My Love My Pain

My Love My Pain
Rencana



Airin sudah mematangkan pikirannya. Dia mencoba untuk tenang dan tidak terlalu terburu-buru untuk memutuskan. Hanya saja, hatinya sudah terluka cukup parah. Diselihkuhi dan sekarang dia harus kehilangan calon anaknya.


"Kau ingin aku ke sini? ada apa?"


Arja masuk tanpa permisi dan langsung memeluk tubuh Airin. Airin melepaskan pelukan itu dengan keras. Lalu, dia melemparkan surat gugatan perceraian pada Arja.


"Apa maksud kamu? apa kamu masih marah karena aku tidak menolongmu kemarin malam?"


Ternyata Maya tidak mengatakan apapun pada Arja. Mungkin karena dia juga tidak mau Airin mengatakan hubungannya dengan Kenzo.


"Bukankah kita saling cinta?"


Airin menghela nafas, dia menutup matanya sebentar dan mencoba manata hatinya. Dia tidak boleh terlena hanya karena kata-kata manis saja.


"Aku mau kita cerai hari ini juga. Bukan karena aku tidak mencintaimu, aku hanya lelah dengan kehidupanku saat ini."


Arja menatap Airin dengan penuh tanya. Arja melangkahkan kakinya untuk mendekat, tapi Airin menghentikannya.


"Lalu kenapa kau ingin kita bercerai?"


Airin tertawa kecil. "Apa Maya tidak mengatakan padamu?"


"Katakan saja apa alasan kamu yang sebenarnya?"


Kali ini Arja berhasil mengunci Airin dengan tubuhnya. Airin tidak bisa lepas dari kuncian Arja.


"Aku kehilangan anakku. Aku tidak mau hidupku hanya menjadi bonekamu dan Maya. Aku ingin hidup dan masa depanku," teriak Airin.


"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu," Arja menarik Airin semakin mendekat padanya, "Aku tahu alasan kamu yang sebenarnya. Kamu hanya ingin kembali ke cinta pertamamu. Vino."


Airin mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu, semburat merah terlihat di mata Arja. Dia terlihat sedang marah kali ini.


"Siapa yang mengatakannya?"


"Aku tahu semuanya. Kamu tidak hamil, kamu hanya mencari alasan untuk perceraian kita."


Airin merasa sangat kesal. Maya benar-benar licik dan memuakkan. Dia mengatakan pada Arja jika Airin pura-pura hamil. Dengan alasan Airin masih memiliki hubungan sepesial dengan Vino.


"Aku benar-benar hamil dan keguguran. Kau bahkan tidak menjengukku saat aku di rumah sakit."


Arja melemparkan Airin ke atas tempat tidur. Lalu Arja mendekat dan membisikan sesuatu padanya.


"Jika kau ingin anak. Aku akan berikan."


***


Airi menangis tersedu. Kali ini dia merasa benar-benar di lukai. Bukan hanya fisik, tapi juga mentalnya. Arja tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada Airin setelah ini.


Airin hanya bisa membuat rencana. Tentunya rencana agar dia bisa lepas dari pria kejam seperti Arja. Walau ada cinta, lama-lama cinta itu akan hilang dengan sendirinya.


Tok tok tok.


Ilin masuk dengan teh dan juga sarapan. Airin hanya tersenyum.


"Ini sarapannya, Bu."


"Terima kasih," kata Airin lirih.


"Untukku mana?" tanya Arja yang keluar dari dalam kamar mandi.


"Saya akan bawakan ke sini, Pak."


"Tidak perlu. Aku akan makan di kantor saja, kamu bisa pergi."


Ilin keluar. Kami hanya tinggal berdua di kamar ini. Semakin ke sini, perlakuan Arja tidaklah baik pada Airin. Dia semakin semena-mena.


Airin beranjak dari tempat tidur dan bersiap mandi. Tidak mungkin jika Airin harus ijin lagi hari ini. Vino akan semakin khawatir nantinya.


"Kau mau kemana hari ini?"


"Kemanapun aku pergi. Tidak ada urusannya dengan kamu," kata Airin.


Arja menarik Airin ke dalam pelukannya. Tatapannya tidak ada rasa bersalah sekalipun. Hanya ada tatapan yang membuat Airin semakin terluka jika mengingatnya.


"Apa kamu masih marah? bukankah aku sudah berikan apa yang kamu mau."


Tanpa berkata apapun Airin mendorong Arja dengan kasar.


"Aku tidak meminta apapun selain perceraian. Kau tahu hal itu."


Wajah Arja kini berubah. Dia terlihat marah kali ini. Airin pikir dia akan dilepaskan dan dia akan diceraikan jika terus membangkang. Ternyata tidak, Arja malah semakin suka pada Airin.


"Apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikan kamu."


Airin menarik nafas panjang dan membuangnya. Semakin dia ingin keluar dari genggaman, semakin erat genggaman itu.


"Mulai besok. Kamu harus kembali ke rumah utama. Aku ingin lebih sering melihatmu."


Bosan mendengar perkataan Arja. Airin langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran air.


***


Waktu sudah menunjukan jam delapan lebih. Aku benar-benar telat karena mendengar ocehan Arja. Dengan tergesa Airin masuk ke ruangan Vino tanpa permisi.


"Maaf, Pak. Saya terlambat."


Vino kaget melihat Airin yang datang secara tiba-tiba. Di sana sedang ada beberapa orang yang bahkan Airin tidak tahu siapa mereka.


"Perkenalkan. Ini sekertarisku, Airin. Sebenarnya dia sedang cuti, tadi saya memanggilnya mendadak."


Semua yang ada di sana mengangguk anggukan kepala.


"Kamu bisa kembali ke meja kamu," kata Vino.


"Permisi."


Airin hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa begitu bodoh. Seharusnya sebelum masuk Airin melihat jadwal. Kali ini, dia akan terkena masalah baru lagi.


"Apa ada masalah?"


Airin kaget dengan keberadaan Vino yang sudah ada di depannya. Airin menoleh ke kanan dan kekiri. Tidak ada siapapun selain Vino dan dirinya.


"Mencari siapa? aku perhatikan sejak tadi kamu hanya melamun."


"Maaf, Pak."


"Jangan memanggilku Bapak. Bagaimana keadaan kamu?"


"Saya sudah baik."


"Suami kamu?"


Airin tersenyum tipis. "Ini di kantor pak. Lebih baik jangan membahas hal itu."


"Ok. Mau makan siang bareng, sama Mama."


Tidak tahu bagaimana. Airin sangat ingin bertemu dengan Mama Vino. Namun, Airin juga tidak tahu, rasa-rasanya mengulang masa lalu itu tidaklah menyenangkan. Dia tidak ingin berharap, apa lagi dia dan Arja sedang ada masalah.


"Hei, kenapa melamun."


"Ok. Aku pergi dulu," kata Vino yang langsung berlalu meninggalkan Airin.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.


Aku akan menjemputmu. Jangan dekat-dekat dengan pria lain selama masih menjadi istriku


Tidak biasanya mengirim pesan. Sekarang dia mengirim pesan bernada ancaman. Di sini, Airin yang menjadi korban. Lain kali, Maya. Dia akan menanggung semua kepalsuanya. Walaupun dia dilindungi oleh Arja.


***


Airin mencari Sela ke ruangannya. Tidak ada, sampai Airin memilih bertanya pada teman Sela. Mereka bilang Sela tidak berangkat sudah dua hari.


"Kemana dia," lirih Airin saat keluar dari ruangan tempat Sela bekerja.


Airin terus mencoba menghubungi Sela. Tidak ada pesan atau telfon yang dijawab. Disaat seperti ini, Airin membutuhkan bantuan Sela. Hanya saja Sela tidak bisa ditemukan.


"Sudah mau pulang kan? ayo aku antar," kata Vino yang menghentikan mobilnya di depan Airin.


Airin menggeleng, "Arja akan menjemputku."


"Baguslah."


Airin hanya mengangguk, "Aku akan temani kamu menunggunya." Vino langsung turun dan duduk di samping Airin.


"Terima kasih. Oh ya, apa aku boleh meminta bantuan kamu?"


"Boleh. Apa?"


"Arja datang. Aku harus pergi, nanti aku kabari lewat pesan."


Vino hanya diam saat Airin masuk ke mobil Arja. Tatapan Arja dan Vino bertemu, jelas sekali jika Arja tidak suka dengan Vino. Padahal, mereka teman. Walau hanya saling kenal saja.


"Semua barang-barang kamu sudah aku pindahkan ke rumah."


Tangan Airin sudah bermain dengan ponsel dan pura-pura tidak mendengarkan apa kata Arja. Percuma saja Airin bicara, ujung-ujungya pasti dia akan memaksa Airin.


"Hubungan kamu sudah sampai mana dengan Vino? apa kau dan dia masih berhubungan sejak Vino keluar negeri?"


"Sudah aku bilang aku tidak memiliki hubungan lagi dengan Vino. Dia bosku."


Arja tertawa dengan keras. Kenapa dia membohongi dirinya sendiri. Jelas sekali jika dia cemburu, kenapa masih menanyakan hal bodoh macam ini.


