
🍁🍁🍁
"Apa kamu mau ke pantai?"
Andrian terlihat sedang duduk ketika selesai membaca buku seraya melihat Nayra menggendong anaknya.
"Pantai?"
"Iya, beberapa hari ini kamu terlibat sibuk mengurus bayi kita, mungkin kamu ingin berlibur setelah apa yang sudah terjadi."
"Ke pantai mana?"
"Kalau kamu mau, kita akan ke pantai dekat sini saja. Nayaka juga masih kecil untuk di bawa ke tempat jauh. Apa kamu mau?"
"Terserah kamu saja, aku hanya ikut saja."
"Baiklah kalau gitu kamu siap-siap, dan aku akan memanggil Alden.
Andrian benar-benar senang karena ini pertama kalinya dia berlibur dengan keluarga kecilnya dengan lengkap. Walau hanya ke pantai tapi ini momen yang langka setelah apa yang sudah terjadi.
Setelah semuanya sudah siap, Andrian menancapkan gas mobilnya menuju ke pantai, hampir tiga puluh menit mereka berada di perjalanan. Sesampainya di pantai Alden terlihat begitu senang.
"Alden mau mandi di pantai!" seru Alden yang melihat air lautnya begitu indah dan bersih.
"Jangan sayang! Nanti kamu di bawa arus ombak."
"Kamu tenang saja, aku bersama nya."
Mereka berdua pun mandi di pantai itu dengan hanya menggenakan celana selutut tanpa menggenakan baju. Roti sobek Andrian nampak begitu jelas, tubuhnya yang sempurna membuat wanita-wanita yang berkunjung di sana memperhatikan Andrian.
Sedangkan Nayra melihat mereka berenang saja di pesisir pantai sambil menggendong bayi mungilnya itu. Dia terlihat bahagia saat ini, walaupun dia belum mengigat semuanya tapi ada rasa kenyamanan ketika bersama mereka.
"Mama lihat aku bisa berenang!" teriak Alden sambil menunjukkan atraksi berenangnya kepada mamanya itu.
"Wah Alden jago sekali berenangnya, nanti ajarkan Baby Nayaka berenang ketika besar ya!"
"Kan ada Papa yang mengajarkan Baby Nayaka."
Setelah itu Alden berenang ke lebih tengah bersama Andrian membuat Nayra menjadi khawatir bila Alden terbawa ombak.
"Mas! Jangan bawa Alden terlalu tengah, nanti kenapa-napa."
Nayra berteriak khawatir melihat Alden, dan tak tau kenapa dia spontan saja memanggil Andrian dengan sebutan "Mas" padahal setelah lupa ingatan dia hanya menyebut nama atau tidak "kamu" kepada Andrian.
Mendengar disebut seperti biasanya oleh Nayra membuat Andrian tersenyum bahagia.
"Ayok mandinya sudah, air ombaknya sudah semakin besar," seru lagi Nayra.
Keibuannya tetap mengental di dalam tubuh Nayra, dia sangat khawatir bila anaknya kenapa-napa. Karena begitu banyak kejadian orang meninggal karena tenggelam terbawa arus ombak.
Mereka berdua pun berhenti berenang lalu menuju bibir pantai. Sebenarnya Alden masih ingin bermain air tapi dia tau mamanya akan marah bila dia tak mendengarkan perkataannya.
Sebelum itu Andrian di stop oleh para wanita yang sedari tadi memperhatikanya. Mereka meminta foto dengan Andrian karena terlihat begitu tampan dan salah satu mereka mengenal siapa Andrian itu.
"Tuan, apa kita bisa berfoto?" tanya para wanita itu.
Awalnya Andrian ingin menolaknya tapi melihat Nayra memerhatikanya dari tadi iapun menyanggupi permintaan mereka semua.
"Baiklah!"
Mereka semua pun berfoto ria dengan Andrian saling bergantian. Nayra yang melihat itu merasa cemburu, dia tidak tau kenapa dia harus cemburu melihat Andrian begitu dekat dengan para wanita-wanita itu.
Diapun beranjak dari duduknya lalu pergi menghampiri Andrian dengan para wanita itu.
"Maaf ya Mbak! Tak seharusnya kalian meminta foto kepada suami orang, saya istirnya dan ini anak kami. Jadi pria ini sudah mempunyai istri dan anak,."
