My Love My Pain

My Love My Pain
Ajakan mengerikan



Sela sudah siap dengan gaun birunya. Sementara Airin masih bingung akan menggunakan baju apa. Mana mungkin Airin menggunakan baju biasa ke tempat pertunangan Vino.


Sebenarnya, alasannya bukan hanya karena baju. Airin hanya tidak ingin bertemu Vino. Dia tidak mau hatinya kembali goyah. Jika itu terjadi, semuanya akan terluka.


"Kamu nggak mau berangkat?" tanya Sela yang melihat Airin masih duduk di ruang tv.


"Rasanya malas mau kesana. Nggak ada baju yang cocok," kata Airin asal.


Sela ikut duduk di samping Airin, "Katanya sudah buat pilihan. Kok ya masih dilema gitu."


"Sel..."


Tok tok tok. Suara Airin terhenti saat mendengar suara ketukan pintu. Entah siapa yang datang di saat seperti ini.


"Biar aku yang buka."


Sela bergegas membukakan pintu. Kini mata Airin kembali tertuju pada tv yang masih menayangkan berita.


"Airin. Ada yang cari kamu. Keluar dulu sana," kata Sela pada Airin, wajah Sela terlihat tidak senang.


"Siapa?"


"Lihat aja. Setidaknya hatimu nggak akan galau lagi."


Entah siapa yang datang, tapi Airin merasa penasaran. Kakinya melangkah menuju ke ruang tamu. Lihatlah, suami Airin datang dengan pakaian yang sangat rapih. Bahkan langsung membuat Airin tersenyum.


"Ada apa? apa pakaianku lucu?" tanya Arja dengan mata yang melihat kearah bajunya.


Airin menggeleng, "Tidak ada yang salah. Kenapa datang malam dan memakai pakaian rapi?" tanya Airin.


"Aku kira kau akan ke tempat pertunangan Vino dan Cika."


"Entahlah. Aku merasa malas."


Tiba-tiba saja Arja melemparkan sebuah tas belanja pada Airin. Airin menatap bingung kearahnya dengan penuh tanda tanya.


"Pakai saja baju itu. Kita akan berangkat bersama."


"Tapi..."


"Turutilah suamimu ini."


Airin hanya bisa mengangguk. Ternyata Arja kesini hanya ingin menjadikan Airin pendamping ke tempat pertunangan Vino.


Kemarin, Airin sudah menentukan pilihannya. Jadi, Airin harus melakukanya. Airin juga ingin Vino bahagia, mungkin itulah cinta. Melihat orang yang kita sayang bahagia adalah hadiah yang besar.


"Aku pergi dulu ya, Rin," kata Sela dengan mata melirik pada Arja.


"Hati-hati."


"Tentu." Sela melambaikan tangannya dan pergi.


Sampai saat ini Airin belum tahu siapa pacar dari Sela. Padahal, sudah sering Sela mengatakan tentang pacarnya itu. Pacar yang gila kerja dan selalu sibuk. Hanya hadiah dan uang yang dia kirimkan untuk Sela. Bagaimana bisa Sela bertahan dengan pria seperti itu, pikir Airin.


Setelah selesai bersiap. Airin kembali menemui Arja yang masih setia menunggunya di ruang tamu. Dengan senyuman, Arja menggenggam tangan Airin.


Malam yang indah dengan perhatian penuh dari Arja. Kali ini, Airin hanya ingin seperti ini. Berjalan dengan senyuman, mendampingi suaminya. Tanpa ada beban di dalam hatinya.


***


Suasana gedung terlihat sangat mewah. Banyak hiasan dan lampu yang semakin membuat suasana menjadi lebih ramai. Tangan Airin masih saja berpegangan dengan tangan Arja.


"Apa malam ini kau akan pulang?" tanya Arja dengan berbisik pada Airin.


Airin menoleh dan tersenyum. Anggukan Airin membuat Arja tersenyum lebar. Dia senang Airin memberikan jawaban itu.


"Kalian sudah datang. Aku sejak tadi menunggumu," kata Cika dengan senyuman lebar. Jelas sekali dia merasa sangat bahagia.


Tanpa sengaja, mata Airin dan Vino bertemu. Sorot matanya tidak terlihat bahagia. Hanya senyumannya yang sering menghias wajahnya. Entah senyuman apa.


"Selamat untuk kalian," kata Airin pada Cika dan Vino.


"Kenapa sangat terlambat?"


Mereka menoleh pada Vino. Pertanyaanya membuat Airin dan Arja hanya diam. Apa maksud pertanyaannya itu.


"Kami sudah bertukar cincin dan kalian baru datang," kata Cika mencoba mencairkan suasana aneh ini.


"Maaf. Aku lama memilih baju untuk istriku." Lirik Arja pada Vino.


Vino hanya tersenyum dengan lengan yang selalu di pegangi oleh Cika. Pertunangan yang menyenangkan bagi Cika. Walau Airin tahu, perninakahan itu hanyalah debuah pertunangan belaka. Hanya demi perusahaan.


"Silahkan nikmati pestanya. Kami akan menemui tamu yang lain."


"Temui aku setelah ini," bisik Vino saat melewati Airin dan Arja.