Sampai di rumah. Airin turun, ternyata sudah cukup banyak perubahan di rumah ini. Airin mendapatkan kamar dengan pemandangan kolam renang di bawah. Lumayan. Dari pada harus berdekatan dengan Maya dan Arja.


"Ini kamar barumu."


"Aku tahu."


Airin masuk dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Tanpa ragu Airin melemparkan jaket dan juga tasnya kesembarang tempat. Airin begitu bodoh dalam merancang rencana, dia harus mencari bantuan orang lain.


***


Sudah waktunya makan malam. Namun Airin memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar. Bukan tidak mungkin Airin akan merasakan sakit lagi. Melihat suami sendiri bermesraan dengan wanita ke duannya.


Tok tok tok. Airin membuka pintu kamar, ternyata seorang pelayan.


"Ada apa?"


"Anda sudah di tunggu oleh semua di meja makan."


"Sebentar lagi aku akan turun."


Airin kembali menutup pintu. Setelah berganti pakaian dan menetapkan hatinya, Airin akhirnya turun. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Airin.


Aku akan membantumu.


Akhirnya Vino membalas pesan Airin. Dia setuju dengan bantuan yang diminta Airin. Setidaknya Airin tidak sendirian, ada Vino yang menjadi temannya saat ini.


"Malam." Airin langsung duduk.


Melihat Kenzo di rumah ini rasanya masih sangat canggung. Jika mengingat apa yang dikatakan Vino. Mungkin anak itu memang bukan anak Arja. Lalu hal apa yang membuat Arja dan Maya memiliki hubungan.


"Kau terlihat senang?" tanya Kenzo pada Airin.


"Tentu, aku kembali ke rumah suamiku."


Maya datang. Pakaiannya masih sama saja, terlalu terbuka menurut Airin.


"Kenapa kau membawanya ke sini. Bukankah kau sudah janji padaku?" Maya mendekat dan langsung mengecup pelan pipi Arja. Tepat dihadapan Airin.


Airin menepis tatapan menjijikan Arja. Dia sengaja membuat hal seperti ini. Untuk saat ini, Airin hanya benci karena Arja tidak percaya dengan kehamilan yang dialaminya.


"Biarkan saja. Dia tidak akan berani melukai hati dan bayimu," ucap Arja mencoba menenangkan Maya.


Melihat semua ini membuat Airin semakin malas untuk makan. Kembali Airin meletakan sendok dan garpu.


"Aku tidak selera makan. Kalian bisa langsung makan saja."


"Apa kau pergi karena ada janji dengan pria lain."


Airin berdiri. Apa yang dikatakan Maya memanglah tidak etis. Selama Airin dan Arja menikah, Airin hanya mengenal Arja, Vino dan Kenzo. Kenapa Maya memancing emosi Airi lagi saat ini.


"Aku tidak punya janji dengan siapapun. Walaupun aku punya janji dengan pria lain, setidaknya aku tidak hamil karena pria lain."


Kata-kata Airin berhasil membuat Maya diam. Kenzo juga terlihat gelisah setelah Airin mengatakannya.


"Kau...kau menuduhku?"


Airin menggeleng, "Aku tidak menuduh siapapun. Malam."


Hati Airin sedikit lega. Setidaknya Airin tahu jika anak itu bukan anak Arja. Jadi, Airin bisa saja membuat Arja tahu. Arja tidak akan memaafkan Maya setelah ini.


"Tunggu, Rin." Arja membawa satu piring makanan laut ke hadapan Airin, "Kenapa kau tidak makan?"


Airin menelan ludah. Arja tahu aku alergi dengan makanan laut. Kenapa dia malah membawakan Airin makanan ini.


"Kau tahu apa alergiku."


"Ya. Hanya saja, ini hukuman kecil karena kamu sudah membuat Maya ketakutan."


"Aku tidak mau memakannya." Airin mendorong piring itu hingga terjatuh dan pecah, "Kau tidak percaya pada kehamilanku. Aku masih menerima, tapi aku tidak terima jika kau menyiksaku karena wanita lain."


Tatapan mata kami bertemu. Plak. Ya, sebuah tamparan mendarat di pipi Airin. Bukan dari Arja, tapi dari Maya.


"Kau wanita ******. Beraninya menolak permintaan suamiku."


"Jika aku wanita ******. Kau apa?”


Maya mengangkat tangannya lagi. Dia bersiap menampar Airin lagi, sebelum itu. Airin sudah berhasil menamparnya lebih dulu.


"Jangan buat aku marah atau kau akan kehilangan bayimu."


Airin mendorong Arja. Dia bahkan tidak berkutik di depan Maya. Apa-apaan ini, dia bukan Arja milik Airin yang dulu lagi. Dia Arja yang bisa diperbudak oleh wanita seperti Maya.


***