
Airin bangun kesiangan dengan badan yang terasa remuk. Tidak ada hal yang Airin inginkan selain berendam air hangat. Setidaknya setresnya juga bisa hilang nantinya.
Dengan masih memakai piyama Airin turun untuk meminta kepala pelayan menyiapkan air untuknya berendam. Di meja makan Airin dengar suara tawa kecil. Sela, dia sudah lebih baik rupanya.
"Pagi," kata Airin datar.
Ya, Airin lihat Sela dan Arja yang sedang bergurau. Mereka terlihat senang dengan apa yang mereka lakukan.
"Dimana kepala pelayan?" tanya Airin pada pelayan yang sedang menyiapkan sarapan.
"Dia ada di kamar Sela."
Mendengar jawaban itu dari Arja. Airin bergegas pergi tanpa kata atau apapun. Airim harus belajar dari masa lalu. Jika Airin tidak bisa memiliki cintanya, setidaknya tidak ada yang bisa memiliki cinta itu.
"Apa kau tidak ingin sarapan?" tanya Sela.
"Aku sudah kenyang melihat kalian bergurau."
Akhirnya Airin bertemu dengan kepala pelayan di tangga. Dia akan bersiap turun dengan banyak barang.
"Siapkan air untukku berendam," kata Airin pada kepala pelayan.
"Tapi, Nyonya..."
"Letakan semua itu dan siapkan aku air untuk berendam. Aku tidak ingin ada alasan," kata Airin dengan keras.
Kepala pelayan meletakan semua barang yang dia bawa. Termasuk pakaian Sela yang akan dicuci. Airin kembali masuk ke dalam kamar dan melihat ponselnya. Vino, dia kembali mengabari Airin setelah sekian lama.
Apa kita bisa ke makam nenek bersama? Sudah lama kita tidak bertemu.
Itulah pesan yang Airin kirim untuk Vino. Setidaknya Airin masih memiliki teman, walau Vino tidak menganggapnya teman sekarang.
Kembali Airin letakan ponselnya ke atas meja. Airin duduk dengan selimut kecil melingkar di tubuhnya. Matanya menerawang jauh, jika Airin tetap menjadi Airin yang dulu. Nasibnya tidak akan berubah. Airin akan kembali di selingkuhi dan di sakiti. Sekarang Airin akan menjadi wanita lain, wanita yang akan membela haknya sebagai seorang istri.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Arja begitu masuk ke dalam kamar.
Airin menoleh dan tersenyum.
"Kenapa suamiku sepagi ini marah-marah. Bukankah seharusnya berangkat kerja seperti biasa."
"Kau, kau membuat Sela menangis. Dia terluka dengan ucapanmu."
Airin mengambilkan tas dan juga jas. Airin berikan pada Arja yang terus mengatakan jika Sela terluka karena perkataannya. Airin meletakan tas di tangan Arja.
"Apa kau pernah membelaku saat aku terluka? dulu, aku bahkan sampai kehilangan calon anakku karena kamu membela wanita lain."
Arja diam. Dia menggenggam tangan Airin dengan sangat erat, lebih tepatnya dia mencengkeram tangan Airin karena kesal.
"Aku sudah membiarkan kamu marah semalaman. Sekarang kau berubah menjadi wanita jahat hanya semalam," kata Arja pada Airin.
"Lepaskan tanganku. Ingat, aku tidak mau kembali di sakiti dan di selingkuhi. Aku masih memiliki hati. Paham?"
Arja akhirnya melepaskan tangan Airin. Dia kembali seperti waktu itu. Mungkin dia membutuhkan obat penenang itu lagi. Airin mengambilkannya dan meletakan di tangan Arja.
"Arja. Kau tidak sakit, kuatkan dirimu jika kau memang pria."
Tok tok tok.
"Nyonya, airnya sudah siap."
"Ya."
Airin melihat kearah Arja. Ada rasa takut kehilangan dan takut Arja terkena apa-apa. Hanya saja, Airin harus memiliki sebuah komitmen dalam dirinya. Airin tidak boleh kembali lemah hanya karena melihat Arja seperti ini.
Cup. Airin mengecup pipi kiri Arja dan keluar dari dalam kamar. Entah apa yang dipikirkan Arja saat ini. Setidaknya dia tidak akan meminum obat penenang itu saat ini.
***
Hampir satu jam Airin berendam dengan air hangat di temani musik yang mengalun merdu. Tidak tahu kenapa, Airin memiliki semangat lain dalam dirinya.
