
Malam semakin larut Bulan sudah memancarkan sinarnya di temani bintang-bintang. Bahkan, rasa dingin merasuk ke tubuh Airin.
Sangat indah memandangi bulan dan bintang. Airin merasa dirinya hanyalah boneka yang bisa dimainkan kapanpun oleh Arja. Bahkan, Airin tidak bisa keluar dari kondisi ini. Airin merasa hidupnya hanyalah sebuah lelucon semata.
Tok tok tok. Ya, sejak tadi Arja mencoba membuat Airin membuka pintu dan keluar dari kamar. Namun, Airin tidak ingin, rasa lapar tidak menghampiri Airin sama sekali. Tidak ada alasan untuk dirinya keluar dari kurungan ini.
"Airin. Aku mohon, aku tidak mau kamu sakit," kata Arja dari balik pintu kamar.
Di saat seperti ini. Bayangan Vino perlahan datang dan memenuhi kelopak mata Airin. Jika memang Airin memiliki perasaan untuknya, maka Airin akan sangat merasa berdosa. Ya, jika aku mencintai Vino, maka aku adalah penghianat bagi Arja, pikir Airin.
"Airin. Apa kamu tidak mau memaafkan aku?"
Airin merasa sangat terluka. Di lubuk hatinya, dia sangat ingin memaafkan Arja. Hanya saja, dia merasa takut dibohongi lagi. Dia juga merasa takut disakiti lagi.
"Walaupun kau membenciku, aku tidak akan pernah menceraikan kamu."
Ya. Airin masih saja diam dan tidak membalas semua perkataan Arja. Airin ingin dia juga merasakan luka yang sama. Di diamkan dan tidak di percaya. Merasa sendiri dan tidak ada yang memperdulikan.
"Sudahlah, Arja. Dia tidak akan memaafkan kamu. Kita ke kamar saja," kata Maya dengan nada menenangkan untuk Arja.
"Semua ini karena kamu," kata Arja dengan nada bentakan.
"Kau marah padaku? bukankah kau sendiri yang tidak pernah percaya dengan istri pertamamu."
Plak. Arja menampar wajah Maya dengan keras. Baru kali ini, Airin mendengar Arja berkata kasar dan seolah tidak perduli pada Maya. Apa yang sebenarnya terjadi, Arja bahkan tidak peduli dengan anak yang dikandung Maya.
"Diam dan biarkan aku sendiri," kata Arja.
Merasa sudah dilukai oleh Arja. Maya berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia menangis dan merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan Arja padanya.
***
Melihat Arja duduk sendirian. Kenzo mendekat dan duduk di kursi, tidak jaub dari Arja duduk.
"Kenapa kau menampar Maya? kau sudah janji tidak akan menyakitinya."
"Itu karena dia terlalu cerewet dan mengaturku," ucap Arja tanpa menoleh pada Kenzo.
Kenzo tersenyum, "Bagaimana jika aku mengatakan semua ini pada wanita itu. Kau tahu jika dia juga akan terkena imbasnya."
"Jangan mengancamku." Kali ini Arja menoleh pada Kenzo.
"Aku tidak mengancam. Bukankah kita sudah sepakat?"
Arja hanya bisa mengangguk, "Baiklah. Aku janji tidak akan melakukannya lagi."
Setelah percakapan itu. Kenzo memilih pergi dan meninggalkan Arja sendirian.
***
Airin terbangun saat sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Vino, nama itu yang tertera di layar ponsel Airin.
"Selamat pagi," ucap Vino.
"Pagi, ada apa menelfon sepagi ini?" tanya Airin yang penasaran kenapa Vino menelfon.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu kabarmu."
"Aku baik saja," ujar Airin.
Terdengar jika Vino menghela nafas lega, "Aku senang mendengarnya. Jika ada apa-apa kabari aku," ucap Vino.
"Baiklah."
Setelah itu Airin memutuskan telfon dan memilih kembali menarik selimut. Suara di dapur sangat ramai, mungkin para pelayan sedang menyiapkan sarapan.
Perut Airin merasakan lapar. Namun, Airin masih tidak ingin berhadapan dengan Arja. Jika Airin menyuruh pelayan datang, pasti Arja juga akan datang. Akhirnya Airin mengurungkan niatnya.
Airin memutuskan untuk bersiap. Sela pasti akan menerima dengan senang hati kedatangannya. Setidaknya, dia masih memiliki keluarga untuk berbagi kesedihan.
"Airin," panggil Arja.
Airin kaget saat melihat Arja sudah di depan pintu dengan nampan berisi makanan dan minuman.
