
🍁🍁🍁
Nyonya Wiliam mendorong tubuh Amanda beserta kopernya keluar dari pintu apartemen itu. Di situ juga Nathan datang dan memegang tubuh istirnya agar tak terjatuh.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Nathan yang memang baru pulang dari kantor.
"Lihatlah wanita ini Nathan! Apa pantas kalian satu atap dengan status kalian hanya sekedar pacaran? Mama tak mau jika nama keluarga kita akan menjadi jelek nantinya."
"Cukup Mah! Jika Mama tak tau kebenarannya jangan langsung memberikan kesimpulan atas apa yang Mama lihat, belum tentu apa yang Mama lihat itu sebenarnya."
Nathan terlihat sedikit emosi melihat mamanya yang mendorong istrinya begitu kuat hingga ingin terjatuh.
"Sudah jelas-jelas kalian tinggal satu atap, sekarang apa yang mau diperjelas karena semuanya sudah jelas. Sekarang Mama minta kamu putus kan pacar mu ini. Dia sudah membawa hal buruk padamu," titah nyonya Wiliam seperti paling berkuasa.
"Ini hidup Nathan, jadi Mama jangan terlalu mengaturnya. Nathan tak suka itu."
"Sekarang kamu berani melawan Mama gara-gara perempuan ini, apa yang sudah dia katakan hingga kamu berani melawan pada Mama?"
Nyonya Wiliam terlihat begitu memojokkan Amanda pada hal ini hingga Nathan tambah tak suka dengan sikap mamanya. Sedangkan Amanda hanya menundukkan kepalanya di balik tubuh Nathan.
"Mah! Jika Mama tidak tau kebenarannya jangan menuduh Amanda seperti itu, mengerti?" ucap Nathan dengan suara tinggi kepada mamanya.
Mamanya takut melihat Nathan terlihat marah seperti ini, ini pertama kalinya Nathan menggunakan volume tinggi berbicara dengannya.
"Mama tau? Amanda adalah istirnya Nathan! Jadi wajar kalau dia tinggal bersama Nathan."
Pernyataan Nathan langsung membuat nyonya Wiliam membulatkan matanya. Tak mungkin ucapan Nathan itu benar.
"Apa kamu bilang?" tanya sekali lagi untuk memastikan.
"Nathan sudah menikah dengan Amanda, dan sekarang dia adalah istrinya Nathan."
"Jangan bohong! Kau tau kan Mama tak suka lihat kamu berbohong seperti ini demi wanita ini," tunjuk nyonya Wiliam ke arah Amanda.
"Nathan tau Mama tak suka dibohongi jadi Nathan mengatakan sebenarnya, dia adalah istri Nathan saat ini."
"Tidak mungkin!" ucap nyonya Wiliam menggelengkan kepalanya tak mempercayai omongan anaknya.
"Kapan kalian menikah? Kenapa kalian menyembunyikan pernikahan ini dari semua orang? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan hal yang begitu besar pada Mama Nat?" ujar mamanya.
"Maafkan Nathan Mah! Pernikahan ini juga tak direncanakan, tapi Nathan janji akan mengumumkan pernikahan ini ketika waktunya sudah tepat."
"Tidak! Mama tak setuju jika dia yang menjadi menantu keluarga kita. Kamu harus mencari wanita yang tepat, Mama tau dia wanita tak baik. Apa kata orang-orang nantinya?"
Nyonya Wiliam benar-benar tak setuju dengan pernikahan ini. Bukan karena status Amanda, tapi dia memang tak suka dari awal melihat Amanda.
"Kenapa Mama harus memikirkan perkataan orang? Jika itu sudah jadi kebahagiaan Nathan. Lagipula Amanda tak akan mempermalukan keluarga kita nantinya."
"Tapi, asal-usulnya tak jelas. Bahkan kita tidak tau siapa keluarganya. Dan apa kamu bahagia dengan wanita seperti dia?"
"Nathan yang menjalankan pernikahan ini, dan Nathan yang tau tentang istri Nathan sendiri jadi Mama tak usah ikut campur dengan rumah tangga Nathan."
"Sekarang kamu berani melawan Mama demi perempuan ini?"
