My Love My Pain

My Love My Pain
Diculik



Airin dan Vino sedang berada disebuah gedung. Begitu juga dengan mama Vino, kali ini mereka akan mengukur badan untuk membuat baju pernikahan. Airin dan Vino sebenarnya tidak ingin hal semacam itu, hanya saja mereka harus menuruti apa yang dikatakan mama Vino.


"Airin. Sekarang giliranmu," kata mama Vino.


Airin hanya mengangguk. Lalu mengikuti seorang wanita yang akan mengukur badanya. Airin juga diharuskan memilih model baju sendiri. Airin hanya memilih baju yang sederhana.


Setelah Airin selesai. Dia kembali pada mama Vino dan Vino. Sekarang, giliran Vino yang masuk untuk diukur badanya. Airin dan mama Vino menunggu dengan banyak obrolan. Sampai sebuah telfon masuk ke ponsel mama Vino.


"Tunggu sebentar, Rin. Mama akan angkat telfon lebih dulu."


"Baik, Ma."


Mama Vino keluar untuk mengangkat telfon itu. Sementara Airin duduk dengan tenang, dia membaca sebuah majalah yang disediakan oleh pihak butik. Banyak hal yang Airin tidak tahu tentang busana.


Seseorang masuk dengan tangan membawa nampan. Di nampan itu ada tiga cangkir teh dan beberapa kue. Airin tidak tahu jika disana juga ada hal semacam ini.


"Ini perintah dari Nyonya yang baru saja keluar," kata wanita itu.


"Terima kasih," ucap Airin.


Dia mengambil sebuah cangkir dan mulai meminum teh yang ada di dalamnya. Awalnya, Airin merasa biasa saja. Sampai dia merasa kepalanya berkunang-kunang. Dia juga merasa mual.


Saat Airin akan bangun dan masuk ke toilet. Wanita tadi menahan Airin dengan kuat. Lalu membekap mulut Airin dengan sebuah tisu. Perlahan, pandangan Airin mulai pudar, lalu dia pingsan di pelukan wanita itu.


"Akhirnya tugasku selesai," kata wanita itu.


Dengan susah payah. Wanita itu membawa Airin keluar dari gedung. Entah Airin akan dibawa kemana. Yang jelas, wanita itu merasa puas dengan uang yang masuk ke rekeningnya.


***


Vino keluar dengan senyuman, tapi tidak ada siapapun yang menunggunya. Sampai tidak berapa lama mama Vino masuk kembali.


"Dimana Airin, Ma?" tanya Vino pada mamanya.


"Bukankah dia disini bersamamu," kata mama Vino.


Vino sudah mencoba mencarinya ke toilet maupun keruangan lain. Tidak ada dimanapun, kali ini Vino merasa khawatir dan tidak tenang. Dia menelfon beberapa kali ke ponsel Airin. Namun tidak ada yang menjawab.


"Ma, Airin tidak mengangkat telfonnya," kata Vino.


Mama Vino mencoba menenangkan anaknya itu, "Kita cari di gedung ini. Kalau belum ketemu juga, kita lapor kepolisi."


Vino dan mamanya berpencar untuk mencari Airin. Dibantu oleh beberapa karyawan digedung itu. Nihil, hasilnya membuat Vino merasa sangat kacau. Dia sangat ingin menjaga Airin, dan sekarang Airin entah berada dimana.


"Pak, apa tadi bapak yang meminta dikirim teh dan kudapan?" tanya seorang karyawan.


Vino menggeleng.


"Berarti, aku sudah ditipu. Ada seorang wanita yang menyiapkan teh dan juga kudapan untuk ruangan yang bapak sewa."


Vino sudah tahu siapa yang ada di balik semua ini. Dengan amarah yang memuncak, Vino masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas. Dia tidak ingin calon istrinya terkena apa-apa.


Mama Vino tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak menyangka jika akan terjadi hal semacam ini. Padahal hanya sebentar mama Vino meninggalkan Airin.


