
🍁🍁🍁
"Kenapa kita nggak bisa masuk Pah? Alden mau gendog adek bayi juga."
"Adek bayinya belum bisa dipegang, besok setelah waktunya tiba Alden bisa mengendong Adek bayinya."
"Adek bayi kecil sekali Pah, dia terlihat imut sekali," ingin sekali Alden mencubit adeknya itu karena begitu gemas tapi dia sekarang terhalang oleh kaca.
"Apa Alden juga gitu pas waktu kecil?" tanya Alden.
Andrian tak bisa menjawab pertanyaan anaknya karena dia tak ada ketika anak pertamanya lahir kedunia ini.
"Apa kamu sudah puas melihat Adek bayinya?" tanya Andrian mengalihkan pembicaraan.
"Alden belum puas karena belum gedong adek bayinya."
"Lebih baik kita kembali ke Mama saja, kasihan dia sendirian di sana."
"Lalu adek bayinya sama siapa? Kan dia sendirian?" Alden begitu polosnya bertanya hal seperti itu.
"Adek bayinya akan dijaga sama suster jadi Alden nggak usah khawatir dengan adek bayinya. Setelah dua hari kita bisa bawa adek bayi pulang jadi Alden bisa menjaganya di sana sementara Mama bangun."
"Siap Papa!" Alden begitu bersemangat karena sebantar lagi adeknya akan datang ke rumahnya.
Mereka pun kembali ke ruangan Nayra, mereka hanya sebentar di ruangan Nayra lalu pulang untuk mengantarkan Alden lalu Andrian akan kembali untuk menjaga istrinya itu.
Malam pun tiba, tapi Andrian tetap setia menjaga istrinya di sana, bahkan perkejaan kantornya sudah ia serahkan kepada papanya untuk diurus sementara, karena dia ingin fokus menjaga istrinya.
Makan, tidur bahkan mandi dan mengganti baju Andrian lupa untuk melakukan kebiasaan wajibnya itu karena terlalu fokus menjaga istrinya.
Andrian perlahan-lahan membersihkan setiap inci tubuh istrinya dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat. Dia begitu rutin membersihkan tubuh istrinya dua kali sehari dan menggantikan pakaiannya. Dia tak mau ada orang yang melakukan hal itu karena tak mau tubuh istrinya di lihat oleh siapapun.
"Kapan kau bangun Sayang? Apa kamu tak capek tidur terus-menerus? Kapan kita kembali berkumpul seperti biasa dengan anggota baru di keluarga kita. Aku merindukanmu!!"
Andrian tak pernah beranjak dari tempat duduknya itu. Dia selalu mengontrol keadaan Nayra, dia tak mau kelewatan sedikit pun tentang perkembangan istrinya itu.
Bahkan dokter dan para suster di sana begitu kagum melihat seorang Andrian yang begitu setia menunggu istrinya yang sedang koma. Bahkan selama ini belum ada dia temukan laki-laki yang benaur setia seperti Andrian.
"Tuan! Izinkan saya untuk memeriksa keadaan Nona Nayra," ucap suster yang memang setiap saat mengontrol keadaan Nayra.
"Bagaimana perkembangan istri saya? Apa ada kemajuan?"
Suster itu menggelengkan kepalanya. "Tetep seperti biasa, tak ada perubahan sama sekali, malah kondisi Nona Nayra tambah melemah."
Andrian menghela nafas dengan kasar. Dia tak tau harus menunggu sampai kapan agar istrinya bisa terbangun dari komanya saat ini.
"Tuan berdoa saja semoga Nona Nayra bisa secepatnya sadar, semoga kondisinya tak tambah memburuk lagi."
"Terima kasih!"
"Sama-sama Tuan, kalau gitu saya permisi dulu. Saya membawakan Anda makan malam karena tau Anda dari pagi tak pernah memakan apa-apa."
"Kamu taruh saja di sana," seru Andrian.
Nayra begitu di prioritaskan menjadi pasien di sana. Karena tau Nayra adalah menantu pemilik rumah sakit itu dan hanya dia yang mempunyai ruangan paling bagus seperti kamar, dan orang yang menjaga pasien mempunyai tempat tidur sendiri di ruangan itu.
