My Love My Pain

My Love My Pain
Pindah



Arja menyeret Airin masuk ke dalam kamar. Dia juga mengunci pintu itu. Sementara Airin hanya bisa menahan sakit di lengannya. Arja memegangnya dengan sangat keras.


"Kenapa kau bisa bersamanya? apa kau memiliki hal penting dengannya?" tanya Arja dengan keras.


"Aku bisa jelaskan semuanya, tapi lepaskan dulu tanganku. Sakit."


Bukannya melepaskan cengkraman tangannya. Arja malah semakin menekan, hingga Airin semakin mengaduh.


"Kau wanita bersuami. Kenapa kau berjalan-jalan dengan pria lain."


"Dia bosku, kau tahu itu. Kami ada urusan di rumah sakit."


"Rumah sakit?" tanya Arja.


"Ya."


Arja melepaskan tangannya dan mengelilingi tubuh Airin. Airin merasa sangat risih dengan tatapan itu.


"Bagaian mana saja dia menyentuhmu?" tanya Arja kemudian.


"Arja. Aku bisa jelaskan."


Tok tok tok.


Ketukan pintu membuat perdebatan Airin dan Arja terhanti. Mereka hanya bisa saling pandang. Saat Airin melangkah untuk membuka pintu.


"Kau diam disini," kata Arja dan membuka pintu itu sendiri.


Maya sudah berdiri dengan senyuman di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Arja.


"Kau bertanya padaku. Aku sudah masak, ini sudah waktunya makan malam."


"Baiklah. Ayo kita makan." Arja langsung memeluk pinggang Maya.


"Bagaimana dengan Airin."


"Biarkan saja."


Airin hanya bisa diam di tempat. Pintu kamarnya tertutup dengan sangat keras. Sebelum pintu itu tertutup, Airin hanya bisa menahan nafas melihat sikap suaminya pada Maya. Sangat halus.


***


Semalaman Airin tidak tidur. Perutnya terasa lapar, badanya juga lelah. Arja tidak membuka pintu itu sama sekali. Walau hanya untuk melihat kondisi Airin.


Brak. Pintu itu terbuka, Airin langsung bangun dari posisi berbaringnya. Berharap jika Arja datang dan membawakan makanan. Tidak, Arja hanya datang dan memberikan sebuah kunci rumah.


"Apa ini?" tanya Airin.


"Kau harus pergi dari rumah ini. Maya ingin tinggal disini," kata Arja tanpa menoleh pada Airin.


Airin tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dengan perlahan, Airin membuang kunci itu kesembarang tempat. Dia merasa kesal atas sikap Arja. Dia berjanji bisa adil pada kedua istrinya. Ternyata tidak, dia lebih memilih istri mudanya.


"Aku masih ingin disini," kata Airin dengan tatapan tegas.


Plak. Arja menampar Airin dengan keras. Arja benar-benar berubah setelah menikahi Maya. Dia bukan Arja yang lembut dan menyenangkan. Dia pria jahat dan berdarah dingin.


"Ilin. Siapkan semua barang Airin. Kamu juga ikut bersamanya, aku akan meminta pelayan lain di rumah ini."


"Arja."


"Pergi dari sini. Aku akan sering mengunjungimu disana."


Airin hanya diam. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dari pada membuat Arja semakin marah. Airin akhirnya menurut saja.


"Bu, sebelum pergi. Ibu makan dulu, ibu terlihat tidak enak badan," kata Ilin dengan penuh perhatian.


"Ilin. Aku tidak apa-apa. Siapkan saja mobilnya, kita harus pergi dari sini."


Kini, aku sadar. Janji kadang hanya tinggal janji. Tidak ada kata yang bisa dipetati saat hati sudah terlalu mencintai. Ya, Arja melupakan janjinya padaku. Dia lebih memilih untuk bersama dengan Maya. Di rumah ini, rumah yang selama ini menjadi istanaku.


***


Airin sudah sampai di rumah yang dipilihkan Arja. Rumah sederhana dengan taman kecil di depannya. Indah, walau tidak sebesar rumah Arja.


Airin meminta Ilin untuk membersihkan rumah dan merapikan semuanya. Walau berada di pinggiran. Rumah ini harus terlihat bersih dan nyaman ditempati.


"Bu, sebaiknya istirahat dulu. Ibu terlihat kurang sehat."


"Tidak. Hari ini, Vino ada rapat penting. Aku pergi dulu."


"Hati-hati di jalan, bu."


Airin mengambil tas di kursi dan berjalan menuju halte bus. Sudah tidak ada lagi Arja yang mengantar Airin. Kehidupan Airin berubah tiga ratus enam puluh derajat. Tidak ada lagi kemewahan.


***


Karena sedang tidak enak badan. Beberapa kali Airin harus berhenti bekerja dan pergi ke kantin untuk membeli minuman dingin. Dia merasa tubuhnya panas, begitupun dengan perutnya.


"Kenapa kau masih belum mengirimkan berkas ke ruanganku?" tanya Vino saat Airin akan membuka pintu ruangannya.


"Maaf, Pak. Hari ini..."


"Kau terlihat pucat. Apa kau sakit? apa Arja melakukan hal yang menyakitkan?"


"Ini bukan karena suamiku. Aku akan segera menyelesaikan tugas dan memberikannya pada bapak."


Airin sudah membuka pintu dan akan bersiap masuk. Vino menangkap tangan Airin dan membuat Airin kembali berbalik menghadapnya.


"Jangan sembunyikan apapun lagi. Apa yang dilakukan Arja padamu?"


"Dia sangat menyayangiku dan mencintaiku. Dia tidak melakukan hal jahat padaku, biarkan aku bekerja."


"Jika dia mencintaimu. Kenapa dia mau menikah lagi dengan wanita itu."


Airin diam. Kali ini apa yang dikatakan Vino benar. Jika Arja benar-benar mencintainya. Untuk apa ada wanita lain dalam hubungan.


"Itu bukan urusanmu. Aku akan kembali bekerja."


Airin masuk ke dalam ruangannya dan mengunci pintu. Dia terduduk lemas dengan minuman dingin di tangannya.


Jika diingat lagi. Airin juga pernah disakiti oleh Vino. Vino meninggalkan Airin disaat cinta itu tumbuh. Airin merasa, cintanya selalu menyakitinya. Entah dengan Vino ataupun dengan Arja.


***