Setelah selesai berganti pakaian. Airin berniat untuk membuat makanan kecil. Tadi Airin sudah melewatkan sarapan. Kini perutnya meminta jatah untuk diisi.
"Nyonya, Nona Sela ingin bertemu," kata kepala pelayan saat Airin sedang membuat omelet sayur.
"Suruh dia menunggu. Aku juga perlu makan."
"Baik, Nyonya."
"Rin."
Sela berdiri dengan perban yang masih melingkar di kepalanya. Dia masih terlihat lemas dan pucat. Tidak seperti tadi pagi yang semangat bercanda dengan Arja.
"Apa? apa kau perlu sesuatu?" Airim meletakan piring ke meja.
"Maaf."
"Untuk?"
Sela kebingungan. Dia memainkan jarinya di baju. Airin menarik tangannya untuk duduk dan tidak berdiri saja.
"Katakan, ada apa?"
"Kau marah padaku kan? ya, jelas saja kau marah. Kau sudah sangat baik padaku, dan aku malah menghianatimu."
"Maksud kamu apa?"
"Jangan salahkan Arja, Rin. Semua salahku, saat kamu tidak di rumah. Aku selalu menggodanya."
Apa yang Airin dengar membuat dia menggeleng tidak percaya. Sela bukan tipe wanita semacam itu. Lalu kenapa bisa dia mengatakan hal itu di depannya. Dia juga mengakui perasaannya pada suami Airin.
"Ya. Aku tahu perasaan ini salah, tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini. Namun, saat di sisi Arja, aku merasa tenang dan iri padamu."
"Pergi dari sini sekarang," kata Airin tanpa melihat kearah Sela.
"Rin. Aku minta maaf, Arja tidak tahu tentang perasaan ini. Aku akan memendam semua ini, tolong jangan usir aku," kata Sela dengan berlutut di depan Airin.
"Aku bilang pergi dari sini sekarang juga."
"Rin, tolong Rin."
Airin menoleh pada Sela yang masih berlutut. Deraian air mata menemani kata-kata penyesalan dari bibirnya.
"Aku sudah terlalu baik padamu sampai kau memanfaatkan aku. Pergi, ini alamat ibumu. Dia pasti akan sangat membencimu jika tahu hal ini."
Airin melemparkan kertas berisi alamat tante pada Sela. Setelah itu, Airin masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan rapat. Airin terjatuh dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
Kenapa nasibnya selalu seperti ini. Ada saja yang mendekat dan menghianati. Airin tidak tahu kenapa jalan takdirnya seperti ini. Kini, Airin harus benar-benar menjadi orang lain.
Rasa kasihan dan simpati di hatinya harus berkurang. Dia tidak bisa terus menerus di manfaatkan dan di sakiti. Dia harus bisa berubah.
Sementara Sela hanya bisa menghapus air matanya. Dia membawa sebuah koper dan tas keluar dari rumah Airin. Airin belum tahu yang sebenarnya. Airin belum tahu siapa yang menjadi perebut sebenarnya. Dia ataukah Sela.
***
Matanya terlihat sangat sembab. Bagaimana Airin akan bertemu dengan Arja. Dia pasti tidak suka melihat Airin dengan keadaan seperti ini.
Airin pun menelfon Cika. Ya, Airin memang sudah beberapa kali berkirim pesan padanya. Airin meminta dia datang dan membantunya. Airin juga mengurungkan niatnya untuk pergi dengan Vino ke makam nenek.
"Apa yang terjadi?" tanya Cika begitu melihat Airin dengan mata sembab.
"Masuk dulu," kata Airin.
Di dalam kamar Airin menceritakan semuanya. Dia tidak tahu apa Cika bisa menjaga rahasia ini atau tidak. Yang jelas, kali ini Airin butuh seorang pendengar untuk isi hatiku.
"Lalu, kamu mau apa?"
"Aku ingin sepertimu," kata Airin dengan polos.
"Maksudmu?"
"Kamu cantik dan bisa diandalkan. Kamu juga seorang pebisnis. Setidaknya ajari aku agar menjadi wanita elegan. Aku yakin, setelah aku berubah. Arja tidak akan melirik wanita lain."
Cika menatap iba pada Airin. Airin tahu, takdirnya cukup mengenaskan.
"Baiklah, mulai besok kamu bisa ikut aku kemanapun. Jadilah asisten pribadiku, aku janji aku akan buat Arja benar-benar jatuh cinta padamu."
"Terima kasih."
Cika mengangguk, lalu memeluk Airindengan erat. Dia mencoba menguatkan Airin.
***