My Love My Pain

My Love My Pain
Dia menemuiku



Airin POV


Airin sudah mengatakan isi hatinya pada Cika. Airin mengatakan semua alasan dan kenapa dia mau pergi dari rumah Cika. Sementara waktu ini, Airin ingin sendiri dan tidak ingin bertemu dengan siapapun.


"Kau pasti merasa sangat tertekan. Aku sudah menjelaskan semua pada wartawan, kau tidak perlu takut."


"Aku sangat berterima kasih padamu. Maaf, aku selalu saja merepotkan kamu."


"Kita teman. Sudah sepatutnya seperti ini," ucap Cika, "aku mau tanya. Apa benar kau dan Vino akan bertunangan?" tanya Cika kemudian.


Karena tidak mau urusan ini semakin panjang. Airin memilih untuk menceritakan semuanya. Alasannya berhenti dari perusahaan Cika juga karena hal ini. Airin tidak ingin reputasi Vino dan Cika hancur karena dendam Arja pada Airin.


Cika hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu, dia mengatakan apa yang seharusnya Airin lakukan. Bagaimanapun, Airin sudah membuat Vino mengucapkan sebuah janji di depan khalayak ramai. Airin harus bertanggung jawab juga akan hal itu.


"Apapun yang terjadi, kau harus menerima pertunangan ini. Jika tidak, reputasi Vino akan semakin hancur di kalangan bisnis."


"Benar juga apa yang kau katakan. Aku akan memikirkannya lagi, aku pergi dulu."


Setelah selesai berpamitan. Airin masuk ke dalam taxsi yang sudah dia pesan. Banyak tempat dan rumah yang Airin singgahi. Hanya saja, Airin belum menemukan tempat yang tepat. Seperti hati ini, hati yang terus mencari tambatan hati yang tepat.


Perjalanannya diselimuti awan gerimis. Cuaca di kota ini seperti hati Airin. Di selimuti oleh awan hitam. Tidak ada hal yang indah dan cerah. Hanya ada rasa perih.


Sejak kemarin. Airin sudah mencari tempat sewa dan dia menemukan sebuah rumah di pinggir kota. Walaupun sederhana, disana Airin bisa menjalankan hidupknya dengan tenang. Setidaknya dia tidak akan memikirkan uang di dalam waktu dekat ini. Masih ada uang di dalam tabungannya.


***


Rasa lelah Airin terbayar oleh pemandangan yang sangat memukau. Airin sampai di rumah tepat saat matahari tenggelam. Disini, Airin bisa melihat keindahan senja. Disini, Airin merasa lebih tenang.


Rumah minimalis ini akan menemaninya untuk beberapa waktu. Airin tidak tahu kapan dia akan pergi dari sini. Setidaknya, apa yang sekarang Airin inginkan ada disini. Ketenangan.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Vino, dia menanyakan kabar Airin. Perlahan senyumanku mengembang. Ternyata, masih ada orang yang peduli dengannya di luar sana. Airin masih bisa berharap di dunia ini. Harapan yang tiada ujung.


Aku baik saja. Bagaimana kabar tante?


Lima menit kemudian.


Mama sangat ingin menemuimu, tapi aku mengatakan jika kau sedang pulang ke kampung halaman.


Dia begitu mengerti Airin.


Terima kasih.


Lima menit kemudian.


Jaga dirimu. Jika satu minggu lagi kau belum kembali, aku akan mencarimu.


Tidak ada niatan untuk Airin membalas pesan itu. Jika Airin menanggapinya, dia takut Vino akan semakin berharap padanya. Airin juga tidak ingin kembali terombang ambing dalam perasaan. Pikirannya hanya satu, jika memang dia jodoh Airin. Apapun jalannya, mereka pasti bertemu.


***


Arja POV


Arja keluar rumah dengan tenang. Sela yang berada di belakangnya mendekat dan memberikan sebuah tas. Cup, sebuah kecupan mendarat di pipi Sela.


"Aku akan pergi. Nanti malam dandan yang cantik, aku akan membawamu pergi."


"Benarkah? kemana?"


"Kemanapun. Dimana aku dan kau merasa bahagia."


Sejak kemarin pulang meeting. Perlakuan Arja begitu manis pada Sela. Bahkan Arja juga memberikan sebuah kalung dengan liontin bunga. Barang yang sejak dulu Sela impikan.


Sela hanya bisa melambaikan tangan saat Arja pergi. Rumah ini terasa begitu hangat saat Arja memiliki sifat yang baik. Rumah ini, seperti cerminan Arja.


"Nyonya, bagaimana dengan tugas yang nyonya berikan?" tanya seorang pelayan.