Diam. Apa lagi yang akan dilakukan Vino. Apa dia akan membuatku kembali goyah? pikir Airin.


Arja terlihat tidak senang karena kedekatan Airin dengan Cika dan Vino. Dia merasa jika Airin sudah terlalu dekat dengan orang lain, sementara tidak dengan dirinya.


"Ayo kita duduk disana." Airin menunjuk kesebuah meja yang dekat dengan jendela.


Arja hanya mengangguk. Kami membicarakan banyak hal. Namun Arja selalu menghindar saat Airin bertanya tentang Maya.


"Arja. Aku ke belakang sebentar."


"Ok."


Airin melangkahkan kaki dengan tergesa. Tentunya agar tidak tertinggal jauh oleh Vino. Sampai di sebuah lorong panjang, Airin melihat Vino sedang berdiri di sebuah pintu kamar.


"Kenapa kau menyuruhku kesini?" tanya Airin.


Vino tersenyum dan menarik Airin ikut masuk ke kamar itu.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Tidak. Aku hanya ingin menikmati waktu bersama dengan kamu."


Ruangan itu bukanlah sebuah kamar. Disana hanya ada meja, terlihat jelas jika ruangan ini di sulap menjadi ruang makan yang romantis.


Lilin dan hiasan bunga menjadikan ruangan ini semakin romantis. Dari belakang, Vino memberikan sebuah bunga mawar yang masih segar.


"Aku mencintaimu."


Mata Airin melebar mendengar kata yang terucap dari bibir Vino. Baru kemarin dia mengajak Airin memilih jalan. Sekarang dia mengatakan cinta dengan mudahnya.


Perlahan, Vino melingkarkan tangannya di pinggang Airin. Dia mengucapkan kata-kata manis di telinga Airin. Airin sadar, ini salah. Airin berbalik dan langsung mendorong Vino.


"Vino. Ini salah."


"Aku tahu. Tapi, hanya cara ini yang kita miliki."


Airin tidak tahu apa yang dikatakan Vino. Airin kira, dia akan belajar mencintai Cika. Airin menggeleng dengan keras. Dia tidak ingin menjadi wanita perebut. Dia sudah merasakan saat Maya datang ke hubungannya dengan Arja. Airin tidak ingin hal itu terjadi pada wanita lain.


"Rin. Jika kamu mau, kita bisa menjalani hubungan ini."


Airin kembali menggeleng dengan keras. Selama ini Airin memang bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi, bukan hal ini yang Airin harapkan dari Vino.


"Vino. Kita sudah punya pasangan masing-masing. Jangan pikirkan hal yang lain."


"Tapi aku mencintai kamu Rin. Aku tidak pernah bisa melupakanmu walau hanya sedetik."


"Tidak. Ini semua salah. Aku tidak mau."


Airin keluar dari ruangan itu untuk kembali ke tempat pesta. Arja pasti akan mencari Airin jika dia terlalu lama.


Bruk. Tanpa sengaja Airin menabrak seseorang. Airin mendongakkan wajahnya. Cika. Dia terlihat sedang mencari seseorang. Sudah tentu jika itu adalah Vino.


"Apa kau melihat Vino?" tanya Cika kemudian.


"A...aku. Aku tidak melihatnya."


"Wajah kamu pucat. Ada apa?" Cika mencoba memegang wajah Airin.


"Aku harus mencari Arja. Permisi."


Langkah cepat Airin membuat dia hampir menabrak beberapa orang. Mungkin, Cika merasa jika ada yang salah dengannya kali ini. Dia pasti akan mengatakanya pada Vino.


Mata Airin tertuju pada Arja yang masih duduk dengan setelan jasnya. Sorot matanya terlihat kosong. Ada Sela di sampingnya. Airin menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Maaf aku lama," kata Airin.


"Tidak apa."


Airin mencoba untuk menutupi semua hal. Hatinya sangat berharap jika semua ini mimpi. Namun, kenyataanya adalah Airin sangat merasa bersalah pada Arja.


"Ini sudah malam. Ayo kita pulang." Ajak Airin pada Arja.


"Kenapa buru-buru?" tanya Sela.


"Aku merasa sangat lelah."


Arja mengangguk, "Kalau begitu. Kita temui Cika dan Vino dulu."


"Tidak perlu. Aku sudah berpamitan."


Sela ikut berdiri, "Aku akan pulang nanti. Kalian bisa pergi dulu."


Airin melihat ada yang salah pada Sela, "Kamu kenapa, Sel? apa ada yang salah?" tanya Airin.


"Ti...tidak." Sela mencoba membuang muka.


Arja menyentuh pundak Airin, "Ayo kita pulang," kata Arja.


"Tapi, Sela..."


"Sudahlah. Dia bisa jaga diri."


Sela mengangguk, "Benar kata Arja. Kalian pergi saja dulu."


Arja menarik Airin pergi dari ruangan itu. Mereka akan kembali ke rumah Arja. Walau masih terbesit luka di dalam hati Airin. Apa lagi, jika ingatan tentang Maya kembali.


Semua ini Airin lakukan untuk melupakan rasa yang pernah ada untuk Vino. Airin tidak mau menjadi wanita seperti Maya. Airin tidak mau menjadi wanita perebut.


***