikan beberapa berkas itu. Hampir selesai dan Airin bisa makan siang, perutnya sudah sangat lapar.
"Sudah selesai?" tanya Cika sembari membuka pintu ruangannya, "kau disini?" tanyannya pada Vino.
Vino hanya tertawa renyah mendengar ucapan Cika.
"Aku tahu kau sangat merindukan kekasihmu ini. Hanya saja, dia sedang bekerja."
"Kau ini," kata Airin pada Cika.
"Sudahlah. Tidak usah malu-malu lagi, tante sudah mengatakan semuanya padaku. Kalian saja yang menyembunyikannya dariku," kata Cika panjang lebar.
Berkas terakhir sudah Airin letakan di almari. Airin sudah selesai mengerjakan tugasnya. Sementara Cika dan Vino masih sibuk berdebat tentang hubungan palsu yang Airin dan Vino buat.
"Sepertinya Airin sudah selesai. Biarkan dia makan siang denganku."
Lucu rasanya melihat Vino meminta ijin pada Cika. Cika hanya bisa mengangguk setuju, mungkin dia juga akan makan siang dengan Jay. Jadi, Airin bisa istirahat sebentar.
"Nant kau bisa langsung pulang. Aku sudah ada janji lain," kata Cika pada Airin.
"Baiklah. Aku pergi dulu."
"Kau memang sangat baik hati padaku," kata Vino pada Cika.
Vino hanya diam di samping Airin. Padahal dia tadi banyak sekali berkata saat di ruangan Cika. Mungkin dia sedang jaga image di depan para karyawan kantor.
Sampai saat kami di dalam lift. Masih saja tidak ada kata. Sedangkan Airin malas untuk membuka percakapan diantara kami.
"Apa kau benar mau menjadi istriku?" tanya Vino.
Hampir saja Airin tersedak karena apa yang dikataka Vino. Dia kembali menanyakan hal yang tidak masuk akal bagi Airin.
"Kita sama-sama tahu kalau hubungan ini tidak benar-benar ada. Kau juga sudah setuju, kenapa masih menanyakan hal itu."
"Aku kira kau akan berubah pikiran," kata Vino dengan raut wajah kecewa.
Airin langsung mengandeng tangannya, "Kita hanya teman baik dan terus seperti itu."
"Baiklah."
****
Arja POV
Sejak di rumah sakit. Sela tidak pernah berhasil membuat Airin datang menemuinya. Hal itu membuat Arja merasa kesal. Rasa rindu di dalam hatinya sudah tidak bisa di tahan lagi.
Dengan keputusan bulat. Akhirnya Arja memilih untuk datang ke kantor Cika. Airin masih bekerja disana. Jadi, kemungkinan besar mereka bisa bertemu disana.
Sampai di area kantor. Arja melihat hal yang membuatnya marah. Dia merasa terluka dengan apa yang dia lihat. Airin keluar dengan Vino di sampingnya, ditambah lagi mereka terlihat bahagia dengan tangan yang bersatu.
Brak, Arja memukul mobilnya sendiri. Matanya menatap tajam kearah Airin yang terlihat bahagia.
"Kenapa kau sangat mudah melupakan aku dan aku tersiksa karena dirimu," kata Arja.
Sopir yang melihat itu begidik ngeri. Arja sudah marah dan membuat apapun yang ada di sampingnya hancur.
"Kita pulang," kata Arja.
"Baik, Tuan."
Sopir itu kembali berbalik arah. Arja tidak tahan melihat hal itu. Dia merasa terluka dan tidak bisa berbuat apapun. Dia akan mencari cara lain agar Vino tidak bisa mendekati Airin lagi.
****