"Tidak perlu dilakukan lagi. Arja sudah kembali padaku, dia sudah melupakan si Airin."


"Baik, nyonya. Saya permisi."


Sela memang berniat melakukan sesuatu pada Arja. Dia tidak mau cintanya selama ini di campakan oleh Arja. Sela sudah rela melakukan apapun. Mana mungkin dia akan melepas Arja begitu saja, apa lagi alasanya adalah Airin.


Di dalam mobil. Arja memikirkan hal yang sangay indah. Dia berada di kantor dan Airin datang. Dia datang untuk meminta cintanya lagi. Jika iya, Sela akan disingkirkannya dengan mudah. Sela juga tidak akan mengatakan hal bodoh apapun lagi, pikir Arja.


"Pak. Ada kabar penting dari sekretaris Sa," kata sopir pribadi Arja.


"Aku tidak mau mendengar apapun sebelum sampai di kantor."


"Baik, Pak."


Sopir itu menjalankan mobil dengan kecepatan yang diinginkan Arja. Hari ini, Arja sedang menikmati pemandangan di sepanjang jalan. padahal, dia biasanya tidak peduli dengan apapun.


Arja hanya fokus pada satu tujuan. Membawa wanitanya kembali dan mengumpulkan harta dan kekuasaan agar Airin bahagia bersamanya.


***


Brak. Arja tidak terima dengan apa yang dikatakan sekretaris Sa. Apa yang dia bayangkan kini sudah hancur lebur oleh laporan itu.


"Bagaimana bisa kau kehilangan jejak wanita itu. Bukankah kau tahu kenapa aku menginginkannya," kata Arja dengan nada tinggi.


"Maaf, kami tidak tahu jika Airin akan meninggalkan kota."


"Cari dia sampai ketemu. Lakukan apa yang sudah kau katakan kemarin."


"Tapi, Pak..."


"Apa kau menentangku?"


"Tidak, Pak."


"Lakukan apa yang aku katakan."


"Baik."


Sekretaris Sa keluar dari ruangan Arja. Meninggalkan Arja yang merasa kacau. Dia hampir bisa membuat Airin kembali. Kini, dia kehilangan dirinya lagi. Arja merasa harus turun tangan sendiri, tapi jika dia turun tangan sendiri saat ini. Airin pasti akan membencinya.


Arja sedang memikirkan cara agar bisa cepat mendapatkan Airin. Tanpa ada paksaan dan sakit hati. Bagaimana caranya, pikir Arja.


"Wanita yang sulit kudapatkan."


***


Airin POV


Beberapa anak terlihat berlarian dengan berbagai mainan di tangan mereka. Andai saja Airin bisa bermain dengan mereka. Airin pasti akan semakin senang disini.


"Nona, apa kau yang bernama Airin?" tanya seorang ibu. Dia terlihat sudah tua dengan kain yang dia pakai.


"Iya. Ada apa, Bu?"


"Ada tamu di rumahmu. Kau yang menempati rumah sewa bukan?"


"Ya, Bu. Aku yang menempatinya."


"Cepatlah. Dia sejak tadi menunggumu, sepertinya ada hal penting."


"Terima kasih, Bu."


Siapa yang datang kesini dan kenal dengan Airin. Bahkan Cika dan Vino saja tidak tahu. Dia setiap persembunyian Airin, ada saja yang datang dan menghancurkan hari baiknya.


Masih dengan berlari kecil. Airin pergi menuju ke rumah. Banyak sekali pertanyaan dan praduga di dalam hatinya. Siapa yang datang dan dengan alasan apa.


Langkahnya perlahan terhenti. Siapa yang sangka jika dia yang akan datang kesini. Padahal Airin sudah mengatakan jika Airin tidak ingin melihat wajahnya lagi.


Tangannya mengambil ponsel dan memberi sebuah pesan pada Vino. Dia berharap dia mau datang kesini. Setidaknya, dia bisa mengusir wanita ini dari sini.


"Lihatlah, kau datang dengan langkah lambat. Apa kau sengaja membuat aku menunggu?" tanyanya dengan nada keras.


"Ini rumahku. Terserah aku, dan siapa yang menyuruhmu menunggu disini."


Airin duduk di kursi kayu yang berada di depan rumah. Sengaja Airin tidak masuk, Airin tidak mau wanita licik ini masuk ke dalam rumah yang tenang ini.


"Ada apa kau kesini? bukankah aku sudah katakan agar kau tidak muncul di hadapanku."


Sela duduk di hadapan Airin, "Ayolah, Kak. Aku ini adikmu, aku hanya merasa rindu saja padamu."


