
🍁🍁🍁
"Bagiamana nantinya cucu kita Alden? Pasti dia akan begitu kehilangan sosok mamanya, apalagi dia masih begitu kecil untuk ditinggalkan secepat ini."
"Pasti dia syok berat tapi kita harus berusaha agar dia tak berlarut dalam kesedihannya," ucap taun Wijaya yang terlihat begitu tegar tapi tak dengan hatinya.
Di dalam ruangan itu Andrian masih menangis memeluk jenazah istrinya, dia masih tak percaya dan tidak rela bila menerima keadaan seperti ini.
"Sayang ayok bangun! Apa kamu tega melihat ku seperti ini? Aku janji bila kamu bangun akan ku turuti semua kemauan mu. Aku tidak akan marah-marah lagi dan cemburu ketika kamu menonton drama Korea, tapi kamu bangun, tolong bangun Sayang hiks!!" Andrian menaruh tangan istirnya di pipinya.
Baru kali ini ia benar-benar merasa kehilangan dan frustasi, dan baru kali ini ia menangis menitikkan air mata begitu lama.
"Permisi Tuan, kami ingin memindahkan jenazah pasien ke kamar jenazah," seru para perawat yang bertugas mengurus jenazah.
"Pergi kalian! Istri saya belum matii!!! Dia hanya tertidur karena baru selesai melahirkan."
"Tapi ini sudah menjadi prosedur rumah sakit Tuan."
"Sekali kalian menyentuh tubuh istri saya, akan saya patahkan tangan kalian."
"Tapi___" ucapan mereka terhenti dengan ucapan Andrian.
"Apa kalian tidak tau kalau pemilik rumah sakit ini adalah keluarga saya? Saya bisa memecat kalian kapan pun saya mau."
Mereka pun langsung terdiam dan tertunduk mendengarkan ancaman Andrian. Dia tidak tau bahwa yang mereka hadapi adalah anak pemilik rumah sakit ini.
"Kalian keluar sekarang! Jangan tampakkan diri kalian di hadapan ku!!" seru Andrian begitu kesal dengan mereka.
Setelah mereka keluar dari sana, nyonya Kumala pun masuk ke dalam sana menghampiri anaknya yang masih uring-uringan ditinggalkan oleh istrinya.
"An!!" panggil mamanya sambil membelai bahunya dari belakang. Andrian mengarah ke belakang melihat siapa yang memegang bahunya, dan terlihat mamanya berada di sana.
"Mama!!" Andrian langsung memeluk mamanya dan menangis di dalam dekapan mamanya. Terlihat Andrian seperti bocah yang sedang menangis.
"Kamu harus kuat An! Kamu harus mengikhlaskan kepergian Nayra, ingat kamu mempunyai dua anak yang harus kamu urus. Nayra mempercayai mu untuk merawatnya sampai besar," ucap mamanya sambil mengelus-elus rambut anaknya.
"Apa Andrian bisa mengurus mereka setelah kepergian Nayra Mah? Apa Andrian sanggup untuk hidup lagi? Sepertinya Andrian tak bisa Mah untuk menjalankan hidup ini lagi," Air mata Andrian terlihat sudah mengering karena terlalu lama menangis.
"Kamu tidak boleh ngomong seperti itu! Ingat anak mu, dia masih kecil dan masih butuh kasih sayang dari mu. Nayra sudah mempercayaimu untuk merawatnya dengan baik."
"Kenapa Nayra jahat kepada An Mah? Andrian tak mampu untuk itu, dia begitu jahat meninggalkan anaknya dan aku seperti ini," lagi-lagi Andrian kembali mengeluarkan air matanya.
"Ini sudah takdir Sayang! Kita semua tak mau ini terjadi tapi Tuhan berkata lain, mungkin ini yang terbaik untuk kita semua."
"Tidak ada yang terlihat baik bila Nayra ku tak kembali!!"
"Lebih baik kamu lihat malaikat kecil mu di ruang Inkubator, dia butuh kamu saat ini."
"Baik Mah Andrian akan ke sana."
