
Banyak alasan yang membuat Airin enggan untuk ikut datang keacara resepsi itu. Alasaj yang utama adalah, Airin tidak ingin melihat senyum suaminya yang mengembang untuk wanita lain.
Airin sudah menggunakan baju rapi. Sejak tadi dia sudah siap, hanya hatinya saja yang belum siap. Semua orang yang berada di luar sana tidak dikenal oleh Airin. Dia pasti akan merasa terasingkan disana. Apa lagi, ada banyak wartawan. Mereka pasti akan mewawancarainya perilah pernikahan ini.
"Kamu masih disini?" tanya Sela yang baru saja datang. Dia sengaja ke rumah Airin. Dia tahu apa yang Airin rasakan.
"Aku tidak mau kesana."
"Kau bilang kau akan melakukannya dengan baik. Bukankah ini sudah keputusan kamu, Arja pasti menunggumu disana."
"Aku tahu, hanya..."
"Tidak ada kata penolakan. Ayo kita keluar, tamu sudah menunggu."
Airin hanya diam. Melihat hal itu, Sela langsung menggenggam tangan Airin dan menariknya keluar. Airin tampak kaget melihat apa yang dia lihat. Dekorasinya tidak seperti hari kemarin, kemarin acara ijab kobul yang bahkan Airin tidak keluar.
Sangat mewah dengan banyak tamu. Airin bahkan tidak tahu jika disana ada tempat berdansa. Deg, hati Airin rasanya sangat sakit. Arja, dia sedang berdansa dengan mesra bersama istri keduanya.
"Mau berdansa denganku?"
Airin menoleh. Vino, Airin kaget dan tidak bisa berkata apapun. Selama ini, Airih hanya memperlihatkan rasa bahagia dalam pernikahannya. Hanya karena tidak ingin Vino berharap, tapi kali ini semuanya akan terungkap.
"Kenapa melamun? apa ada suamimu disini?"
Sela hanya melirik kearah Vino dan Airin. Dia akan melihat reaksi Airin yang didekati Vino. Apa Arja akan marah?
"Lihatlah, dia istri pertama Arja. Dia bahkan datang keacara resepsi ini," kata seorang wartawan yang menunjuk kepada Airin.
Saling sahut menyahut para wartawan itu. Bahkan membuat Airin mendengarnya. Karena tidak senang, Airin memilih untuk pergi. Hanya saja, tangannya sudah digenggam oleh Vino.
"Apa maksud mereka mengatakannya?" tanya Vino.
Airin hanya bisa diam. Dia tidak mau jika Vino tahu, kalau Arja adalah suaminya. Suami yang tega menikah lagi.
"Airin adalah istri Arja yang pertama. Apa kau belum tahu tentang hal ini?" kata Sela sembari menepuk pundak Airin.
Airin tidak menyangka jika Sela mengatakan semuanya pada Vino. Vino yang kaget, dia tidak berkata apapun. Dia menatap wajah Airin yang menunduk. Ternyata, wanita yang terlihat bahagia itu memendam luka yang sangat dalam.
"Biarkan aku sendiri. Permisi."
Airin memilih meninggalkan tempat itu dan kembali mengurung diri di kamarnya. Airin pikir, dia akan merasa biasa saja dengan pernikahan ini. Ternyata, hatinya seperti disayat secara perlahan. Kenapa bisa dia memutuskan hal yang menyakitinya sendiri.
***
Semuanya sudah berubah. Arja tidak lagi di rumah itu. Hanya ada kenangan dan rasa yang tidak enak di dalam hatinya. Dengan langkah berat, Airin keluar dari kamarnya.
Harum masakan membuat pikirannya kacau. Dia mengira jika Arja masih disana, seperti hari kemarin. Dengan langkah cepat, Airin masuk ke dapur. Bukan Arja, seorang wanita yang mungkin lebih muda dariku. Dia sedang memasak.
"Ibu sudah bangun?" tanyanya dengan lembut dan penuh pengertian.
"Kau..siapa?" tanya Airin.
Wanita itu mendekat dan memperkenalkan dirinya pada Airin.
"Saya Ilin, Bu. Pembantu baru disini," kata Ilin.
"Siapa yang menyuruhmu disini?"
"Pak Arja."
Airin diam. Arja tidak ingin Airin kesepian. Jadi, dia memilih untuk memberinya seorang pembantu. Setidaknya Airin tidak akan sendirian di rumah besar itu.
***
Sore itu, Airin memilih berjalan-jalan disekitar komplek perumahannya. Dia mungkin akan merasa lebih segar dan bisa menerima kenyataan pahit itu. Bagaimanapun, cinta yang diberikan Arja sudah terbagi.
