My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 65



🍁🍁🍁


"Apa boleh?" tanya Andrian meminta persetujuan untuk melakukan nya kepada Nayra.


Nayra hanya memagutkan kepalanya memastikan bahwa dirinya mengizinkan Andrian melakukannya.


Tanpa pikir panjang Andrian membopong tubuh Nayra dengan gaya bridal style ke atas ranjang. Lalu dengan nafsu yang tinggi Andrian pun melakukannya.


Dinginnya ruangan itu tak membuat tubuh mereka berdua kedinginan. Malam yang panjang itu mereka lalui bersama tanpa paksaan dari pihak manapun. Ini kedua kalinya setelah kejadian itu di mana Nayra dulu dipaksa sekarang ia menikmati kegiatannya bersama Andrian.


Sedangkan di sisi lain Alden menangis dan merengek mencari keberadaan mamanya yang tak kunjung pulang, sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam Nayra maupun Andrian tak kembali.


"Hiks... Mama mana Oma? Kenapa cih Mama beyum pulang?" Alden menangis segugukan kala mamanya tidak kunjung datang.


"Tunggu sebentar lagi, mungkin Mama Nayra masih dalam perjalanan, lebih baik cucu Oma tidur dulu," rayu Oma Kumala agar Alden mau tidur.


Untung saja Alden mau menurut, akhirnya Nyonya Kumala menidurkan cucunya itu. Hingga Alden terlelap baru nyonya Kumala keluar dari kamar Alden untuk menelpon Andrian.


Sudah beberapa kali ia menelpon Andrian tapi sama sekali tak diangkat, padahal nomor telponnya tersambung. Begitu pula dengan Nayra yang tak mengangkat telpon padahal telponnya juga terhubung.


"Ada apa Mah? Kenapa dari tadi Papa lihat Mama mondar-mandir tak jelas, apa Mama tidak tidur? Ini sudah larut malam."


Tiba-tiba dari arah belakang tuan Wijaya menghampiri istirnya membuat nyonya Kumala berhasil terperanjat dari kegiatan nya.


"Ini Pah, Andrian dan Nayra sampai sekarang belum pulang, cucu kita dari tadi menangis mencari Nayra."


"Lalu Alden mana?" tanya tuan Wijaya sambil mencari-cari keberadaan cucunya itu.


"Dia sudah tidur setelah lama menangis."


"Papa kira mereka sudah pulang."


"Belum, makanya Mama dari tadi menelpon mereka tapi satupun dari mereka tidak ada yang mengangkat telpon dari Mama."


"Cobak telpon mereka sekali lagi," suruh tuan Wijaya.


Nyonya Kumala pun kembali menelpon mereka, tapi tetap saja tak ada yang mengangkat sama sekali.


"Tuh kan! Mereka sama sekali tak mengangkat telpon, apa jangan-jangan mereka terjadi sesuatu di luar sana?"


"Tuh kan mulai lagi Mama berpikir hal-hal yang tidak-tidak, kalau kata anak zaman sekarang Mama lagi overtaking."


"Tapi mereka belum pulang jam segini, Papa tidak tau sih perasaan seorang Ibu," nyonya Kumala memanyunkan bibirnya merasa suaminya tak memperdulikan Andrian dan Nayra.


"Mama tenang saja, Andrian bisa menjaga diri dan menjaga Nayra kalau terjadi sesuatu, percaya pada Papa, besok pagi mungkin mereka pulang."


"Tapi___"


"Sudah-sudah! Lebih baik Mama tidur saja, tidak usah khawatir kepada mereka, mereka sudah besar."


Tuan Wijaya menuntun istirnya sambil merangkul nya ke dalam kamar. Walaupun hati nyonya Kumala masih cemas kepada mereka berdua.


***


Pagi yang begitu cerah menyinari sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu, cahaya mentari pagi masuk ke sela-sela jendela hotel membuat salah satu dari mereka terbangun dari tidurnya.


"Arghhhh..." Andrian memijat kepalanya yang terasa pusing, melihat ada Nayra di sampingnya membuatnya kembali mengingat kejadian tadi malam. Setelah mengingat apa yang terjadi tadi malam membuat Andrian tersenyum-senyum.


Dia tak menyangka akan melakukannya sejauh ini dan Nayra mau melakukannya tanpa paksaan darinya.