Satu hari berlalu, dia hari, tiga hari hingga satu minggu berlalu. Bahkan satu minggu, dua minggu, tiga minggu dan 1 bulan sudah berlalu Andrian lewati masa-masa terpuruknya. Dan selama satu bulan itupun Nayra tak pernah tersadar dari komanya, kondisinya dari satu bulan yang lalu sama seperti sekarang ini.
"Owek___ Owek___ Owek___"
"Cup! Cup! Cup! Sayang, berhenti nangisnya ya? kamu minum susu dulu ya?"
Andrian memberikan susu formula pada anaknya yang berumur satu bulan itu, ia terpaksa memberikannya susu formula karena sampai saat ini Nayra masih terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri.
"Owek___ Owek___ Owek___" bayi mungil itu tak henti-hentinya menangis, dia selalu menolak untuk diberi minum susu seperti itu tapi bagaimana lagi Andrian tidak tau harus bagaimana agar anaknya bisa mau minum susu.
"Duh kenapa kamu nggak mau minum susunya? Papa harus pergi ke kantor Sayang, jadi tolong jangan rewel ya!!" ucap Andrian sambil kembali mencoba memberikan susu pada anaknya, tapi tetap saja Nayaka tak mau meminumnya.
"Papa Alden udah mau terlambat ke sekolah! Kapan kita berangkatnya?" seru Alden yang sudah siap dengan baju seragamnya.
Sekarang ini Alden sudah masuk sekolah dasar beberapa hari ini. Jadi Andrian begitu kualan sendiri untuk mengurus anak-anaknya ini karena Andrian tak percaya lagi menyewa orang untuk menjaga anaknya kecuali bik Lastri, itupun bik Lastri juga sibuk membereskan rumah yang setiap hari berantakan karena ulah Alden yang bermain.
"Sebentar ya! Kita tunggu Oma datang dulu baru kita berangkat."
Dret... dret... dret...
Terdengar suara ponsel berdering dari dalam saku celananya, iapun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.
Telpon.
Mama : Hallo An! Maaf Mama nggak bisa ke sana, soalnya Mama lagi kurang sehat.
Andrian : Iya Mah nggak papa! Lebih baik Mama istirahat saja.
Mama : Lalu siapa yang akan menjaga Nayaka?
Andrian : Biar Andrian saja yang menjaganya.
Mama : Tapi kamu ke kantor hari ini?
Andrian : Andrian akan membawa Nayaka ke kantor, Mama tidak usah memikirkan hal ini, lebih baik Mama istirahat agar cepat pulih.
Setelah berakhir telponnya. Andrian pun berangkat ke kantor sekalian mengantar Alden ke sekolahnya. Ia begitu repot menyetir mobil sendirian sambil menggendong bayinya tapi mau bagaimana lagi karena tak ada yang menjaga anaknya bila di rumah.
Mau menyuruh bik Lastri, tapi dia sudah tua dan begitu banyak pekerjaan di rumah. Ingin menyuruh mama mertuanya tapi Andrian sedikit segan meminta tolong pada mama mertuanya. Dan bila dia menyewa Beby siter dia takut kejadian seperti kemarin akan terulang kembali.
Andrian sudah beberapa hari ini mulai kembali memegang perusahaannya, dia tak mungkin meninggalkan perusahaannya terlalu lama, tapi setelah pulang dia akan mengunjungi istirnya di rumah sakit. Setiap hari tanpa bosan.
Setelah selesai mengantarkan Alden ke sekolahnya, Andrian langsung menuju kantornya. Ketika turun dengan keadaan menggendong bayi para karyawannya tercengang melihat bosnya itu mengendong bayi. Rasa pelakor para karyawan cewek di sana meronta-ronta.
"Tuan Andrian seperti itu kelihatan duren sawit, duda keren sarang duit," celetuk karyawan yang begitu tertarik dengan Andrian.
"Apalagi karismanya ketika mengendong bayi, terlihat seperti suami idaman."
"Pepet terus guys! Lagian istrinya sampai sekarang ini belum tersadar dari komanya."
"Nggak baik ngomong gitu, bagaimana pun Tuan Andrian masih mempunyai istri dan istrinya masih hidup. Jikapun memang Tuan Andrian duda, mana mau sama modelan kita," ujar yang satunya untuk menyadari kehaluan para temanya itu.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^