Melihat anaknya yang sudah kalap. Mama Vino memilih untuk meminta bantuan pada polisi. Dia juga meminta anak buahnya untuk mencari dimana calon menantunya.


"Bu, bagaimana dengan baju dan..."


"Apa kau tidak lihat? gara-gara calon menantuku aku bawa kesini. Sekarang dia hilang," kata mama Vino dengan nada marah.


"Ma...maaf, Bu."


Mama Vino tidak menjawab. Dia keluar dengan perasaan bersalah pada anaknya. Bagaimana tidak, Vino sangat keras mengejar Airin. Sekarang, dengan mudahnya ada yang mengambil Airin dari sisi Vino. Hal ini membuat mama Vino memutar otak dengan sangat keras.


***


Gelap. Airin tidak bisa melihat apapun disekelilingnya. Dia juga merasakan kepalanya sangat pusing. Airin mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya.


Klik. Lampu menyala dengan cukup terang. Airin melihat tumpukan kardus dan barang-barang yang terlihat kotor. Seorang wanita masuk dan menatap pada Airin.


Kini, Airin ingat apa yang sudah terjadi. Dia ingat apa yang terjadi padanya saat ini. Airin menatap wanita yang memakai baju super ketat dengan pisau di tangannya.


"Apa maumu?" tanya Airin.


"Gadis manis. Aku tidak mau apapun darimu, aku hanya menjalankan tugas disini."


Airin tersenyum kecut, meratapi apa yang sudah terjadi padanya.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini? Aku bisa membayarmu lebih dari orang itu."


Wanita itu tertawa dengan keras. Dia mendekat pada Airin dan plak. Sebuah tamparan mendarat pada pipi Airin. Beberapa kali tamparan itu melayang pada pipi Airin.


Sakit, jelas Airin merasakan sakit diwajahnya. Hanya saja, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Selain merasakan apa yang dia rasakan saat ini.


"Kamu kira, aku akan menerima tawaranmu?" wanita itu mencengkram wajah Airin dengan keras, "aku bukan wanita yang mudah bernegosiasi."


"Lalu maumu apa?"


"Sudah aku bilang aku tidak mau apapun. Disini, aku hanya perlu membuat kau lenyap dari dunia."


Airin diam. Dia merasa mendengar hal yang sangat mengerikan. Airin tidak pernah berfikir jika akan berada di situasi seperti ini. Bahkan bulu kuduknya berdiri saat mendengar apa yang diucapkan wanita itu.


Buk. Sebuah tendangan mendarat di perut Airin. Airin terguling dan meringis kesakitan. Airin masih berfikir siapa yang tega menyewa seorang penyiksa untuknya. Kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga dia harus seperti ini.


***


Buk. Sebuah pukulan mendarat di wajah Arja. Dengan emosi yang memuncak, Vino melayangkan beberapa pukulan pada Arja. Diam, itu yang dilakukan oleh Arja.


Setelah meluapkan emosinya. Kini Vino terlihat lebih tenang, walau masih menatap Arja dengan penuh kebencian.


"Dimana kau sembunyikan Airin?" tanya Vino kemudian.


Arja menggeleng sekaligus terkejut dengan pertanyaan yang Vino lontarkan.


"Jangan bohong. Kau masih sangat mencintainya bukan? sampai kau mengambilnya dari sisiku dengan paksa."


Arja mendekat pada Vino, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan Vin."


"Jangan sok akrab denganku. Katakan saja dimana Airin saat ini?" tanya Vino.


"Aku benar-benar tidak tahu. Sejak tadi aku berada disini."


Kembali Vino bersiap akan memukul lagi kearah Arja. Namun, seseorang menahannya dari belakang. Jay, dia sedang berada disana dengan Cika.


Dengan kekuatan yang dimiliki Jay. Akhirnya Jay bisa membawa Vino keluar dari ruangan Arja. Sementara Cika menatap penuh tanya pada Arja.