"Rindu kau bilang. Bukankah semua yang kau mau sudah kau ambil dariku. Suamiku dan semua hartaku."


Airin merasa sangat kesal kali ini. Bagaimana bisa dia tahu rumah yang sedang ditempati Airin. Airin tahu, dia memiliki Arja dan Arja memiliki akses yang luas. Tidak mustahil dia menemukan Airin secepat ini.


Balasan pesan dari vino membuat Airin sedikit bahagia. Dia akan datang kesini dan menemui Airin. Dia pasti mau membantu masalah Airin.


Sela berjalan berkeliling di teras rumah ini. Dia bahkan melihat sekeliling rumah ini dengan tatapan tidak senang. Mungkin karena dia sudah terbiasa tinggal di rumah mewah yang memiliki banyak pelayan. Bagi Airin, semua itu adalah penjara.


"Bagus juga kau tinggal disini. Setidaknya, Arja tidak akan menemukanmu sementara waktu. Jadi, aku bisa membuatnya kembali padaku," kata Sela.


"Pulanglah. Aku mau istirahat."


"Kak, apa kau tidak mempersilahkan adikmu ini masuk?"


Airin menoleh kearah Sela.


"Kau bukan adikku. Pergilah."


"Tunggu," Sela memegang tangan Airin agar Airin tidak masuk ke dalam rumah, "aku kesini hanya karena satu alasan. Jangan mencoba merebut Arja dariku. Kau tahu itu kan, Kak."


Airin melepaskan pegangan tangan itu dengan keras.


"Aku bahagia lepas dari pria itu. Jadi, jangan berfikir aku mau kembali. Lagi pula, aku tidak mau memungut sampah yang sudah aku buang," kata Airin dengan nada penekanan di akhir kalimat.


"Bagus."


"Seharusnya kamu yang harus ingat. Pria jika sudah berselingkuh satu kali, dia akan melakukannya lagi dan lagi."


Brak. Sela menggebrak meja dengan sangat keras.


"Tidak. Arja mencintaiku, dia tidak akan melakukan hal itu."


"Pergilah dari sini dan jaga suamimu itu."


Airin langsung masuk ke rumah dan menutup pintu. Dia juga menguncinya dengan rapat. Airin berfikir apa yang dia lakukan sudah benar. Memang benar apa yang Airin pikirkan. Pria yang suka berselingkuh, dia akan sulit untuk setia.


Beberapa kali Airin menjalin cinta. Hasilnya tetap sama saja, cinta itu sendiri yang menyakitinya. Airin harus mencari cinta yang benar-benar miliknya. Bukan milik orang lain.


****


Beberapa kali Airin mencoba melihat keluar jendela. Akhirnya Sela pergi juga setelah sebuah mobil datang menjemputnya. Sepertinya Sela kesini tanpa sepengetahuan Arja. Dia pergi dengan rasa kesal di dalam hatinya.


Tidak lama sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan rumah Airin. Siapa lagi yang datang? pikir Airin. Vino turun dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia benar-benar datang untuk Airin.


"Kau sudah datang?" tanya Airin sembari membuka pintu.


"Ya. Kau mengirimi pesan dan sepertinya sedang gelisah."


Airin mengangguk, "Tadi memang iya. Sekarang dia sudah pergi. Mau minum teh?" tawarku.


"Tidak. Aku masih ada urusan di kantor. Kau tahu kan, wartawan terus saja datang dan menanyakan dirimu."


Airin menundukkan kepalanya. Semua ini karena Arja yang membuat keributan. Bagaimanapun, Airin harus bertanggung jawab. Seperti apa yang dikatakan Cika, Airin akan bertunangan dengan Vino. Airin akan menerimannya.


"Vin, aku...aku..."


"Rin. Aku tidak akan memaksakan apa yang sudah terjadi. Aku akan menunggu jawabanmu," kata Vino.


"Aku tahu, hanya saja. Aku harus melakukan ini, aku harus bertanggung jawab."


"Tidak perlu. Aku akan mengurusnya."


Tanpa sadar Airin langsung memegang tangan Vino. Airin menatap matanya. Benar, hanya ada ketulusan disana. Mantanku temanku, sahabatku, dia pantas menjadi segalannya untukku, batin Airin.


"Kita, kita harus bertunangan."


"Apa aku mencintaiku?" tanya Vino.


"Aku tidak tahu. Biarkan semua ini berjalan seperti apa adanya."


Vino hanya diam. Dia melepaskan genggaman tangan Airin.


"Aku pergi dulu. Lebih baik kau masuk dan istirahat."


Setelah mengatakannya. Vino langsung pergi dengan mobilnya. Dia pasti merasa aneh. Airin tahu itu.


***