
🍁🍁🍁
Pak Wisnu pun mengendong istirnya masuk ke dalam kamar. Sedangkan para warga kembali balik ke rumah masing-masing.
Pak Wisnu menjelaskan semuanya kepada istirnya tentang apa yang terjadi. Buk Diana begitu marah ketika tau anak yang dikandungnya sudah dititipkan kepada seorang bidan. Buk Diana setelah itu mencari bidan yang menggurus anaknya itu tapi ninih bidan itu sudah pindah ke luar kota membawa anaknya.
Setelah terpuruk selama berbulan-bulan dan tak mau menyapa suaminya. Akhirnya buk Diana kembali bangkit dan memaafkan kesalahan bodoh suaminya itu.
Mereka tak sengaja bertemu dengan keluarga Ghratama untuk pertama kalinya, mereka diberikan modal usaha untuk membangun usaha kecil-kecilan sehingga setelah beberapa tahun lamanya usaha itu membeludak membuat pak Wisnu dan buk Diana menjadi orang kaya dan terpandang oleh orang-orang. Ini semua berkat bantuan dari keluarga Ghratama.
Tapi satu yang membuat buk Diana dan pak Wisnu belum sepenuhnya bahagia, anaknya yang selama dititipkan tak kunjung ketemu. Bahkan pak Wisnu mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari anaknya tapi sampai detik ini mereka tak menemukannya.
flashback off
"Mah! Bukannya itu bidan yang telah membawa anak kita?" tuan Wisnu tak sengaja melihat bidan yang membawa anaknya berada dalam pesta itu.
"Yang mana? Apa Papa yakin itu dia orangnya?" tanya nyonya Diana.
"Papa yakin seratus persen kalau itu dia. Papa masih mengingat wajah bidan itu," ucap pak Wisnu meyakinkan.
"Kalau gitu kita hampiri dia," ucap nyonya Diana begitu bersemangat. Dia harap anaknya akan segera ketemu.
"Buk Bidan, apakah Anda mengenal saya?" tanya tuan Wisnu yang sudah ada dihadapan bidan itu.
Sedangkan bidan itu masih terlihat bingung siapa orang yang ada di depannya. Karena wajah pak Wisnu dan buk Diana yang terlihat begitu berbeda.
"Anda siapa?" tanya wanita paruh baya itu yang masih belum mengenali mereka.
"S-saya Pak Wisnu yang telah menitipkan anak saya ke Ibu dua puluh empat tahun lalu," ujar pak Wisnu memperjelas.
wanita paruh baya itu langsung membulatkan matanya ketika mengingat semuanya. Ia masih ingat jelas tentang kejadian itu, bahkan sampai saat ini dia tak bisa melupakan kejadian saat itu.
"Ini Pak Wisnu? dan ini buk..." ucapannya terhenti ketika melihat buk Diana masih hidup, karena terkahir dia bertemu dengannya ketika sudah meninggal dunia.
"Ini istriku Diana! atas kehendak Tuhan istriku kembali hidup, tapi hati dan pikirannya masih belum hidup karena separuh hidupnya ada di Ibu," ucap Pak Wisnu dengan lirih.
"Maafkan saya yang telah menjauhkan kalian dari putri kalian."
"Ibu tidak salah, malah kami sangat berterima kasih mau merawat Putri kami. Sekarang kami sudah mempunyai segalanya, saya ingin meminta kembali anaknya. Saya janji akan mengganti semua kerugian yang telah Anda keluarkan untuk anak saya," ujar nyonya Diana sambil memegang kedua tangan wanita parah baya itu.
"Saya sudah mengganggap putri ibu sebagai anak kandung saya, saya juga tak berharap sedikit pun imbalan dari kalian, tapi..." ucapan wanita paruh baya itu menggantung membuat mereka berpikir aneh-aneh.
"Tapi apa? Putri saya baik-baik saja kan?" nyonya Diana menggoyang-goyangkan bahu bidan tersebut dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Putri kalian begitu sangat kuat, dia menghadapi kejamnya dunia ini dari kecil bahkan sampai beranjak dewasa dia tetap menjalani hidup yang tak adil untuknya, tapi..."
