
Suasana rumah sakit cukup ramai hari ini. Airin harus bergantian menunggu nenek dengan Vino. Ya, rasanya aneh karena anak nenek tidak ada yang mau menunggu di rumah sakit. Bahkan tidak ada yang menjenguknya.
Airin tidak sengaja berpapasan dengan Maya dan Kenzo. Seharusnya memang Airin yang mengantarnya periksa. Namun, Maya menolak mentah-mentah dan memilih bersama dengan kekasihnya itu.
"Kenapa bisa seperti ini. Padahal bulan kemarin masih baik-baik saja."
Maya dan Kenzo terlihat gelisah. Mereka sedang membahas hasil pemeriksaan tadi pagi. Sepertinya ada yang salah, Airin mendekat. Setidaknya Airin tidak ingin memulai hubungan yang tidak baik ini.
"Ada apa dengan bayimu?" tanya Airin.
Bukan tatapan yang baik yang Airin terima. Melainkan tatapan tajam yang penuh dengan kebencian.
"Aku bertanya dengan baik. Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Semua ini karena kamu. Kamu yang membuat bayiku tidak sehat." Maya langsung berkata dengan suara yang tajam.
Beberapa orang yang lewat bahkan menatap kami dengan penuh tanya. Airin hanya menghela nafas dan bersiap untuk pergi. Percuma bicara baik-baik pada Maya, dia masih benci pada Airin.
"Pasti kamu yang sudah meracuni bayiku." Teriak Maya saat Airin sudah mulai berjalan pergi.
"Maya. Tenang dulu, ini karena kamu merokok dan masih meminum minuman keras." Kenzo mencoba menenangkan Maya.
"Bukan. Ini semua karena Airin yang ingin balas dendam. Dia tidak ingin aku melahirkan anak ini."
Seorang suster berlari kearah Airin dengan tangan membawa map. Dia terlihat gelisah dan panik.
"Apa anda keluarga dari nenek Is?" tanya suster itu.
"Ya."
"Mari ikut saya."
Langkah kaki Airin mencoba mengimbangi langkah kaki dari sang suster. Pasti sudah terjadi sesuatu pada Nenek. Airi merasa takut, dia memilih untuk mengabari Vino saat itu juga.
"Bagaimana keadaan nenek Is, Dok?" tanya Airin yang melihat seorang dokter keluar dari kamar rawat nenek.
Dokter itu terdiam sejenak, "Maaf mbak. Kami sudah mencoba sebisa kami, tapi..."
Pikiran Airin langsung kacau. Airin tidak menyangka jika akan terjadi hal ini. Kenapa harus Airin yang selalu kehilangan. Kenapa harus aku, pikir Airin.
"Mbak yang tenang ya," kata Suster itu.
Airin hanya diam seribu bahasa. Bahkan sampai saat Vino datang Airin hanya bisa diam. Menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Jadi nenek..."
"Ya. Kita tidak akan bisa bertemu nenek lagi. Untuk selamanya," lirih Airin.
Perlahan tangan Vino merengkuh tubuh Airin. Airin kembali di peluknya saat kehilangan seseorang. Dia yang memang selalu di samping Airin.
Prok prok prok. Suara tepuk tangan itu membuat Vino melepaskan pelukanya dari Airin. Mereka menoleh kearah yang sama.
"Arja." Airin menghambur kearahnya.
Saat tangan Airin akan memeluknya. Arja malah menarik tangan Airin dengan keras.
"Kenapa kau selalu membohongiku? aku sudah mencoba memberi rasa percayaku padamu. Tapi lagi-lagi kau membuat aku kecewa," kata Arja pada Airin.
"Arja. Ini nggak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin semuanya."
Arja tidak bergerak dan terus memegang tangan Airin. Tidak lama dua orang suster membawa nenek keluar dari dalam kamar rawat. Tentunya akan ada acara pemakaman.
"Nenek." Airin mencoba melepaskan dirinya, tapi Arja tidak melepaskan Airin sedikitpun, "Arja. Biarkan aku bertemu dengan nenek, untuk yang terakhir."
"Ayo kita pulang. Dia bukan nenekmu." Arja menarik tangan Airin keluar dari sana.
"Arja. Lepaskan aku."
Tidak ada jawaban. Arja terus membawa Airin pergi. Sementara Vino hanya menatap kepergian Airin dengan tatapan tidak rela.
Vino sangat ingin membuat senyuman Airin kembali. Sejak Vino tahu Airin sudah menikah dia merasa terluka. Lebih-lebih saat tahu Airin rela di duakan.
***
Arja bahkan tidak menoleh saat dia melempar vas bunga. Hingga mengenai kaca dan memecahkannya.
