
Setelah selesai masak. Airin masih harus manyiapkan semuanya. Mulai dari piring dan hal lain.
Para pelayan menatap Airin sejak tadi. Sudah beberapa kali mereka melarang Airin memasak sendiri. Namun, Airin tidak bisa setiap hari hanya duduk diam sementara suaminya diurus oleh para pelayan.
"Sudah," kata Airin setelah selesai merapikan semuanya.
"Apa kau lelah?" Arja menarik Airin mendekat padanya.
Di sana tidak ada orang selain Airin dan Arja. Mungkin Arja yang sudah menyuruh para pelayan pergi. Mereka saling berhadapan. Mata mereka bertemu.
"Kau sangat berkeringat." Arja mengeluarkan sapu tangannya dan mulai mengelap wajah Airin.
Airin tersenyum. Setelah selesai, Arja melepaskan celemek dari badan Airin.
"Kenapa kamu masak? apa ada hal yang sepesial?" tanya Arja dengan kerlingan mata.
"Ya. Kau yang membuat hari ini sepesial."
Arja hanya tertawa. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Airin. Namun, Airin menahan wajah itu.
"Makan dulu. Nanti kamu telat."
"Bisakah aku istirahat hari ini?"
Airin menggelengkan kepalanya. Jelas sekali jika Arja sedang ada maunya hari ini. Walaupun Airin ingin meluangkan waktu bersama Arja berdua. Tapi, Airin tidak mau mengganggu pekerjaanya.
***
Hubungan Airin dan Arja semakin dekat. Bahkan semakin mesra saja. Walau masih ada rasa takut yang menghantui di dalam hati Airin.
Malam ini mereka sudah memutuskan untuk berangkat bulan madu. Ya, bulan madu yang ke dua untuk mereka. Airin mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk memberikan kesempatan ke dua bagi Arja.
Suasana mall sangat ramai. Mungkin karena hari ini adalah minggu, jadi banyak yang datang. Airin akan membeli beberapa baju dan sebuah dasi untuk Arja.
Besok adalah ulang tahunya, Airin harus memberikan hal yang baik untuknya. Walau ini pertama kalinya Airin memberikan sebuah kado untuknya. Harganya memang tidak seberapa, tapi Airin yakin Arja akan menyukainya.
"Mau yang warna apa, Bu?" tanya pelayan toko pada Airin.
Sebenarnya aku masih bingung membelikan dasi warna apa. Setahu Airin, Arja hanya suka warna-warna gelap. Tapi, Airin juga ingin Arja memakai warna lain.
"Ini saja. Sangat cocok untuk suamimu?" seorang wanita menyarankan Airin memberikan dasi warna coklat dengan garis miring.
Benar. Dibayangkan saja sudah sangat cocok dengan Arja.
"Terima kasih," kata Airin pada wanita itu.
Tunggu dulu, kenapa dia tahu Airin akan memberikan dasi ini pada suaminya. Airin menoleh kearah wanita itu. Kejutan yang manis, ada Sela disana.
"Kau disini?" tanya Airin dengan riang.
Sela terlihat kecewa, "Kau baru menyadarinya?"
"Maaf. Aku terlalu memikirkan hadiah untuk Arja."
Sela tersenyum dan menggandeng tangan Airin.
"Aku tahu. Hubungan kamu pasti berjalan dengan baik."
Airin hanya mengangguk. Setelah selesai membayar Airin langsung pergi dari toko itu. Mereka memilih untuk mencari cafe dan memakan makanan manis disana.
"Sedang apa kau disana tadi?" tanya Airin pada Sela.
Wajahnya berubah, terlihat sekali dia sedang menyimpan malu. Wajahnya begitu merah kali ini.
"Aku tahu. Pasti untuk kekasihmu?" tanya Airin.
Sela menganggukan kepalanya dengan senyuman. Brak. Tanpa sengaja Airin dan Sela menabrak seseorang.
"Maaf, maaf sekali," kata Airin pada pria itu.
"Tidak apa. Kalian mau kemana?"
Vino. Dia disini? bukankah seharusnya dia di kantor. Vino memberikan senyuman pada Airin dan Sela. Sela yang memang masih menjadi bawahan Vino hanya bisa menundukan kepalanya.
"Kenapa kau ada disini? sebentar lagi waktu makan siang habis. Cepatlah kembali ke kantor," kata Vino dengan tegas.
Hal itu membuat Sela semakin cemberut. Tanganya yang sudah membawa bungkusan hanya bisa meremas-remasnya. Sela menoleh pada Airin dengan senyuman paksaan.