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ternyata dari bu Mela.
Ada urusan penting yang harus kita bicarakan. Tolong kamu ke rumah sakit dimana anakku dirawat.
Airin mengetikan sebuah balasan di ponselnya. Brak. Tanpa sadar Airin menabrak seseorang.
"Kau tidak apa-apa?"
Karena merasa tidak asing dengan suara itu. Airin mendongakkan kepalanya dan bertemu pandang dengan mata Vino.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Vino lagi.
"Tidak. Maaf, karena aku terlalu fokus pada ponselku."
"Tidak apa. Kau mau kemana?"
"Kebetulan sekali. Aku juga akan menemuinya. Kita bisa kesana bersama."
Airin terlihat ragu dengan ajakan itu. Jika dia ikut bersamanya, kemungkinan besar Vino akan menanyakan soal Arja. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana kesana dan pulangnya. Selama ini, dia selalu bersama Arja.
"Bagaimana?"
"Baiklah."
***
Sejak di dalam mobil sampai di rumah sakit. Tidak ada kata yang terucap, dari Airin maupun dari Vino. Mereka pun masuk ke dalam lift.
"Kenapa kau mau di duakan?" tanya Vino.
"Itu urusan pribadiku. Lebih baik tidak membahasnya."
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku."
"Kita tidak ada hubungan apapun. Jadi, aku tidak memiliki alasan untuk mengatakannya."
Vino kembali diam. Airin sudah benar-benar melupakannya dan hal itu membuat hatinya tergores. Tidak tahu kenapa, sampai detik ini. Vino masih saja berharap pada wanita bersuami itu.
Sampai di ruang rawat anak bu Mela. Tanpa basa-basi mereka mulai mendiskusikan sesuatu. Sementara Airin lebih banyak diam. Dia hanya mendengarkan dan sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Maaf, Pak," kata bu Mela.
"Tidak apa. Aku tahu keadaan kamu."
"Airin. Aku sangat berharap padamu, tolong bantu Pak Vino selama aku tidak ada."
"Baik, bu."
Jadi, bu Mela tidak akan ke kantor selama beberapa bulan. Dia akan fokus mengurus anaknya. Sementara Airin. Dia akan menggantikan pekerjaan bu Mela sampau waktu yang belum di tentukan.
"Kau ajari dia dulu. Aku akan ke bawah lebih dulu," kata Vino.
"Baik."
Setelah kepergian Vino. Bu Mela mulai mengajarkanku segalanya. Bagaimana menangani client yang cerewet dan client yang lebih suka diam. Ternyata bu Mela sangat ahli. Mungkin, karena dia sudah bekerja dalam bidang ini bertahun tahun.
Bu Mela menyerahkan tablet yang biasa di gunakannya. Dia juga memberi tahu Airin tentang letak berkas dan jadwal Vino. Banyak juga ternyata agenda Vino.
"Apa sudah semua, bu?" tanya Airin.
"Sudah. Kau bisa pergi. Pak Vino pasti sudah menunggumu."
"Ya, bu."
Aku membawa barang-barang itu di tanganku. Sampai di lantai terbawah. Aku mencari Vino, aku tidak ingin pulang dengannya. Nanti pasti akan ada gosip baru yang akan muncul. Tidak baik rasanya.
"Kau sudah disini?" tanya Vino.
"Ya. Aku akan pulang sendiri saja. Aku tidak mau ada skandal aneh."
"Kita searah. Aku akan mengantarmu."
"Tapi,..."
"Tidak ada tapi. Ayo masuk."
Akhirnya Airin masuk juga ke dalam mobil. Entah kenapa Airin merasa hatinya gelisah. Beberapa kali dia membenarkan posisi duduknya.
Sampai di depan rumah Airin. Airin melihat mohil Arja terparkir rapi. Pasti Arja disini, pikir Airin. Tanpa kata Airin turun dari mobil diikuti oleh Vino.
"Apa kau tidak menyuruhku masuk?" tanya Vino.
"Maaf..."
"Sedang apa kalian?"
Vino dan Airin langsung menolrh keasal suara. Arja berdiri diambang pintu dengan mata tajam terarah pada Airin. Melihat Airin hanya diam, Arja mendekat dan menggenggam tanganya.
"Jangan ganggu istriku."
Vino hanya diam dan melihat Airin yang ditarik masuk dengan paksa. Vino merasa bersalah sekaligus kasihan pada Airin. Andai saja waktu bisa diputar, dia pasti akan menemui Airin lebih cepat sebelum Arja.
***