"Apa kau benar-benar tidak melakukannya?" tanya Cika.


Arja benar-benar kesal dengan pertanyaan itu.


"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," kata Arja dengan keras.


Cika mulai mengatakan apa yang terjadi. Cika juga baru tahu saat mama Vino mengabarinya. Kaget, jelas Cika merasakan hal itu. Beberapa menit yang lalu dia masih berkirim pesan dengan sahabatnya itu. Sampai dia mendapat kabar tidak menyenangkan.


Arja diam mendengar apa yang dikatakan Cika, "Aku benar-benar tidak tahu. Aku memang masih mencintai Airin, tapi aku tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu."


Cika hanya bisa menghela nafas. Dilihat dari wajah Arja, dia terlihat jujur dan tidak melakukan hal itu. Akhirnya, Cika memutuskan untuk menyusul Jay. Dia harus menenangkan Vino sebelum dia kembali mengamuk.


Vino masih saja keluar dari kuncian Jay. Cika merasa kasihan melihat temannya itu. Dengan perlahan, Cika memegang pundak Vino.


"Apa yang kamu lakukan, Vin?" tanya Cika.


"Aku sedang mencari Airin."


"Benarkah? jika kau mencarinya kenapa harus ke kantor Arja. Kau tahu, Airin tidak akan kesini," kata Cika.


Vino mendengus kesal.


"Tenangkan dulu dirimu. Lalu, kita bisa lanjut mencari Airin."


Jay dan Cika terus mencoba menenangkan Vino. Apapun yang dilakukan Vino adalah rasa cintanya pada Airin.


Sementara itu, Arja mencoba menelfon Airin. Tetap tidak ada balasan ataupun telfon balik dari Airin. Kini, Arja juga merasa khawatir dengan apa yang terjadi. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Sembari mencari Airin di sepanjang jalan.


***


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya tante Mia pada Sela.


Sela tersenyum pada tante Mia, "Aku melakukan hal yang seharusnya dari dulu aku lakukan."


"Tenang saja. Aku tidak akan melibatkan kamu," kata Sela sembari menepuk pipi tante Mia.


Baru kali ini tante Mia melihat sifat Sela yang mengerikan. Kali ini, tante Mia merasa waspada dengan tingkah Sela. Tante Mia sudah meremehkan Sela. Dia kira, Sela adalah gadis lugu dan penurut. Ternyata, Sela bukanlah gadis seperti itu.


"Tante, kenapa tante memandangku seperti itu?" tanya Sela, "aku bahkan sangat berterima kasih karena tante sudah mengatakan semuanya padaku."


Tante Mia hanya tersenyum tipis.


"Mulai saat ini, aku dan tante adalah teman. Kita memiliki tujuan yang sama."


Brak. Sela dan tante Mia menoleh kearah yang sama. Arja masuk dengan wajah yang khawatir. Dia bahkan tidak menyapa Sela seperti tadi pagi.


Sela langsung mengikuti langkah kaki Arja masuk ke ruang kerja. Tahu, jelas Sela tahu semuanya. Hanya saja dia akan menanyakan semuanya pada calon suaminya itu.


"Ada apa kau datang dengan wajah khawatir?" tanya Sela dengan senyumannya.


Arja meletakan tasnya dan menoleh pada Sela. Dia mendekat pada Sela dan langsung memeluknya dengan erat. Diam, hanya itu yang bisa Sela lakukan.


"Sel, apa Airin menelfon ke rumah? apa dia meminta tolong?" tanya Arja saat memeluk Sela.


Sela mendorong tubuh Arja, ada rasa kesal saat mendengar nama Airin di sebutkan oleh Arja.


"Apa dia menelfon?" tanya Arja lagi.


"Tidak. Memangnya ada apa?" tanya Sela pura-pura tidak tahu.


Arja tersenyum tipis. Dia mengatakan apa yang sudah terjadi padanya. Dia juga mengatakan pada Sela perihal di kantor.