"Kamu terus saja marah tanpa mendengar penjelasanku. Untuk apa kita bersama jika seperti ini terus," teriak Airin.
"Semua ini juga karena kamu yang tidak bisa dipercaya." Teriak Arja pada Airin.
Tanpa pikir panjang. Airin langsung mengepak semua baju dan hal yang penting. Airin berniat pergi dan tidak ingin kembali lagi. Percuma saja dia disini, hasilnya akan sama saja.
"Mau kemana kamu?" tanya Arja dengan ketus.
"Bukan urusanmu."
"Jadi memang benar jika kamu yang meracuni Maya? kamu memang berniat membunuh bayiku."
"Aku tidak akan pernah menjelaskan apapun. Kamu tidak akan pernah berubah seperti dulu lagi. Lebih baik kita berpisah saja sekarang."
Airin mengambil tas slempang dan kopernya Arja sudah mencoba untuk menahan Airin, tapi Airin sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya.
"Jika kau keluar dari rumah ini. Itu tanda jika kau berselingkuh," kata Arja lagi.
Airin sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Arja. Dia benar-benar tidak terima dengan apa yang Arja tujukan padanya.
Di saat seperti ini. Maya dan Kenzo bahkan tidak datang. Mereka tidak perduli dengan kehidupan Arja. Kenapa juga Airin terus yang menjadi korban. Sedangkan Maya dan Kenzo bersenang-senang di luar sana.
Langkah kaki Airin entah mengarah kemana. Pikirannya sangat kacau. Tabungannya tinggal sedikit, Airin harus mencari tempat tinggal untuk sementara waktu. Airin juga harus mencari pekerjaan.
"Hei. Kenapa kamu disini? bawa koper besar lagi." Sela menghampiri Airin dengan senyuman.
Sepertinya Sela baru saja berbelanja. Terlihat dari barang belanjaanya. Airin kaget melihat Sela berada disana.
"Ayo ke rumahku. Kamu bisa cerita disana."
Tanpa meminta persetujuan dari Airin. Sela mengambil koper di tangan Airin. Dia mungkin tahu Airin sedang terkena masalah. Untuk saat ini, lebih baik Airin meminta bantuan pada Sela.
Beberapa pesan masuk ke dalam ponsel Airin. Bahkan panggilan masuk juga sangat banyak. Hampir semuanya dari Arja. Dia mengatakan sangat menyesal telah melakukan hal itu.
Aneh. Apa Arja memiliki kepribadian ganda. Dia bisa sangat mencintai Airin, tapi dia juga bisa sangat membenci Airin. Entahlah, jika memang Arja seperti itu. Seharusnya Airin tahu sejak awal. Kenapa muncul di saat Arja sudah menikah dengan Maya.
***
Rumah kontrakan yang cukup besar bagi Sela. Dia tinggal sendiri disini, tentunya agar lebih dekat saat pergi ke kantor. Di depan rumahnya juga ada sebuah taman kecil dengan bunga-bunga yang indah. Barang-barangnya juga mewah, Airin mengira Sela bekerja dengan sangat keras.
Airin hanya bisa diam dan terduduk. Jujur saja, Airin merasa malu pada Sela. Airin meminta bantuanya di saat seperti ini. Bahkan Airin tidak pernah ada di saat dia butuh.
"Minum dulu. Biar kamu bisa lebih tenang," kata Sela yang menyuguhkan minuman dingin, "Ada apa sebenarnya. Ceritakan saja semuanya."
Airin menghela nafas panjang. Sela adalah teman sekaligus kerabat Airin. Jadi, Airin bisa bicara dengan leluasa padanya.
Perlahan Airin menceritakan semuanya. Mulai dari awal pernikahan Airin dan akhirnya Arja berubah drastis. Sela hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jika seperti itu. Kamu bisa cari tahu tentang kepribadian ganda. Mungkin apa yang kamu pikirkan tentang Arja adalah benar."
"Ya. Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Banyak hal yang harus aku kerjakan."
Sela mencegah Airin pergi.
"Kau akan tinggal di mana?" tanya Sela membuat Airin hanya diam dan menundukan kepalanya.
"Kau bisa tinggal disini untuk sementara. Aku juga disini sendiri. Jangan sungkan, kau kan kakakku," kata Sela dengan tangan menepuk pundak Airin pelan.
"Terima kasih, Sela. Kau sangat baik padaku."
"Ayo. Kutunjukan kamarmu."
Sementara ini Airin tinggal disini dulu. Arja tidak akan tahu, Airin juga harus mencari cara agar Kenzo dan Maya ketahuan Arja. Pikiran Airin bercabang pada keadaan Arja, apa dia benar memiliki kepribadian ganda. Juga pada Kenzo dan Maya.
***