"Cantik!" satu kata yang terlontar dari mulutnya ketika melihat wajah Nayra yang begitu cantik ketika tertidur. Lama memandang wajah kekasihnya itu, ia melihat Nayra sedikit menggeliat ketika cahaya matahari mengenai wajah cantiknya itu.


Dengan cekatan Andrian menutupi cahaya itu dengan tangan kanannya agar kekasihnya itu tak terganggu tidurnya, ia tau bahwa Nayra pasti masih mengantuk karena begadang dengan dirinya tadi malam.


Setelah beberapa saat kemudian Nayra terbangun dari tidurnya, ketika membuka mata pemandangan pertama yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan Andrian.


Nayra sedikit malu kala Andrian sedari tadi memandangnya, apalagi ia pasti terlihat jelek ketika bangun tidur. Teringat lagi dengan kejadian semalam membuatnya begitu malu.


"Kamu sudah bangun?" tanya Andrian dengan suara khas bangun tidur.


"Kenapa kamu menutup wajahmu?"


"Aku malu."


"Malu kenapa?"


"Kamu sedari tadi memandangi wajahku, apakah terlihat begitu jelek?"


"Kamu begitu sangat cantik, jadi tolong jangan tutupi wajahmu yang cantik itu, aku mau melihatnya."


Andrian sedikit menarik selimut Nayra yang menutupi wajah cantiknya itu. Sedangkan Nayra memejamkan matanya untuk tak melihat Andrian yang terus memandangi nya.


"Cup!"


"Karena merasa gemas dengan tingkah Nayra yang begitu menggemaskan membuat Andrian mendaratkannya bibirnya ke bibir Nayra membuat Nayra spontan memelototi matanya.


"Apa yang Mas lakukan tadi?"


"Hanya sedikit sapaan pagi buatmu, apakah kamu mau lagi?" goda Andrian membuat Nayra langsung menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik kita cepat-cepat pulang, kasihan Alden pasti mencari aku."


Mereka pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah, sebelum itu Nayra melihat ponselnya begitu banyak panggilan dari calon Mama mertuanya itu.


"Mas! Banyak sekali panggilan dari Mama."


"Mama juga berulang kali menelpon ku."


"Mungkin Mama khawatir dengan kita yang tak pulang semalam."


Dengan cepat mereka pun bergegas pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah terlihat di ruang tamu ada nyonya Kumala, tuan Wijaya dan Alden yang sedang menangis.


"Itu mereka," tunjuk tuan Wijaya ketika melihat Andrian dan Nayra sudah pulang.


"Ada apa ini?" tanya Anterin kebingungan kala melihat mereka berkumpul di ruang tamu dengan anaknya yang sedang menangis.


Sedangkan Alden langsung berhamburan memeluk mamanya kala melihat mamanya sudah pulang.


"Kalian dari mana saja? Mama khawatir terjadi sesuatu kepada kalian berdua, terlebih lagi Alden dari tadi malam mencari Nayra terus," ujar nyonya Kumala.


"Maafkan Mama ya sayang! Gara-gara Mama kamu jadi nangis seperti ini."


Nayra jongkok meyepadankan tinggi nya dengan tinggi anaknya sambil mengusap air mata anaknya.


"Ceritanya panjang dan ini semua gara-gara Nadia," seru Andrian.


"Nadia?" sontak tuan Wijaya dan nyonya Kumala kaget kenapa membawa-bawa Nadia.


"Memangnya kenapa dengan Nadia?" tanya nyonya Kumala.


"Dia sudah menjebak Andrian, Andrian kira dia wanita baik-baik karena Mama yang mengenalkan dia ke Andrian tapi dia sama saja dengan wanita ****** lainnya, sama-sama murahan," seru Andrian terlihat sedikit tersulut emosi.


"Maksud kamu apa? Mama tidak mengerti maksud kamu apa?"


"Dia menjebak Andrian dengan menaruhkan obat perangsang ke minuman Andrian, dan tanpa malunya dia menyodokkan tubuh kotornya itu kepada Andrian."


Sebelum Andrian menjelaskan hal itu, Nayra membawa Alden agak menjauh agar tak mendengarkan cerita yang tak pantas di dengar oleh anak kecil.


"Lalu kamu terjebak dengan rencana nya itu?" sekarang tuan Wijaya yang bertanya.


"Andrian hampir terjebak dengan wanita licik itu tapi untung saja ada Nayra yang menyelamatkan Andrian."


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN MASUKAN KE FAVORIT ^_^