Airin masih diam di tempat dengan ponsel di tangan kirinya. Tas sudah Airin bawa karena dia memang sudah siap untuk pergi.
"Aku akan pergi." Airin melewati Arja begitu saja.
Arja meletakan nampan itu di lantai dan dia menarik Airin ke dalam pelukanya. Dia memeluk pinggang Airin dengan sangat erat.
"Di sini aku yang menjadi pemilik. Kau hanya perlu mengikutiku, aku suamimu," kata Arja.
Airin menatap matanya. Airin kira Arja benar-benar sudah menyesal. Ternyata sama saja dengan hari kemarin, dia menganggap Airin hanya sebatas boneka saja.
"Tidak perduli apa katamu. Aku punya hidup sendiri. Aku bukan bonekamu."
"Kau istriku bukan sebuah boneka."
Airin tidak menyangka jika Arja akan mengatakan hal itu. Airin hanya bisa tertawa kecil dan mendorongnya menjauh.
"Lebih baik, kamu urusi saja istri keduamu. Aku ada urusan lain," kata Airin.
Arja menatap kepergian Airin. Sampai saat Airin menuruni tangga.
"Apa kau benar membenciku?" tanya Arja.
Diam. Airin berhenti beberapa saat di tangga. Jika dikatakan dia membenci Arja, mungkin Airin tidak membencinya. Hanya saja rasa cinta Airin sudah mulai pudar. Mungkin karena perlakuan Arja selama ini.
"Kau bisa tanyakan pada dirimu."
Setelah mengatakannya Airin langsung pergi bergitu saja. dia bahkan tidak melihat wajah Arja sebelum benar-benar pergi.
Kembali, bayangan Vino membuat Airin semakin merasa bersalah. Airin merasa perasaannya pada Vino bukanlah cinya yang sesungguhnya. Dia hanya merasa rindu karena sudah biasa bersama.
***
Melihat rumah yang dulu Airin tempati. Sudah banyak berubah, banyak tanaman yang sudah diganti dengan yang baru. Cat rumah ini juga sudah diganti, yang awalnya biru kini menjadi hijau.
Terlihat sepi dan menenangkan. Tidak ada kerusuhan para pelayan hanya untuk membuat sarapan. Hanya ada pemandangan hijau yang menyejukkan mata.
Perlahan, Airin melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah itu. Beberapa kali Airin menekan bel hingga akhirnya pintu itu terbuka.
"Airin, kamu datang?" tanya nenek dengan sebuah senyuman.
Airin tidak menawab, hanya pelukan yang Airin berikan. Sudah sangat lama sejak Airin datang ke sini. Dulu, Airin sering kesini dengan Vino, Walau hanya untuk bermain.
"Bagaimana kabar, Nenek?" tanya Airin.
Nenek tersenyum dan mengajak Airin masuk. Seperti anak kecil, Airin hanya membuntutuinya. Nenek bukanlah nenek kandung Airin. Dia adalah nenek yang jauh dari anaknya, hanya Airin dan Vino yang sejak dulu menemani. Sampai Airin diajak paman pindah, begitupun Vino.
"Kamu dan Vino sudah besar. Pasti di luar sana sangat indah, sampai kalian sangat jarang datang kesini," kata Nenek.
Seorang pembantu yang masih muda datang membawakan dua minuman. Untuk Airin dan untuk Nenek.
"bagiku, di luar sana tidaklah indah. Indah di sini, bersama dengan nenek."
"Apa kau sedang ada masalah?"
Airin menggeleng dengan cepat. Sebisa mungkin Airin menutupi semua ini. Mana mungkin Airin datang kesini dan hanya membawa berita sedih. Untuk seorang nenek yang sudah tua, lebih baik kabarkan sesuatu yang baik-baik saja.
"Apa kau dan Vino masih saling berhubungan?" tanya nenek.
Airin mengangguk, "Ya. Kami masih sering berhubungan, lain kali aku akan membawanya ke sini," kata Airin dengan senyuman.
"Nenek menantikan hari itu," kata Nenek.
Kami membicarakan banyak hal. Mengenang masa lalu dan tentunya membahas hal yang menarik.
Disini, Airin kembali menemukan hari di mana dia belum mengenal cinta. Hari di mana dia masih merasakan bahagia tanpa beban. Hari di mana dia tidak membohongi dirinya sendiri dan orang lain.
Airin tahu, perasaan yang muncul untuk Vino adalah salah. Tidak seharusnya Airin memiliki perasaan ini lagi. Apa lagi, mereka sudah memiliki hidup masing-masing. Dan Airin tahu hidup memiliki rasa yang beragam, kadang manis kadang juga pahit. Hanya saja Mereka harus selalu bersyukur.
***