Mendengarkan penjelasan itu air mata nyonya Diana langsung tumpah seketika. "Pah... Putri kita sangat kesulitan sedangkan kita sendiri begitu hidup mewah."
"Putri ku sudah menikah? Lalu di mana mereka tinggal sekarang?"
"Dia ada di dekat kalian saat ini, mungkin Anda sudah mengenal suaminya dan keluarganya."
"Apa maksud Ibu? Jelaskan maksud nya!" ujar tuan Wisnu.
"Anak kalian yang sedang menikah saat ini, Nayra Kalista dia adalah anak kalian yang kalian cari selama ini."
Sontak mereka langsung membulatkan matanya. Buk Diana langsung melirik ke arah Nayra yang terlihat asyik mengobrol dengan para tamu di sana. Ingin rasanya Buk Diana ingin menghampiri anaknya dan memeluknya. Dan menggatakan dia adalah mamanya, tapi pak Wisnu mencagah istrinya untuk pergi ke sana.
"Jangan Mah!"
"Kenapa Papa mencegah Mama? Mama ingin memeluk anak Mama yang selama ini Mama cari-cari."
"Untuk saat ini belum tepat waktu memberitahunya, mungkin dia syok bila Mama tiba-tiba memberitahunya. Jangan merusak hari bahagia anak kita."
nyonya Diana hanya menghela nafas dengan kasar, dia mengerti maksud suaminya. Dia juga tak mau menghancurkan pesta pernikahan anaknya dengan memberi fakta kebenaran ini. Dia akan menunggu momen yang tepat untuk memberitahu anaknya bahwa mereka orang tua kandungnya.
Di samping itu terdengar suara keributan dan kerumunan di sebelah sana. Karena mereka begitu penasaran dengan apa yang terjadi, akhirnya mereka ikut melihat kerumunan yang sedang terjadi.
Terlihat Nayra sudah tergeletak di lantai dengan mata tertutup. Andrian yang melihat istrinya itu pingsan langsung membopong Nayra dengan ala bridal style menuju kamar hotel. Sedangkan nyonya Kumala langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Ghratama.
"Ada apa ini? Kenapa Nayra bisa pingsan seperti ini?" tanya nyonya Diana dengan wajah paniknya.
"Tenang Sayang! kita lihat nanti keadaan Nayra selanjutnya," ujar tuan Wisnu menenangkan istrinya.
Begitu juga para tamu undangan yang hadir, mereka begitu cemas melihat keadaan mempelai wanita yang tiba-tiba pingsan di acara pentingnya ini.
Tetapi pesta pernikahan ini tetap berlanjut dengan ditangani oleh tuan Wijaya. Sedangkan Andrian dan nyonya Kumala sudah berada di kamar hotel dengan Nayra yang sedang diperiksa oleh dokter.
"Bagaimana keadaan Istri saya Dok?" tanya Andrian setelah dokter itu selesai memeriksa kondisi Nayra.
"Tuan tidak perlu khawatir, istri Anda hanya kecapean saja. Dia hanya butuh istirahat yang cukup saat ini," jelas dokter itu membuat Andrian dan nyonya Kumala mengehela nafas dengan lega.
"Baik kalau gitu saya permisi dulu, Tuan Andrian dan Nyonya Kumala," ujar lagi dokter itu untuk berpamitan.
Nyonya Kumala pun mengantarkan dokter itu sampai luar sedangkan Andrian tetap di dalam untuk menjaga istrinya itu. Sedangkan Alden sedang diurus oleh Baby sites nya agar tak cemas dengan kondisi mamanya saat ini.
"Maafkan aku Sayang! Bila kita tak melanjutkan acara ini mungkin kamu tidak capek dan pingsan seperti ini, sekali lagi maafkan aku Sayang!" Andrian mengelus-ngelus pipi Nayra yang menggenakan make up itu. Bahkan gaun dan perhiasan di kepalanya belum dilepaskan.
Andrian dengan perlahan-lahan membuka aksesoris di kepala Nayra agar tak keberatan. Kemudian ia juga membukakan gaun yang dikenakan Nayra dan digantikan dengan baju tidur. Andrian berpikir ini tak akan jadi masalah untuk menggantikan baju Nayra, sebab dia sudah sah menjadi istrinya.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^