"Jika Mama sudah tak ada lagi keperluan, Mama bisa keluar dari sini! Mama tau kan jalan keluar dari apartemen ini?"
Nathan mempersilahkan mamanya pergi dari sana. Nyonya Wiliam pun langsung pergi dari sana, sebelum itu dia menatap sinis wajah Amanda, dia benar-benar tak suka dengan perempuan yang menjadi istri Nathan saat ini.
Setelah itu Nathan menutup pintu apartemennya lalu pergi menuju ke kamarnya membawa koper Amanda kembali ke dalam.
"Nathan!"
"Hm!" jawab Nathan seadanya karena masih menyusun baju-baju Amanda ke dalam lemari.
"Apa ini tidak berlebihan kamu sampai membentak Mama mu seperti ini? Aku juga tak papa jika diperlakukan seperti itu, perkataan Mama mu memang benar aku bukan wanita baik-baik."
"Suthhh!" Nathan meletakkan jari telunjuknya di bibir Amanda agar tak bicara lagi.
"Mama sesekali harus ditegaskan seperti itu agar menghargai pilihan ku, sejak dulu dia selalu mengatur ku dan sekarang aku tak lagi mau diatur olehnya."
"Tapi itu juga Mama mu, yang melahirkan mu."
"Apa pantas dia merendahkan mu di depan aku sebagai suami mu? Aku berhak membela yang benar, dan kamu adalah kebenaran yang sudah aku temui."
Amanda diam dan merasa gugup ketika Nathan menatapnya dengan begitu lekat serta tubuh mereka begitu sangat dekat saat ini. Amanda perlahan-lahan memundurkan tubuhnya untuk membuat jarak antara dirinya dan Nathan, tapi Nathan malah ikut maju agar mereka tak mempunyai jarak.
Hingga tembok yang menghalangi Amanda untuk melangkahkan kakinya mundur, dia terjebak sekarang dalam situasi seperti ini dengan Nathan.
"Kenapa kamu mendur?"
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^
"A-aku hanya gugup saja ketika terlalu dekat dengan mu."
"Kenapa kamu gugup seperti itu? Bukannya hal wajar bila suami istri berdekatan seperti ini?" ucap Nathan dengan senyum jahilnya.
"Jangan tersenyum seperti itu, aku menjadi takut."
"Takut kenapa? Aku tak akan memakan mu."
"Biarkan aku pergi! Aku lupa untuk mengerjakan sesuatu."
Amanda ingin keluar dari situasi itu tapi Nathan malah menghalangi Amanda keluar dengan kedua tangannya menempel di tembok membuat mereka begitu sangat dekat. Amanda begitu terasa sesak nafas terlalu dekat dengan Nathan.
"Apa kamu mau menghindar hm?"
"Siapa bilang? Aku hanya ingin membereskan pekerjaan ku yang tertunda tadi."
Padahal terlihat sekali bahwa Amanda beralasan untuk menghindar, wajahnya terlihat begitu pucat dan panik saat ini.
Perlahan-lahan Nathan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Amanda, dia sekarang sangat begitu dekat dengan Amanda hingga bibir merah hampir bersentuhan.
Tapi dengan cepat Amanda keluar dari kekanggan Nathan dari celah yang ada. Dia begitu lega ketika Nathan tak jadi menciumnya. Dia langsung keluar dari kamar itu, dia tak tahan begitu dekat dengan Nathan.
Nathan melirik Amanda yang sudah berhasil keluar dari kekanggan nya, dia tersenyum melihat Amanda begitu lega bisa keluar dari dirinya.
"Dasar!" gumam Nathan yang mengingat ekspresi lucu wajah istirnya ketika ia ingin menciumnya, bahkan dicium saja dia ketakutan seperti itu. Apalagi melakukan suatu yang lebih dari itu.
Malam hari tiba, Nathan tak pergi ke mana-mana. Dia tetap berada dalam apartemen saat ini. Dia hanya duduk membaca buku sambil melihat Amanda ingin membuat makan malam.
"Sepertinya stok bahan makanan di kulkas sudah habis, apa kamu mau menunggu agak lama. Soalnya aku akan keluar membeli bahan-bahan di supermarket sebentar," seru Amanda dari arah dapur.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^