
Mereka saling menoleh. Mata mereka bertemu, senyuman mengembang diwajahnya. Airin kaget, kenapa bisa bertemu dengannya disini. Tempat dimana Airin merasa nyaman dan bebas.
"Kau disini? bukankah kau sedang..."
"Ya, aku sampai disini tadi malam. Sedang apa kau disini?"
"Aku...aku..."
"Tidak apa jika kau tidak ingin mengatakannya."
"Bukan begitu, hanya saja..."
"Aku tahu kau sedang berlibur dengan Arja. Maaf aku mengganggumu."
"Vino," panggil Airin, "aku kesini bukan dengan Arja. Dia bahkan tidak tahu jika aku disini."
Vino terlihat kaget saat Airin mengatakannya. Airin tahu, tidak seharusnya diamengatakan hal ini pada Vino. Hanya saja, Airin butuh teman untuk bercerita disaat tidak ada Cika sebagai teman di sisinya.
"Aku ambil bunga ini," kata Airin pada penjual bunga.
"Akan saya bungkus." Penjual itu mengambil buket bunga dari tangannya.
Sementara Airin melihat bunga-bunga disana. Sangat indah.
"Rin, apa kita bisa minum kopi bersama?" ajak Vino kemudian.
Melihat keluar, hari sudah semakin sore. Tidak mungkin Airin bisa berjalan dengan Vino. Akan sangat terlambat jika dia melakukannya, Airin harus kembali ke rumah sewanya.
"Bagaimana?"
"Vino, sepertinya tidak bisa. Aku harus kembali ke tempatku menginap. Cukup jauh, jadi aku bisa kemalaman di jalan."
Vino mengangguk mengerti, "Bagaimana jika aku mengantarkan kamu?"
Airin pun mengangguk. Dia tidak mau terus menerus menolak ajakan temannya itu. Vino pasti terluka jika Airin melakukannya.
Setelah selesai membeli bunga. Mereka masuk ke dalam mobil Vino. Vino akan mengantarkan Airin ketempat sewanya. Setidaknya Airin tidak perlu mencari angkutan umum di saat senja seperti ini.
***
Setelah hampir dua jam akhirnya mereka sampai di tempat Airin menginap. Di dalam mobil mereka hanya membicarakan hal ringan. Tidak ada pembahasan tentang hubungan Airin atau masalah yang serius.
"Aku akan memberikan ini dulu pada bu Ann. Kau bisa menungguku sebentar bukan?" tanya Airin.
"Tentu saja."
Airin mengetuk beberapa kali pintu rumah bu Ann. Tidak lama, bu Ann keluar. Dia terlihat ramah seperti biasanya. Airin tidak tahu kenapa, hanya saja Airin merasa sudah dekat dengan bu Ann sebelum hari ini.
"Maafkan saya, Bu. Saya terlambat pulang, tapi saya sudah membelikan bunga ini." Airin menyerahkan buket bunga itu pada Bu Ann.
"Aku sangat berterima kasih. Maukah kau masuk dulu, kita bisa minum teh bersama," kata Bu Ann.
"Terima kasih atas tawarannya, hanya saja aku bersama dengan temanku. Kami..."
"Aku tahu, kau bisa pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih untuk bunganya."
"Sama-sama, Bu."
Mata Airin dan Vino bertemu saat Airin menoleh kearahnya. Apa sejak tadi dia memandangku? kenapa dia seperti ini. Pikir Airin. Vino membuatnya merasa malu.
Airin menghampirinya dan berdiri di depannya. Seulas senyum Airin berikan padanya. Airin tidak bisa terus menerus seperti ini. Dia harus mau menerima apa yang dilakukan Vino untuknya. Tidak baik jika Airin terus menyakitinya.
"Maukah kau mampir dulu ke rumah yang aku sewa?"
"Maaf, aku harus kembali ke hotel. Besok pagi-pagi sekali akan ada rapat penting."
Airin hanya mengangguk dengan sebuah senyuman. Bagaimana bisa Airin malah menggoda Vino hari ini. Kenapa diabisa melakukannya. Bodohnya Airin, Vino pasti akan mengira jika Airin wanita murahan.
"Aku pergi dulu," kata Vino yang masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati di jalan."
Ponselnya berdering saat Airin baru saja masuk ke dalam rumah. Jika didengar dari suaranya, Cika sedang panik dan tidak senang. Ada sesuatu yang terjadi disana. Airin juga mendengar suara Arja disana. Ada apa ini?