Sela merasa apa yang dikatakan tante Mia benar. Arja hanya ingin anak di ramih Sela, walau sekuat apapun Sela mencoba meraih hati Arja. Tetap saja hati itu terpaut pada satu wanita. Airin.


"Lalu, bagaimana keadaan Airin?" kali ini wajah Sela terlihat khawatir.


"Entahlah. Aku juga belum tahu, anak buahku belum ada yang melapor."


Tante Mia mendengarkan semuanya. Dia kaget saat tahu jika anak buah Arja juga turun tangan. Jika begini, Sela pasti akan ketahuan. Jika dia ketahuan, pasti dia juga akan mengatakan hubungannya dengan tante Mia.


Sela keluar dari ruangan Arja dengan senyuman puas. Dia merasa dendamnya agan segera selesai. Airin akan ditemukan tidak bernyawa.


Sret. Tante Mia langsung menyeret Sela masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap tajam pada Sela yang memainkan kuku jarinya.


"Ada apa?"


"Apa kau bodoh?" tanya tante Sela.


"Maksud tante apa. Tujuan kita hampir tercapai," kata Sela dengan sombongnya.


Tante Mia menggeleng, "Apa kau tahu seberapa besar kekuatan anak buah Arja? belum lagi orang dari keluarga Vino," kata tante Mia, "Jika Ais ketahuan, dia akan mengatakan segalannya. Kita akan tamat."


"Maksud tante?"


Tante Mia kembali diam. Dia merasa jika Sela benar-benar bodoh. Dia tidak tahu apapun tentang Arja atau Vino. Yang dia tahu hanya cinta butanya pada Arja.


Tante Mia langsung mengambil ponsel dari saku baju Sela. Tepat saat ponsel itu berada di tangan tante Mia. Ais menelfon.


"Aku sudah melakukan apa yang kau mau. Hanya saja, aku belum membunuhnya. Aku masih ingin bermain dengannya," kata Ais dari seberang sana.


Tante Mia menatap pada Sela. Sedangkan Sela hanya mengedikkan bahunya.


"Bagaimana dengan bayaranku?" tanya Ais lagi.


"Cepat pergi dari tempatmu sekarang. Anak buah Arja dan Vino sedang mencari Airin. Aku tidak mau kau tertangkap," kata tante Mia.


"Lalu bagaimana dengan bayaranku?"


Sela hanya tersenyum, "Aku akan membayar lunas. Kita bertemu di perusahaanku. Mia Corp."


"Ok. Aku akan tinggalkan gadis ini disini."


Tante Mia mematikan telfonya. Dia kembali memberikan ponsel itu pada Sela. Sela hanya senyam senyum saja, membuat tante Mia merasa sangat bodoh.


"Lain kali, katakan apa yang mau kau lakukan. Kita harus merencanakannya dulu."


"Aku melakukan ini karena apa yang kamu katakan."


Tante Mia menepuk keningnya sendiri dengan keras. Dia merasa wanita di depannya ini sangat licik, nyatanya Sela tetaplah gadis bodoh yang ceroboh.


"Mulai saat ini. Apa yang akan kau lakukan, katakan padaku lebih dulu. Kau tidak mau kan, Arja sampai tahu kau ingin membunuh Airin."


"Dia akan membenciku jika tahu."


"Ya. Jadi, turutilah apa yang aku katakan," kata tante Mia.


"Ok. Sekarang aku mau istirahat. Bayiku juga ingin tidur," kata Sela sembari mengelus perutnya.


Tante Mia hanya diam. Dia duduk di tepi tempat tidur. Dia harus bertemu dengan Ais dan mengatakan apa yang harus dia lakukan lagi. Sela benar-benar membuat tante Mia bekerja dua kali. Sela yang membuat masalah dan tante Mia yang harus mengurusnya.


***


Airin terbaring lemas dengan luka di seluruh tubuhnya. Dia terbangun masih di ruangan yang sama. Hanya saja, disana hanya ada dirinya. Tidak ada wanita yang sudah membuatnya seperti itu.