"Maaf ya! Kita tidak tau Tuan ini punya istri, soalnya dia terlihat muda dan masih tetap tampan."
Mereka pun pergi dari sana karena tak mau mempunyai masalah dengan istrinya. Sedangkan Nayra sedikit kesal karena Andrian mau menuruti permintaan bodoh para wanita-wanita itu.
"Apa kamu cemburu?" goda Andrian.
"Tidak! Aku hanya kesal saja kepada para wanita itu yang meminta foto kepada suami orang. Apa dia tidak lihat kamu mengandeng anak kecil yang otomatis kamu sudah beristri."
"Apa kamu sudah menganggap ku suami mu?" tanya Andrian dengan wajah yang terlihat bahagia.
Nayra hanya diam saja, dia tidak tau saat ini hatinya seperti apa. Dia merasa jatuh cinta pada suaminya.
"Aku merasakan jatuh cinta padanya berulang kali tanpa cinta ku memudar sedikit pun."
Setelah mengganti pakaiannya mereka memesan makanan di kafe dekat pantai itu. Mereka makan sambil menikmati matahari terbenam.
Karena sedari tadi Nayra yang mengendong bayi mereka jadi Andrian mengambil baby Nayaka dari gendongan Nayra agar Nayra bisa makan dengan tenang.
Terlihat keluarga kecil yang begitu bahagia. Dengan kondisi Nayra masih seperti ini mereka tetap menikmati keluarga kecil yang bahagia, hingga orang-orang mendambakan keluarga ideal mereka.
Setibanya mereka di rumah sudah gelap, Andrian menidurkan anaknya Alden di kamarnya lalu setelah itu dia kembali mandi dan mengganti pakaian. Sedangkan Nayra sedang menidurkan baby Nayaka.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Andrian melihat mata bayinya itu sudah tertutup.
"Suaranya jangan keras-keras, nanti baby Nayaka bangun," bisik Nayra.
"Tapi aku ingin bermain dengannya, tadi aku belum puas bermain dengan anakku."
Andrian ingin sekali mencubit pipi gembul anaknya. Semenjak mendapatkan asi dari Nayra tubuh anaknya itu tak mungil lagi dan terlihat begitu gembul.
"Bila dia bangun, maka Mas yang akan menidurkannya nanti, aku sangat mengantuk saat ini."
Bukannya diam Andrian malah kembali mencubit-cubit pipi anaknya itu hingga bangun. Andrian pun mengendong anaknya untuk bermain bersamanya sedangkan Nayra tidur, tapi dia tidak benar-benar tertidur karena khawatir Andrian tak bisa menidurkan baby Nayaka.
"Kenapa kamu ganteng banget sih Nak? Seperti Papamu ini. Bahkan kamu terlihat lebih tampan dibandingkan Papa mu ini."
Mendengar Andrian berbicara pada anak mereka membuat Nayra tersenyum, dia tak menyangka bahwa suaminya itu begitu pede dengan ketampanannya walaupun dia mengakui bahwa suaminya itu tampan.
"Owek___ Owek__ Owek___"
Baby Nayaka menangis sepertinya ingin meminum susu.
"Kamu haus ya sayang? Tapi Mama sudah tidur, kasihan kalau kita bangunin Mama yang capek, kamu tahan ya sampai besok pagi."
Nayra ingin tertawa mendengarkan Andrian menyuruh Nayaka untuk menahan hausnya sampai besok, mana mungkin bayi sekecil itu bisa menahan haus sampai besok, dia tak akan bisa tertidur dengan kondisi haus seperti itu.
"Biar ku beri asi dulu Nayaka," ujar Nayra terbangun dari tidurnya.
"Kamu terbangun gara-gara Nayaka menangis? Maaf menganggu tidur mu."
"Tidak usah minta maaf, aku memang belum sepenuhnya tidur, jadi aku bisa mendengar tangisan Nayaka."
Andrian memberikan Nayaka ke gendongan Nayra untuk diberikan asi. Karena tau Nayra malu dilihat ketika menyusui jadi ia memalingkan wajahnya.
Sedangkan Nayra tersenyum tipis melihat Andrian peka apa yang dia maksud.
"Mas bisa berlabalik badan, aku sudah selesai memberikan Nayaka asi."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^