"Sela tunggu," Airin mencoba menyusulnya. Tapi tangan Vino sudah keburu mendapatkan Airin.
Dia menarik Airin kearahnya. Dia menyuruh Sela pergi hanya karena ingin bicara dengan Airin. Airin menatap matanya, Vino hanya menyunggingkan senyumannya.
"Lepaskan aku. Ini di depan umum," kata Airin.
"Jadi, jika bukan di depan umum. Aku bisa melakukannya."
Dengan keras Airin menghentakkan tangannya. Pegangan tangan Vino terlepas. Malas berdebat, Airin melangkahkan kaki untuk pergi.
Vino mencoba menyejajarkan langkahnya di samping Airin. Dia terus mengatakan hal yang tidak ingin Airin dengar. Bahkan rasa hormat Airin padanya semakin berkurang. Kata cinta masih terucap dari bibirnya tanpa ada sekat.
"Jangan ikuti aku," kata Airin dengan kesal.
Vino tersenyum, "Siapa yang mengikutimu. Kekasihku bahkan sudah ada disini."
"Apa kau bilang?" kata Airin dengan keras.
"Ada apa ini?"
Entah dari mana datangnya Cika. Dia langsung mendekat dan menggelayut manja di lengan Vino. Malu, itu yang Airin rasakan. Jelas sekali jika Vino bahagia melihat Airin seperti ini.
"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Cika bergantian menatap Airin dan Vino.
"Tidak."
Jawaban kami yang bersamaan membuat Cika merasa aneh.
"Cika. Aku harus pergi dulu, selamat bersenang-senang," kata Airin.
Cika menganggukan kepalanya. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Semoga saja dia tidak tahu tentang apa yang dikatakan oleh Vino pada Airin tadi. Atau, dia akan membenci Airin dan Vino.
***
"Sudah siap," kata Airin dengan tangan yang berada di pinggang.
Baru saja Airin selesai mengepak barang yang akan Airin dan Arja bawa. Arja pasti masih di jalan dan terjebak macet. Lebih baik Airin menunggunya di bawah. Dia pasti senang dengan apa yang sudah Airin lakukan.
"Nyonya, tuan sudah pulang," kata seorang pelayan saat Airin baru saja keluar dari dalam kamar.
Dengan senang Airin melangkahkan kakinya ke bawah. Beberapa anak tangga bahkan Airin lompati. Tentunya agar dia lebih cepat menemui Arja.
Saat sampai di bawah. Airin melihat Arja sedang menelfon seseorang. Dia terlihat marah dan kesal. Dia bahkan melewati Airin begitu saja. Karena tidak mau mengganggu, Airin memilih untuk ke dapur dan membuatkan minum.
Kali ini, Arja duduk dengan kancing jas terbuka. Ponselnya tergeletak tidak jauh dari tempat duduknya. Sedangkan tasnya berada di lantai rumah.
"Minum dulu," Airin menyodorkan minuman dingin untuk Arja.
"Terima kasih."
Arja tersenyum dan mengambil minuman di tangan Airin. Airin duduk di sampingnya dan memijat pelan bahunya. Mungkin dia akan merasa lebih tenang.
"Ada apa? apa ada masalah yang membuatmu kesal?" tanya Airin pelan.
Arja menghela nafas, "Sayang. Maafkan aku."
Bingung. Aku sangat bingung dengan ucapan Arja. Kenapa dia meminta maaf.
"Kita tidak bisa berangkat nanti malam. Di kantor ada banyak masalah." Arja terlihat kesal.
Airin hanya diam. Kecewa? jelas Airin merasakannya. Setelah Airin memberikan kesempatan, kini kesempatan itu yang menjauh darinya. Kesalahan apa yang sudah aku buat? pikir Airin.
"Kau marah?" tanya Arja.
Menggeleng, itu yang Airin lakukan. Airin tidak mau menjadi beban tambahan untuk Arja. Dia sedang memiliki masalah, Airin harus mendukungnya. Bukannya menjadi beban.
"Tidak masalah. Kita bisa berangkat di lain waktu. Tentunya, setelah semuanya berjalan dengan baik," kata Airin.
Arja memeluk tubuh Airin dengan erat. Ucapan maaf dan terima kasih keluar dari bibirnya. Dia merasa menyesal sudah membuat Airin kecewa.
Besok adalah hari ulang tahun Arja. Jika Airin tidak bisa keluar dengan Arja. Lebih baik Airin membuat kejutan kecil untuknya. Dia mungkin akan merasa tenang dan senang.
***