Dengan sekuat tenaga, Airin mencoba untuk bangun. Namun, dia masih belum bisa. Rasa sakit disekujur tubuhnya semakin sakit saat dia bergerak. Airin dengan susah payah menjangkau ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya pingsan.


"Kenapa nasibku begitu sial," ucap Airin lirih.


Batrai di ponselnya hanya tinggal beberapa persen lagi. Jika untuk menelfon, mungkin tidak akan bisa. Akhirnya, Airin memilih untuk mengirim pesan ke Vino.


Tolong aku.


Hanya pesan itu yang bisa dikirim oleh Airin. Dia sudah tidak sanggup lagi. Kembali Airin pingsan ditempat.


Sementara itu, Vino masih mencoba mencari Airin. Dia beberapa kali melihat kearah ponselnya. Dia sangat berharap jika wanitanya mengirim pesan. Benar tidak lama sebuah pesan masuk.


"Lacak nomor ini," kata Vino pada sekretarisnya.


"Baik."


Setelah tahu dimana letak Airin berada, Vino langsung mengabari semuanya. Jay, Cika dan juga mamanya. Mereka semua bergegas menuju ketempat yang sudah diberikan oleh Lola.


Ada rasa senang di dalam hati Vino saat tahu pesan dari Airin. Hanya saja, dia masih merasa khawatir dengan keadaan wanitanya itu.


"Pak, tolong hati-hati," kata Lola yang merasa jika Vino menyetir mobil sangat cepat.


Vino menoleh, "Kau hanya perlu diam."


Mau tidak mau akhirnya Lola hanya bertahan. Lola hanya bisa memejamkan matanya, dia merasa sangat takut kali ini. Bahkan, Lola masih sempat memikirkan tentang kekasihnya yang berada di mobil belakang.


Sampai di sebuah gedung tua. Vino langsung turun diikuti oleh beberapa orang. Mereka mencari dimana Airin berada, bahkan mereka juga memanggil nama Airin.


Sampai disebuah bangunan kecil di balik gedung tua itu. Vino berjalan perlahan, dia berharap wanitanya berada disana.


Brak. Vino membuka pintu itu dengan kasar. Benar saja, Airin tergeletak tidak berdaya di lantai ruangan itu. Dengan cepat, Vino mendekat pada Airin. Dia merasa tersakiti melihat luka yang berada ditubuh Airin.


"Airin, bangun, Rin. Aku sudah disini," kata Vino yang langsung memeluk tubuh Airin dengan erat.


Tidak berapa lama. Mama, Cika dan Jay datang, begitupun Lola dan orang lainnya. Cika langsung menelfon ambulance begitu melihat keadaan Airin.


"Rin, bangun."


Vino masih saja memanggil nama Airin. Dia juga mencoba membangunkan Airin. Namun, tidak ada respon dari Airin. Airin terlihat sangat lemah dengan luka lebam dimana-mana.


***


Airin sedang di tangani dokter. Sementara Vino hanya bisa duduk dengan gelisah. Dia bertekad untuk menemukan pelakunya yang sudah tega membuat Airin terluka.


"Vino, kamu tenang dulu," kata mama Vino.


"Bagaimana aku bisa tenang. Airin sedang terbaring penuh luka disana."


"Mama tahu, tapi bukan seperti ini kamu harus menyikapinya."


Cika mendekat, "Benar apa yang mama kamu katakan."


Vino memilih diam. Percuma saja berdebat. Keadaan Airin akan tetap sama. Sudah beberapa menit dokter belum juga keluar. Jay dan Cika memilih untuk pergi dulu.


Sementara mama Vino memilih untuk menemani anaknya. Jika ditinggal sendiri, Vino bisa melakukan hal yang diluar nalar. Hanya karena Airin, mama Vino bisa merasakan jika Vino benar-benar mencintai Airin.


***