"Kamu sehat-sehat di sana ya Nak! Papa akan terus menjagamu dan terus menyayangi mu. Kamu jangan khawatir bila nanti tak akan menemui Mama mu karena Papa akan menyayangimu sepenuh hati sehingga kamu tak akan kekurangan kasih sayang."
Andrian membelai-belai kaca itu sambil kembali menitikkan air matanya. Dia terlihat Ayah yang jahat telah merelakan anaknya mati, dan anak itu sekarang ada dihadapannya. Tubuhnya yang mungil dan putih itu membuat Andrian mengingat kembali istrinya.
"Asalkan kamu tau Nak, bahwa Mama mu begitu menyayangi mu. Dia rela mati demi menyelamatkan mu. Kau harus tau itu."
Setelah selesai menjenguk anaknya, Andrian kembali ke tempat jenazah istrinya. Ketika sampai di sana dia melihat ada Kelvin, Tiara dan Baim di sana. Setelah mendengar kabar Nayra membuat mereka bergegas pergi ke rumah sakit.
"Bug!" satu pukulan keras mendarat di pipi Andrian. Baim begitu emosi melihat Andrian yang tak becus menjaga Nayra sampai berkahir seperti ini.
"Dasar pria berengsek! Kamu sudah berjanji akan menjaga Nayra apapun yang terjadi tapi apa yang sudah terjadi? Dia meninggal di usia mudanya saat ini gara-gara keteledoran mu," ucap Baik terlihat begitu emosi sambil mengangkat kerah baju Andrian.
Bukan seperti biasanya Andrian yang selalu melawan, kali ini dia hanya diam diperlakukan seperti itu. Ini pantas ia dapatkan saat ini.
"Maafkan aku! Aku sudah gagal untuk menepati janjiku," lirih Andrian.
"Jika aku tau akan seperti ini, tidak akan ku biarkan Nayra bersama mu dan tak akan mengikhlaskan dia dengan mu," ucap lagi Baim dengan begitu membara.
Sedangkan Tiara merasa sedih melihat suaminya yang begitu menyayangi Nayra, dia sudah tau bahwa Baim dulu pernah mencintai Nayra tapi sekarang dia benar-benar hancur ketika melihat suaminya sendiri sedang emosi gara-gara wanita lain.
Dia memang sangat sedih melihat Nayra seperti ini, tapi istri mana yang tak sakit melihat suaminya mengatakan hal seperti itu demi wanita lain.
Tiara pun pergi dari sana untuk menenangkan hatinya. Baim yang menyadari bahwa istrinya tak ada di sana langsung mencarinya dan meninggalkan Andrian yang terluka parah karena ulahnya.
"Kamu tidak papa An?" tanya Kelvin membantu Andrian berdiri.
"Aku bisa sendiri!" ucap Andrian sambil berdiri sendiri.
"Hidung mu berdarah kamu harus diobati," ucap Nathan melihat darah segar mengalir di hidung Andrian.
"Aku pantas mendapat ini, jadi kalian tak usah khawatir dengan darah di hidungku."
Di sisi lain Baim mendapatkan istirnya sedang duduk di taman rumah sakit itu, Baim mendekati istrinya lalu duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa? Apa kamu marah denganku?" tanya Baim.
"Aku sangat sedih melihat Nayra seperti ini, dan aku tau Mas masih mencintai Nayra tapi istri mana yang tak sakit hati melihat suaminya begitu membela wanita lain, bahkan dihadapan ku Mas begitu marah dengan Tuan Andrian gara-gara kematian Nayra," ungkap Tiara.
"Maafkan aku! Aku memang marah dengan Andrian karena aku sudah menganggap Nayra seperti adekku, jadi kamu tak usah cemburu seperti ini."
"Adek kamu bilang? Apakah pantas seorang pria mempunyai istri masih menyukai wanita lain? Aku tau kita hanya dijodohkan tapi aku sudah jatuh cinta pada Mas, tapi Mas sama sekali tak membalas perasaan ku," ujar Tiara menderai air mata.
"Bukan seperti itu___"
"Bahkan waktu Mas sakit sekalipun, Mas mencari Nayra padahal jelas-jelas aku yang menjadi istri Mas saat ini."