***
Arja POV
"Bagaimana surat cerainya? apa sudah kamu kirim pada Airin?" tanya Sela pada Arja yang sejak tadi hanya termenung.
Arja sedang memikirkan perdebatan dengan Cika tadi. Dia meminta alamat Airin saat ini dan Cika tidak memberikannya. Mereka malah bertengkar hebat hingga membuat Arja kalah dan keluar dari ruangan Cika.
Sela yang melihat Arja aneh langsung meninggalkan wanita yang sedang mengukur badannya. Ya, mereka sedang fitting baju untuk pernikahan mereka. Pernikahan yang kini sudah tidak diingankan oleh Arja.
"Hallooo. Apa kau belum mengirimnya?" tanya Sela dengan suara nyaring.
Arja kaget dan tersadar dari lamunannya, "Apa yang kau tanyakan tadi?" tanya Arja.
"Apa kau sudah mengirim surat perceraian itu?" tanya Sela lagi, "Jangan-jangan kau tidak berniat bercerai. Dengar ya, aku tidak mau menjadi yang kedua. Aku hanya ingin jadi istri kamu satu-satunya."
"Diam. Aku sedang memikirkan cara untuk mengirimnya. Kau tahu bukan jika aku tidak memiliki alamatnya saat ini."
"Itulah kelemahan kamu. Bukankah kau memiliki banyak detektif dan bawahan. Suruh mereka cari, apa susahnya."
Arja baru ingat jika dia memiliki banyak kekuasaan. Dia bisa meminta anak buahnya mencari, kenapa tidak terfikirkan sama sekali. Arja mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
Setelah selesai, Arja kembali duduk. Kali ini dia menyunggingkan senyumanya. Dia merasa bisa menemukan Airin dan memintanya kembali.
"Bagaimana?"
"Aku sudah menyuruh mereka."
Sela memeluk lengan Arja dengan lembut. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Arja. Sela tidak tahu, jika pria yang di sampingnya sudah memiliki perasaan untuk Airin. Wanita yang dia jebak.
"Jika kamu berhianat. Kau tahu bukan, aku akan mengatakan segalanya pada Airin dan Airin akan membencimu."
"Ya."
***
Airin POV
Mentari sudah bersinar. Hari ini, Airin tidak tahu harus berbuat apa. Jika dipikir lagi, tidak ada gunanya dia disini. Hanya saja, untuk kembali saat ini masih sulit.
Rasa sakit masih saja ada di dalam hatinya ketika tahu apa yang dilakukan Sela dan Arja di belakangnya. Mereka menjadikan Airin wanita yang tidak berdaya.
Sekarang aku harus apa? apa aku harus membalas apa yang mereka lakukan. Lalu dengan cara apa? tidak mungkin jika aku harus menikah dengan pria lain. Aku masih terikat dengan Arja. pikir Airin.
Suara klakson mobil membuat Airin tersadar dari lamunannya. Airin lihat Vino datang dengan senyumannya. Dia menghampiri Airin dengan sebuah kotak di tangannya.
"Bukankah seharusnya kau ada meeting?" tanya Airin.
"Aku baru saja selesai dan langsung kesini." Vino memberikan bungkusan itu, "Aku membelikan kamu kue. Ayo makan, kamu belum sarapan bukan?"
"Ya, aku memang belum makan apapun. Ayo masuk, akan aku buatkan teh."
Mereka masuk ke dalam rumah. Airin menyiapkan teh yang biasa dia minum. Sebenarnya, kopi tidak terlalu disukai jadi Airin memilih teh.
Setelah selesai menghidangkan teh. Airim membuka bungkusan kue itu. Kue yang dulu selalu Airin beli. Kue blueberry. Kenapa Airin malah teringat pada masa lalu.
Airin menyodorkan sebuah sendok pada Vino, "Ayo kita makan bersama."
"Aku sudah kenyang."
"Ayolah, aku tidak mungkin makan kue sebesar ini sendirian."
Akhirnya Vino mau juga memakan kue itu bersama Airin. Sejak menikah dengan Arja, Airin belum pernah makan kue ini. Airin hanya makan apa yang Arja makan. Lucu rasanya jika mengingat hal itu.
Kenapa bisa Airin terperangkap di dalam permainan Sela dan Arja. Airin bahkan merasakan semuanya seperti takdir. Padahal hanya sebuah permainan belaka.
***